Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
boleh bawa lari anak orang mbah?


__ADS_3

Suasana rumah itu sedikit hening beberapa hari ini, itu di karenakan kejadian yang terjadi beberapa hari yang lalu.


" Ibu tidak membagikan undangannya.." ujar ibu pada Kinanti yang terduduk di tas tempat tidurnya.


" Ibu tidak tau apa keputusanmu, tapi tidak membagikan dulu undangan itu adalah langkah yang paling baik menurut ibu sekarang.." imbuh ibu menatap Kinanti baik baik.


" Ibu berharap jangan lama lama berpikir, waktu terus berjalan.." harapan ibu Kinanti bisa lekas lekas memutuskan, pernikahan ini akan tetap di laksanakan atau tidak.


" Lalu apa hasil pembicaraan ibu dengan orang tua Haikal?" tanya Kinanti tenang.


" Mereka sudah tau siapa perempuan itu.. mereka pacaran sudah lama.." jawab ibu,


" Lalu?"


" yang jelas mereka meminta maaf pada Kita, harapan mereka pernikahan ini dapat di teruskan karena sedikit banyak mereka sudah berharap padamu..


ibu Haikal terlihat sangat menyukaimu meski ia hanya beberapa kali bertemu denganmu.." jelas ibu,


" ah.. apalah artinya itu bu.. harusnya dia tau hati putranya tertambat pada siapa.." jawab Kinanti menundukkan pandangannya sejenak.


" Haikal belum kesini?" tanya ibu,


" sudah ku panggil, sekalian dengan perempuan itu.. lebih baik kami bicara bertiga..


aku tidak mau bersikap egois dengan tidak mau mendengarkan perasaan orang lain..


meskipun sedikit banyak aku akan merasa sakit hati bu, dengan pengakuan pengakuan atau cerita cerita cinta mereka.." ujar Kinanti,


Ibu terdiam, pandangannya begitu sedih dan kecewa.


" Maafkan ibu.." ucap ibunya sembari menyentuh pipi Kinanti lembut.


" Kau harus menanggung sakit hati lagi.." jawab ibu,


" itu bukan salah ibu, kenapa ibu yang harus meminta maaf padaku?


mereka yang menyakitiku saja tidak merasa bersalah..


jadi ibu tidak perlu berkata seperti itu..


aku ini putri ibu, kebahagiaan ibu adalah kebahagiaanku..


sebagian besar ini termasuk salahku sendiri..

__ADS_1


aku buru buru menerima pinangan seorang laki laki meski aku tidak mempunyai perasaan apapun padanya..


aku yang bodoh dan sembrono bu..


meskipun sesungguhnya Haikal adalah laki laki yang baik..


aku bisa merasakan kasih sayangnya yang tulus..


yang mungkin saja kasih sayang itu harusnya di berikan pada orang lain tapi dia limpahkan semua itu padaku,


karena frustasi dengan percintaannya yang terhalang restu keluarga.." ujar Kinanti menyadari.


" Bu..?"


" iya Nan?"


" apa ibu akan marah? jika aku pada akhirnya tidak akan menikah dan hidup sendiri sampai tua?" ujar Kinanti membuat hati ibunya di penuhi rasa pedih, bagaimana bisa putri satu satunya berkata hal semacam itu dengan mudah.


" Ibu tau kau kecewa.. tapi jangan membuat keputusan yang buruk untuk dirimu sendiri.."


Kinanti terdiam,


" Apa ibu sebegitunya ingin aku menikah?"


" Oh.. ibu, maafkan aku.. aku bahkan selalu membuat air mata ibu jatuh karenaku..?" Kinanti memeluk ibunya.


Damar bolak balik dari rumah mbahnya ke pabrik, sikapnya sedikit berbeda beberapa hari ini, sedikit gusar dan tidak sabaran.


" Ono opo tho le?!" tanya si mbah terheran heran melihat cucunya.


Damar terdiam, ia duduk depan pawon, atau perapian yang apinya sedang menjulur julur tinggi itu karena di beri terlalu banyak kayu bakar oleh Damar.


" kalau ada apa apa itu di bicarakan sama mbah.. jangan di pendam sendiri.. nanti yang ada kamu stress le..


mbah yo emoh punya cucu stress.." niat mbah memberi semangat sembari bercanda.


Namun Damar tak menjawab, ia terus saja menambahkan kayu pada api itu sehingga api itu makin membesar.


" Tulung tulung.. ki lho, putuku ate ngobong omahku?! ( tolong tolong.. ini lho cucuku ingin membakar rumahku)" ujar mbah membuat Damar menghentikan gerakannya yang akan menambahkan kayu bakar pada kobaran api, Damar yang terlihat murung meletakkan kayu bakar itu kembali ke tempatnya.


" Biasae iki tanda tandae njaluk di rabekno.. (biasanya ini tanda tanda minta di nikahkan..)" ujar mbah setengah menggerutu.


" aku oleh tho mbah? ( aku boleh mbah?)" tanya Damar mengalihkan pandangannya ke mbah uti,

__ADS_1


" boleh kenapa?" tanya mbah sembari membenarkan letak duduknya.


" Bawa lari anak orang.."


mendengar itu mbahnya melotot, seakan akan sanggup membuat bola mata itu keluar dan berlari ke arah Damar.


" Yo ora oleh! tho le! ( ya tidak boleh! )" jawab mbah dengan suara nyaring memenuhi dapur.


Namun melihat wajah Damar yang lesu dengan jawaban si mbah,


si mbahnya itu menghela nafas panjang, meredam kekagetannya, mulai berusaha memahami dan mengurangi tekanan suaranya.


Ia tau itu bukan sebuah kalimat candaan, karena seumur umur Damar tidak pernah bercanda seperti itu.


Dan yang paling penting Damar bukan tipe cucu yang suka bercanda dengan mbahnya.


Ia selalu bicara hal hal yang dalam dan serius, namun dengan nada yang ringan.


" Ada jalan yang baik kenapa pilih jalan yang tidak baik le.. kan kita bisa datang baik baik melamar?"


" Damar pasti di tolak, jadi lebih baik Damar bawa lari saja.."


mendengar kalimat tak bijaksana dari cucunya itu si mbah menggeleng tak percaya.


Damar adalah cucu kebanggaan si mbah,


Damar yang paling pendiam dan kalem diantara cucu lainnya dan sangat bertanggung jawab.


Keputusan dan pemikiran pemikiran nya selalu dewasa, lalu kenapa tiba tiba sekarang ia ingin membawa lari anak orang, apa anak ini kesurupan setan yang sedang ingin kawin lari?.. pikir mbah benar benar tak percaya cucunya itu ada niatan membawa lari anak orang.


Winda memasuki ruangan kantor Damar sembari menggendong Bagas,


" Pak anto? Damare nangdi? ( Damarnya kemana?)" tanya Winda pada salah satu staf.


" Waduh, tidak tau bu Winda, dari tadi keluar masuk tidak jelas.."


" Maksudnya?" winda mengerutkan dahinya.


" tidak ada yang berani bertanya bu, soalnya dari raut wajahnya, senggol bacok bu.. mukanya suntuk dari pagi.." ujar pak Anto.


Winda menghela nafas, karena hal itu ia ingin menemui Damar.


Ia ingin tau, ada apa di balik wajah yang tidak enak di pandang itu.

__ADS_1


" Ya sudah.. biar saya cari sendiri.." jawab Winda mulai berjalan ke arah gudang.


__ADS_2