
Yoga baru saja masuk kerumahnya, ia terlihat lelah.
" Ayah.." Bagas mendekat,
" Hai sayang.. sudah makan?" tanya Yoga sembari mencium kening putranya.
" Sampun mas.." sahut mbak mbak yang menjaga Bagas setiap di tinggal kerja oleh Yoga.
" Banyak makannya Nur?"
" Banyak mas, alhamdulillah.."
" baguslah.., jangan pulang dulu ya Nur, saya mau rebahan.. pasien saya banyak sekali hari ini.. sejam lagi lah pulanglah.." ujar Yoga.
" Nggih mas, njenengan istirahat dulu.."
Yoga mengelus kepala anaknya,
" ayah bersih bersih dulu ya.. gantengnya Ayah main dulu sama mbak Nur ya?" ucap Yoga pada anaknya,
" mau ke lumah dhe inda.." ujar anaknya menarik celananya.
" mau ke mbak Winda katanya mas..?"
" hemm.. ya sudah, ajak ke mbak Winda Nur, nanti biar aku yang jemput.."
" Nggih mas.." jawab si mbak Nur lalu membawa Bagas keluar menuju rumah Winda yang berada tak jauh dari situ.
Setelah Yoga sudah cukup untuk beristirahat ia menuju rumah kakak kandungnya itu.
Meskipun mereka adik dan kakak kandung, tapi mbak Winda lebih dekat dengan Damar.
Kadang Yoga merasa kasih sayang mbak Winda itu juga terlalu besar pada Damar.
Dulu, ketika masih sekolah ia kadang iri.. kenapa mbak Winda sesayang itu pada Damar.
Namun ketika usianya beranjak dewasa, ia jadi tau kenapa mbak Winda seperti itu.
Itu karena Damar di tinggal ibu kandungnya sejak usia dini, dan dia di perlakukan tidak adil oleh bapak dan ibu tirinya.
Kasih sayang di limpahkan semua pada Kaila kecil, dan apapun yang Damar lakukan selalu salah dan mendapat pukulan yang keras dari bapaknya.
Sedangkan untuk dirinya sendiri, mbak Winda kurang perduli lagi padanya karena dirinya susah di nasehati.
Yoga muda terlalu impulsif dan suka mengambil keputusan yang di sesali di kemudian hari, terutama perkara kehidupan pribadinya.
Kenyataannya sekarang ia hidup berdua saja dengan putranya, di karenakan salah memilih perempuan.
Padahal mbak Winda mati matian menentang hubungannya yang singkat dengan ibu Bagas, namun Yoga tetap saja ngotot.
Sejak itu mbak Winda tidak pernah menasehatinya.
Namun kepada Bagas mbak Winda sayang luar biasa, ia memperlakukan Bagas seperti anak terakhirnya.
Yoga bersyukur dengan itu, kadang hanya mulutnya saja yang galak.. namun sesungguhnya mbak Winda tetap memperhatikan, walaupun secara tidak langsung.
Yoga berjalan kerumah kakak perempuannya itu.
Rumah bercat abu abu muda itu selalu terlihat hangat,
selain karena banyak bunga yang menghiasi terasnya, penghuni rumahnya juga memiliki sikap yang hangat,
__ADS_1
Dari mulai mbak Winda, mas Yudi.. suami Winda, dan dua putri putri Winda.
pantas sekali jika Bagas sering meminta tidur disana, karena suasana rumah itu begitu hangat.
Mata Yoga menatap lurus ke depan, pandangannya terbentur pada rumah berwarna putih yang paling ujung.
Jika rumah Winda terkesan hangat, maka rumah itu terkesan dingin dan sunyi, sama seperti pemiliknya.
Yoga merasa ada tulisan yang terpampang di depannya, " Jangan mendekat kesini!".
Itu adalah rumah Damar, rumah yang selalu tampak sepi, karena pemiliknya lebih suka tidur di pabrik.
Yoga kadang heran, kenapa laki laki itu bekerja keras sekali.
Ia memang bukan dosen tetap, namun penghasilan mengajar di beberapa universitas pasti cukup untuk kehidupannya sendiri.
Padahal istri pun tidak punya, apalagi anak.
melihat kelakuannya yang sederhana dan pekerja keras, orang akan mengira dia berasal dari keluarga yang kurang mampu.
" Ayah.. ayahh..!" Bagas memanggil ayahnya yang terlihat berjalan ke arah pintu masuk Rumah Winda.
Laki laki berparas kalem dan ganteng itu melempar senyum pada seluruh penghuni rumah Winda yang sedang berkumpul di ruang tamu.
" Ayo pulang.. sudah malam.." ajak Yoga,
" Biarkan saja disini, dia kerasan kok.. " suara Winda kalem sembari memangku Bagas.
" Mau bobok disini sama budhe apa pulang sama ayah??" Yoga duduk disamping Yudi, suami Winda.
