
Winda berjalan masuk, mengintip Kinanti di kamar,
dan yang di intip sedang tertidur pulas.
Winda menutup pintu kamar Kinanti dan berjalan ke arah dapur.
Winda menemukan nasi goreng di dalam wajan, dia meneliti kiri dan kanan.
"Di depan ada mobil Yusuf, Kaila juga seharusnya menemani Kinanti, kemana mereka?" gerutu Winda sembari berjalan berkeliling, dia tidak menemukan siapapun.
" Anak anak muda ini benar benar?! di suruh menjaga malah keluyuran!" Winda berjalan keluar.
Tapi sekali lagi dirinya bingung menemukan sandal dan sepatu Yusuf.
" Win?! Kaila suruh pulang?!" suara ibu Kaila dari teras.
" Sepertinya kerumah mbah uti! sampean cari saja disana!" jawab Winda.
" Owalah... ya wes, ndak usah..!" ujar ibu Kaila lalu segera masuk lagi ke dalam kamarnya.
Kinanti terbangun, ia melirik jam dinding, jam satu malam.
Kinanti keluar dari kamarnya, lalu berjalan menuju ruang tamu, pandangannya terbentur oleh Yusuf yang sedang tertidur di sofa.
" Suf..? Suf..?" Kinanti membangunkan Yusuf.
Sayup sayup Yusuf membuka matanya,
" Kenapa?!" tanya Yusuf sedikit terkejut dan langsung bangkit.
" Tidak ada apa apa.. kenapa kau tidak pulang?" tanya Kinanti.
" Sudah terlalu malam, jadi besok saja aku pulang.. aku juga tidak tenang.."
jawab Yusuf dengan sikap sedikit berbeda,
" Kenapa tidak tidur di kamar tamu, ada dua kamar kosong.."
" emhh.. tidak, aku disini saja.. siapa tau mas Damar tiba tiba pulang.."
" Kaila?"
Yusuf mendadak tertunduk,
" dia tidur di kamar.."
" Kalian tidak bertengkar lagi kan?" tanya Kinanti sedikit heran dengan sikap Yusuf, rasanya ada yang tidak benar.
" Tentu saja tidak.."
" yang benar? kau jangan aneh aneh ya Suf, aku sudah pusing.. jadi kau jangan membuat masalah dengan ribut terus dengan Kaila.." peringat Kinanti.
" Aku sudah bilang tidak Nan.. astaga..?" keluh Yusuf gugup.
" Wajahmu seperti seseorang yang sudah berbuat salah sih..." ujar Kinanti lalu berjalan kembali ke dalam kamarnya.
Kinanti sudah siap untuk berangkat ke sekolah, dia mengambil kunci vespanya di atas meja tengah.
Terdengar suara berisik dari arah dapur, Kinanti yang penasaran berjalan ke arah dapur.
Dia menemukan Yusuf yang sedang membuat susu hangat.
__ADS_1
" Kau tidak makan apapun mulai dari kemarin, setidaknya minumlah susu.."
Yusuf menyerahkan segelas susu hangat untuk Kinanti.
Kinanti melirik meja, ada satu lagi gelas berisi susu.
Setelah Kinanti meminum habis susunya, Yusuf mengambil segelas susu lain dan membawanya masuk ke kamar tamu.
Raut wajah Yusuf cemas, membuat Kinanti penasaran.
Rupanya Kaila sedang terbaring disana, wajahnya terlihat pucat.
" Kenapa La? sakit?!" tanya Kinanti ikut cemas.
" Aku baik baik saja mbak.." jawab Kaila sembari melirik Yusuf.
" Plaakkk!!! plaakk!!!" Kinanti memukul punggung Yusuf dengan keras.
" Kau apakan Kaila?! aku kan sudah bilang jangan macam macam!" sembur Kinanti sembari memukul Yusuf lagi beberapa kali.
Kedua anak manusia yang sedang berada di hadapan Kinanti itu diam sediam diamnya, dan sama sama tertunduk.
" Kaila?!" suara ibu Kaila masuk,
Kinanti buru buru keluar dari kamar agar ibu Kinanti tidak masuk.
" Masih mandi bu, setelah mandi biar saya sampaikan kalau ibu kesini.." ujar Kinanti buru buru.
" Memangnya adikmu itu tidak kuliah? terus di depan itu mobil siapa? mulai dari kemarin kulihat?" tanya ibu Kaila ketus seperti biasanya.
" Itu mobil saudara saya bu, iya biar saya suruh Kaila cepat cepat.." Kinanti mencoba tersenyum.
