
Kinanti terbangun dari tidurnya, ia melirik jam dinding,
jam setengah dua pagi.
Di balikkan tubuhnya, dan tangannya mulai meraba, mencari keberadaan suaminya yang sejak sore tertidur disampingnya.
Kinanti bangkit saat ia tak menemukan suaminya di atas tempat tidur.
Ia berjalan ke arah kamar mandi, melongok.. kosong..
lalu dengan rasa penuh penasaran ia memutuskan keluar, kemana sebenarnya suaminya.
Ia begitu penasaran karena sejak terbangun dari tidurnya tadi sore ia diam saja dan hanya tersenyum saat memandangi Kinanti.
Dan tak ada penjelasan apapun tentang kondisinya hingga ia kembali tertidur seusai isya'.
Ia sibuk bicara dengan mbak Winda, dan pembicaraan mereka serius sekali.
Kinanti sengaja di suruh menyiapkan makan malam, seakan akan ia memang tak di perbolehkan ikut mendengarkan oleh Damar.
Kinanti menyusuri seluruh rumah, dari ruang tamu hingga dapur, tak ada jejak suaminya.
" Kemana sih malam malam begini...?" keluh Kinanti,
" apa mungkin ke pabrik?" Kinanti bertanya tanya.
Tapi tak mungkin pikirnya, di luar hujan terdengar rintik rintik..
tidak mungkin suaminya keluar dengan kondisi cuaca yang begini.
Kinanti berjalan kembali ke arah kamarnya, namun tiba tiba langkahnya terhenti, ia mengingat sesuatu.
Kamar suaminya, kamar yang di masukinya tadi pagi..
Dengan langkah hati hati Kinanti menuju ke kamar itu.
Membuka pintu kamar itu perlahan, dan menyeruak lah bau tembakau yang pekat.
Ruangan itu gelap, namun Kinanti menangkap sebuah bayangan, seorang laki laki sedang duduk dengan memegang rokok yang menyala di tangannya.
Ada rasa takut yang menghinggapi Kinanti untuk beberapa saat,
namun di usirnya ketakutan itu, karena ia mengenal betul itu adalah postur tubuh suaminya.
Kinanti mencari saklar lampu, dan benar saja..
saat lampu itu kamar menyala, ia menemukan suaminya yang terduduk di kursi meja kerjanya.
Meja hitam yang menghadap langsung ke jendela.
Rupanya ia sedang mengawasi pemandangan malam depan rumah sembari memperhatikan gerimis yang mulai bertambah deras.
" Mas..." Panggil Kinanti mendekat.
Damar tak menjawab, menyadari langkah istrinya mendekat ia menundukkan wajahnya.
Mengusap sesuatu yang mengalir di pipinya dengan cepat.
" Mas kenapa?" tanya Kinanti memeluk menghela wajah suaminya agar memandangnya.
Melihat mata yang masih menyimpan sisa sisa kesedihan itu Kinanti tau, bahwa suaminya itu sedang tidak baik baik saja.
Di gerakkan ibu jarinya, mengusap air di sudut mata suaminya yang akan meluncur turun.
" Jangan memikirkan beban hidupmu sendiri mas.." ujar Kinanti memeluk suaminya itu.
" Aku ini istrimu bukan.. bicarakan semuanya denganku.." imbuh Kinanti sembari mengambil rokok yang berada di tangan suaminya lalu membuangnya di asbak.
__ADS_1
Dengan segera Damar memeluk pinggang istrinya itu dengan erat.
Ia terisak isak tak terkendali,
" aku sudah membunuh kakakmu..?! aku yang membunuhnya..! aku yang membuat dia mati..!!" ujarnya keras.
Membuat Kinanti kaget dan membeku seketika.
" Ampuni aku Nan..?! ampuni aku..?!" laki laki itu terus memeluk istrinya dengan erat.
Beberapa hari setelah kejadian itu Kondisi Damar mulai membaik, namun nafsu makan ya menurun drastis.
Ia tak begitu banyak bicara pada istrinya, jika tidak pergi ke kampus, maka dia akan sibuk seharian di pabrik, lalu menjelang magrib dia akan memeriksa perairan di sawah sampe menjelang isya'.
Setelah itu dia pulang untuk mandi dan makan, lalu beberapa jam kemudian ia kembali ke pabrik untuk membantu para pekerja yang sedang lembur.
Kinanti tau.. itu semua di lakukan suaminya hanya untuk mengurangi rasa bersalahnya.
Tak ada pandangan kebencian atau apapun, hanya ada sorot keputus asa an yang tiba tiba hadir di matanya, itu yang membuat Kinanti diam untuk sementara dan memperhatikan, sembari dia mencari cari tau tentang apa yang sebenarnya membuat suaminya itu begitu merasa bersalah akan kematian kakaknya.
Sudah beberapa kali Kinanti masuk ke kamar Damar tanpa ijin,
ia sengaja mencari cari bahan untuk memenuhi rasa keingin tahuannya.
Namun yang ia temukan hanya kenangan kenangan manis Damar dengan kakak kandungnya itu.
Foto pendakian mereka tersimpan rapi di laci, terbagi dalam beberapa album.
Foto itu di penuhi senyum Damar yang pelit namun wajahnya terlihat tenang dan nyaman.
Wajah yang tak terurus dengan rambut yang di biarkan panjang sebahu.