" Biar disini saja om?!" suara anak Winda yang paling besar berusia 14 tahun.
Yoga menghela nafas,
" ya sudah.. tapi besok bangun pagi nggak boleh nangis cari ayah ya.. ayah besok berangkat pagi.."
ujar Yoga, dan Bagas mengangguk.
" Ya sudah.. aku pulang dulu mbak, mas.. sudah malam juga.." pamit Yoga namun di cegah oleh winda.
" Nanti dulu, aku mau bicara.." Winda bangkit dan menaruh Bagas di pangkuan Yudi.
" Sama pak dhe dulu ya sayang.." ucap Winda pada Bagas,
" iya, sama pak dhe.. ambil mobil mobilan yuk di dalam.." Yudi bangkit, dan berjalan masuk menggendong Bagas ke dalam.
" Ada apa mbak?" tanya Yoga setelah semua orang masuk ke dalam,
" sepertinya serius sekali.." lanjut Yoga.
" Kau kan dokter.. apa kau tidak bisa membantu Damar?" tanya Winda serius.
" aku ini dokter umum mbak.." jawab Yoga sembari menghela nafas.
" Bawa dia ke teman atau kenalanmu..?"
Yoga terdiam sejenak,
" Sudah pernah ku ajukan, tapi mas Damar menolak, dia bilang psikiater dimana mana sama saja.. jadi buat apa jauh jauh, begitu katanya.. kebetulan kenalanku prakteknya di luar kota mba.." jelas Yoga.
" aku melihatnya seperti itu lagi, aku takut ia tidak bisa bernafas dan mati saat tidur.." ucap Winda gelisah.
__ADS_1
" Itu trauma berat mbak.. selain berobat dia juga harus punya semangat sembuh, dia harus melepas kenangan kenangan buruknya.."
" Tidak mencoba bunuh diri lagi saja sudah alhamdulillah.. ku kira sudah cukup begitu, ternyata dia masih sering tiba tiba sulit bernafas dalam tidurnya..
mbak sungguh sungguh takut Yog.."
Yoga berfikir sejenak,
" mungkin dengan jatuh cinta bisa mengurangi bebannya.."
" bagaimana dia mau jatuh cinta, perempuan yang pernah mendekatinya hanya bertahan sebulan dua bulan saja gara gara dia terlalu acuh.." jelas Winda,
" dia mana bisa gercep sepertimu kalau lihat perempuan?!" imbuh Winda ketus.
" Lho.. kok jadi aku yang kena omel?" Yoga heran,
" siapa yang tidak ingin mengomel kalau melihatmu yang cerdas ini ternyata bodoh memilih perempuan, kau menyepelehkan ucapanku dan sekarang kau di tinggal pergi begitu saja oleh perempuan itu?!" entah kenapa Winda kesal lagi jika mengingat ibu Bagas yang sudah berselingkuh dengan laki laki lain dan meninggalkan putranya yang masih balita begitu saja.
" Sudah berlalu mbak.. jangan di bahas..?!" protes Yoga.
Winda terdiam sejenak.
" Kau juga menikahlah lagi, tapi ya hati hati.. cari yang sayang anakmu dan tidak matre!"
Yoga tersenyum sekilas,
" Mana ada yang begitu sekarang.." ujarnya pelan.
" Pasti ada, kalau kau pintar pintar menilai.."
Yoga tersenyum pahit sekarang,
" Ada sih mbak.. tapi sekarang dia tidak akan mau lagi denganku.." suara Yoga dalam,
" Kenapa? kau mapan dan ganteng?"
" dia bukan perempuan yang seperti itu, sewaktu pacaran saja dia tidak mau ku bayarkan ini itu, minta aneh aneh seperti perempuan lain juga tidak.."
" Lalu kenapa kau tidak menikah dengan dia?"
" salahku.. aku terlalu terlena dengan bentuk yang lebih indah dan menggoda.." nada Yoga penuh penyesalan,
" kau mengkhianatinya? dengan ibu bagas?"
" iya.. " jawab Yoga tertunduk sejenak.
" Bagus.. kalau jadi perempuan itu aku juga tidak akan menerimamu lagi..!"
" Jadi mbak tidak membelaku?"
" buat apa aku membela orang kurang ajar dan tidak mau menerima nasehat sepertimu.. kau memang salah kok.." Winda ketus.
Yoga memandang kakaknya itu tak percaya,
" jangan jangan kita ini saudara tiri mbak? atau aku anak pungut? kenapa mbak tidak pernah membelaku.." suara Yoga sedih.
" Mulutmu bisa saja kalau bicara..!"
" Ya sudah, besok besok mbak saja yang carikan aku istri ya.." ujarnya kemudian membuat Winda terdiam, kekesalannya sedikit hilang mendengar itu.
" Awas saja kalau kau tidak menurutiku nanti.." ujar Winda kemudian.
__ADS_1