
Yoga baru saja keluar dari klinik, di rogoh rogoh sakunya.
" Wahh.. dokter jadi pelupa.." seorang perawat yang biasanya membantu Yoga menyusul, ia membawa kunci mobil Yoga di tangannya.
" Saking pinginnya cepat pulang sampai lupa kunci mobil.. saking kangennya sama ibu ya dok?" goda si perawat sembari menyerahkan kunci mobil.
" Tau saja.. saya kan pengantin baru terus.." jawab Yoga tersenyum lebar.
Yoga masuk ke dalam rumah, setelah mencari tak di temukan istrinya.
" Mama kemana?" tanyanya pada Bagas dan si mbak pengasuh.
" Mama belum pulang, tadi telfon katanya masih catat catat gitu paa.." jawab Bagas.
" Tapi ini kan sudah sore? bagaimana sih mamamu ini, baru di beri ijin begini lagi.." Yoga menggerutu, diambil lagi kunci mobilnya dan berjalan ke garasi.
" Kemana lagi?" tanya Winda yang sudah berdiri di terasnya,
" ke toko istriku mbak, jam berapa ini belum pulang," Yoga terlihat kesal.
" telfon saja Yog, kau juga capek.." saran Winda.
" Percuma kalau di telfon masih berjam jam lagi pulangnya," jawab Yoga masuk ke dalam mobil.
20 menit kemudian Yoga sampai di toko istrinya, toko memang terlihat masih ramai, para pegawai sibuk melayani para pembeli, sedangkan Dinda sedang sibuk dengan buku besar dan penanya.
Saking fokusnya sampai sampai ia tak menyadari Yoga sudah berada di hadapannya.
" Kau bandel ya?" suara Yoga membuat Dinda tersadar.
" Lho??" Dinda terkejut,
" lho apa? sudah kubilang, sore itu pulang, jam berapa ini?" Yoga terlihat kesal.
" Lihatlah.. pekerjaanku banyak.." keluh Dinda.
" Serahkan pada orang lain,"
" pembukuan? tidak mungkin.. ?"
Yoga diam, di tatap istrinya itu,
" putramu menunggu dirumah.." ujar Yoga,
Seketika Dinda menatap suaminya dan menaruh pensilnya.
" Astaga.. ayo pulang..?!" Dinda bangkit dan menata bukunya.
" Ayo?!" ajaknya pada Yoga yang justru masih duduk.
" Setelah ingat putramu kau baru bereaksi.." gumam Yoga bangkit.
" Mbak Mar?! lek wes sepi ndang ndang di tutup yo mbak?! (kalau sudah sepi buru buru di tutup ya mbak?!)" ujar Dinda pada pegawainya yang paling tua dan sudah biasa bertanggung jawab membuka dan menutup toko.
" masukkan saja ke toko sepedamu, pulang denganku, besok berangkat kuantar," ujar Yoga sembari berjalan di belakang istrinya yang sudah memegang kunci motor.
Dinda menurut, ia memberikan kunci motornya pada Marni.
Setelah naik ke dalam mobil Yoga mulai mengomel,
__ADS_1
" Kau hanya perduli saat mendengar nama putramu kusebut.."
" masa cemburu pada anak sendiri?"
" karena kau tidak mendengarkanku,"
" aku sudah mendengarkanmu, aku mengurangi jumlah daganganku..
bahkan aku sudah menolak pelanggan yang biasanya membeli partai besar,
jujur saja rasanya rugi menolak pesanan sebanyak itu dan membiarkannya belanja langsung ke bandung.." terdengar sedikit kekecewaan dalam nada bicara Dinda.
" Jangan berlebihan, rejeki sudah ada yang mengatur.." sahut Yoga, tapi tiba tiba ia teringat sesuatu,
" Pelangganmu yang suka memesan banyak itu laki laki atau perempuan?" tanya Yoga tiba tiba,
Dinda menoleh heran, dua tahun menikah tidak pernah Yoga menanyakan urusan toko sama sekali.
" Kenapa? tumben?" tanya Dinda,
" Ingin tau saja, laki laki atau perempuan?" tanya Yoga lagi sembari menyetir.
" Laki laki," jawab Dinda datar,
Yoga diam, matanya fokus menatap jalan raya.
" Siapa namanya?" tanya Yoga lagi membuat Dinda semakin heran.
" Kenapa?"
" tidak apa apa, hanya ingin tau saja.." Yoga membelokkan mobilnya menuju arah desanya, melewati jalanan yang mulai sepi dan gelap.
" Rakha," jawab Dinda akhirnya dengan perasaan tak nyaman.
Lagi lagi Yoga membisu sejenak,
" Ada apa sih?" tanya Dinda penasaran.