Sedangkan disampingnya selalu saja berdiri sosok Aji, yang senyumnya secerah matahari, tubuhnya yang lebih kecil selalu di rangkul oleh Damar.
Bahkan ada beberapa foto juga saat Damar sedang menggendong Aji, seperti sendang bercanda di depan rumah kost kostan mereka saat kuliah.
Ia tau.. kakaknya tidak mungkin menyimpan sebuah dendam, apalagi pada sahabat baiknya seperti Damar.
Tapi kata kata dan rasa bersalah Damar yang terlalu berlebihan membuat Kinanti bertanya tanya.
Lagi lagi Kinanti mengawasi beberapa foto yang terpajang di dinding kamar itu.
Dirumah ini bahkan tak ada foto siapapun, hanya fotonya dan Aji saja yang memenuhi ruangan.
Namun ada satu foto yang selalu Damar letakkan di dompetnya, sepertinya itu foto almarhum ibu kandung Damar,
Namun Kinanti merasa tak perlu untuk bertanya, karena ia takut membangkitkan kesedihan suaminya itu.
" Sebenarnya kenapa suamiku mbak?" tanya Kinanti mencari kesempatan ketika akhirnya Damar berangkat ke kampus untuk mengajar.
" Dia sudah seminggu ini diam, tak bernafsu makan, bahkan hanya tersenyum dan mengelus kepalaku..
itu membuatku semakin tertekan.." ujar Kinanti.
Winda menghela nafas panjang,
" Dia tidak bisa lepas dari bayang bayang kematian kakakmu.." ujar Winda membuat Kinanti menggigit bibirnya karena rasa yang campur aduk dalam dadanya.
Sedih, kecewa, dan ia tidak tau apa yang harus untuk katakan sekarang.
" Dia sudah bertahun tahun begitu..
tapi sebulan lebih ini, aku melihat perubahan besar padanya.. jadi ku kira itu sudah sembuh sejak kalian menikah.."
" memang baru kemarin mbak aku melihatnya begitu..
sejak awal kami dekat aku tidak pernah melihatnya begitu..?"
__ADS_1
" saat akan akad dia sempat kambuh, sedikit parah.. aku bahkan takut dia tidak bisa menjalani akad nikah..
tapi karena kami memaksanya mengkonsumsi obat, kondisinya membaik..
obat yang sama dengan yang kau ambilkan di laci kemarin,
jadi ketika suamimu sudah mulai berkeringat dingin dan gemetar.. berikan itu untuknya, kau harus tau itu.."
Kinanti benar benar sedih, bagaimana bisa ia baru menyadari dan mengetahui hal ini setelah pernikahan berjalan sebulan lebih, bahkan hampir menginjak dua bulan.
" Apa kau tau kenapa saat menggendong mu dia tiba tiba seperti itu?"
tanya Winda kemudian.
Kinanti menggeleng, ia berharap mendapat jawaban.
" Kau terlalu mirip dengan kakakmu.. wajahmu itu.." ujar Winda,
" saat dia menggendong mu turun bukit, secara tidak sengaja dia menangkap wajahmu yang begitu mirip..
bahkan kepalamu kau sandarkan ke bahunya sembari menutup mata..
itu membuatnya terguncang.."
" Itu karena aku lelah mbak.. tapi aku hanya sebentar saja memejamkan mataku?!" jelas Kinanti,
" sesungguhnya itu bukan masalah, masalahnya adalah suamimu yang kondisi psikisnya tidak normal..
Melihatmu seperti itu, bayangan kematian kakakmu tiba tiba saja muncul kembali..
apalagi saat kakakmu meninggal, ia juga meninggal di atas punggung suamimu..
saat itu suamimu menggendongnya turun gunung untuk mencari bantuan..
Kau memicu kenangannya Nan..
menimbulkan rasa bersalahnya muncul kembali,
bahkan sekarang entah itu lebih besar atau berkurang..
melihatmu memejamkan mata di bahunya dengan tidak berdaya.. sangat membuat nya takut, ia takut kau meninggalkannya seperti kakakmu..
ia takut tidak bisa melindungimu dan kehilangan kembali orang yang sangat berharga baginya.."
" mas Damar membayangkan aku meninggal? di posisi sama seperti mas Aji juga?"
Winda mengangguk,
" Ia susah payah turun dan menahan dirinya, hingga akhirnya dia ambruk.. ia ingin mengantarmu sampai rumah meski tubuhnya tak kuat.."
Kinanti menggeleng tak percaya,
" ini sudah bukan gangguan ringan mbak??, halusinasi yang di alami suamiku harus di sembuhkan??" ujar Kinanti dengan perasaan tak bisa di jabarkan.
" Dia tidak kuat, tapi tetap menggendongku turun.. di bahkan mengira aku mas Aji.." Kinanti tertunduk lemah.
" mungkin karena kau terlalu mirip dengan kakakmu dan saat itu kondisinya hampir sama.."
Kinanti menutup mulutnya dengan satu tangannya, menahan suara tangisnya agar tak meluap.
Ia bahkan tak sanggup menahan kesedihannya atas apa yang membebani suaminya selama ini.
" Apalagi yang belum mbak Winda ceritakan.. ceritakan semuanya.. tentang suamiku..?" pinta Kinanti,
" Terlalu banyak hal menyakitkan yang sudah terjadi padanya..
hatimu tak akan kuat.." ujar Winda dengan pandangan sayu.
__ADS_1