
Yoga duduk tertunduk disamping Dinda dengan menanggung rasa sesal yang menyesakkan.
Ia sadar bahwa apa yang telah ia lakukan benar benar melukai hati istrinya,
dirinya begitu kasar karena ditunggangi amarah yang membutakannya.
Sekarang sisa sesenggukan Adinda yang terdengar oleh telinganya begitu menyesakkan hatinya.
Perempuan itu terbaring membelakangi Yoga, bahunya terlihat berguncang.
Yoga ingin meminta maaf, tapi entah kenapa lidahnya begitu kelu, dan kalimat itu sulit keluar dari mulutnya.
Ingin rasanya memeluk Dinda, namun di urungkan pula keinginannya, ia takut Dinda akan menolaknya lagi.
Yoga frustasi, ia bangkit dari duduknya, mengambil kaos yang berada di bawah kakinya,
memakainya, lalu segera berjalan keluar kamar, meninggalkan Dinda yang masih menangis.
Damar dan Kinanti sedang makan siang bersama Yusuf dan Kaila saat Dinda tiba tiba menelfon Kinanti.
" Kau kenapa Din??" tanya Kinanti khawatir saat mendengar suara Dinda serak.
" Kau dirumah?" tanya Dinda dari balik telfon.
" Tentu saja, aku selalu dirumah.. katakan ada apa?" Melihat raut istrinya cemas, Damar menaruh sendoknya.
" Aku.. aku sudah tidak tahan disini.., aku mau pergi saja.." tangis Dinda tumpah.
Keesokan harinya Kinanti datang menemui Adinda, namun ia berbincang terlebih dahulu dengan Winda.
Winda tak banyak bicara, karena tampaknya ia juga bingung melihat adik kandung dan adik iparnya.
Winda hanya memberitahu apa yang ia ketahui saja,
Tentang Dinda yang di tampar oleh Vania, dan Rakha yang datang dan terang terangan mengharapkan Dinda.
" Coba katakan padaku, apa yang sesungguhnya mengganjal hatimu?" tanya Kinanti duduk disamping Dinda yang terlihat kurang sehat dan matanya yang luar biasa sembab.
" Aku ingin pergi saja.." suara Dinda serak, wajahnya terus tertunduk,
" pergi tidak menyelesaikan masalah?"
" memang tidak, tapi setidaknya aku tenang..".
Kinanti terdiam, melihat Dinda seperti ini benar benar membuatnya sedih,
perempuan di hadapannya ini memang termasuk kuat.
Namun.. saat ia sudah mulai jatuh cinta dan menyerahkan hatinya sepenuhnya pada seseorang,
ia akan lebih lemah dari pada perempuan biasanya,
ia mudah putus asa dan tertekan.
" Kau diamkan Yoga?" tanya Kinanti pelan,
ia hafal sekali sikap Dinda.. ketika ia masih bisa marah, maka hal itu masih sepele..
kemarahan itu akan hilang tak lama kemudian,
namun.. ketika ia sudah tak sanggup untuk marah dan malah diam, itu pertanda bahwa Dinda sudah benar benar kecewa.
Dinda diam, tak menjawab,
tapi tanpa menjawab pun Kinan tau, bahwa tak ada komunikasi yang bagus antara Yoga dan Dinda.
Yoga yang kurang peka dan kurang tegas,
sementara Dinda yang tegas namun cengeng, dan maunya di mengerti tanpa ia harus menjelaskan.
__ADS_1
" Kau tau kan? dulu.. aku pun sering gemas pada Yoga, dia kurang peka dan kurang tegas..
tapi dia setia.."
" setia?" Dinda menatap Kinan,
" kau lupa dia meninggalkanmu??" mata Dinda memerah,
" dia memang meninggalkanku, tapi karena alasan tertentu.." Kinanti menghela nafas,
" bagaimana jika kelak dia bersikap seperti itu?" tanya Dinda dengan air mata meleleh,
" bagaimana jika dia kembali pada mantan istrinya dengan alasan tertentu juga? demi Bagas misalnya?"
Kinanti terhenyak,
ia menangkap ketakutan Adinda sekarang, pangkal dari sikap Dinda yang tak bisa di mengerti beberapa bulan ini.
