Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
kenapa kau yang menjemput?


__ADS_3

" Di cari cari ke pabrik tadi mas?!" Kinanti menyusul suaminya kerumah mbah uti, seperti biasa.. suaminya itu sedang menikmati kopi buatan mbah uti sembari duduk di depan pawon.


" Disini nduk sejak tadi.. mau mbah suruh cari bibit.." sahut mbah uti yang duduk di kursi panjang.


" Owalah.. nggih mbah, saya cari mas Damar karena mau pamit.."


" Mau kemana??" Damar sontak menatap istrinya dengan dahi berkerut.


" Mau jemput Dinda kan mas?"


" terus? siapa yang mau antar? Umar sedang banyak pekerjaan, naik taksi online juga tidak boleh!" tegas Damar menaruh kopinya.


" Suruh Dinda naik taksi online saja, biar biayanya aku yang ganti.."


" ah.. mana dia mau?"


" Aku tidak bisa mengantarmu, karena aku harus cari bibit dan melihat kayu.. tidak bisa ku undur karena aq sudah terlalu lama mengabaikan pekerjaanku.."


mendengar kata kata suaminya Kinanti lesu, sudah pasti juga Damar tidak mengijinkan dia pergi sendiri.


" Yoga ada dirumah.. minta tolong Yoga saja.." sahut mbah uti.


Damar langsung menatap Kinanti dengan pandangan "awas saja kalau minta antar Yoga!".


Kinanti tertunduk, lalu menghela nafas panjang.


" Kenapa? Yoga kan libur.. lebih aman diantar Yoga.." ujar mbah uti kembali yang tidak tahu menahu.


" Lebih baik aku tidak usah beli bibit saja mbah dan mengantar istriku..?!" ujar Damar tiba tiba dengan wajah masam.


" Lha?? opo o tho le? orang diantar adikmu sendiri..?"


mendengar itu Damar terdiam, Kinanti juga sama diamnya.


" Repot kalian ini.." mbah uti berdecak sembari menggeleng gelengkan kepala.


" Biar Yoga sajalah yang menjemput, tidak apa apakan?" kata Damar kemudian,


" Ya tidak apa apa.. tapi biasanya kan mereka ribut?" jawab Kinanti.


" Memangnya mereka anak kecil mau ribut terus? mereka kan sudah tua?" suara Damar tenang namun tegas.


mendengar itu Kinanti berpikir sejenak,


" Ya sudah.. minta tolong Yoga saja.. toh pergi sendiri juga tidak boleh.." ujar Kinanti tak lama.


" Ya tidak bolehlah..! apalagi diantar Yoga?!" jawab Damar tegas membuat mbah uti tidak habis pikir, ada apa sebenarnya, karena biasanya Damar tidak begitu.


Yoga yang hari itu memang sedang libur menerima perintah dari Damar untuk menjemput Dinda di bandara.


Sekitar 30 menit Yoga menunggu, akhirnya Dinda terlihat keluar dari bandara dengan backpack dan travel bag nya.


Perempuan yang sejak dulu tomboy ini mulai menjadi feminim setelah menikah, namun tetap saja ke tomboyannya masih terlihat 50 persen.


" Kenapa kau yang jemput?" tanya Dinda saat menemukan Yoga berdiri menyambutnya dengan senyum.


" Kinanti sedang dalam kondisi hamil, mas Damar over protective sekali dan tidak di ijinkan keluar sembarangan..


jadi.. disinilah aku.. menjemputmu.." lagi lagi Yoga melempar senyum manisnya.


" Ih.. senyummu menyebalkan.." gerutu Dinda kesal, Yoga terlihat semakin ganteng saja, apalagi dengan senyumnya yang kelewat manis itu.


" Aku mendengar gerutuanmu lho..?" sahut Yoga sembari mengambil travel bag di tangan kiri Dinda tanpa aba aba.


" Biar ku bawa sendiri,"

__ADS_1


" Ah.. sudah lah, toh tidak berat.." ujar Yoga lalu berjalan terlebih dahulu.


Dinda mau tidak mau mengikuti langkah Yoga ke parkiran Bandara.


" Hallo..?" suara Yoga mengankat panggilan di HPnya sembari terus berjalan ke arah mobilnya.


" Apa sayang? kue? okehh..!" jawab Yoga lalu memasukkan HP ke kantong celana nya lagi.


" Din.. mampir dulu tidak masalah kan?" tanya Yoga berbalik pada Winda,


" Mampir kemana?"


" cari kue kesukaan anakku sebentar.."


" belikan saja kue untuk anakmu dulu, aku tidak masalah.." jawab Dinda datar.


Yoga tersenyum mendengar kalimat Dinda yang pengertian,


" Oh ya.. aku lupa,"


" apa?"


" kalau aku belum makan, bagaimana kalau kita sekalian makan juga..


kau lama tidak pulang ke malang kan?


kita makan dulu ya..


kita cari makanan yang tidak mungkin kau temukan di bandung..?"


dahi Dinda berkerut,


" Jangan aneh aneh.. aku tidak lapar, ayo langsung saja."


