Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
gara gara mobil


__ADS_3

Yoga menunggu Kinanti sedikit jauh dari rumahnya,


itu atas dasar permintaan Kinanti sendiri, agar ibu dan saudara saudaranya tidak bertemu dengan Yoga.


" Sudah selesai acara arisan keluargamu?" tanya Yoga di sela sela kesibukan nya memperhatikan jalan.


Kinanti diam, tak menjawab.


Yoga menghela nafas panjang tanpa protes, sesungguhnya baginya berbincang dengan Kinanti adalah hal yang sangat baik untuk hatinya,


suara perempuan itu selalu membuatnya bersemangat.


" Lho? kemana?" tanya Kinanti ketika melihat Yoga membelokkan mobilnya ke jalan lain,


" Ini bukan arah kerumah?" tanya Kinanti lagi.


" Kita belikan Bagas makanan dulu ya? tidak apa apa kan? sekalian bungkus untuk mas Damar juga tidak masalah.." jawab Yoga.


Kinanti lagi lagi diam mendengar itu, apa yang bisa ia lakukan jika itu berhubungan dengan Bagas.


" Kau sibuk akhir akhir ini.. Bagas sedikit sedih.." ucap Yoga tak lama,


" dia masih bisa bersamaku ketika sore.." jawab Kinanti tenang,


" tapi dia bicara padaku sudah berhari hari tidak kau gendong dan ajak main.."


" Itu karena dia tidak kerumah,"


" Kau kan bisa mengambilnya dirumah?"


" Apa pantas? aku melangkah kan kaki kerumahmu?"


" Memangnya kenapa? di mata orang lain hubungan kita hanya saudara.." jawab Yoga juga tenang.


" Kenapa? kau takut aku menyergapmu?" tanya Yoga dengan wajah datar, namun banyak penekanan di dalam suaranya.


" Mulai tidak waras.." gumam Kinanti sinis,


" Sepertinya.. aku mulai sulit mengontrol perasaanku,


apa aku pindah rumah saja agar tak melihatmu?"


Suasana hening sejenak diantara keduanya, Kinanti bahkan tak tau harus menjawab apa.


" Aku benar benar akan menculikmu jika kau bukan istri saudaraku.." keluh Yoga lagi.


" Apa kau tau rasanya?"


" Jangan bersikap seperti kau saja yang paling menderita,


apapun alasannya kau yang tidak bisa mempertahankan hubungan kita..


jangan bersikap seolah aku yang menyakitimu?!"


" yah.. aku yang pengecut, tapi itu ku lakukan demi dirimu?"


" Aku juga menderita selama bertahun tahun Yoga?!"


" Aku juga!" tegas Yoga tanpa menatap Kinanti.


" Aku harus menikah dan tidur dengan orang yang tidak ku cintai! apa kau tau betapa menyakitkan itu?!


aku bahkan selalu membayangkan wajahmu!" imbuh Yoga.


Kinanti terdiam, dan suasana menjadi lebih canggung.


" Ini tidak akan ada habisnya jika kau tidak mau menerima kenyataan.." ujar Kinanti berusaha tenang.

__ADS_1


" Aku harus apa agar kau sadar, bahwa kita tidak boleh membicarakan hal semacam ini lagi..?"


" Terima aku, terima aku disampingmu..?"


Kinanti terhenyak, tapi tak lama ia menyadarkan dirinya.


" Turunkan saja disini, aku bisa pulang naik ojol, aku tidak tahan lagi mendengar ini semua.." Ujar Kinanti.


" Oke.. oke.. aku tidak akan membahas ini, jangan turun oke??" ujar Yoga, dia meraih tangan Kanan Kinanti.


" Yoga?! jangan begini?!" Kinanti berusaha melepaskan tangan Yoga dari tangannya, tapi pegangan Yoga terlalu erat.


" Diamlah, atau kita akan menabrak sesuatu! " ucap Yoga tegas.


" Aku salah.. maafkan aku, harusnya aku tidak mengikuti kata hatiku.." Ujarnya tenang sembari melepas tangannya.


" Aku akan berusaha mencintaimu setenang mungkin.." lanjutnya,


" Jangan membuatku jadi pengkhianat..


aku tidak mau menyakiti suamiku, dia tidak pantas di perlakukan buruk,


bukankan aku sudah bilang,


carilah istri yang baik.. aku akan hidup berdampingan dengan kalian sebagai saudara.." Kinanti benar benar serius.


Yoga yang tidak tahan menepikan mobilnya.


Keduanya terdiam cukup lama,


Yoga bahkan memegangi kepalanya yang tidak sakit beberapa kali, ia terlihat frustasi.


" Apa benar benar sudah tidak ada aku di dalam hatimu? sedikitpun?" tanyanya menatap Kinanti lembut dan penuh harapan.


