Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
Damar yang sederhana..


__ADS_3

Pagi ini memang tak begitu indah untuk Damar, ketika membuka jendela langit sudah mendung.


Banyak petani petani yang sudah berkutat dengan padi,


banyak juga para pedagang desa yang berangkat ke pasar dengan memikul dagangannya.


mereka menjual segala hasil pertaniannya yang mungkin mereka tanam di lahan kecil samping rumah, seperti ubi, cabe atau pisang.


Yang paling membuat Damar trenyuh adalah ketika ia melihat ibu ibu renta yang masih berjualan seadanya keliling kampung, mereka menjual daun singkong, rebung, dan empon empon, mereka menaruh keranjang yang di anyam dari rotan di atas kepala mereka, yang pastinya itu berat dan berjalan tanpa menggunakan alas kaki dari rumah mereka yang cukup jauh di perbukitan berkeliling kampung.


Damar menengadahkan kepalanya, menatap langit yang menghitam,


" jangan turun hujan.." gumam Damar, kasihan orang orang yang sedang berusaha keras untuk menghidupi keluarganya, toh mereka tidak mengharapkan uang yang banyak..


pinta Damar dalam hati.


Banyak rasa syukur, namun banyak juga kesedihan dalam hatinya,


yang bisa ia lakukan adalah menyediakan lapangan pekerjaan untuk penduduk sekitar, sedangkan untuk para pedagang,


membeli sayuran sayuran dan empon empon sudah menjadi kebiasaan mbak Winda dan mbah utinya.


Setiap pagi ibu ibu dari perbukitan itu mampir dan menawarkan apa saja yang mereka bawa,


luar biasanya mbak Winda yang cerewet itu selalu membelinya, entah ia butuh atau tidak.


" Sarapan le.." suara mbah utinya dari arah dapur,


yah.. beberapa hari ini dia tidur dirumah mbah utinya, karena mimpi buruk sering datang lagi.


Damar berjalan ke arah Dapur, menemukan mbah utinya sedang memindahkan nasi jagung dari dandang ke piring.


Damar mengambil kursi kayu, lalu duduk di depan perapian yang di gunakan untuk memasak atau orang jawa menyebutnya pawon.


Damar yang sudah mau menginjak 30 tahun itu tetap saja bermain main dengan ranting yang sudah terbakar, ia memindahkan dan menambahkan ranting ranting lagi agar api semakin membesar.


" Mau bikin kopi le?" tanya mbahnya,


" nggih mbah, bikin sendiri saja.." ujar Damar bangkit mengambil gelas, lalu menyendok kopi tumbukan mbahnya sendiri, meletakkan ke dalam gelas dan menambahkan gula sedikit, itu karena ia tidak terlalu suka manis.


Ia mengambil air yang sudah mendidih di dalam panci, menyeduh kopinya hati hati.


" Adem yo le.. koyok e ate udan.." ujar mbah utinya,


" nggih mbah.. sepertinya mau hujan, tapi semoga saja tidak..


mbah mau ke kesawah toh..?"


" iyoo.." jawab si mbah uti.

__ADS_1


" Ya wes.. ayo maem sek.." ajak Mbah uti,


Damar meletakkan kopinya di atas meja, lalu mengambil piring yang sudah di isi nasi jagung oleh mbahnya.


" Wah.. penyet tempe sama ikan asin.." ujar Damar sembari menahan air liurnya agar tidak tumpah.


Tempe bakar dan ikan asin bakar selalu bisa menggugah selera Damar, belum lagi rebusan ujung daun labu yang di cocol dengan sambal tomat.


Mbah uti senang sekali melihat cucunya itu makan dengan lahap,


bukannya dirinya tidak mampu membeli daging, tapi makanan makanan seperti inilah yang membuatnya sehat di usia yang sudah setua itu, tidak ada penyakit penyakit aneh yang menyerangnya.


Hal itu ia turunkan pada semua cucunya, Damar yang seorang dosen, dan Yoga yang seorang dokter selalu lahap memakan masakan sederhana mbah utinya.


Sayangnya Yoga jarang sedikit jarang datang ke mbah uti, di karenakan kesibukannya.


sesekali ia datang membawa makanan dan duduk di pawon untuk minum kopi seduhan mbah utinya.


