Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
kau tau maksudku


__ADS_3

Hari sudah menjelang sore saat Kaila masuk kerumah yang akan ia dan Yusuf tempati setelah menikah nanti.


" Siapa dari sini?" tanya Kaila melihat kardus kardus mie instan dan beberapa bahan makanan menumpuk di ruang tamu.


" Mba Nita.. " jawab Yusuf terlihat baru saja selesai membenarkan sesuatu.


Wajahnya lusuh dan penuh keringat, namun senyumnya langsung terkembang saat Kaila masuk.


" Ku kira langsung pulang dan tidak mampir kesini dulu?" kata Yusuf mengambil tisu dan mengusap wajahnya.


" Aku pulang nanti malam saja, aku juga mau membantumu.."


" Kau kan capek juga dari kampus mulai pagi.."


" capek apa.. tidak," jawab Kaila menaruh tasnya di kamar lalu kembali keluar.


" Sudah makan?" tanya Kaila,


" sudah tadi siang.."


" lha kok siang.. ini sudah jam berapa?"h


" Ya sudah.. masaklah, hitung hitung latihan..


kompor sudah ada, gas sudah terpasang..


aku juga sudah beli penanak nasi tadi,


tapi jangan komplain ya.. karena aku hanya mampu beli kulkas yang berpintu satu,


aku merasa kebutuhan kita masih banyak jadi aku harus berbelanja dengan hati hati.." jelas Yusuf.


" Yang penting fungsinya.. bisa menyimpan sayuran dan ikan itu sudah cukup..


toh barang yang terlalu besar juga memakan banyak tempat.." ucap Kaila mengerti.


" Kau benar benar pintar menghiburku ya? padahal kulkas di rumahmu saja bisa untuk sembunyi dua orang.." Yusuf membelai rambut Kaila.


" Bagaimana hasil hari ini?" tanya Yusuf penasaran,


" Masih di usahakan.. bulan ini aku masih dapat jatah dari mas Damar, jadi dana itu akan ku gunakan sebaik mungkin untuk mengurus segala keperluan.."


" Kau Yakin sayang? kuliah setiap haripun aku tak masalah.." ujar Yusuf,


" Kalau boleh malah aku ingin pindah ke Universitas terbuka, meskipun mengulang dari awal tapi waktuku bisa lebih banyak dirumah, jadi aku bisa mengerjakan hal lainnya.."


Yusuf diam, ia terlihat berpikir.


" Bukannya tidak mau, tapi apa kata mas Damar nanti..


kampusmu yang sekarang sudah cukup bagus, kenapa harus pindah..


apa anggapan keluargamu padaku nanti?


mereka akan meremehkanku karena tidak mampu menunjangmu..?" ujar Yusuf kemudian.


" Toh mereka sudah tidak perduli pada kita.. dan ke depannya kau yang akan menanggung segalanya..


aku sungguh sungguh ingin membantu dengan meringankan sedikit biaya kuliahku..?"


" Kita bicarakan nanti saja..


sekarang masaklah.. kau bilang ingin masak..?"


Kaila mengangguk,


" aku sudah belajar sambal menyambal dan tumis menumis beberapa hari ini.." ujarnya melempar senyum ceria.


" Aku tidak melihat Kaila seharian ini mas.." Kinanti meletakkan secangkir kopi di atas meja, lalu duduk disamping suaminya.


Damar diam saja, tak menjawab, ia terlihat membolak balik bendelan bendelan berisi laporan.


" Jangan terlalu keras mas.. sikapmu membuatnya rendah diri dan kikuk.." imbuh Kinanti sembari mengelus perutnya yang sudah terlihat besar itu, berat badannya naik sebanyak tiga kilo, pipinya pun mulai penuh.


" Tega bagaimana.. kau menilai suamimu seperti apa sih.." gumam Damar sembari terus membaca kertas di pangkuannya.


" Mas kalau marah kan tegaan.."


mendengar itu Damar menoleh kearah istrinya.