Kinanti lagi lagi hanya bisa membuang pandangannya keluar jendela untuk menghindar.


" Bukan berarti aku tidak mencintainya!"


" lalu kenapa kau menolaknya berkali kali?"


" Itu karena kau!"


Yoga tertegun,


" aku menderita trauma dan krisis kepercayaan gara gara kau kecewakan! sehingga saat menyadari bahwa aku mulai mencintai mas Damar aku menjadi takut, dan ingin lari dari perasaanku sendiri, karena aku tidak mau terluka lagi!" tegas Kinanti dengan air mata yang tau tau sudah tumpah.


Yoga benar benar tak sanggup berkata kata melihat perempuan yang masih di cintainya itu menangis.


Ingin rasanya memeluknya, tapi dirinya tak seberani itu, di tahan perasaannya agar dirinya tak melewati batas.


" Maafkan aku..?" laki laki itu meraih tangan Kinanti,


" Maafkan aku..??" Yoga mencium tangan Kinanti.


" Aku salah.. aku salah padamu.." ucap laki laki itu juga di penuhi rasa nelangsa melihat air mata Kinanti,


ia benar benar bingung dengan perasaannya.


Perempuan di hadapannya ini benar benar bisa membuat emosinya naik turun, membuat dirinya tak menginginkan apapun lagi selain Kinanti.


Tapi kenyataan benar benar pahit..


ia tak bisa berbuat apapun untuk mengendalikan hatinya, rasanya seperti tak ada jalan untuk membuang perasaannya pada istri saudaranya itu.


Damar duduk di teras, ia sedikit gusar karena Yoga dan Kinanti belum terlihat juga.


Yoga sempat mengirim pesan bahwa mereka akan mampir untuk membelikan Bagas makanan sebentar, tapi kenapa lama sekali..? pikir Damar,

__ADS_1


karena was was ia berkali kali menelfon istrinya melalui vidio call, tapi istrinya itu tak menjawab.


" Belum pulang mbak Kinannya?" Kaila tau tau ada disamping Damar, dan duduk disampingnya.


" Ngagetin orang saja.." ucap Damar,


" Ah, mas saja yang melamun, sampai sampai tidak sadar aku disini..?" protes Kaila.


" Mobil mas sudah bisa?" tanya Kaila,


" Di bengkel.." Jawab Damar sembari menghisap rokoknya, wajahnya terlihat gusar.


" Gelisah sekali? pasti di pulangkan dengan selamat istrimu mas.."


Damar terdiam,


" Mas tidak ada rencana ajak mbak Kinanti liburan kemana gitu mas?" celoteh Kaila,


" Kemana? aku tidak ada libur.." jawab Damar datar.


" Ah.. tidak seru, masih pengantin baru lho.. kemana kek.. kemana? menginap beberapa hari?"


" hemm.." jawab Damar,


" Ku pikirkan nanti.." imbuhnya masih menghisap rokoknya.


" Merokok terus!"


" Jangan cerewet.." ucap Damar seperti malas bicara, matanya sibuk mengawasi jalan.


Tak lama sekitar 20 menit, mobil putih Yoga terlihat memasuki halaman rumah.


Damar bangkit dan mendekat, mengawasi istrinya yang keluar dari mobil.


Matanya tak sengaja menemukan Yoga yang menatap istrinya dengan pandangan yang berbeda,


pandangan lembut dan penuh kekhawatiran.


Tapi Yoga buru buru tertunduk saat ia menyadari Damar menatapnya.


" Kenapa?" tanya Damar melihat sisa sisa sembab di mata istrinya,


" Tidak apa apa mas.." jawab Kinanti tersenyum.


" Maaf mas, sedikit lama.. bungkus makanan dulu..?" ujar Yoga, sembari menyerahkan bungkusan makanan pada Damar.


Damar menerimanya tanpa pikir panjang, ia lebih fokus pada wajah istrinya.


" Ada apa dijalan?" tanya Damar pada Yoga karena ia penasaran sekali.


" Itu mas.." belum Yoga menjawab, Kinanti menyahut,


" Aku hanya ingat sesuatu yang menyedihkan saat melihat sesuatu dijalan mas.. aku benar benar tidak apa apa.."


Damar masih ragu,


" Sungguh?" tanya Damar,


" sungguh mas.." Damar melihat Yoga sejenak,


" Ya sudah.. ayo masuk, terimakasih ya Yog?" ucap Damar.


Meski diam, tapi Damar cukup peka..


ada sesuatu yang tidak benar,


entah kenapa juga hatinya gelisah saat melihat Yoga berdekatan dengan istrinya.

__ADS_1


kalau tidak gara gara mobil itu mana mungkin ia menitip nitipkan istrinya pada laki laki lain, meski itu saudaranya sendiri.


__ADS_2