" hemm, ya sudah..!" jawab ibu Kinanti lalu berbalik pergi.
Dahi Kinanti berkerut heran, namun hari ini ada upacara, dia tidak boleh terlambat.
" Ah sudahlah, terserah kau saja, sebentar lagi Yuk datang katakan apa yang kau butuhkan padanya." Kinanti buru buru berjalan keluar.
Damar duduk di kantin kampus, sejak pagi dia diam disana.
Karena beberapa hari lagi sudah mulai libur semester, kampus terasa juga begitu lenggang.
Laki laki berkemeja biru tua itu duduk di satu satunya kantin yang masih buka.
Tanpa sadar ia sudah menghabiskan beberapa batang rokok.
" Bapak ini mau makan apa mau merokok?" tanya si pemilik Kantin duduk tak jauh dari Damar.
Si ibu kantin itu terheran heran, soto ayam yang di pesan Damar sejak tadi tidak di sentuh juga, sampai sampai kuah sotonya habis terserap oleh nasi.
" Saya ganti yang hangat ya pak?" si ibu menawarkan,
" jangan bu.. tidak apa apa, biar saya makan.." kata Damar sedikit tersenyum, dia membuang rokoknya yang tersisa setengah.
Wajahnya tampak tak secerah biasanya, kantung matanya pun begitu tebal.
Rambut yang biasanya rapi di wax, kini di biarkan begitu saja terkena bekas helmnya.
" Bapak sakit tho pak?" tanya si ibu,
" ndak bu.. sehat.." jawab Damar sembari memakan soto yang sudah dingin itu sesendok.
__ADS_1
" Njenengan lesu pak.." ujar si ibu lagi,
" iya bu.. saya sudah berhari hari tidak tidur.." Damar tersenyum,
" lho? bahaya lho pak? naik motor lagi??" si ibu khawatir.
" Ah.. sudah biasa bu.." Damar meneruskan soto itu.
Dari kejauhan datang sosok yang di kenalnya baik, itu adalah Rian.
" Kau disini rupanya.. kulihat motormu di parkiran, tapi kau tidak ada di ruanganmu.." Rian duduk di sebelah Damar.
" Makan.." Damar menawarkan,
" boleh bu, tadi belum sempat sarapan, pecel nggih buk?" Ujar Rian dengan logat jawanya yang kental.
Si ibu mengangguk dan masuk untuk menyiapkan pesanan Rian.
" Kau sudah tidak ada kelas kan mulai hari ini? ada keperluan lain?" tanya Rian,
" hanya menyelesaikan beberapa hal saja.." jawab Damar sekenanya.
" Jangan lupa lusa ya.. hubungi aku jika kau berubah pikiran.." kata Rian sambil menepuk pundak Damar, dan Damar hanya diam saja, tak menjawab.
Yoga terlihat begitu resah, ia baru saja pulang dari rumah sakit karena mengecek beberapa jahitannya yang terasa sakit.
Kata Winda dan Yudi, Damar sudah tidak pulang selama 3 hari, di tambah dengan hari dimana pertengkaran itu terjadi totalnya 4 hari.
Bagaimana ini.. Yoga cemas, ia bahkan tidak bisa beristirahat dengan tenang.
Winda pun melarang keras Yoga bicara dengan Kinanti.
" Kenapa kau mondar mandir di depan jendela begitu, jahitan di punggungmu itu bisa terbuka jika kau terus tegang," suara Winda masuk membawa makanan.
" Mas Damar masih belum pulang?" tanya Yoga,
" belum.." jawab Winda pelan,
" coba aku yang menghubunginya? apakah mungkin di jawab oleh mas Damar?"
" Aku sudah puluhan kali menghubunginya, tapi selalu di abaikan.. apalagi kau yang sudah dianggap pengkhianat olehnya.." ujar Winda.
" Kalau Kinanti bagaimana??"
" Sama saja.. di chatpun tidak di baca.."
Mendengar itu Yoga tertunduk dalam,
betapa besar kerusakan yang sudah ia timbulkan.
Gara gara ingin menghidupi perasaannya sendiri, ia mematikan perasaan orang lain..
bahkan mungkin..
bisa di katakan, ia sudah mengobrak abrik ketenangan hidup Kinanti dan Damar.
Ia sungguh tak ingin begini,
bukan ini hal yang ia inginkan..
dia bersikap seperti ini tidak untuk menyakiti Kinanti atau Damar.
__ADS_1
Dia hanya ingin berada disamping Kinanti, dan tidak di lupakan..
bukan ingin merebutnya atau bahkan membuatnya berpisah dari Damar.