Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
Ranu pani


__ADS_3

Yoga turun dari jeep,


" Mas Yoga, tunggu disini, biar saya yang ke pos perijinan.." ujar Wiwit, pendaki senior yang sudah sangat terpercaya menemani para pendaki pendaki pemula itu.


Yoga mengangguk, sembari mengerluarkan ransel sewaannya yang berukuran 80 L.


Ia tak membawa bawaan begitu banyak, hanya satu setel baju ganti,


obat obatan, dan makanan.


Sedangkan untuk tenda dan lainnya Wiwit yang membawa.


Selain fisiknya belum kuat, luka di punggung Yoga terkadang juga masih nyeri jika tergesek baju atau lainnya.


Saat Wiwit sibuk di resort perijinan ranu pani.


Yoga mencoba berjalan melihat sekitar,


kebetulan Ranu pani tak begitu jauh dari jangkauannya.


Tentu saja ia penasaran dengan Danau yang airnya kehijauan itu.


Banyak para pendaki yang sepertinya sedang bersiap siap pula untuk naik, namun mereka memgambil beberapa foto di sekitar Ranu pani.


Mata Yoga menyalang lagi, lepas ke arah sekitar.


Bahkan rumah rumah penduduk yang dapat di jangkau mata Yoga benar benar membuat Yoga merinding saking indahnya.


Rumah rumah dari papan kayu yang di cat seadanya,


dan asap putih yang keluar menyembul dari atap atap mereka sungguh menambah perasaan yang asing di hati Yoga.


Asing.. namun menenangkan.


Ia memang tinggal di desa..


namun desa yang ia tinggali sudah tersentuh oleh kebiasaan kebiasaan orang kota,


dirinya tidak pernah melihat yang seperti ini, Yoga benar benar berbincang dengan dirinya sendiri dalam hati.


Apalagi saat perjalanan tadi,


ia melihat beberapa wanita, tidak beberapa..


namun banyak..


di pinggir jalan, dan di kebun kebun dataran tinggi mereka.


Bahkan ada berapa ibu yang menggendong kayu yang lumayan besar di punggungnya dengan sebuah tali, atau mungkin selendang,


Yoga tidak begitu memperhatikan alat apa yang ibu itu pergunakan saking takjubnya.


Perempuan perempuan itu berkulit bersih..


beberapa mempunyai bintik bintik khas di pipi mereka,


begitu cantik alami, batin Yoga.


" Mereka orang tengger asli mas.. cantik ya, tidak butuh skincare.." celetuk Wiwit saat melihat Yoga tak henti menatap para wanita yang sedang berjalan berjajar di tepi jalan sembari membawa bawaan berat di punggungnya,


sepertinya hasil kebun dan kayu bakar untuk masak.


" Mas?!" Suara Wiwit membuyarkan lamunan Yoga.


" Mau langsung naik, atau lihat lihat dulu?" tanya Wiwit mendekat.


Yoga sedang berdiri di atara rumput rumput yang tingginya hampir sedadanya.


" Kita sudah dapat ijin, kebetulan saya lebih kan harinya..


siapa tau mas mau menikmati alam lebih lama.." imbuh Wiwit.


" Lihat lihat apa?"


" di sebelah sana ada ranu lagi, Ranu darungan.. siapa tau mas mau lihat..?"


" Ah.. tempat ini setiap detailnya terlalu cantik, mungkin lain kali aku akan menikmati setiap sudutnya lebih lama,

__ADS_1


namun sayangnya aku kesini sekarang tidak untuk menikmati alam,


ada hal yang harus aku selesaikan,


jadi lebih baik kita cepat naik saja.." Yoga menghela nafas, membuang beban pikirannya yang berat sejenak.


Wiwit tersenyum, ia mengerti,


dan tugasnya hanyalah mengantar Yoga naik dan turun dengan selamat.


" Baiklah.. apa perlu makan dulu?"


" apa tidak bisa makan dijalan?"


" kalau mau makan besar lebih baik disini, kalau hanya sebatas roti dan lainnya bisa sambil jalan..


karena normalnya kita berjalan hanya sekitar 3 jam saja sudah bisa sampai Ranu gumbolo kok mas..


tapi untuk pemula biasanya sedikit lama, bisa 4 atau bahkan 5 jam,


itu jika kita banyak berhenti dan beristirahat.."


jelas Wiwit.


