Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
lepaskan aku


__ADS_3

Dua hari berlalu semenjak Yoga pulang, hatinya sungguh tak sanggup untuk menuruti perintah Winda untuk menjauhi Kinanti.


Ia tak berharap banyak, berada disamping Kinanti dan bisa menyapanya setiap hari saja sudah cukup.


" Kalau mas Damar sudah tau, dia pasti sudah mendatangiku dan bertanya, tapi nyatanya mas Damar sama sekali tidak menemuiku.." Yoga bergumam sendiri.


Ia mondar mandir di ruang tamunya.


" Papa?" Bagas baru saja bangun dan berjalan kearahnya.


" Tidurlah lagi kalau masih ngantuk.. papa libur hari ini," ujar Yoga mengelus kepala putranya.


" Ajak Bagas main.." ucap Bagas dengan mata masih lengket.


" Tentu saja, nanti agak siang kita berenang ya, sekarang mandi dulu ya?" Yoga menggendong putranya itu, dan membawanya menuju kamar mandi.


" Mbak? mandikan Bagas dulu," Yoga memanggil pengasuh Bagas yang sedang sibuk memasak di dapur itu.


" masaknya nanti saja.." Yoga menyerahkan Bagas ke gendongan pengasuhnya.


" Mas?" Kinanti menghentikan langkah suaminya, Damar berdiri di teras rumahnya.


" Hemm.." sahut Damar menoleh kearah istrinya.


" Mau jenguk ibu.." pandangan Kinanti memohon untuk diantar,


" Ke pabrik sebentar ya?"


mendengar itu Kinanti mengangguk,


" bawaannya banyak?" tanya Damar faham dengan kebiasaan istrinya yang selalu membawa bawaan untuk ibunya.


" Tidak ada, ibu bilang semuanya masih banyak.."


Damar mengangguk,


" Kalau begitu naik motor saja, mumpung harinya cerah juga..


gantilah bajumu dulu, mas hanya ingin melihat orang orang sebentar,


tidak banyak yang masuk di hari libur seperti ini, tapi mas tetap harus melihat mereka sebagai bentuk keperdulian mas.." jelas Damar


" Iya iya.. seperti baru kemarin saja jadi istrimu..


tanpa mas menjelaskan pun aku akan memahaminya.."


Damar tersenyum ringan, lalu segera melanjutkan langkahnya.


Rasanya sudah seminggu, bahkan lebih.. Damar tak melihat batang hidung Yoga sama sekali.


Laki laki yang rajin joging subuh buta itu pun sudah tak pernah terlihat joging lagi.


Entahlah... Damar tak mau memikirkannya,


Damar mempercepat langkahnya melewati halaman rumah dan terus berjalan melewati persawahan menuju pabrik.


Yoga yang melihat Damar berjalan pergi merasa lega.


Entah kenapa, saat ini ia merasa dirinya seperti maling,


setiap waktu sembunyi dari Damar.


Di gendong putranya itu keluar dari rumahnya.


" Ke budhe sebentar ya?" ujar Yoga pada putranya, dan Bagas yang polos itu mengangguk.


Sesampainya di rumah Winda, Yoga mendudukkan putranya di sofa depan tv.


" Mbak?! jaga Bagas?!" suara Yoga menembus dari ruang tengah ke dapur.


" Arep nangdi awakmu? ( mau kemana kamu?)" Winda berjalan dari arah dapur dengan terburu buru.


" Ojok dolen ae Yog?! ( jangan main saja Yog?!)" sembur Winda karena mengira adiknya itu akan keluar pagi pagi di hari libur begini tanpa mengajak anaknya.


" Aku hanya mau mengecek mesin mobil sebentar mbak.." ucap Yoga tenang,


" bukan mau kemana mana.." imbuh Yoga.


" Ya wes.., biar di jaga sama mas Yudi, aku sedang membuat camilan soalnya.."


jawab Winda kembali berjalan ke arah Dapur, tak lama Yudi datang,


ia duduk persis di sebelah Bagas.


" Pergilah.." ujar Yudi pelan,

__ADS_1


Mendengar itu, tanpa berkata apapun Yoga berjalan keluar dari rumah Winda.


