
Yoga membantu Kinanti menurunkan belanjaannya dan meletakkannya di teras.
" Aku pulang dulu.." Pamit Yoga.
" Kau tidak menyapa ibu?" tanya Kinanti tanpa memandang Yoga.
" Apa boleh? aku takut ibu kaget.." sahut Yoga.
" Yah.. mungkin lebih baik jangan.." jawab Kinanti.
Yoga tersenyum lalu mengangguk,
" kalau nanti Yuk tidak menjemput, biar ku jemput saja.. aku bisa ijin.."
" tidak usah," Jawab Kinanti.
" Kenapa? aku hanya ingin menjemputmu.. bukan macam macam.. " ucap Yoga lagi lagi membuat perasaan Kinanti tak karu karuan.
" Sudahlah, pulanglah sana, jangan ganggu aku.." ucap Kinanti sembari masuk ke dalam rumahnya.
Meninggalkan Yoga yang masih berdiri di teras.
Yoga hanya bisa menghela nafas melihat sikap Kinanti yang belum bisa sepenuhnya memaafkannya itu.
" Apa yang terjadi? kau ribut dengan suamimu?" tanya ibu sembari mengupas bawang, ia tak henti memperhatikan wajah putrinya itu.
" Mbak Sum.. tolong bikinkan teh lemon ya..?" ujar Kinanti pada perempuan yang sekarang mengantikan dirinya menemani ibunya itu.
" Nggih mbak.." Jawab mbak Sum lalu berjalan ke dapur.
" Nduk?" tanya ibunya lagi ketika lama tak mendapat jawaban.
" Tidak bu, saya tidak ada masalah apapun dengan mas Damar.." jawab Kinanti mengusir kekhawatiran dari ibunya.
" Lalu kenapa wajahmu muram?"
" Hanya ada sedikit hal yang menganggu pikiran saya bu, bukanlah hal yang penting.."
" bukan hal penting tapi raut wajahmu seperti itu?"
" Pastinya bukan masalah mas Damar bu, ibu tenang saja..
menantu ibu itu tidak pernah membuat masalah.." jawab Kinanti,
" Lalu kau yang membuat masalah?" pertanyaan ibu membuat Kinanti terhenyak sejenak.
" Bagaimana bisa Kinan membuat masalah bu? tidaklah.. Kinan hanya,
hanya terpikirkan soal hal hal yang sudah berlalu saja.." jawab Kinanti dengan tatapan sayu.
" Nduk.. apa yang sudah berlalu jangan kau pikirkan lagi, tidak ada faedahnya..
yang ada membuat perasaan tidak enak, dan menambah beban pikiran.." nasehat ibunya sembari terus mengupas bawang putih.
Kinanti diam, ia tak menjawab.
" Ah.. Kinan mau rebahan sebentar, sejam dua jam bangunkan ya bu, mau kerumah budhe.."
Kinanti bangkit dan berjalan ke arah kamarnya.
" Eh.. anak ini, minta di buatkan teh...malah tidur.." gumam ibunya hanya melihat saja.
Kinanti pulang tanpa menunggu siapapun, ia naik taksi online demi menjaga dirinya dari cibiran mertuanya.
Sesungguhnya ia bukan tipe yang lebih nyaman naik ojol, selain murah baginya juga lebih santai di bonceng motor.
__ADS_1
Tapi lagi lagi ia harus sedikit menjaga dirinya dari pandangan pandangan yang kurang pantas,
karena ia adalah istri Damar yang lumayan terpandang di kampung,
meski suaminya itu lebih senang dengan kesederhanaan, namun ia tetap saja harus memandang mertuanya dan Winda.
" Lho? kok sudah pulang?" tanya Winda ketika melihat Kinanti berjalan melewati rumah Winda.
" Iya mbak.. saya naik taksi online kok.. kasian Yuk, sore sore waktunya pulang malah harus jemput saya.." jawab Kinanti.
" Lalu sekarang kau mau kemana?" tanya Winda melihat Kinanti yang berjalan keluar dari halaman rumah mereka.
" Saya jenuh mbak, kata mas Damar saya disuruh menunggu di pabrik, sebentar lagi mereka sampai.."
" owalah.. ya sudah, sekalian lihat lihat pekerja, ngobrol ngobrol lah sedikit dengan mereka,
mereka pasti senang kau ajak bicara.." ujar Winda.
" Inggih mbak.." ujar Kinanti mengangguk, lalu melanjutkan langkahnya ke arah pabrik.
Kinanti melewati area persawahan, beberapa orang yang baru pulang bekerja tersenyum dan menyapanya.
Belum sampai Kinanti di pabrik, ia mendengar suara deru mobil suaminya.
" Sayang?!" panggil Damar menghentikan mobilnya disamping Kinanti yang berdiri di pinggir jalan.
" Ayo naik?!" Ujar Damar,
Kinanti tersenyum, namun senyumnya hilang ketika ia melihat seorang perempuan duduk di kursi depan, disamping Damar.
