
" Ayo kita bicara.." Ujar Damar yang sejak tadi menunggu Kinanti pulang dari mengajar les.
" Bicara apalagi mas?" Kinanti berjalan melewati Damar begitu saja,
" Lucu sekali, setelah kita seperti itu kau malah menghindariku..!" Suara Damar lantang, membuat langkah Kinanti terhenti dan berbalik ke arah Damar.
" Hussh!!!" tegas Kinanti mendekat,
" Kecilkan suaramu mas, tidak lucu jika ibu mendengarnya?!" Kinanti gelisah.
" Memangnya kenapa jika ibu mendengarnya?"
" Ih! kau ini mas?!" Kinanti kesal, namun Damar malah tertawa kecil, pandangannya penuh rasa sayang.
" Pamit pada ibu, kita keluar sebentar?" ujar Damar,
" Tidak.." jawab Kinanti cepat,
" Tidak?" Damar menatap perempuan di hadapannya itu heran.
" Aku sudah ada janji menuju pernikahan dengan Haikal, tidak pantas rasanya aku keluar dengan laki laki lain.." tukas Kinanti.
Geraham Damar mengetat seketika.
" Apa aku harus memaksamu?" tanya Damar dengan pengendalian diri yang masih baik.
Kinanti diam sejenak, lalu memandang Damar.
" Yang kemarin itu Khilaf kan? jadi ayo kita lupakan.." pandangan Kinanti memohon.
Damar membeku, di tatapnya Kinanti baik baik.
" Aku menyentuhmu karena kemauanku, aku menyentuhmu juga dengan kesadaran yang penuh..
tidak ada unsur khilaf sama sekali.." jelas Damar, sorot matanya menyiratkan ketersinggungan karena kalimat Kinanti.
" Tapi rasanya aku yang khilaf..
meski tak ada cinta di hatiku untuk Haikal,
aku tidak boleh bertingkah seperti ini.." keduanya saling menatap serius,
" Bertingkah seperti apa kita memangnya?" tanya Damar serius,
" Aku merasa seperti seorang pengkhianat.."
Damar sedikit terkejut dengan kata kata Kinanti.
" Kau sudah berbuat apa dengan Haikal? apa kau juga menciumnya seperti kau membalas ciumanku?"
__ADS_1
" aku bukan perempuan murah yang memberikan bibirku pada setiap laki laki!" tegas Kinanti berapi api.
" Benarkah? jadi kau hanya memberikan padaku?"
" Aku tidak memberikannya! kau yang memaksaku?!"
" tapi kau menerima dan membalasnya dengan baik?"
Kinanti tertunduk, wajahnya memerah karena malu, dan bercampur rasa gelisah.
" Sudah ku bilang aku khilaf.." ucapnya.
Damar benar benar merasa tidak di hargai sekarang.
" Maksudmu, selama seorang laki laki menginginkanmu kau bisa khilaf kapan saja? seperti denganku?" Damar menghela wajah Kinanti, memaksa perempuan itu untuk menatap wajahnya.
" Jangan memperumit keadaanku mas?, lagi pula kenapa mas tiba tiba begini terhadapku? bukankan sikap mas kemarin kemarin acuh dan giat menyuruhku mencari suami agar mas terbebas dari tanggung jawab?
lalu kenapa sekarang mas bertindak seperti ini?
apa mas pikir ini menyenangkan?"
" Tidak.. " jawab Damar,
" aku tidak senang dengan kondisi ini, ini semua memang karena kebodohanku, kepengecutanku..
aku tidak memintamu secara langsung,
aku yang menginginkannya,
itu bukan hanya sekedar saran..?"
" iya, aku tau.. tapi yang menjadi dasarmu hanya tanggung jawab, hanya rasa bersalah..
bagaimana aku bisa hidup dengan orang seperti itu?
kau sebenarnya memikirkan ku atau almarhum mas Aji?
kau perduli padaku atau perduli pada almarhum mas Aji?"
Damar terhenyak, kalimat Kinanti seperti menamparnya.
" kau sendiri bingung kan mas?
aku tau.. aku ini mirip sekali dengan mas Aji,
semua orang tau kalau kami bagai pinang di belah dua,
jangan jangan kau ingin bersamaku hanya karena menganggap mas Aji masih hidup dalam diriku,
__ADS_1
sadarlah mas..
yang kau rasakan padaku hanya obsesi..
dan obsesi tidak bisa di jadikan dasar untuk sebuah pernikahan.."
" lalu apa pernikahanmu dengan Haikal nanti juga bisa di jadikan dasar yang baik? sementara kau bahkan tak memiliki perasaan apapun pada laki laki itu, sikapmu padanya seperti teman, kau tidak hanya menipu dirimu sendiri, tapi kau menipunya.."
" setidaknya perasaannya jelas terhadapku.."
Damar benar benar di buat frustasi, ia melepaskan tangannya dari wajah Kinanti.
" Apa karena aku terlihat tak sempurna.." ujarnya tiba tiba,
" Apa kau butuh seorang laki laki yang gagah dan berseragam?" imbuhnya sembari duduk di salah satu kursi teras.
" Ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan mas?!"
" ada! kau kira aku tak bisa membaca situasi?
gaji tetap, uang pensiun, semua orang suka mempunyai menantu pegawai negeri..
yah benar.. siapa yang tidak suka,
apalah aku ini, yang setiap hari berkutat dengan kayu dan mesin..
tidak ada seorang pun yang memandang orang sepertiku yang tidak punya pensiunan ini.." suara Damar lemah.
" Kau terlalu memandang rendah dirimu mas?!"
" aku memang rendah.. aku rendah di matamu,
harusnya aku tau dari awal, kau pasti risih ku jemput dengan mobil setua itu..
aku tidak memperlakukanmu dengan baikkan?
karena itu kau tidak pernah memperhitungkanku? iya kan?"
" Kau salah faham mas??" tukas Kinanti, namun sepertinya Damar sudah tidak mau mendengar lagi, ia bangkit dari kursinya.
" Cukup, aku sudah tau dimana tempatku..
kau benar, lupakan saja apa yang sudah terjadi pada kita, sebagai seorang yang dewasa tentunya sentuhan fisik semacam itu biasa bagimu,
aku akan berusaha menjadi Damar yang dulu,
yang hanya mengawasimu dari jauh saja, dan tidak akan membawa perasaan apapun lagi diantara kita" ujarnya tenang, lalu berjalan pergi begitu saja.
ia meninggalkan rumah Kinanti tanpa pamit pada ibu seperti biasanya.
__ADS_1
Sementara Kinanti, ia tak bisa berkata kata lagi, ia hanya memandangi punggung Damar yang menghilang di balik pagar.
Hari ini benar benar berat pikir Kinanti, namun ia harus bersikap tegas, ia tidak mau jadi seorang perempuan yang plin plan.