Namun siapa sangka, bukannya melihat mobil seperti apa yang di katakan pada Winda,


Yoga malah berjalan ke arah rumah Damar.


Kaila yang duduk di kursi ruang tamu dan tepat di samping jendela, tak sengaja melihat Yoga melintas.


Yoga membuka pintu rumah yang memang tidak di kunci itu.


Ia langsung saja masuk dan mencari keberadaan Kinanti.


Dan langkah laki laki itu terhenti ketika menemukan sosok Kinanti yang baru saja keluar dari kamar.


Kinanti menggunakan celana jeans dan kemeja berwarna unggu muda, sedangkan rambut panjangnya hanya di rapikan ke belakang seadanya menggunakan jepit rambut, ia tampak cantik dan kalem.


Kinanti mundur seketika melihat Yoga yang tiba tiba masuk,


" Kalau cari mas Damar di pabrik!" tegas Kinanti setengah terkejut mengetahui Yoga yang tiba tiba berada di dalam rumahnya.


" Aku tidak mencari mas Damar.." jawab Yoga dengan raut wajah di penuhi rindu.


" lalu?" Kinanti mengerutkan dahi,


" tentu saja mencarimu.. kau sudah sehatkan? aku pergi keluar kota saat kau sakit, tentu saja aku ingin menanyakan kabarmu..?"


" menanyakan kabarku saat mas Damar tidak ada dirumah? darimana kau dapat keberanian semacam ini?!" Kinanti ketus.


" Pergilah, aku tidak mau suamiku salah faham!" tegas Kinanti lagi.


" Aku ingin bicara.." Yoga tetap tidak beranjak dari tempatnya.


" Aku sudah bilang berkali kali, tidak ada perihal apapun yang perlu kau bicarakan denganku, selain hubungan persaudaraan!


jadi.. pergilah.." Kinanti membuang muka, dan berjalan menjauh menuju dapur, berharap melihat tingkahnya yang tidak ramah itu akan membuat Yoga segera pergi dari rumahnya.


Namun bukannya pergi, laki laki berkulit putih itu malah mengikuti langkah Kinanti.


" Ayo bicara..?" Yoga menarik tangan Kinanti.


" Yoga!!" pekik Kinanti menarik tangannya kembali,


namun Yoga erat menggenggam nya.


" Jangan berteriak, aku tidak akan menyakitimu?! kau tau itu.." pandangan Yoga memohon.


" lepaskan aku, dan segera pergi dari sini!"


" tidak!" bentak Yoga, dia frustasi sekali dengan penolakan Kinanti.


Padahal perasaannya sudah mendesaknya setengah mati untuk segera melihat dan bicara dengan Kinanti.


Setakut apapun ia pada Damar, ia tetap memberanikan diri untuk menemui perempuan yang masih di cintainya itu.


Betapa sedih dan kecewa hatinya saat tau rindunya tak terbalas dengan baik.


" Aku mencintaimu.. aku yang lebih dulu mencintaimu..?!


aku juga bisa menghidupimu sebaik mas Damar?!" tegas Yoga menarik kedua lengan Kinanti kuat hingga Kinanti meringis kesakitan.


" Sakit Yog?!" desis Kinanti dengan wajah meradang.


" Katakan kenapa sebenarnya? kenapa kau tidak mau kembali kepadaku?


apa karena aku memiliki Bagas? apa karena itu?" tanya Yoga dengan ekspresi yang sungguh sungguh tak pernah di lihat Kinanti.


Laki laki itu sungguh menyedihkan di tengah kemarahannya.


Keputusasaannya begitu terlihat jelas di mata Kinanti.


" Kau bukan orang yang bodoh, tentunya kau tau dengan benar kalau Bagas tidak ada hubungannya dengan ini semua,


sadarlah! hubungan kita hanya masa lalu, bagaimanapun cara kita berpisah..


aku mencintai mas Damar sekarang.." ucap Kinanti tenang namun tegas.


Keduanya berpandangan, mata Yoga mulai memerah menahan getir di hatinya.


Rasanya seperti di sayat sayat dan setengah mati pedihnya saat ia mendengar dengan jelas bahwa dirinya tidak lagi menjadi pemilik hati Kinanti, namun Damarlah yang menjadi tuannya sekarang.


