
Matahari hari ini cerah, namun tidak dengan Damar.
Ia sedang duduk di tumpukan gelondongan kayu.
Duduk diam dan melamun, setidaknya itu yang akan orang pikirkan ketika melihatnya sekarang.
Sejak pagi dia begitu, berpindah pindah duduk, padahal dia punya ruangan sendiri di dalam kantornya.
Para pekerja lalu lalang, tak ada yang berani menyapa Damar untuk sekarang, mereka menganggap Damar tembok demi keamanan mereka sendiri.
Meski terkesan sabar dan ramah, bukan berarti Damar tidak pernah marah.
Sekalinya Damar marah bisa membuat semua kebisingan di pabrik ini hening hanya dengan beberapa kata.
Damar bangkit, lalu turun dari atas kayu gelondongan itu.
Ia berjalan keluar dari bangunan pabrik.
Tidak ada minat kerja hari ini, ia ingin mandi dan tidur saja.
" Lho? kenapa mas? sakit? biar ku periksa?!" Yoga berjalan mendekat, ia tampak rapi dan harum.
" Tidak, aku hanya kurang tidur.. kau mau kemana?" tanya Damar menyadari kalau Yoga akan pergi.
" Hari ini aku ada acara dengan Bagas mas, kami mau jalan jalan ke taman bermain.. mumpung libur dan harinya cerah.." jawab Yoga,
Damar melirik ke arah mobil Yoga, benar.. terlihat ujung kepala Bagas dari jendela mobil.
" Berangkatlah.. mumpung tidak hujan.." ujar Damar, karena minggu minggu ini memang sering turun hujan.
" Tapi mas benar tidak apa apa?" tanya Yoga lagi,
" Aku baik baik saja.." jawab Damar lalu berjalan masuk meninggalkan Yoga yang masih memandanginya.
Sesampainya dirumah Damar segera mandi.
Setelah mandi ia langsung merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya yang cukup luas itu.
Di pejamkan matanya berkali kali, tapi tetap saja, ia tak bisa tidur.
Di balikkan tubuhnya ke arah kanan, menatap jajaran buku yang tertata rapi di dinding.
Ia mengeluh, entah apa yang ia keluhkan, yang jelas hatinya sedang di landa kegalauan yang besar.
Apa yang harus ia lakukan pada Haikal, pada Kinanti, tanyanya dalam hati.
ia benar benar bimbang.
Apa dia harus diam saja..
atau bicara,
tapi ini bukanlah hal yang bisa ia masuki dan campuri begitu saja..
Damar lagi lagi menutup matanya,
" Astagaaa.." ujarnya lirih, rasanya ia harus berbicara dengan seseorang yang tepat.
" Kau kenapa lagi?" tanya Winda tiba tiba membuka pintu kamar.
" mbak?! mbok ya ketuk pintu dulu?!" Damar terperanjat dari atas tempat tidur.
" Bagaimana kalau aku sedang ganti baju?!" Damar kesal, tidak biasanya dia begitu.
" Memangnya kenapa? toh aku sering melihatmu telanjang waktu kau kecil.." jawab Winda merasa tidak bersalah.
" Itu kan waktu kecil mbak?, sekarang aku bukan anak kecil?!" Damar mendengus kesal.
__ADS_1
" Heboh sekali.." gerutu Winda.
" Kau itu layu begitu kenapa? sakit?" tanya Winda penasaran, ia mendapatkan laporan dari Umar dengan segera.
" Tidak, aku sehat.." jawab Damar kembali merebahkan dirinya dan membelakangi Winda.
" Lalu kenapa kau tidak bekerja, malah tidur tiduran?"
" aku tidak tidur tiduran, aku benar benar mau tidur mbak?!"
" Zahira mau kesini, tapi kau malah tidur?"
" Ya mana aku tau siapa yang mau kesini?, aku lelah mbak,
dari pada sesuatu berjalan dengan kurang baik, lebih baik suruh pak Yanto saja menemani Zahira.." ujar Damar, pak Yanto adalah salah satu stafnya.
" Yang jelas jangan ganggu Umar, pekerjaannya menumpuk gara gara ku ajak ke surabaya.." imbuh Damar.
" bagaimana sih kau ini?"
" sudahlah mbak.. hentikan acara jodoh jodohan ini.. aku tidak berbakat,
pikiranku banyak mbak..
jadi jangan paksakan kehendak mbak padaku untuk sekarang,
aku tidak mampu mengikutinya..!" tegas Damar.