" tapi aku lapar Din.. kalau aku gemetar saat menyetir bagaimana?"


" Sudahlah.. makan dulu ya, sekali kali makan denganku..?!" kata Yoga tidak mau tau dan membuka pintu mobilnya.


Yusuf yang bersiap siap keluar untuk menjemput Kaila di hentikan oleh bapaknya.


" Kemari sebentar Suf?!" panggil si bapak agar putranya mengikutinya masuk ke dalam ruangannya.


" Ada apa? aku buru buru??" kata Yusuf berdiri di hadapan bapaknya yang sudah duduk.


" Duduk dulu.."


mendengar bapaknya menyuruhnya duduk tentu saja Yusuf patuh.


Ia duduk dengan tidak tenang karena takut terlambat.


" Ibumu mengajakku bicara tadi malam, tentang dirimu.." bapaknya membuka pembicaraan.


" Memangnya ada apa?"


" kok ada apa, tentu saja ibumu khawatir melihat dirimu?"


Yusuf terdiam,


" sekarang begini saja Suf, kalau perempuan itu serius denganmu bawa kerumah, perkenalkan dengan kami..


kau jangan seperti siluman begini?


jam kerja kau pergi se enaknya..?!"


Yusuf masih saja diam.

__ADS_1


" Bawalah dia kerumah, biar kami juga tau perempuan itu mau kau jadikan istri atau hanya main main saja kepadamu, di usiamu yang sekian, mana mungkin aku dan ibumu bisa sabar lagi,


menunggu setahun tidak masalah, tapi 4 tahun?!".


Yusuf hanya menghela nafas panjang,


ia tak berniat membantah atau menjelaskan apapun, karena dirinya sedang lelah dan banyak pikiran sekarang.


" Kalau perempuan itu tidak mau kau per istri, kau menikah saja dengan perempuan lain yang lebih siap?! kau dengar Suf?!" tegas bapak Yusuf.


" Yusuf?!" tegas bapaknya lagi saat Yusuf diam saja,


" Iya.. dengar, aku pergi dulu.." jawab Yusuf berdiri dan berlalu daei hadapan bapaknya.


Langkah laki laki itu berat, seberat pikirannya sekarang.


4 tahu, itu adalah waktu yang di ajukan Kaila, Yusuf harus mau menunggu.


Sementara 4 tahun lagi usia Yusuf sudah kepala tiga lebih.


Berkali kali laki laki itu menghela nafas, berpikir sekeras apapun ia tak menemukan jalan keluar selain bersabar 4 tahun atau merelakan Kaila dan menikah dengan orang lain untuk menenangkan orang tuanya.


" Astaga..." keluhnya pelan, duduk lesu di kursi parkiran.


Ia heran dengan dirinya, bagaimana bisa ia jatuh cinta pada Kaila yang masih bisa di katakan remaja itu.


Padahal jarang sekali dirimya jatuh cinta,


tapi kenapa sekalinya jatuh cinta situasinya sesak begini.


" Mas Yusuf..?!" bapak tukang parkir menepuk paha Yusuf.


" sekarang mau mengantikan pekerjaan saya? wah.. bahaya ini..?!" si tukang parkir tertawa lepas.


" Mbotenlah ( tidaklah) pak Raji.., saya cuma duduk.." jawab Yusuf,


" kenapa mas.. kok lesu..? belum makan toh.. apa ndak enak badan?"


" ah.. sedang ada yang di pikir saja.." Yusuf mencoba tersenyum,


pak Raji yang berusia sepantaran bapaknya itu memandanginya dengan serius.


" Pasti disuruh menikah, iya tho?"


tanya pak Raji,


" Lho? kok tau pak??" Yusuf sontak menatap pak Raji,


pak Raji tertawa melihat ekspresi Yusuf,


" Kebetulan beberapa hari yang lalu bapak juga duduk disini..


sama seperti sampean sekarang,


bapak sedikit berkeluh kesah tentang watak sampean yang sedikit kaku dan tidak segera segera menikah.." jelas pak Raji.


Yusuf diam, dan melihat kediaman Yusuf pak Raji menepuk lagi paha Yusuf.


" Mas.. jodoh, pati, rejeki.. gusti Allah yang ngatur, tugas mas hany berusaha yang terbaik.. kalau sudah berusaha yang terbaik tetap tidak bisa.. berarti akan di siapkan jalan yang lain untuk mas.." ujar pak Raji kalem.


" Jangan terlalu mencintai sesuatu mas.. sepantasnya saja..


jadi ketika segala sesuatunya tidak berjalan sesuai kenyataan, mas tidak terlalu terpuruk.." lanjut pak Raji, membuat Yusuf memandanginya trenyuh, seorang tukang parkir tua,


yang hidupnya pas pasan dan hanya hidup sebatang kara, bisa berucap seperti ini, seakan telah melewati segalanya..

__ADS_1


seakan hatinya seluas samudera.


__ADS_2