
Di luar mulai gerimis, Damar dan Kinanti masih di atas tempat tidur mereka, keduanya seakan tak ingin bangun.
" Jadi.. tidak ada yang ingin mas katakan kepadaku..?" tanya Kinanti dengan kepalanya di atas dada Damar.
"Jangan merusak pagi kita.." ujar Damar lirih, ia kemudian berbalik dan memeluk erat istrinya itu.
" Aku harus tau apa yang sudah menimpamu mas.."
" aku tidak kuat mengatakannya.." ucap Damar mengecup kening Kinanti.
Kinanti yang mendengar jawaban semacam itu hanya bisa diam, rasanya tak akan baik jika ia memaksa suaminya untuk bercerita,
apalagi mood suaminya baru saja kembali seperti semula.
" Mas libur hari ini?" tanya Kinanti mengalihkan permbicaraan,
" Aku tidak ada jadwal ke kampus, tapi aku harus melihat kayu hari ini, sedikit jauh..
sore mungkin aku kembali kesini.."
ujar Damar,
" kemana?"
" ke pelosok.. ku katakan juga kau tak mengenal daerahnya..
tapi tetap di kabupaten ini,
aku harus melihat kayu kayu itu sudah layak potong atau belum.." jelas Damar.
" Mas dengan orang kantor?"
" tidak.. aku dengan Umar saja.."
" kenapa selalu Umar?"
" karena dia teliti dan cerdas.. dia orang kepercayaanku.."
" tapi bukankah banyak yang kemampuannya melebihi Umar di pabrik?"
" Benar.. tapi aku belum bisa menjamin kejujuran dan kesetiaan mereka.."
mendengar itu Kinanti terdiam, rupanya seperti itulah cara suaminya menilai seseorang.
Meskipun gerimis bertambah deras Damar tetap berangkat, ia mengendarai mobilnya bersama Umar, menembus jalan jalan yang masih berbatu dan masuk ke pelosok pelosok desa dimana kayu kayu nya di tanam.
Sedangkan Kinanti sengaja mencari kesibukan dengan membeli berbagai bahan kue dan makanan bersama Yuk di pasar tradisional terdekat ketika suaminya sudah berangkat.
Ia membuat puding coklat kesukaan Damar dan beberapa toples kue kering untuk cemilan.
Ia mempersiapkan semua itu untuk suaminya,
ia ingin ketika Damar pulang nanti, sudah bisa menikmati puding kesukaannya.
" Ibu ndak di kasih tho mbak?" tanya Yuk mengingatkan Kinanti.
" Iya ya yuk.. kasih yuk.. tapi yuk saja yang antar ya.. saya takut yuk.." ujar Kinanti, ia ingat betul peringatan suaminya agar sebisa mungkin tidak bertemu dengan ibu mertuanya.
" Nggih pun.. biar saya yang antar.."
__ADS_1
ujar Si yuk,
" mas Bagas sama mbak Winda jangan lupa e mbak..." ujar yuk lagi,
" Mbak Winda kan sedang keluar dengan keluarganya yuk.. mungkin nanti menjelang malam datang.. lebih baik besok saja ku kasih.." ujar Kinanti.
" Bagas dirumah ya yuk?" tanya Kinanti,
" Iya sepertinya, tapi kok nggak kesini blas yo mbak?" sahut yuk,
" Sekarang kan hari libur.. mungkin diam dirumah menghabiskan waktu dengan ayahnya..
apalagi habis hujan begini.." sahut Kinanti balik.
" Biar saya yang antar sekalian buat mas Bagas mbak..?"
" Biar saya saja yuk.. sekalian saya mau ketemu sama ayahnya Bagas..
sekalian kenalan.."
ujar Kinanti tersenyum.
Ia mengambil dua buah puding yang sudah di cetak di kotak khusus itu, satu untuk di berikan yuk, satu untuk ia bawa ke Bagas.
" Sek yukk... kue keringnya lupa..?!" panggil Kinanti pada yuk yang sudah di depan pintu rumah.
Kinanti mengambil satu toples kue kering dan memberikannya pada yuk.
Setelah yuk berangkat barulah dirinya yang membawa puding dan satu toples kue kering itu berjalan keluar.
Raut wajah Kinanti bersinar sekali pagi ini,
semangat dan kasih sayang yang di berikan oleh suaminya seperti memenuhi hati dan pikirannya akan hal hal yang baik.
dimana lagi ia bisa mendapatkannya,
pengorbanannya seperti tiada habisnya untuk Kinanti.
