
Damar menaruh kepalanya di pangkuan neneknya, di sembunyikan wajahnya di balik kain jarik yang selalu di gunakan neneknya itu.
Sawah mbah Uti itu berhektar hektar,
belum lagi kebunnya, namun baju yang kenakan wanita tua itu hanya kebaya kutu baru dan kain jariknya yang lusuh.
Usianya tak jelas berapa, namun wanita tua itu masih kuat untuk beraktifitas seperti biasanya, jalannya pun masih tegap dan bicaranya lancar.
Mungkin karena ia menikah di usia yang muda, dan melahirkan Ayah Damar dan anak anaknya yang lain di usia muda pula, hingga putra putrinya meninggal terlebih dahulu pun ia tetap sehat dan tegar.
Namun tak ada yang tau bagaimana isi hati seseorang, tentunya tak ada seorang ibu pun yang kuat di tinggalkan anak anaknya dan menjalani hidup sendirian,
karena suaminya juga telah meninggal 5 tahun yang lalu.
Wajah renta itu tidak pernah terlihat sedih, namun kesedihan itu selalu nampak ketika Damar datang, wajah mbah Uti yang datar tiba tiba berubah seperti sesak, hingga berkali kali beliau menghela nafas.
" Nyapo lee..." tanya mbah Uti sembari mengelus kepala Damar.
" Mboten.." Jawab Damar menyembunyikan air matanya yang menetes perlahan.
" terus nyapo bubuk kene.."
" kangen ibu mbah.." jawab laki laki berhidung mancung dan beralis tebal itu lirih.
Mbah uti menghela nafas untuk kesekian kali.
" Mbah tadi bikin kolak le.. tak ambilkan ya..?"
" Nanti mbah, tak ambil sendiri.. mbah disini saja.." ujar Damar.
si mbah terdiam, ia terus mengelus kepala Damar.
" Mbah.." suara Damar lirih,
" dalem lee.." jawab si mbah halus.
" Capek mbah.." keluhnya,
" capek ya istirahat sek.. capek kok kerja terus.. warisane mbah kurang tho lee?"
" kok bahas warisan tho mbah??"
__ADS_1
si mbah tertawa,
" sudah waktunya kamu itu gendong anak le.. mbah iki nelongso liat kamu wira wiri kesana kemari sendirian..
memangnya kenapa tho? apa perlu Mbah yang carikan istri?" goda mbah Uti.
" Takut mbah mau menikah.."
" Takut opo?"
" Takut ndak cocok.."
si mbah mengulas senyum,
" Yo golek seng cocok le.. mangkannya.. kalau kenal perempuan di bawa kesini.. biar mbah lihat.."
" memangnya mbah punya mata batin?"
" lak iyo tho.. malah guyon, jelek jelek mbah punya pengalaman le.."
Damar tertawa,
" nggih mbah, nggih.. " jawabnya masih dengan kepala di pangkuan mbah Utinya.
Ia tergeletak di kursi panjang begitu saja,
Kursi kayu yang hanya beralaskan tikar dari pandan kering, buka Sofa yang empuk seperti dirumahnya.
Kursi kayu itu terletak di dapur, tak jauh dari pawon mbah nya, dalam bahasa jawa pawon berarti perapian, atau tungku api tempat memasak.
Api hampir menyala setiap pagi dan malam, sehingga sisa sisa arangnya membuat hawa di sekitarnya juga hangat.
Damar suka tidur di kursi itu, karena setiap subuh si mbah bangun menyalakan api, dia juga akan ikut terbangun, lalu menikmati kopi murni hasil tumbukan mbah sendiri.
Hp Damar berbunyi, ia menjauh dari ruangan kelas dan menerimanya.
" Kenapa Nan?" tanya Damar,
" Anu mas.. besok tidak usah menjemputku.." suara Kinanti rupanya,
" kenapa? kau tidak pulang?"
__ADS_1
" ya pulang? wong ibu sakit lagi.."
" terus?" Damar menunggu jawaban.
" Itu, pak Tyo mau ke rumah saudaranya, kebetulan dekat dengan rumah..
jadi kata pak Tyo sekalian saja bareng.." suara Kinanti sedikit ragu.
Damar yang sedang menggunakan kemeja putih itu diam sejenak.
" Kau mau pulang dengan laki laki itu?" tanya Damar dengan suara yang lebih berat.
" Aku tidak enak mau menolak, dia sudah banyak membantuku di sekolah.." alasan Kinanti.
" Dia naik apa?"
" motorlah.."
" boncengan?"
" terus?"
Damar terdiam lagi.
" Dengarkan.. jangan beri harapan seorang laki laki jika kau tak menyukainya.. itu akan menyiksanya.."
Kinanti mengerutkan dahinya mendengar kata kata Damar.
" Harapan apa? dia hanya mengajakku bareng? mas ini bicara apa sih?" Kinanti tak mengerti.
" Ya sudah, terserah kau saja jika memang kau suka dia.."
" jangan bicara yang tidak tidak mas, kalau mas keberatan ya aku tidak pulang?" Kinanti sewot.
" pulanglah.. hati hati, aku akan menunggumu dirumah.." suara Damar kalem,
" untuk apa menunggu dirumahku?!"
" Untuk melihat calon suamimu.."
" Gila apa?! bicara apa sih?!" seru Kinanti lalu mematikan panggilannya.
__ADS_1
Damar hanya tersenyum, ia lalu kembali ke dalam kelas.
" Sampai dimana kita tadi?" tanyanya pada para mahasiswa dan mahasiswi di kelasnya.