
" Ada bu?" tanya Kinanti pada mertuanya yang amat sangat jarang mengajaknya bicara bahkan bisa di hitung berapa kali menginjakkan kakinya di rumah Damar dan Kinanti.
" Dimana Damar?" tanya si ibu,
" Mas Damar masih mandi, ada yang penting bu?" tanya Kinanti tetap sopan.
" Katakan padanya untuk segera kerumah setelah mandi, sikap Kaila aneh beberapa hari ini, aku sudah tidak sanggup membujuknya,
Kaila terus mengurung diri di kamar, tidak kuliah, tidak makan, setiap ku ajak bicara dia hanya diam, tidak mengomel seperti biasanya.." jelas si ibu, wajah yang biasanya angkuh kini terlihat penuh kekhawatiran.
" Sakit bu?"
" aku tidak tau, tapi wajahnya pucat.."
" baik, ibu pulang dulu, setelah ini saya dan mas Damar akan kesana.." ujar Kinanti tiba tiba juga khawatir.
Tanpa berkata apapun lagi, si ibu segera pergi.
Kinanti berjalan ke kamar sembari mengelus perutnya yang sudah lumayan besar itu.
" Ada apa sih sebenarnya.." gumam Kinanti, karena ia sesungguhnya sudah tau dari ibunya kalau Yusuf juga sedang bermasalah juga dengan keluarganya.
" Mas?" panggil Kinanti pada suaminya yang baru saja keluar dari kamar mandi itu.
" Hemmm...?" sahut Damar yang hanya mengenakan handuk saja itu.
" Segera pakai baju, kita ke Kaila.." Kinanti mengambil baju dari lemari dengan cepat dan segera menyerahkan pada suaminya.
Damar terlihat bingung,
" Ada apa memangnya?" tanya Damar dengan dahi berkerut.
" ibu dari sini, dia minta mas melihat Kaila, dia tidak kuliah, tidak makan, mengurung diri saja di kamar, ibu juga bilang wajahnya pucat?"
" paling paling ribut dengan Yusuf, sudahlah.. nanti juga membaik sendiri.." jawab Damar sembari memakai bajunya.
" Mas? dia adikmu..? apa salahnya menunjukkan keperdulianmu?"
" Aku sudah cukup perduli padanya, sampai sampai orang menganggap ku memanjakannya,
dia sudah bukan anak kecil, dia harus mempu mengatasi emosinya sendiri, kalau semua serba di bantu dan didampingi kapan dia akan dewasa.." jawab Damar tenang, ia berjalan ke arah meja rias istrinya setelah selesai berpakaian.
Mengambil sisir dan mulai merapikan rambutnya.
" Lagi pula, ibu tidak bisa bertindak seenaknya,
dia tidak mau aku ikut campur dalam segala keputusannya,
tapi saat keputusannya berdampak buruk, atau tidak berjalan dengan baik,
dengan mudahnya dia datang dan menyuruhku mengatasi segala hal untuk memperbaikinya.." imbuh Damar menaruh sisir kembali dan mendekat pada istrinya.
Di kecup kening istrinya, sembari tersenyum tangannya mengelus lembut perut istrinya.
__ADS_1
" keterpurukan mengajari banyak hal.. termasuk membuat manusia menjadi lebih dewasa.."
" Kaila itu perempuan mas, bukan laki laki sepertimu.. dia juga tidak pernah susah mulai dari kecil, jangan menganggap semua orang bisa sedewasa dirimu ketika di hadapkan dengan situasi yang sulit?
apalagi kudengar dari ibu Yusuf juga sedang bermasalah,
dia pergi dari rumah, bahkan keluar dari pekerjaannya..
apa salahnya sih, mengajak Kaila bicara dan menyuruhnya makan?"
Damar diam, terlihat berpikir.
" Kau tidak lihat lupa kan bagaimana ibu memperlakukanmu?
dia bahkan menganggap mu menantu yang tidak layak,
dia tidak menjalankan fungsinya sebagai ibu dengan benar,
aku tanya.. apa pernah dia beramah tamah dengan kita?
saat kita sedang ada masalahpun dia tak menampakkan dirinya untuk menengahi..
bahkan perutmu sudah sebesar ini pun dia tidak pernah kesini melihatmu,
sekedar basa basi mengucapkan selamat pun tidak.." ujar Damar kemudian.
Kinanti memandang suaminya itu dengan penuh rasa pengertian, ia tau..
suaminya itu juga menginginkan kasih sayang yang layak dari seorang ibu, meski itu hanya ibu sambung.