" Tapi aku mencintaimu? jangan abaikan aku?!" Yoga masih tidak bisa menerima kenyataan, ia tidak mau menerima penolakan dari Kinanti.


" Aku hanya ingin berada disampingmu? tolonglah?


aku akan meminta maaf pada mas Damar..

__ADS_1


aku juga akan meminta pengertiannya.."


" plakk!!!"


Ucapan Yoga terhenti, tangan Kinanti yang lepas dengan susah payah dari cengkraman Yoga, malah di didaratkannya di wajah Yoga.


Kinanti yang sudah tak sanggup mendengar kalimat kalimat Yoga itu, ia terpaksa menampar laki laki itu agar berhenti bicara.


" Sadarlah!" sembur Kinanti,


" Dimana akal sehatmu?! aku tidak akan membiarkanmu berbicara macam macam pada mas Damar!"


imbuh Kinanti keras.


Yoga terdiam, merasakan panas bekas tamparan Kinanti di pipinya.


" Kau kira kalimat kalimatmu itu tidak akan menyakiti hati mas Damar nantinya?!"


Yoga tersenyum getir,


" Jadi hanya perasaan mas Damar saja yang kau perhitungkan? bagaimana dengan perasaanku? pernah kau memikirkan perasaanku?!!"


" Kau tidak waras! kalau kau tidak mau pergi, maka aku yang akan pergi!"


Kinanti berbalik, namun lagi lagi Yoga menariknya.


Laki laki itu tiba tiba terduduk di hadapan Kinanti,


" Baiklah.. aku yang salah.. semuanya aku yang salah...


aku mengakuinya..


tapi tolong??


jangan pergi dan mengabaikanku..


tidak ada perempuan manapun yang menghuni hatiku selain dirimu Nan..??" laki laki itu memohon, bertumpu di lantai dengan kedua lututnya, sembari memeluk kedua kaki Kinanti.


" Aku akan diam diam.. aku tidak akan membuat masalah lagi, aku janji..


aku janji..


tapi jangan abaikan aku..


jangan abaikan aku Nan..?"


Suara Yoga tertahan, ia bersusah payah menahan air matanya agar tidak mengalir.


Ia benar benar tidak mau di abaikan dan tidak dianggap oleh Kinanti.


" Aku minta tolong padamu Yog.. lepaskan aku? aku mencintai mas Damar..


dia suamiku..


jangan membuatku berada dalam situasi yang sulit..


Hubungan kita sudah berakhir,


semenjak kau menikahi perempuan lain dan mencampakkanku..


lepas dari apapun alasanmu saat itu..


aku tidak akan pernah bisa lagi menerima perasaanmu.." kata Kinanti mencoba lebih tenang,


tubuhnya juga sudah lelah memberontak dari kelakuan Yoga,


ia berharap laki laki itu mengerti dan segera melepaskannya.


" Aku tidak bisa.. aku tidak bisa.." suara Yoga sembari menahan keputusasaannya.


" Aku tidak mau melepaskanmu.." ucap Yoga lagi dengan suara lebih menyedihkan.


Tiba tiba terdengar suara langkah kaki yang berat mendekat ke arah Kinanti dan Yoga.


perempuan itu tercekat, dan raut wajahnya berubah tegang seketika melihat sosok suaminya yang sedang berjalan kearah dirinya yang sedang berdiri dan Yoga yang sedang setengah berlutut sembari memeluk kedua kakinya.


Kinanti ingin menyuruh Yoga untuk melepaskannya, namun suaranya seperti tersangkut di tenggorokan.


Tubuh wanita itu gemetar melihat raut wajah suaminya yang merah padam, meradang penuh kemarahan.


Yoga yang masih belum sadar dengan kehadiran Damar tak bisa mengelak saat punggungnya di cengkeram dan di lempar oleh Damar.


" Braakk!!" tubuh Yoga di lemparkan dengan keras oleh Damar,


membentur kursi dan meja makan. Yoga menggeliat kesakitan, namun belum lagi Yoga bangkit,

__ADS_1


Damar menarik lagi tubuh Yoga dengan kasar dan meleparkannya lagi ke ujung dapur.


" Pyarrrr..!!!" suara keras dari lemari kaca yang pecah karena bertabrakan dengan tubuh Yoga.


__ADS_2