Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
siapa?


__ADS_3

Damar masuk ke dalam kamar, berbaring di sebelah istrinya.


" Mau makan bubur sekarang?" tanya Damar.


" Nanti saja, tadi kan sudah makan mas.."


" Cuma sedikit itu.."


" Sedikit sedikit ga masalah.. asal enak di perut.." jawab Kinanti pelan.


" Kenapa mas tadi?" tanya Kinanti yang tak sengaja mendengar Yusuf dan Kaila ramai ramai.


" Ah.. Yusuf dan Kaila.. biasa, mereka seperti anjing dan kucing.." Damar tersenyum kecil.


" Kok kelihatannya ribut sekali suara mereka?"


" Tentu saja.. aku mengerjai mereka.." Damar mengulas lagi senyumnya, manis sekali..


" maksud mas?"


" mereka berbohong padaku? pura pura ini itu.. sekalian saja ku kerjai mereka berdua.." Damar tersenyum geli mengingat wajah Yusuf dan Kaila yang keluar dari rumah ini dengan ekspresi campur aduk.


Belum lagi wajah Yusuf yang merah padam menahan diri.


Pastinya mereka ribut lagi di dalam mobil.


" Ah ya.. dirumah sama Yuk sebentar ya?" ujar Damar tiba tiba,


" mas mau kemana?"


" Aku mau beli keperluan ke kota sebentar.." Damar mengecup kening istrinya.


" Nitip apa?" tanya Damar penuh kasih,


" tidak usah.."


" keperluanmu? keperluan kewanitaan misalnya?"


" ah.. tidak usah, aku bisa nitip mbak Winda kalau soal keperluan perempuan, takutnya masa salah beli.."


Damar tertawa,


" ya sudah ya sudah.. ingat ya, HP jangan di matikan, mas biar enak kalau menghubungimu.."


Kinanti mengangguk.


Damar menghentikan motornya di depan pagar rumah yang sudah bertahun tahun itu ia kunjungi.


Rumah dimana istrinya tumbuh dan di besarkan dengan baik.


Dengan perlahan ia membuka pagar rumah itu.


" Lho? mas Damar?" si asisten rumah tangga yang khusus di tugaskan Damar untuk menemani ibu itu keluar dari dalam rumah.


" Ibu ada?" tanya Damar langsung masuk ke ruang tamu.


" Ibu kerumah kakaknya mas, sebentar saya panggilkan.." ujar si mbak itu berjalan dengan terburu buru ke arah rumah orang tua Yusuf.


" Bu? bu?!" si mbak asisten memanggil ibu Kinanti dari depan pintu rumah yang terbuka.


" Ada apa mbak?" suara ibu Kinanti terdengar, perempuan berusia sekitar 50 tahun itu berjalan ke arah pintu depan, dimana si mbak berdiri.


" Ada tamu bu? mas Damar.." beritahu si asisten.


" Damar?"


si asisten mengangguk,


ibu Kinanti terdiam sejenak.


" Ada apa katanya?" tanya ibu dengan raut wajah bimbang.


" Mas Damar tidak bicara apa apa bu, saya langsung kesini.."


ibu Kinanti terdiam lagi.


"Apa ini berhubungan dengan yang di katakan Yusuf kemarin?" batin ibu Kinanti.


" Ya sudah, sampean gantikan saya bantu ngupas bawang ya di dalam.."


si mbak mengangguk, dan ibu Kinanti berjalan kembali ke arah rumahnya yang tak jauh.


Di perjalanan Ibu Kinanti penuh dengan pikiran,


sebenarnya dirinya tidak pernah tenang setelah tau kalau saudara Damar itu mantan kekasih Kinanti, dan bahkan tinggal satu lingkungan dari mereka.


Namun ibu berusaha meyakinkan dirinya, bahwa menantunya adalah laki laki yang mampu menghargai dan mengerti perasaan juga masa lalu Kinanti.


Apalagi ibu tau, kasih sayang Damar tidak main main pada putrinya, mungkin akan ada sedikit kekecewaan setelah hal ini terungkap,


namun ibu Kinanti yakin, kekecewaan ini tidak akan berlangsung lama.

__ADS_1


Karena ibu Yakin keduanya saling mencintai, dan tidak akan terguncang dengan hal semacam ini.


Ibu melepas sandalnya, dan berjalan melewati pintu masuk.


Ibu menemukan Damar yang sedang duduk sembari bersandar di bahu kursi.


Matanya terpejam, tampak kelelahan di wajahnya.


Ibu Kinanti ragu untuk membangunkan menantunya itu, ia merasa kasihan.


Namun Damar yang mendengar langkah mertuanya itu akan berjalan masuk keruang tengah tiba tiba membuka matanya.


" Ibu.." suara Damar tenang.


Ibu sedikit tersentak, namun segera ia berbalik dan mengulas senyum.


" Ibu pikir kau tidur.. tidak tega ibu mau membangunkan mu lee.." ucap ibu.


" Memejamkan mata sejenak saja bu, bukan berarti saya tidur.." Damar tersenyum kecil.


" Ibu buatkan kopi dulu.."


" tidak usah bu, ada yang ingin saya bicarakan dengan ibu, jadi... tolong ibu duduk saja.." suara Damar berubah serius.


Wajah ibu kehilangan senyum tiba tiba, firasatnya benar, Damar pasti akan membicarakan hal itu.


Tapi.. bukankan Yusuf memberitahunya agar tak bicara apapun, karena permasalahan ini Damar belum tau sama sekali, pikir ibu.