" Apapun yang sudah di lakukan ibu, bukan tugas kita untuk menghakiminya..
aku yakin suatu ketika mata hati ibu akan terbuka dan lebih menghargaimu..
tugas kita mendidik Kaila, agar tidak menjadi pribadi yang sama dengan ibu.." nasehat Kinanti pada suaminya,
" aku tau.. tapi kakiku enggan melangkah ke dalam rumah itu," sahut Damar dengan raut lelah.
Tepatnya jam satu malam, terdengar suara ibu mengetuk pintu dengan keras.
" Damar!! Damar..!!" suara ibu terdengar setengah memekik, bercampur tangis.
Damar buru buru bangkit, dan memakai kaosnya.
" Suara ibu mas?" Kinanti memiringkan tubuhnya dan bangun perlahan.
" Iya, suara ibu?!" jawab Damar sembari berjalan dengan langkah cepat keluar dari kamar.
Dengan buru buru Damar mengambil kunci dan membuka pintu depan.
Terlihat sosok ibu yang acak acakan dengan air mata yang masih mengalir.
" Adikmu..? tolong adikmu? dia berdarah..?" perempuan setengah baya itu meraih kedua lengan Damar, tatapannya lemah memohon.
__ADS_1
Mendengar itu Damar tak menjawab, di singkirkan tangan ibunya dan segera berlari ke arah rumah yang berjarak 10 meter dari rumahnya itu.
Pikirannya tak karuan, bunuh diri.. jangan jangan Kaila nekat memotong nadinya..! batin Damar berkecamuk, apalagi yang akan di lakukan anak muda yang sedang patah hati.
Dari kejauhan terlihat Yoga yang juga berjalan terburu buru, dia mengejar Damar.
" Cepat masuk!" tegas Damar memberi jalan terlebih dahulu pada Yoga.
Betapa terkejutnya Damar saat melihat Kaila meringkuk di lantai dengan darah yang mengalir dari pangkal pahanya.
Yoga segera meraih tubuh Kaila, Gadis itu pucat pasi, air matanya mengalir sembari sesekali merintih kesakitan.
Saat ia merintih kesakitan darah mengalir lebih banyak dari pangkal pahanya.
Damar membeku, wajahnya ikut pucat melihat darah sebanyak itu.
Sementara Kinanti yang tau tau di belakang Damar,
" Ka.. Kaila?!" ucap perempuan itu terbata bata.
" Jangan lihat! pulang sekarang! pulang!" tegas Damar berbalik dan mendorong istrinya agar keluar dari kamar Kaila.
Kinanti mundur, ia tak kembali kerumahnya namun berdiri di ruang tamu menemani ibu yang sudah lemas dan tak bisa menangis lagi.
" Dia.. keguguran mas.." ujar Yoga sembari menatap Damar dengan pandangan yang sama sama tak percaya dengan apa yang terjadi.
Damar tak menjawab, ekspresinya bingung.
" Mas..!" panggil Yoga menyadarkan Damar.
" Ambil mobil, kita kerumah sakit sekarang?!" Yoga mengangkat tubuh Kaila.
Damar dan Yoga duduk di kursi tunggu IGD dengan baju yang berlumuran Darah.
Yoga dengan piyamanya, dan Damar dengan kaos dan celana pendeknya.
Keduanya tertunduk lemah, sama sama masih mencerna apa yang baru saja terjadi.
" Yusuf, ini pasti perbuatan Yusuf.. sudah bosan hidup rupanya dia!" gumam Damar menahan diri agar tak menarik perhatian para dokter dan suster yang berlalu lalang.
" Jangan terburu buru menilai mas, kita tunggu Kaila sadar dan tanya apa yang sesungguhnya terjadi.." sahut Yoga lebih tenang.
" Siapa lagi kalau bukan Yusuf?!" tangan Damar terkepal.
" Bukan itu maksudku,"
" lalu apa?!"
" ini tidak normal menurut pengamatanku, sepertinya Kaila sengaja melakukan proses penguguran.."
" Maksudmu Kaila sengaja menggugurkan kandungannya? bukan keguguran alami? maksudku.. bukan karena kandungannya tidak kuat atau apa?"
Yoga mengangguk,
__ADS_1
" aku bukan ahli kandungan mas, tapi aku bisa memastikan Kaila tidak menginginkan bayi dalam perutnya, karena itu dia berbuat seperti ini.."
Damar tertunduk, wajahnya merah padam, antara marah dan malu atas perbuatan adiknya.