" Kau beri dia nomor HPmu?" suara Yoga tiba tiba terdengar berbeda dari biasanya, sedikit kaku dan dingin.
" Tentu saja tidak, bukankah kau sudah memperingatiku agar tak memberi nomorku selain ke keluarga?" jawab Dinda jujur.
" Ada urusan apa selain bisnis?"
" maksudnya??" Dinda sontak menatap Yoga serius.
" Ada urusan apa selain bisnis?" tanya Yoga lagi lebih tegas.
" Tentu saja hanya bisnis, kami sama sama pedagang, dia mengambil barang dalam jumlah besar dariku,"
" oh.. pedagang? dia berjualan di toko?" tanya Yoga seperti tak percaya, penampilan laki laki itu tidak mirip dengan pedagang sama sekali, dia malah mirip pekerja kantoran yang berkemeja rapi, klimis dan wangi.
Barang yang ia kenakan seperti jam tangan dan sepatupun terlihat tidak murah menurut Yoga.
" Dia memiliki beberapa toko di pasar besar, jadi bukan dia yang mengelolanya sendiri.." jelas Dinda,
" oh.. pantas saja.." gumam Yoga,
" lalu apa pekerjaan utamanya?" tanya Yoga lagi,
__ADS_1
" Dia mengelola travel antar provinsi," jawab Dinda menatap suaminya benar benar heran.
" Travel? banyak uangnya kalau begitu.. belum lagi punya banyak toko..
memangnya kenal dimana?" Mobil Yoga terus menyusuri jalanan yang gelap menuju rumahnya.
" Dia teman kuliahku, bukan hanya aku, tapi Kinan juga mengenalnya," jelas Dinda membuat raut wajah Yoga berubah lebih aneh.
" Mantan pacarmu?" tanya Yoga,
" astaga.. memangnya aku memacari setiap teman kuliahku apa?!"
" jawab saja, mantan atau bukan?"
" bukan!" jawab Dinda ketus.
" Lalu kenapa dia bersemangat sekali mencarimu?" Yoga tak memandang istrinya,
" tentu saja karena dia menunggu barang dariku?! apalagi?!"
Mendengar nada bicara Dinda sudah tidak tenang Yoga diam, ia menahan dirinya untuk bertanya lebih jauh.
Ia tak ingin ada pertengkaran lagi, karena hubungan keduanya baru saja membaik.
" Ya sudahlah.. yang penting jangan pernah berikan nomor HPmu.." ujar Yoga kemudian setelah mengatur perasaannya.
" Jadi benar yang di katakan Rakha tadi, kalian bertemu?" sekarang Dinda yang bertanya.
" Aku hanya sempat melihatnya, saat itu aku sedang coba coba datang ke toko saat istirahat siang, ingin tahu saja seberapa menumpuk pekerjaan istriku,
ternyata aku malah melihat seorang laki laki yang meminta nomor HP istriku dengan menggebu ngebu.." jawab Yoga mulai memasuki halaman rumah,
" dia memang begitu, sejak kuliah, tapi dia bukan orang yang jahat.."
" Kalau bukan orang jahat berarti orang baik sekali?" Yoga memarkirkan mobilnya ke garasi.
" Lihat sikapmu, kau begitu tak terima saat ada laki laki yang dekat denganku, padahal dia hanyalah teman sekolahku,
sementara dirimu?" kata kata Dinda terhenti, ia membuka pintu mobil dan langsung turun.
" Sementara aku kenapa?" Yoga mengejar langkah istrinya.
" Diamlah! ada Bagas dirumah, aku tidak mau ribut! tegas Dinda masuk ke dalam rumah.
" Bagas di bawa mbak Winda, jadi selesaikan kalimatmu tadi?" Yoga menarik pergelangan istrinya.
" Sementara aku kenapa?" tanya Yoga saat keduanya saling berpandangan.
" Aku tidak mau ribut," jawab Dinda menahan diri.
" Katakan saja apa yang mengganjal pikiranmu, jika kau diam, bagaimana aku bisa memahami perasaanmu?" pinta Yoga tegas.
" Perasaanku mana penting, sudah lepaskan aku?!" Dinda menarik tangannya, tapi Yoga tidak semudah itu di kalahkan, di raihnya kedua pergelangan Dinda agar tak pergi kemanapun sebelum pembicaraan keduanya selesai.
" Apa ini?!" suara Yoga meninggi, raut wajahnya penuh kemarahan.
" Apalagi?!" tanya Dinda tak mengerti,
" kenapa ada bau parfum laki laki di jari jarimu?!" tanya Yoga keras dan tajam.
__ADS_1