Dengan gerakan tenang ibu duduk sedikit jauh dari menantunya.


Terlihat oleh Damar wajah ibu yang tidak seperti biasanya.


" Apa ibu sibuk? ada acara dirumah budhe?" tanya Damar memastikan tidak menganggu aktifitas mertuanya.


" Biasa le...kami mau membuat bawang goreng, hanya untuk simpanan di dapur saja.." Jawab ibu.


" Katakan ada apa le? ibu tidak sibuk kok.." imbuh ibu.


Damar mengangguk, mengambil jeda tak terlalu lama, lalu mulai berbicara.


" Bagaimana ya bu mengawalinya.. tapi saya bukan tipe yang suka berbasa basi.."


suara Damar benar benar serius.


" Katakan saja le.. aku ini ibumu.." suara ibu tenang dan sabar, ibu merasa ini adalah kesempatan yang baik untuk memperbaiki keadaan.


Damar mengangguk, ia mengerti benar kalau ibu sudah menganggap dirinya sebagai pengganti Aji.


" Masa lalu yang bagaimana itu le??"


" soal hubungan istri saya dengan mantan kekasihnya..?"


Ibu menghela nafas berat, rasanya pertanyaan pertanyaan Damar akan sulit di jawab dan menjadi beban baginya.


" Apa yang ingin kau tanyakan le?" ujar ibu setenang mungkin.


" tentang laki laki itu..


bagaimana hubungan mereka di masa lalu?


dan apakah istriku masih memikirkannya bu?


entah sedikit?


entah banyak?"


ibu mencoba tersenyum mendengarnya,


" Sudah berapa bulan kalian menikah?" tanya ibu,


" sebulan lagi setahun bu.."


" Lalu bagaimana sikap istrimu selama ini?"


" Tentu saja dia bersikap sebagai istri yang baik,


bahkan tidak pernah menolak kehendak saya meski kadang itu merugikan dirinya sendiri.."


Ibu tersenyum mendengarnya,


" Nak.. sesungguhnya kau tau, dan tak perlu bertanya,


apakah istrimu itu masih mengingat mantan kekasihnya itu.."


Damar tertunduk,


" Saya tidak bisa membaca pikiran Kinanti, karena dia jarang berkeluh kesah.."


" tapi dia sering menyandarkan kepalanya di bahumu?"


Damar mengangguk,

__ADS_1


" bukankan itu sama le..?"


" saya tau.. dia juga mencintai saya sama seperti saya mencintainya..


namun,


beberapa bulan ini hati saya seperti di serang sesuatu..


saya sudah berusaha untuk menyembunyikan perasaan tidak nyaman ini baik baik di depan Kinanti,


agar dia tak merasa bahwa.. saya kurang bijak dan dewasa karena kurang bisa menyembunyikan perasaan saya..


usia saya sudah cukup matang untuk bersikap impulsif..


namun ada rasa takut dan cemas yang terus terusan meringsek masuk ke dalam pikiran saya..


mohon, beri saya ketenangan bu,


saya ingin membahagiakan istri saya..?"


" Ibu tau, rasa cemas yang di miliki setiap


pasangan yang saling mencintai itu cukup besar,


sedewasa apapun.. cinta bisa membuat kita tidak dewasa dan tidak rasional..


namun kau harus mampu le..


kenyataan sepahit apapun yang kau terima nanti pada masa lalu istrimu..


terimalah dengan lapang dada..


masa lalu tetaplah masa lalu,


selama yang bersangkutan tak ingin mengulanginya.. ibu kira tak ada masalah yang besar..


dan kau punya kewajiban menjaga agar hal itu tak terulang kembali..


membuktikan bahwa kau adalah mada depan yang lebih segala galanya.."


" Saya tidak sehebat itu bu..." Damar tertunduk,


" Kau harus mampu mengendalikan perasaanmu.. emosimu,


banyak orang yang kehilangan hasil kerja keras dan keluarganya hanya karena emosi sesaat..


hanya karena Ego..


merasa paling tersakiti seakan mereka tak mampu menyakiti orang lain ke depannya..


ibu kira belajar memahami perasaan orang lain penting dalam kehidupan berumah tangga,


si istri berusaha berpikir andai kata dia menjadi suami,


dan si suami berpikir, andai kata dia menjadi istri..


selama masih sama sama mencintai..


tujuan.. dan langkah masih sama..


segalanya bisa terselesaikan..


yah memang tak mudah seperti yang ibu ucapkan..


akan ada proses yang panjang tentunya.."


Damar terdiam, benar benar terdiam dan cukup lama.


Ia menelaah kalimat demi kalimat ibu mertuanya.


Dan setelah lama terdiam, ia kembali bertanya,


pertanyaan yang sesungguhnya ibu kira tak akan pernah Damar tanyakan pada ibu.


" Saya mohon bu.. tolong jawab pertanyaan saya, dan jangan menutupi apapun..


karena saya kira, saya harus benar benar tau pangkal dari kecemasan saya.." ujar Damar menatap mertuanya tanpa celah, sedangkan ibu, ibu malah tak berani menatap Damar, ibu justru memandang lurus keluar jendela,


ibu merasa serba salah..


jujur salah, berbohong salah..


barus bagaimana..


" Jadi.. tolong jujur pada saya bu? siapa nama mantan kekasih Kinanti itu?


dan.. apakah saya mengenalnya??"


pertanyaan Damar itu membuat ibu langsung memejamkan mata nya.


Perempuan tua itu seperti di tekan oleh beban yang begitu berat.

__ADS_1


__ADS_2