Winda terdiam, ia tau benar adiknya ini sekarang sedang dalam kondisi yang tidak baik.
Tanpa berkata apapun lagi Winda mundur dan menutup pintu kamar Damar kembali.
Kinanti Turun Dari boncengan Haikal, keduanya berhenti di sebuah kedai Bakso yang cukup terkenal di kota mereka tinggal.
" Tambah lagi?" tanya Haikal melihat Kinanti makan dengan lahap.
" Ini saja belum habis.." jawab Kinanti sembari mengunyah.
" Habiskan saja dulu... pelan pelan, awas tersedak.." ujar Haikal.
" Kau kenapa sih.. perhatianmu berlebihan sejak pulang dari surabaya?"
tanya Kinanti,
" Kau kan calon istriku Nan.."
" iya.. tapi sebelumnya kau biasa dan normal normal saja.."
" jadi perasaanku tidak boleh berkembang lebih banyak dan banyak lagi..?"
" itu terserah padamu saja.."
" Kok terserah padaku? apa kau tidak ada keinginan sama sekali mencintaiku selayaknya istri.."
" aku belum begitu hebat, dan hatiku belum begitu kuat untuk mempercayai lagi yang namanya cinta.."
Haikal menatap Kinanti tenang, ia kemudian tersenyum,
" Jadi kau tidak percaya padaku?" tanyanya,
" belum.."
" lalu pada mas Damar?" tanya Haikal membuat Kinanti tersedak.
" Uhuk uhukk?!" Kinanti terbatuk batuk.
" kan sudah ku bilang, hati hati.." Haikal memberikan tissue setelah Kinanti selesai minum.
__ADS_1
" Kenapa bahas mas Damar tiba tiba?" tanya Kinanti setelah batuknya mereda.
" Habisnya, kau dan ibu sangat mempercayainya.. aku sampai iri.." ucap Haikal.
" Tidak semua yang kau lihat itu benar..
aku lebih sering ribut dengan mas Damar dari pada akurnya.."
" Oh ya, mas Damar yang sesabar itu kau ajak ribut?"
" Dimananya dia sabar..?"
" tentu saja dia sabar.. ayo kita main ke rumah mas Damar besok, mumpung sabtu.."
" Kau tidak lelah apa?"
" ah tidak.. aku juga penasaran seperti apa sosok mas Damar kalau dirumah.."
Kinanti menatap Haikal serius,
" kenapa kau begitu penasarannya dengan mas Damar sih?"
" wajar saja aku penasaran pada orang yang sudah menjamin kehidupan istriku beberapa tahun ini.."
" jangan berlebihan, kita urusi saja urusan Kita.." nasehat Kinanti pada Haikal.
" Apa kau akan sedekat itu dengannya kalau sudah menikah denganku?"
" Maksudmu?"
" tatapan mata mas Damar lebih dari seorang kakak terkadang..
aku sempat ketakutan.."
" Takut?" tanya Kinanti sambil mengerutkan dahinya.
" Iya.. laki laki itu masuk dalam katagori calon suami yang baik, kenapa kau tidak meliriknya Nan? itu sempat menjadi pertanyaan ku..."
" Jangan bicara macam macam.." Kinanti mengalihkan pandangannya pada makanannya lagi.
" Dari pada menilai orang lain pastikan saja dirimu sendiri.." imbuh Kinanti,
" tentang apa itu?" sekarang Haikal yang heran terhadap kata kata Kinanti.
" Pastikan kalau kau tak akan berdusta dan mengkhianati ku kelak.." ujar Kinanti serius,
" Kau tau benar.. aku benci pembohong.." imbuh Kinanti dengan nada yang lebih serius.
Mulut Haikal terkatup rapat, diam tak menjawab.
" Ingatlah kelak.. kebohongan kebohongan kecil bisa menciptakan kebohongan kebohongan yang besar, jadi..
jangan biasakan berbohong sekecil apapun itu, baik tentang perasaanmu.." lanjut Kinanti.
Dan Haikal masih terdiam.
" Aku berjanji.. akan berusaha menjadi istri yang pengertian,
akan berusaha menjadi istri yang tidak cerewet..
kau boleh menghabiskan waktu untuk hobi dan temanmu..
aku tidak akan menganggu dan mencampuri urusanmu..
kau juga tidak di haruskan menggandeng aku kemanapun,
tapi jangan pernah sekalipun kau berpikir mengkhianati pernikahan kita kelak.."
__ADS_1
Haikal menghela nafas panjang, lalu mengangguk pelan.