__ADS_1


" Tegaan? aku??" tanya Damar dengan raut wajah heran terhadap kata kata istrinya.


" iyalah.. "


" dimananya?"


" Ya pada Kaila dan Yusuf?"


" tega bagaimana??"


" setidaknya berikan mereka perhatian meski sedikit?"


Damar memindahkan bendelan laporannya ke atas meja lalu berbalik pada istrinya.


" Kau seorang pendidik bukan?" tanya Damar serius,


" sekarang tidak.."


" tapi kau menjalani pendidikan sebagai seorang pendidik,


seharusnya kau tau apa yang sedang kulakukan sekarang?"


" Aku tau.. tapi tunjukkanlah sedikit belas kasihanmu mas?"


" belas kasihan tidak akan membuat mereka dewasa dan maju..


kau tau benar sayang, bahwa memanjakan seorang itu berakibat buruk,


dan itu adalah cara menghancurkan yang paling hebat..


memenuhi kebutuhannya, membuat mereka bergantung pada kita, apakah kau ingin mereka seperti itu?


apa jadinya jika hidupnya terus menerus di bantu? si suami tidak akan ada tanggung jawabnya dan si istri hanya akan perduli pada kenyamanan dan kesenangan saja.


Keduanya tak akan sanggup bertahan dalam kesusahan dan konflik yang pasti akan terjadi dalam setiap kehidupan berumah tangga,


aku bukan kejam sayang.. tapi ini untuk kebaikan mereka sendiri,


kau tau benar kalau pisau atau pedang yang tajam di hasilkan dari proses yang berat..


di bakar, di tempa, di bakar lagi, di tempa lagi..


Kinanti jadi serba salah, apa yang suaminya katakan itu benar.. tapi di sisi lain tak tega juga melihat Yusuf dan Kaila yang di acuhkan setiap kali datang mencari Damar kerumahnya.


" Bagaimana jika mereka salah faham dan membencimu kelak karena menganggap mu membuang mereka?" tanya Kinanti pelan,


" tidak masalah.. mereka boleh membenciku seperti apapun, asal mereka bisa tumbuh menjadi sosok yang lebih baik dari sekarang..


dewasa, bertanggung jawab, dan mandiri tentunya.." jawab Damar tenang.


Yoga baru saja selesai mandi, ia pulang cukup malam, entah apa saja yang ia kerjakan di luar sana.


Wah.. aku akan menikah besok.. batin Yoga sembari melihat ruang tamunya yang sudah terhias cantik dengan kain dan bunga bunga yang di atur sedemikian rupa.


Setelah lama mengamati ruang tamunya yang indah, Yoga berjalan kekamar Bagas, apalagi.. kalau tidak untuk menyusul Dinda.


Tapi yang mau di susul rupanya belum tertidur,


saat Yoga membuka pintu, Dinda sedang sibuk bermain Hp dan sedang tertawa tawa sendiri.


" Chating siapa?" tanya Yoga mendekat,


" Ah.. biasa teman," jawab Dinda santai,


" teman? selarut ini? laki laki atau perempuan?" tanya Yoga duduk disamping Dinda.


" Astaga.. wartawan kalah lho..?" Dinda bangkit dan ikut duduk,


" Bukannya tadi ngomongnya capek? setelah mandi mau langsung tidur?" tanya Dinda memandang wajah Yoga yang masam.


" Tadi capek, ngantuk, tapi melihatmu sibuk chat sembari tersenyum senyum kantukku hilang, capekku juga hilang..


berganti kesal."


" Kenapa kesal?" tanya Dinda sengaja membuat Yoga semakin kesal, ditahan senyumnya.


Melihat Dinda yang tidak peka Yoga merebut HP ditangan Dinda dan beranjak pergi.


" Astagaaaa.. apa sih kelakuanmu?!" Dinda ikut beranjak, meninggalkan Bagas yang sudah lelap dan mengejar langkah Yoga.