Ia juga bersyukur.. pernikahannya dengan Haikal batal,
kalau tidak.. mungkin dia akan menyesali keputusannya itu seumur hidup.
Tentu saja, Damar yang selama ini susah payah..
setengah mati untuk dirinya,
ia dengan mudahnya menerima laki laki lain hanya karena takut akan cintanya pada Damar.
Itu keputusan paling konyol dan tidak bertanggung jawab dalam hidupnya.
Dengan langkah tenang Kinanti berjalan melewati rumah ibu mertuanya, lalu melewati rumah Winda, ia terus berjalan ke arah rumah yang terletak paling ujung.
Kinanti sampai di teras rumah Bagas,
terlihat bahwa Bagas sempat bermain di luar baru baru ini, karena ada beberapa mainannya yang tercecer dan mungkin pengasuhnya lupa untuk mengambil.
" Tok tok tok..?!" Kinanti mengetuk pintu.
" Biar saya yang buka mbak.." Yoga yang sedang duduk santai sambil menonton tv bangkit.
__ADS_1
" Bagas saja..!" Bagas yang sejak tadi di tidurkan oleh pengasuhnya berlari keluar kamar.
" Astaga?! Bagas..?!" ujar Yoga menyusul putranya berjalan ke arah ruang tanu dengan menahan gemas.
" Ceklekkk.." suara pintu terbuka,
Bagas menemukan Kinanti berdiri di hadapan pintunya.
" Tante!" ujar Bagas keras,
" Hai sayang? tante punya puding coklat.." Kinanti menunjukkan bawaannya, lalu memberikan nya pada Bagas.
" Asikk! asikk!" ujar Bagas sembari menerimanya,
" Papa! papa?!" panggil Bagas sembari menarik tangan Kinanti agar masuk kedalam.
" Bagas?!" Yoga yang mengejar langkah Bagas mau tak mau akhirnya sampai di depan pintu.
Dan di pintu itu ia berhadapan dengan seseorang yang di hindarinya selama ini.
Jeder..!
Seperti tersambar petir di siang bolong, keduanya membeku, saling menatap tak percaya,
bahkan Kinanti seperti orang linglung.
Bahkan ia tak bergerak meskipun Bagas menarik narik tangannya, hingga pengasuh Bagas datang dan meraih Bagas.
" Bawa Bagas masuk ke kamar mbak" ujar Yoga dengan suara setengah bergetar.
Ia menguatkan dirinya agar kembali normal seperti semula,
ia juga memaksa dirinya agar bisa berpikir jernih dalam situasi ini.
Apa yang harus di lakukan sekarang.. hanya itu yang ada di pikiran Yoga.
Dan setelah Bagas dan pengasuhnya pergi, Yoga mulai mendekat.
" Apa.. apa kabar...?" ujar Yoga setenang mungkin, ia mencoba tersenyum meski sulit.
Namun Kinanti tak menjawab, ia tetap terpaku di tempatnya dengan ekspresi wajah yang tak bisa Yoga mengerti.
Mungkin kaget, sedih, juga menyesal, Yoga terlalu kacau untuk menangkap ekspresi apa itu sesungguhnya.
" Kau.. kau pasti kaget, aku.. aku bisa jelaskan..?" ujar Yoga mendekat,
Namun Kinanti mundur seketika,
" Kau.. papanya Bagas..?" tanya Kinanti kemudian dengan mata yang sudah siap menjatuhkan bulir bulir air matanya.
Yoga tertunduk sejenak,
namun diangkatnya kembali kepalanya, lalu mengangguk lemah.
" Aku bisa menjelaskan apa yang sedang terjadi Nan..?!" Yoga berusaha meraih tangan Kinanti, namun Kinanti dengan sigap menarik tangannya agar tak tersentuh Yoga.
Dengan gerakan kasar ia berbalik dan kembali pulang ke arah rumahnya dengan langkahnya yang cepat, bahkan setengah berlari.
Ia tak mau ada orang lain yang melihat air matanya mengalir dengan deras.
__ADS_1
Hatinya seperti di hantam berkali kali, sakit sekali rasanya melihat orang yang sudah menyakitinya dan menghancurkannya sedemikian rupa, ternyata hidup begitu dekat dengan dirinya.
Bahkan ia adalah saudara dekat suaminya, dan ayah dari anak yang sangat di sayanginya hampir dua bulan ini.