
Ibu yang sudah pamit pada Damar berjalan mengikuti Yusuf menuju mobil yang terparkir di halaman rumah Damar.
Dari kejauhan terlihat Yoga yang berjalan dengan tenang menuju kerumah Damar.
Yoga yang berpapasan dengan Yusuf terlihat tenang.
Namun berbeda dengan Yusuf, karena menyadari Damar masih berdiri di teras dan mengamatinya, Yusuf dengan susah payah menahan diri.
Namun Yusuf lupa akan keberadaan ibu Kinanti di belakangnya.
Yoga dan ibu Kinan berpapasan, dan terlihat betapa terkejutnya keduanya.
Ibu Kinanti sampai terpaku di tempatnya, matanya lurus menatap Yoga penuh keterkejutan dan ketidak percayaan.
Sementara Yoga, laki laki itu hanya bisa menunduk dengan rasa bersalah.
Yusuf yang cepat tanggap segera berbalik dan merangkul buleknya.
" Ada mas Damar di belakang kita bulek..? sebaiknya kita pulang dulu, saya akan menjelaskan semuanya.." ucap Yusuf setengah berbisik.
Ibu Kinanti seperti tak punya daya dan tenaga, sehingga ia menurut saja pada Yusuf yang menuntunnya masuk ke dalam mobil.
Sementara Damar yang memperhatikan ekspresi mertuanya dan Yoga itu merasa aneh,
ini bukan hal yang bisa ia kesampingkan lagi pikirnya.
Ada sesuatu yang di sembunyikan oleh orang sekitarnya, dan Damar harus tau itu apa.
Melihat mobil Yusuf sudah pergi dari halaman rumahnya, mata Damar kembali pada Yoga.
Adiknya itu sedang berjalan ke arahnya dengan langkah yang sepertinya lebih berat dari sebelumnya.
" Maaf mas, aku baru saja pulang.. bagaimana kabar mbakyu?" tanya Yoga dengan raut tertekan.
" Dia muntah beberapa kali hari ini.."
" Ah.. apa obatnya tidak di minum?"
" Sudah.."
" Sepertinya harus ku periksa lagi.."
Damar terdiam sedikit lama, tapi kemudian mengangguk.
" Masuklah.." ucap Damar berjalan masuk ke dalam rumah, dan Yoga mengekor di belakangnya.
" Sudah tidak demam, suhu tubuhnya normal..
memang sepertinya asam lambungnya yang terus naik..
mbakyu punya gerd kan?" tanya Yoga sembari mengemasi peralatannya.
Kinanti mengangguk pelan,
" Sejak dulu sudah ku peringatkan kan?, jangan banyak pikiran dan usahakan tetap makan, meski sedikit sedikit..
Ku resepkan obat lain ya?" Yoga mengulas senyumnya.
Dan seperti biasa Kinanti hanya mengangguk.
Tapi tidak dengan Damar, raut wajahnya berubah drastis, ketenangan hilang dari wajahnya sejenak.
kalimat "sejak dulu.." yang di ucapkan Yoga barusan membuat tanya tanya besar di pikirannya.
" Apa keduanya sudah saling mengenal sebelumnya? dan apakah mereka cukup dekat dan akrab?" batin Damar.
Apalagi senyum dan perlakuan Yoga itu terlampau lembut pada Kinanti.
" Mas?" panggil Yoga membuyarkan lamunan Damar.
Yoga sudah berdiri diambang pintu,
__ADS_1
" Ku resepkan obat yang baru ya mas.. biar lebih cepat pulih dan enak makan.."
ujar Yoga,
" Lha yang kemarin?" tanya Damar sedikit bingung.
" Yang ini lebih baik, lebih bagus untuk mbakyu.." sahut Yoga,
Mau tak mau Damar mengangguk, ia bukan seorang dokter, tak tau mana yang baik dan tidak.
" Baiklah.. yang penting dia segera pulih, aku tidak tenang melihatnya begitu.." jawab Damar dengan raut wajah bingung.
" Iya mas...saya maunya mbak yu juga lekas sembuh.." Yoga melempar senyum pada Damar yang bahkan tidak menggerakkan bibirnya sama sekali.
Laki laki itu hanya melihat Yoga berjalan menjauh dan menghilang di balik pintu rumahnya.
Setelah Damar menutup pintu, laki laki itu berjalan perlahan ke dalam kamar,
duduk di samping istrinya.
" Ada yang tidak enak?" tanya Damar ketika melihat wajah Kinanti sedikit pucat.
" Tidak mas.." jawab Kinanti lirih.
" Mau makan apa? ngemil?"
" tidak.. aku ingin tidur mas.."
" ya sudah.. tidurlah, mas juga ngantuk.." ujar Damar menaikkan kakinya ke atas tempat tidur dan berbaring disamping istrinya.
" Lekas sembuh ya.. setelah sembuh kita jalan jalan.." ujar Damar sembari membelai rambut istrinya.
" Kemana?" tanya Kinanti,
" Istriku maunya kemana? aku pasti akan menurutimu dan mengikutimu dengan patuh.." Damar mengecup kening Kinanti.
" Ya sudah.. sekarang istirahat dulu ya..?"
Damar berbaring dengan tenang disamping istrinya,
Yusuf yang sudah setengah mati menenangkan buleknya, pagi itu datang juga dengan membawa sekotak besar bubur.
