Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
masih mencintainya


__ADS_3

Damar mengambil tasnya di kamarnya yang sekaligus di jadikan tempat belajar dan bekerjanya.


Dengan langkah tenang ia keluar dan menyapa istrinya yang sedang sibuk di dapur.


" Aku berangkat ya?" Damar memeluk Kinanti dari belakang dan mencium pipinya.


Kinanti yang sedang sibuk mencuci piring berbalik.


Hidungnya menangkap bau parfum yang beberapa bulan ini sudah akrab di hidungnya.


Di awasinya suaminya itu dari atas ke bawah.


" Hanya ke pabrik saja kan? kenapa membawa tas segala? apa ada janji di luar?" tanya Kinanti heran.


Selama ini ia berpikir Damar selalu datang rapi kerumahnya karena pulang dari janji atau acara dengan rekan bisnisnya.


Namun di hari pertama ia melihat suaminya kerja dan berpenampilan rapi begini rasanya aneh, apalagi dengan jarak pabrik yang begitu dekat.


" Aku tidak ke pabrik hari ini sayang.." jawab Damar mengecup bibir Kinanti.


" tidak ke pabrik?" dahi Kinanti berkerut.


" iya, aku ada kelas pagi ini.. dan mungkin nanti aku pulang sedikit sore karena di kampus sedang ada acara.." ujar Damar.


Kinanti tertegun,


" Kampus? kelas? mas kuliah lagi??" wajah Kinanti menyiratkan kebingungan.


Damar tersenyum,


" aku memang tidak pernah memberi tahumu soal pekerjaanku.. tapi kurasa ibu juga tahu.. apa ibu tidak pernah menyinggungnya..?"


" tidak, ibu malah berkata kau seorang tukang kayu.." Kinanti cemberut.


" Ya memang kan?"


" lalu untuk apa bapak ke kampus?"


" tentu saja untuk bekerja ibu.."


" sebagai apa?"


" Aku bekerja sebagai dosen tidak tetap.."


Kinanti terdiam, wajah ya semakin masam.


" Eh.. kenapa wajahmu begitu? kau tidak senang dengan pekerjaanku?" Damar mencubit pipi istrinya.


" Kenapa merahasiakan hal ini dariku?" tanya Kinanti masih masam.


" Kenapa?" Damar tersenyum,


" apa aku harus mengatakan segalanya padamu.. sementara kau selalu menolakku..?


aku bahkan tidak bisa berpikir dengan baik saat disampingmu, jadi maafkan aku jika kau merasa aku merahasiakannya.."


" jadi suamiku juga seorang dosen? yang akan bertemu dengan mahasiswi mahasiswi cantik setiap harinya?"


Damar tergelak.


" Malah tertawa..?!" Kinanti memukul lengan Damar.


" Aku sudah lama mengajar sebagai dosen.. kalau aku mau mahasiswi cantik, tentu saja aku bisa..


tapi kenapa aku malah mengejar ngejar bu guru yang galak ini?" Damar mengecup dahi istrinya.


" Aku bukan guru lagi.. jadi jangan membuatku semakin sedih.."


" hei.. mengajarlah lagi jika kau mau, disekitar sini banyak SD, aku kenal beberapa kepala sekolah..


jika kau mau, kita akan bertanya apakah ada tenaga guru yang di butuhkan.."


" yang benar mas??" raut Kinanti langsung berubah lebih ceria.


" Tentu.. aku akan selalu mendukungmu, tapi.. jangan melupakan tanggung jawabmu sebagai nyonya dirumah ini ya bu.. termasuk memanjakan suamimu ini.."


Kinanti mengangguk sembari tersenyum.


" Nah.. begitu dong.. aku kan jadi tenang berangkat kerja melihat senyummu yang manis itu.."

__ADS_1


kecupan demi kecupan turun, membuat yuk yang lewat sembari memegang sapu merasa risih dan malu sendiri karena tidak sengaja melihat kemesraan itu.


Tapi untungnya yuk adalah orang yang pengertian dan tidak banyak komentar.


Dia menyadari tuannya dan nyonyanya itu adalah pengantin baru, tidak aneh juga kalau mereka bermesraan dimana mana, toh ini rumah mereka juga, pikir yuk.


" Nah.. kalau ada apa apa, minta tolong yuk atau mbak Winda..


kalau mau kemana mana minta antar Umar, tidak boleh keluar sendiri dulu.. karena kau orang baru..


Lalu.. sebisa mungkin hindarilah ibu, jika ibu masuk kesini dan berkata macam macam jangan kau masukkan ke dalam hatimu..


cukup diam dan mengangguk.." ujar Damar.


" wah.. banyak sekali pesannya.."


" tentu saja, sebenarnya aku masih tidak rela berangkat kerja.. tapi mau bagaimana.." Damar mengeluh.


" Ku kira dengan mengelola pabrik dan sawah sudah cukup untukmu mas.."


"sebelum aku kembali kerumah ini aku sudah menjadi dosen sayang..


jadi pekerjaanku yang sesungguhnya ya itu..


aku mengurus pabrik dan sawah karena kewajibanku sebagai anak dan cucu..


perkara menjadi dosen atau tidak.. kau pasti tau..


panggilan jiwa tak bisa di abaikan begitu saja.. entah besar atau kecil gajinya, jika kau nyaman di tempat itu kau pasti akan menjalaninya..


benar tidak bu?"