__ADS_1


" Bisa bisanya, padahal besok sudah mau menikah?!" sungut Yoga berjalan ke dalam kamarnya.


" Lho memangnya aku salah apa??" tanya Dinda,


" Salah apa? sengaja membuatku cemburu?!"


" cemburu? jangan aneh aneh Yoga, apalagi sih yang membuatmu bersikap kekanak kanakan begini?" keluh Dinda duduk di tepi tempat tidur, sementara Yoga berdiri kaku disamping jendela kamarnya, ia menatap lepas keluar jendela dengan HP Dinda yang masih ia genggam erat.


" Jadi aku selalu kekanak kanakan di matamu?" tanya Yoga.


" ayolah Yoga.. kau tau aku sudah memilihmu.. apa yang kau risaukan?"


" apa yang kurisaukan?? kau sudah membuat komitmen denganku, tapi kau malah chat dengan orang lain?"


Dinda tertawa kecil mendengar itu,


" Belajarlah mengendalikan dirimu.. kau tidak bisa cemburu pada setiap orang?" nasehat Dinda.


" Pergilah tidur, aku tak ingin bicara lagi!" tegas Yoga.


Dinda terhenyak,


wah.. benar benar marah.. batin Dinda.


Dengan langkah tenang Dinda bangkit dan menghampiri Yoga,


di peluknya laki laki itu dari belakang.


" Dengarkan aku.. kita menjadi suami istri besok, harusnya kau mengerti bahwa itu keputusan yang tidak main main untukku..


rasanya tidak mungkin aku mengorbankan pernikahanku hanya untuk chating chating tidak penting dengan laki laki lain.." ujar Dinda,


" Lalu ini?!" Yoga melempar HP Dinda ke atas tempat tidur.


" Itulah gunanya bertanya dengan cara yang baik..


aku tidak gila chating laki laki semalam ini.."


" Lalu?"


" Lihat sendiri.. aku sedang bercanda dengan Kinanti.."


" Kau bohong!" tegas Yoga.


" itulah kalau terus menerus tidak percaya..


buat apa sih besok menikah kalau hal semacam ini saja bisa menggoyahmu?"


" Aku tidak goyah, aku tetap mencintaimu dan tak akan melepaskanmu?!


hanya saja hatiku tak bisa terima jika kau memperhatikan laki laki lain meski sedikit saja?!".


Dinda melepaskan pelukannya dan menjauh,


" cemburupun ada batasannya.. tidak buta.." ujar Dinda lalu berjalan keluar kamar Yoga dengan langkah kecewa.


Yoga yang sedari tadi cemburu tidak jelas mulai tersadar kalau dirinya sedikit keterlaluan.


Mereka akan menikah besok, seharusnya Yoga bisa mengatur perasaannya agar tidak meluap luap seperti ini.


Ia sadar.. ada rasa kurang percaya diri yang ia rasakan sejak bertemu dengan Dinda.


Bagaimanapun juga sosok Dinda berbeda dengan Kinanti, Dinda lebih dominan dan mandiri.


Sebagai seorang laki laki Yoga merasa kurang nyaman mempunyai istri yang terlalu mandiri, apalagi jika istrinya itu pintar mencari uang. Hal hal semacam itu kadang menghantui Yoga.


Yoga berbalik dan mengejar langkah Dinda.


" Aku salah.." Ujar Yoga menarik lengan Dinda.


" Salah apa?" tanya Dinda terkesan malas,


" salah karena tidak percaya pada perempuan yang akan hidup bersamaku, salah karena tidak pandai mengendalikan perasaanku..


aku pecemburu.. namun itu hanya terjadi padamu.." Yoga menarik Dinda kepelukannya.


Namun Dinda sudah terlanjur tak bersemangat.


" Sudahlah, lupakan.. kau boleh memeriksa HP ku sampai pagi.." ujar Dinda melepaskan pelukan Yoga dan berjalan kembali ke kamar Bagas.

__ADS_1


__ADS_2