" Wah? banyak sekali Suf?"
Damar menerima bubur itu dan membawanya ke dapur.
" sekalian kata bulek, bisa mas makan juga, bisa di panaskan juga untuk sore..
kan sekarang sore sedikit hujan mas, enak makan bubur ayam anget anget.." Yusuf melirik Kinanti sedikit dari pintu kamar yang sedikit terbuka.
Terlihat Kinanti yang duduk diam di atas tempat tidur.
" Wei! bangun, jalan jalan.. tiduran terus?!" suara Yusuf membuat Kinanti yang sepertinya melamun kaget.
" Kau sudah makan Suf?" tanya Damar,
" Lho? ta duluan tho mas? tes rasa.. dua piring..!" Yusuf tertawa, Damar pun ikut tertawa.
Tak lama setelah keduanya duduk tenang di ruang tamu untuk bicara, seseorang masuk begitu saja dari pintu depan.
" Hari ini mobilku selesai kan?" suaranya benar benar seperti anak SMA, kadang Damar sendiri gemas melihat adiknya itu.
" Sopan santunmu mana?" Damar menatap Kaila sedikit serius.
" Nanti di kira orang mas tidak mengajarimu sopan santun?! kita hidup di desa Kaila, bukan di kota.." lanjut Damar.
" Iya iya.. maaf," Kaila cemberut.
" Tidak apa apa mas.. aku sudah biasa..
alhamdulillah gendang telingaku agak tebal, coba kalau tipis.. sudah jebol sedari kemarin karena teriakannya.." sindir Yusuf sembari tersenyum pada Damar.
__ADS_1
" Jadi?" Kaila menatap Yusuf,
" Jadi, ayo?" jawab Yusuf,
" ya sudah.. aku ambil tas dulu.." ujar Kaila lalu segera berbalik pergi.
Damar tertawa kecil melihatnya,
" Jangan diambil hati ya Suf.. dia masih anak kemarin sore.. belum dewasa.." ujar Damar.
" Tentu saja mas, aku bahkan sudah memaafkan tamparannya padaku.." Yusuf tersenyum,
" tamparan? kenapa dia sampai menamparmu?" tanya Damar mengerutkan dahi.
Deg..
Yusuf keceplosan..
bagaimana ini?
Yusuf diam tak menjawab, pandangannya tertunduk seketika.
" Anu mas.. itu hanya salah paham saja.." ucap Yusuf setelah lama berpikir.
" Aku sudah siap," Kaila yang sudah mengambil tas tangannya tiba tiba saja masuk.
Kaila tiba tiba menyadari atmosfir yang berbeda di ruang tamu itu.
Pandangan Damar lebih tajam,
" Kau menampar Yusuf?" tanya Damar tiba tiba.
Sontak Kaila menatap Yusuf, namun Yusuf malah tertunduk dalam sehingga Kaila bingung harus bicara apa.
" Kenapa kau menampar Yusuf? apa dia kurang aja padamu? atau kau yang kurang ajar?" tanya Damar lagi saat Kaila tak kunjung menjawab.
Dari pertanyaan Damar Kaila menyadari kalau Damar belum tau apapun dan Yusuf tidak bicara apapun.
Jadi yang perlu ia lakukan adalah menutupi kenyataan yang sesungguhnya terjadi.
" Mas jangan marah ya?" suara Kaila tiba tiba,
" tergantung..?!"
" Lho kok tergantung?"
" Kalau ada yang kurang ajar ya mas marah?!"
Yusuf dan Kaila langsung saling bertukar pandangan.
" Lho? kok malah lihat lihatan?!" Damar tidak habis pikir.
" Sebenarnya waktu itu, dia bilang suka sama aku mas, dan minta jadi pacarnya, karena kaget dan merasa dia tidak sopan aku menamparnya.." jelas Kaila membuat Yusuf mendelik,
" tidak mas?! tidak begitu?!" Yusuf berusaha membela diri.
" Tidak begitu apanya?! aku kaget karena kau menciumku tiba tiba? harusnya kau mengaku saja dari awal kalau sudah jatuh cinta padaku pada pandangan pertama.." tukas Kaila sembari tersenyum tak bersalah, membuat wajah Yusuf memerah seperti kepiting rebus, laki laki itu benar benar malu dan sampai bergidik mendengar pernyataan Kaila yang tidak benar keseluruhannya itu.
Gadis itu tiba tiba terlihat seperti pengarang handal.
Sedangkan Damar tak habisnya terheran heran dengan kedua manusia di hadapannya itu.
Bisa bisanya baru kenal sudah ciuman,
Damar menggeleng gelengkan kepalanya.
" Hati hati dengan bicaramu La?! bisa bisanya kau membahas ciuman dengan nada enteng seperti itu?" Damar menatap adiknya itu sembari memijit mijit kepalanya.
" Dan kau?" Damar beralih pada Yusuf.
" Karena kau sudah mencium adikku bertanggung jawablah..!" tegas Damar.
__ADS_1
" Ta.. tanggung jawab??!" Yusuf yang wajahnya masih panas dan memerah karena malu itu kini terbelalak.
Kaila pun sama, mulut Gadis itu menganga saking kagetnya, bahaya kalau Damar menganggap serius kebohongan ini.