" benar sekali pak.. aku senang sekali saat aku mengajari murid muridku.." Kinanti mengangguk setuju,


ia senang sekali, sesekali menyebut suaminya itu dengan panggilan bapak, rasanya menyenangkan.


" Begitu pula aku.." jawab Damar dengan sorot mata teduh.


" Oh.. betapa terkejut dan senangnya aku mas.. ternyata suamiku juga seorang pendidik..


seorang laki laki yang penuh pengertian dan berwawasan luas.." Kinanti tersenyum bangga.


" terkecuali di tempat tidur.. terkadang mas tidak pengertian dan memaksa.."


" tapi kau suka kan aku yang begitu..?" Damar tergelak.


" Ya sudah.. berangkatlah mas.." ujar Kinanti takut suaminya terlambat.


Yoga duduk di halaman belakang Klinik tempatnya bekerja.


Wajahnya tampak tak segar seperti hari hari biasanya.


Ia semakin tak bisa tidur dengan nyenyak, apalagi beberapa hari ini, Bagas yang sengaja ia telfon sehari 3 kali selalu membahas tentang tante barunya yang cantik dan menyayanginya seperti budhe nya Winda,


Bagas selalu memuji istri om Damarnya itu yang sabar dan tidak suka marah marah seperti budhe Winda nya.


Padahal baru 4 hari ia pergi dari rumah, tapi Bagas sudah menempel begitu..


bagaimana ini, pikir Yoga.


" Hoi.." Jamal baru saja datang, ia ikut duduk disamping Yoga.


" jam praktek mu sudah habis kan?, kenapa masih disini?"


tanya Jamal sembari menepuk paha Yoga.


Tapi Yoga tak berkutik, ia sibuk dengan pikirannya.


" Kenapa? kau terlihat murung beberapa hari ini? ada masalah?" Jamal ingin tau.


Yoga mengangguk,


" besar? kecil?"


" rumit.." jawab Yoga lirih.


" Waduh.." gumam Jamal.


" Kenapa? kau di kejar kejar istri orang lagi?"

__ADS_1


Yoga tak menjawab, hanya melemparkan pandangan tajam pada Jamal.


" Oh.. bukan ya.. lalu? katakan.. siapa tau aku bisa memberi solusi?" ujar Jamal.


Yoga diam, ia tak menjawab, malah menatap langit yang mulai abu abu.


Laki laki tampan itu benar benar tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya.


" Aku bahkan tak tau harus apa?" keluh Damar,


Jamal menghela nafas pelan, lalu menepuk bahu Damar.


" Aku ini temanmu sejak kuliah, jadi katakan.. jangan malu padaku.." ujar Jamal.


" Kenapa aku harus malu padamu yang kelakuannya sebelas dua belas denganku?"


" hei.. hei..! jangan bicara sembarangan, aku sudah kembali ke jalan yang benar.."


" lalu kau kira aku tidak?" Yoga melirik sengit.


" yahh.. aku tau, kau fokus mengurus Bagas sekarang.. dan kau mengabaikan semua perempuan yang memberi perhatian padamu.." ucap Jamal.


" baguslah kalau kau tau.." Yoga lagi lagi mengawasi langit, ia takut tiba tiba turun hujan, tapi ia juga sedang malas pulang, apa yang akan dia lakukan sore sore begini di kamar kontrakannya tanpa Bagas.


Burung burung di langit berarak, berkejaran.


sepertinya mereka juga akan pulang, berlomba lomba melawan angin dan menghindari hujan yang mungkin akan turun sebentar lagi.


" Kau ingat mantan pacarku, yang kupacari paling lama?" suara Yoga keluar, dan berat.


" Yang cantik dan bertubuh kecil itu? emhh.. siapa ya namanya? Nan.. nan.. Kinan.. ti?!" ujar Jamal,


Yoga mengangguk,


" kenapa? kau ingin kembali padanya dan meminta pengampunan?!" tanya Jamal.


" andai aku bisa.." jawab Yoga dengan sorot mata sayu.


" lalu? apa hubungannya mantanmu dan kerumitan masalahmu?" Jamal bingung.


" Sepupuku.. sepupu yang paling dekat denganku..


beberapa hari yang lalu dia menikah.."


" dan istrinya Kinanti??, apa benar itu??" tanya Jamal dengan raut serius.


Yoga mengangguk,


" Astaga??!" sekarang Jamal yang mengeluh, kepalanya menggeleng geleng tak percaya.


" Tidak kah dunia ini terlalu sempit untukmu Yog??"


" yah.. terlalu sempit.."


" lalu apa saudaramu itu tau?"


Yoga menggeleng,


" Kinantinya?"


Yoga menggeleng lagi,


" lho? bukankan rumah kalian dekat? masa sudah beberapa hari ini kau tidak pernah bertemu??"


" aku lari.." ujar Yoga,


" aku sudah 4 hari tidak tidur dirumah.." imbuhnya.


" Sebegitunya kau Yog.. padahal itu hanya masa lalu.. kau tidak perlu lari?!"


" Hatiku tidak kuat... aku tidak mampu penghadapinya..


setidaknya belum waktunya.." Yoga menundukkan pandangannya.


" Jangan bilang kau masih mencintainya.." tanya Jamal, namun Yoga diam tak menjawab.


" jawablah.. apa kau masih mencintainya??" tanya Jamal lagi.


Yoga mengangguk lemah, lalu memandang Jamal sekilas,

__ADS_1


" Iya.. aku masih mencintainya.." ucapnya.


__ADS_2