" Ngajar le hari ini?" tanya mbah uti ketika selesai makan.


" Nggih.. tapi berangkat siang kok mbah.."


jawab Damar masih mengunyah makanan.


" Bawa mobil.. mendung iki.."


" ah sepeda saja mbah.. kan ada jas hujan.." jawab Damar.


" Sawangen Yoga le.. mobilnya bagus, kenapa mobilmu begitu.." ujar mbah uti, karena mobil Damar dan Yoga memang sangat terlihat tidak seimbang.


Mobil Yoga adalah mobil keluaran merk terkenal, warnanya putih, bodynya besar, gagah, memiliki ban ban yang besar.


Sedangkan mobil Damar memiliki usia yang sudah tua, meski masih bagus bentuknya dan bagus mesinnya, perempuan akan lebih memilih naik ke mobil Yoga di bandingkan mobil Damar yang tidak kekinian sama sekali.


"Hahaha.. nyapo toh mbah.. ngurusi mobil tiba tiba..?" Damar tertawa, ia hampir tersedak.


" lha mobilmu iku wes wayah e ganti le.. mbok beli yang bagus sedikit..


Duwitmu iku akeh, ojok medit medit?!"


Lagi lagi Damar tertawa,


" lho lho.. sinten seng medit?, bukannya pelit mbah.. tapi masih bagus dan bisa di pakai.." jawab Damar, ia masih tertawa, ternyata selama ini si mbahnya ini juga memperhatikan tumpangan tumpangan cucunya.


" Hehh.. mbah iki isin.. malu, di kira nggak bisa belikan cucu barang yang bagus..!


wes sana jual sawah e mbah yang di pojok sendiri, buat beli mobil kalau memang kamu ndak mau uangmu berkurang..!" tegas si mbah,


" emoh..!" jawab Damar langsung.

__ADS_1


" Kalau Damar mau, Damar bisa beli sendiri.."


" Ya wes tumbasoo..!"


" tumbas tumbas ae mbah iki.. Damar mau beli mobil seperti Yoga itu buat apa? istri anak saja ndak punya.. mau buat ngangkut siapa?"


" Pokok e mbah iku pingin barangmu sama bagusnya seperti Yoga leee..?!" si mbah ngotot,


Damar menggeleng pelan,


" Repot.. inggih pun inggih.." Damar asal mengiyakan agar mbah utinya itu diam dan tenang,


karena sebenarnya ia tidak begitu butuh mobil.


Ia pun lebih sering menggunakan motor,


mobil itu berguna pada saat hujan dan mengantar kinanti atau ibu saja.


Selebihnya mobil itu terparkir tenang di garasi.


Yusuf duduk di teras, mengawasi Kinanti yang sibuk menyapu daun daun kering di halaman.


" Tidak kerja? malah nongkrong disini.." omel Kinanti.


" Males, Ayahku ngomel terus, ku tinggal saja pulang.." wajah Yusuf masam.


" Kau kan bukan anak kecil Suf?"


" iya tau, tapi jangan memarahiku di depan orang, apalagi orang orang itu bekerja padaku.. aku kan malu.."


" kau membuat kesalahan?"


" Iya.." jawab Yusuf tertunduk,


" Ya sudah.. terima kemarahan Ayahmu itu, hikmahnya kau bisa lebih berhati hati lagi ke depannya.." nasehat Kinanti.


Yusuf terdiam, dan Kinanti tetap sibuk menyapu.


" Oh ya, Haikal nanti kesini?" tanya Yusuf tiba tiba,


" Tidak, dia keluar kota lagi.. ada keperluan katanya.." jawab Kinanti tanpa menoleh ke arah Yusuf, dia fokus pada tanah dan daun daun kering.


" Keluar kota lagi?"


" Iya.. ada beberapa hal yang harus di urus katanya.."


" ih.. anak itu, menjelang pernikahan harusnya dia mengurangi perjalanan ke tempat yang jauh.." gerutu Yusuf,


" biarkan.. kalau memang urusannya banyak mau bagaimana? kau bilang menikah dengannya itu memang ribet.. tidak seperti menikah dengan orang orang pada umumnya.."

__ADS_1


" iya juga sih.." gumam Yusuf.


__ADS_2