" Kurasa aku tidak selemah itu mas wiwit.. mari kita berjalan secepat mungkin.." ujar Yoga.


Wiwit mengangguk,


" Ya sudah.. kita berdoa dulu ya mas.." ajak Wiwit,


karena bagi Wiwit yang seorang pendaki senior, berdoa sebelum mendaki adalah sebuah keharusan.


" Berdoa selesai.. semangat.." ujar Wiwit melempar senyum pada Yoga, dan mulai berjalan.


" Kau sudah lebih tenang?" tanya Dedy berdiri di belakang punggung Damar yang sedang duduk merokok dan memisahkan dirinya lagi dengan yang lainnya.


" Yah.. aku jadi malu padamu.." ujar Damar sembari menghisap lalu menghembuskan asap rokoknya.


" Malu kenapa?!"


Dedy menepuk bahu Damar, lalu ikut duduk di bawah pinus, tentu saja menghadap Ranu gumbolo.


" Itu berbeda Ded.."


" apanya yang beda? kalau kau tidak ada.. mungkin aku sudah habis di hajar anak Sastra inggris waktu itu.."


" itu bukan apa apa.."


" Bagimu, bagiku yang kau selamatkan tentu saja tidak biasa..


aku yang sendirian di keroyok 5 orang,


bagaimana kira kira jadinya?"


Damar tertawa mendengarnya.


" Ah.. aku sebal sekali kalau ingat itu.. kau hanya dua kali pukul, mereka sudah lari..


itulah untungnya mempunyai tubuh yang tinggi dan sehat.." omel Dedy.


" Memangnya kau dulu tidak sehat?" gumam Damar heran dengan kata kata Dedy,


" Terlalu kurus bukan.. bahkan cicak saja tidak takut padaku.."


" dulu.. sekarang kau gagah.."


" Yah.. lebih tepatnya aku mulai membesar dan membuncit.."


Keduanya tertawa.


" Pulanglah besok.. tidak usah ikut ke arjuno welirang..


temui istrimu..


bicaralah baik baik, ajak dia pindah dari kediaman yang kalian tempati sekarang..


kau masih ingat kan dengan saranku?"

__ADS_1


Damar mengangguk.


" Sesungguhnya aku sudah berpikir seperti itu sejak lama,


namun tempat tinggal yang ku persiapkan belum rampung..


ku kira aku bisa melihat perubahan baik sembari menunggu.."


jawab Damar kalem, di hisap lagi rokoknya.


" Ku kira saudaramulah yang tidak bisa melepaskan masa lalu..


bukan istrimu.."


" Yah.. aku tau, aku tau itu dengan benar..


tapi aku terbawa emosi..


setelah menenangkan diriku disini,


dan bicara padamu..


aku baru sadar..


yang kulakukan tidak tepat..


saat itu logikaku benar benar kalah oleh rasa sakit hatiku yang sungguh luar biasa..


Aku begitu marah dan kalap.. justru karena dua duanya adalah orang orang yang aku sayangi..


Kau tau.. Aji menitipkannya padaku.." Damar memandang Dedy dengan mata yang mulai berkaca kaca.


" Aku sudah menunggunya bertahun tahun untuk berada disampingku..


dia jantungku.. belahan jiwaku..


apa kau bisa bayangkan akan seberapa hancurnya diriku jika aku kehilangan dia..?"


Dedy menghela nafas dan menepuk punggung Damar untuk kesekian kali.


" Kau mencintainya.. dan kemarahanmu itu terlalu kecil di bandingkan cintamu..


Tak ada gunanya berandai andai..


kurasa saudaramu tidak akan sanggup merebutnya,


Kau adalah laki laki yang luar biasa..


dulu atau sekarang.. kau tetap sama,


lebih mementingkan kebahagiaan orang lain..


kau tidak selalu harus begitu..


mengalah itu baik..


bersabar juga baik..


tapi terkadang kita harus mencoba sekali kali lepas dari tali kekang..


agar orang tidak semena mena terhadap kita.."


Damar terdiam, terlihat berpikir.


" Setelah kau pulang, peluk istrimu..


dan tanyakan padanya,


apa dia mau kau bawa kemanapun kau pergi..


jika dia bersedia,


itu artinya kau juga segalanya baginya..


kau juga jantung dan belahan jiwanya,


jadi..

__ADS_1


bawa istrimu pergi dari sana..


sesegera mungkin.." ujar Dedy.


__ADS_2