" Aku perempuan yang sudah cacat, tak bisa memberinya keturunan..
awalnya aku masih yakin bisa berumah tangga dengan normal,
tapi sejak mantan istrinya yang lebih lebih dariku itu muncul..
rasanya ku tercekik ketakutan setiap hari..
perempuan itu tidak hanya ingin mengambil Bagas..
tapi ingin kembali ada Yoga juga..
dia sedang mencari celah..??
mataku cukup tajam untuk melihat bagaimana caranya memandang Yoga saat datang kesini.."
Kinanti menghela nafas dan merangkul Dinda,
" Yoga tidak suka pada perempuan itu.. dari awal sampai sekarang.." jelas Kinanti.
dia diam diam saja tanpa meminta pendapatku,
dia anggap aku apa??
mantan istrinya datang dan akan mengambil Bagas tapi dia hanya diam saja,
dia bersikap seolah olah tak ada apapun yang terjadi,
dan saat aku diam karena kesal..
dia malah menyalahkanku karena tidak membantunya mencari jalan keluar.."
" hemm.. baiklah, sekarang aku tau sumber sakit hatimu.."
" yahh...bukannya meminta maaf..
dia malah menambah sakit hatiku,
dia semakin kasar.." Dinda menghapus air mata yang melewati kedua pipinya.
" Yoga kasar karena cintanya padamu..
dulu dia tidak begitu..
jadi kalau sekarang dia berubah jadi pencemburu dan bersikap impulsif..
mungkin itu karena kadar cintanya yang luar biasa.."
" Kau berkata seperti ini hanya untuk menenangkanku.." sanggah Dinda.
" Tidak Din.. mas Damar juga begitu..
__ADS_1
sebelum pernikahan, aku juga hampir di perkosa olehnya, sesungguhnya memalukan membiarkan kau tau hal ini..
tapi aku perlu bicara agar kau tau.. tidak hanya Yoga saja yang begitu..
hanya saja..
mas Damar lebih bijaksana dan tegas.. hal itu di lakukan mas Damar gara gara dia sudah merasa frustasi atas penolakan ku yang terus menerus.."
Dinda membisu mendengarkan Kinanti.
" Tidak ada ketemunya.. kau ketakutan sendiri..
dan Yoga juga ketakutan sendiri..
harusnya kalian berdua bicara, sama sama meyakinkan dan tidak saling menyakiti..?"
" Aku tidak menyakitinya Nan???"
" bagi orang yang mencintaimu.. kediamanmu itu menyiksanya...
apalagi Rakha bersikap agresif begini..
suami mana yang tidak takut?
tidak marah?"
" kau kan tau Rakha sejak kuliah begitu? itu sudah biasa saja kan bagi kita??"
" iyaa.. bagi kita, tapi bagi suamimu tidak,
kau yang dulu galak sekali padanya, terlihat ramah sekali pada Rakha, bahkan kau biarkan Rakha menggoda mu terus..
kalau mas Damar sudah di lempar mungkin si Rakha itu.."
" Aku tidak pernah menerima Rakha dan selalu menjaga jarak.."
" tapi kau menunjukkan wajah gundah mu dihadapannya..
Rakha tidak akan bisa mengabaikan raut wajahmu yang gelisah dan sedih itu.."
kata Kinanti membuat Dinda terdiam.
" Berbaikanlah.." ujar Kinanti,
" aku tidak sedang dalam pertengkaran," jawab Dinda,
" tidak bertengkar tapi perang dingin? sama saja.."
" Yang terbaik adalah aku pergi,
dengan seperti itu aku tidak menghalanginya untuk kembali ke mantan istrinya, dan mereka bertiga bisa hidup bahagia.."
Kinanti memejamkan kedua matanya,
ia berpikir akan bisa membujuk Adinda..
ternyata setelah pembicaraan yang panjang pun..
perempuan di sampingnya ini tetap ingin pergi.
" Mau kemana kau Din??" tanya Kinan menggenggam tangan Dinda erat.
" Awalnya aku hanya ingin pulang, aku juga ingin mengajak Bagas..
tapi..
melihat perlakuan Yoga padaku kemarin..
rasanya aku butuh waktu yang lebih lama dan tempat yang lebih jauh.." sorot mata Dinda lelah,
__ADS_1
" jangan kemana mana.. Yoga yang sekarang tidak bisa di tentang, dia akan semakin mengamuk dan mengikatmu..??" pinta Kinan pada Dinda.