Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
pertanyaan ibu


__ADS_3

Ke esokan harinya Haikal datang kerumah Kinanti, ia seperti ingin merebut hati Kinanti dan hati ibu.


Bahkan dia datang lebih sering di hari hari berikutnya.


Ibu yang melihat itu mencoba tenang, dan berpikir terserah Kinanti saja baiknya bagaimana..


namun ibu mulai resah ketika tidak melihat Damar berkunjung lagi, sudah sebulan tepatnya,


Saat ibu menghubunginya, ia hanya berkata sedang sibuk sekali, dan belum bisa menjenguk ibu.


Sebenarnya ibu tidak mempermasalahkan di jenguk Damar atau tidak, tapi tidak biasanya Damar begitu..


ibu merasa ada yang tidak beres diantara Kinanti dan Damar.


Damar menjadi pribadi yang berbeda, Dia seperti menghindar.


Meski sikapnya beda jauh dengan Aji dan lebih kaku dan keras,


namun Damar selalu menjadi anak yang lembut dan perhatian di depan ibu.


Ibu menyayangkan sekali jika gara gara sikap Kinanti, hubungan yang sudah bertahun tahun tiba tiba renggang begitu saja.


" Nduk.." Panggil si ibu pada anaknya yang sedang rebahan di kamar.


" iya bu?" Kinanti bangkit, lalu berjalan keluar menemui ibunya.


Keduanya duduk di ruang tengah.


" Ibu mau ngomong.." suara si ibu halus.


" nggih bu?" jawab Kinanti menatap ibunya tekun, ia menunggu..


" Teman sekolahmu dan Yusuf itu..


apa kau ada hubungan dengannya nduk?" ibu akhirnya bertanya,


" Haikal bu?"


ibu mengangguk,


" tidak ada hubungan apa apa bu.." jawab Kinanti tersenyum,


" Sepertinya dia tidak menganggapnya begitu?" ibu bisa menangkap dengan jelas kalau Haikal itu menaruh hati dan berharap pada Kinanti, terlihat dari sikap dan cara bicaranya setiap dia datang berkunjung.


" Iya bu.."


" Iya bagaimana sih nduk? ibu ini wajib bertanya..?" nada ibu kalem tapi mengandung ketegasan.


Kinanti diam sejenak, ia ragu dengan apa yang akan dia katakan.


" Haikal sudah meminta Kinan untuk menikah dengannya.." Kinanti menatap ibunya, menunggu ekspresi ibunya, dan benar saja.. ibu menunjukkan sedikit keterkejutan, meskipun setelahnya ibu menguasai dirinya kembali.


" Kau mau nduk?" tanya ibu kemudian,


Kinanti tertunduk,


" Tidak tau bu.." jawabnya,


" lho? kok tidak tau??" ibunya mengerutkan alis,


" memang Kinan tidak tau, jujur saja bu.. Kinan tidak mau menikah, tapi kinan tau.. tidak boleh seperti itu.."

__ADS_1


melihat raut wajah anaknya yang gelisah ibunya itu menghelas nafas panjang, ia menyentuh punggung tangan putri satu satunya itu.


" Kebahagiaanmu kebahagiaan ibu juga.. kalau memang hatimu belum terbuka tidak apa apa..


jalani lah seinginmu saja..


jangan pikirkan ibu,


ibu sayang padamu..


jadi jangan asal memilih karena ibu,


atau terburu buru karena ibu.." ucapan Ibu membuat kedua mata Kinanti basah.


Bagaimana bisa ia membuat ibunya berkata seperti itu, bahwa kebahagiaannya tidak penting di banding kebahagiaan Kinanti.


" Ibu.. maaf kan Kinan yang egois dan keras kepala, Kinan masih sulit sekali membuka hati.." ujar nya sembari mengusap titik titik air matanya.


" Kinan mau ibu sehat.. apapun akan Kinan lakukan, jangan memikirkan kebahagiaan Kinan terus..


ibu juga harus bahagia bu..


hanya ibu yang Kinan miliki satu satunya di dunia ini.." perempuan berusia 25 tahun dan berambut sepinggang itu menjatuhkan diri ke pelukan ibunya.


" Belajarlah melupakan masa lalu nduk.. tidak semua laki laki akan menyakitimu, asal kau pintar pintar dan bijaksana dalam memilihnya.." ibu mengelus punggung Kinanti.


" Contohnya Damar nduk.. lihat betapa tulusnya dia dengan keluarga kita, dia adalah salah satu contoh laki laki yang baik..


benar bukan..?" ujar Ibunya tiba tiba,


Kinanti diam, ia masih menyembunyikan wajahnya di pelukan ibunya.


Ada perasaan yang aneh ketika nama Damar di sebut, namun ia tak tau jelas apa itu..


" Mau makan dimana?" tanya Haikal pada Kinanti yang duduk disampingnya.