" Oh?! biar saya pindah ke belakang mbak?!" Ujar Zahira cepat.
" Tidak usah, saya jalan kaki saja.. sekalian menikmati pemandangan sore.. toh dekat.." ucap Kinanti berusaha tersenyum semanis mungkin.
" Benar itu sayang?" tanya Damar,
" Ya sudah.. ku tunggu di pabrik.." Ujar Damar lalu melanjutkan mengendarai mobilnya ke arah pabrik.
Sesampainya di pabrik, Kinanti di perkenalkan dengan Zahira.
Zahira terlihat muda dan cantik, tak jauh berbeda dengan Kinanti, namun dia tampak lebih bebas dan modern, mungkin karena Zahira adalah anak orang kaya yang lahir dan tumbuh dalam keluarga yang berkelimpahan.
Saat Zahira berbincang dengan Damar, Kinanti yang peka tau, bahwa Zahira sedikit banyak mempunyai ketertarikan dengan suaminya.
" Ya sudah, karena sudah sore.. aku pulang dulu ya, sampai jumpa lusa Zahira" pamit Damar,
" Iya mas.. sampai jumpa lusa.." sahut Zahira, lalu mengulas senyum pada Kinanti.
Damar meraih tangan istrinya dan mengandeng Kinanti berjalan keluar dari area pabrik.
pemandangan itu banyak membuat orang tersenyum dan iri,
Damar yang tak pernah terlihat semanis itu, tampak manis sekali di hadapan istrinya.
" Membuat iri saja..." gumam Zahira,
" Yah.. laki laki yang biasanya tidak pernah menunjukkan cinta itu, sekarang seperti menyebarkan virusnya kemana mana..
dia seperti memberi contoh pada orang orang.. kalau mereka harus memperlakukan istrinya dengan sepenuh hati.." sahut Umar tersenyum.
Zahira terdiam,
" Sudah boleh pulang mbak.. silahkan.." lanjut Umar,
" Aku malas pulang Mar.. temani aku makan.."
__ADS_1
" Kenapa malas pulang mbak?"
" malas saja Mar.. aku lelah dengan jadwal jadwal yang di atur orang tuaku..
dan berhentilah memanggilku mbak, usia kita tidak beda terlalu banyak.."
" Ah.. tetap saja, tidak sopan untuk saya kalau memanggil nama mbak langsung.."
" sudahlah Mar.. aku malas berdebat, ayo temani aku makan, sudah jam pulang kan?"
" 30 menit lagi mbak, saya kan harus beres beres meja kerja saya, dan menyimpan beberapa barang.."
" ya sudah.. ku tunggu.." ucap Zahira,
Umar memandang Zahira sejenak,
" Jangan hanya karena kecewa, mbak bersikap seperti ini mbak.." ucap Umar halus, ia seakan mengerti kalau Zahira kecewa melihat perasaan Damar pada istrinya begitu dalam.
" Bersikap seperti apa? aku hanya mengajakmu menemaniku makan..?"
Umar tersenyum,
" Hemm.. baiklah mbak, asal mbak mau sabar menunggu akan saya temani.." ucap Umar kemudian.
Di tengah perjalanan pulang dari pabrik, Damar merasakan sikap yang sedikit berbeda dari istrinya,
Kinanti banyak diam dan tertunduk.
" Ada yang ingin di sampaikan sayang?" tanya Damar membuat Kinanti menatapnya.
" Apa?" Kinanti balik bertanya,
" Entahlah.. kau terlihat kurang senang?"
" ah.. tidak mas.." jawab Kinanti mengulas senyum.
Yah sesungguhnya ada beberapa hal yang menganggu pikirannya, selain Yoga, perempuan bernama Zahira tadi.
Tapi ia yakin pada suaminya, tidak akan dengan mudah memberi hatinya pada perempuan lain meski perempuan itu mengharapkannya.
" Jangan cemburu pada Zahira ya? ucap Damar tiba tiba, seperti faham pemikiran istrinya,
" Kenapa aku harus cemburu?"
tanya Kinanti, Damar tersenyum,
" pandanganmu pada Zahira sedikit kaku..
aku berpikir kesanmu sedikit kurang baik padanya..
dulu memang orang orang sempat akan mendekatkan ku dengannya,
tapi tentu saja aku tidak mau..
aku sudah menyimpanmu baik baik di hatiku..
meski saat itu kau lebih memilih Haikal.."
" ah.. di bahas lagi.. Istri Haikal bahkan sudah hamil.." gumam Kinanti.
" Lalu kapan kita menyusulnya sayang?" Damar mencium tangan istrinya sembari terus berjalan melewati sawah sawah.
Bunga bunga ilalang melambai lambai di pinggir jalan karena tertiup angin sore yang sedikit kencang.
" Bukankah mas sudah lembur siang malam.." ucapan Kinanti membuat Damar tergelak.
__ADS_1
" Kurang lengkap..
yang betul, subuh.. siang.. malam.. dan tengah malam.." imbuh Damar.