" Terserah saja.." jawab Kinanti, hari ini ia menuruti kemauan Haikal untuk makan di luar,


ia tidak ingin di cap judes atau galak karena selalu menolak, ia juga ingin berusaha sedikit membuka hatinya, ia ingin ibu senang melihatnya mau menerima satu laki laki,


lagi pula Haikal termasuk laki laki yang serius pikir Kinanti, mungkin keseriusan itu bisa menjadi bekal untuk perkembangan perasaan Kinanti.


Anggap saja satu poin plus sudah Haikal dapatkan, yaitu keseriusan.


" Kita makan di tempat yang sedang terkenal itu ya.. bebek khas daerah mana itu..?"


" mana aku tau, bukankan kau yang mengajak.." jawab Kinanti pelan.


" Aku juga lupa namanya.. yang sambalnya mangga itu.. kesana yuk..


setelah itu kita ke gramedia,


kau kan suka membaca.. kita cari novel atau buku buku yang kau suka ya..?" Kinanti memandang Haikal yang sedang menyetir itu.


" Laki laki ini.." keluhnya dalam hati, benar benar pintar memanjakan wanita, Kinanti heran sekali bagaimana di usia yang sekian dia belum mempunyai pasangan.


" Kau kan berseragam, gagah lagi.. aneh rasanya kalau tidak ada perempuan yang mengejar mu?" tanya Kinanti penasaran.


Haikal tertawa mendengar pertanyaan Kinanti.


" Harus ya, kalau berseragam selalu di kejar kejar?" katanya.

__ADS_1


" Kebanyakan begitu.. kalian di eluh eluhkan para wanita di luar sana.."


lagi lagi Haikal tertawa,


" Tapi kau tidak meng eluh eluhkan ku?" Haikal memandang Kinanti sekilas.


" Aku tidak suka terlalu banyak saingan..apalagi berebut laki laki.." jawab Kinanti melemparkan pandangannya keluar jendela, melihat jajaran pedagang buah yang mulai Ramai karena hari sudah mulai sore.


" Aku berjanji.. kau tidak akan punya saingan.." ujar Haikal melempar senyum manisnya pada Kinanti.


" Wah.. gombal sekali.." Gumam Kinanti, namun Haikal mendengarnya.


" Apa? gombal? kau mengatakan itu pada laki laki yang sudah mengajakmu menikah dengan terang terangan..?


jahat sekali kau Nan, aku ini sudah melamarmu meski secara tidak resmi..


aku hanya menunggu jawabanmu..


cukup jawab YA saja, dan aku akan membawa ayah ibuku kerumahmu.." tukas Haikal.


Dan suasana tiba tiba hening, Kinanti lebih memilih tidak menjawab.


Haikal yang menyadari itu menghela nafas.


" Itulah dirimu.. selalu diam ketika aku berbicara tentang pernikahan.." komentar Haikal sabar.


Dan setelah keduanya makan, mereka meneruskan rencana mereka ke gramedia.


Sekalian Haikal juga ingin mencari buku buku motivasi.


" Kau sudah memilih..?" tanya Haikal mendekat ke Kinanti,


Kinanti terlihat memegang sebuah novel dan sedang membaca sinopsis dari novel tersebut.


" Aku masih melihat lihat.." Jawab Kinanti,


" Kau suka novel apa sih? romansa?"


Kinanti mengangguk,


" Berarti kau suka hal hal yang berbau romantis..?"


" tidak juga.. romantis kadang berakhir dengan sakit hati, jadi lebih baik aku realistis.." tukas Kinanti,


" itulah dirimu.. harapanku selalu kau potong dan buang dengan kejam..


jangan begitu ya pada anak anak kita nanti.." ujar Haikal setengah berbisik, ia mendekatkan bibirnya ke telinga Kinanti.


" Apa sih.. geli Kal..?" mereka terlalu dekat, apalagi mereka sedang di depan umum, Kinanti takut di kira tidak tau aturan karena bermesraan di tempat umum.


Apalagi yang tidak tau pasti akan mengira Haikal sedang mencium pipi Kinanti.


Dengan sedikit risih Kinanti melihat ke sekitarnya, siapa tau ada beberapa orang yang memandang sembari mencemooh.


Dan benar saja, ada yang memandangnya, namun seseorang yang ia kenal, seseorang yang sudah sebulan ini tidak ia lihat.


Damar sedang berdiri beberapa meter di belakangnya, ia juga sedang memegang sebuah buku, namun tatapannya sinis ke arah Kinanti.


Kinanti yang terkejut mengalihkan pandangannya, ia tertunduk.


" Kenapa?" tanya Haikal menyadari wajah Kinanti berubah tegang.

__ADS_1


" Ada apa bicara? ada yang membuatmu tidak nyaman?" tanya Haikal, ia kemudian menoleh ke arah yang di lihat Kinanti tadi, mungkin saja ada orang yang membuat Kinanti tidak tenang, pikir Haikal.


Namun Haikal tak menemukan siapapun berdiri disana, hanya ada orang yang berlalu lalang saja.


__ADS_2