
Kinanti keluar dari kamar yang ia dan Damar tempati, dengan langkah pelan masuk ke dalam kamar Dinda.
" Lho? belum tidur?" tanya Dinda yang sedang sibuk mencatat dan menghitung.
" Belum.." Kinanti duduk disamping tempat tidur Dinda.
" Jangan di tinggal suamimu.. kasihan.."
" dia sudah tidur.."
" Memangnya kalian tidak jadi jalan jalan?"
" Ah.. besok saja..badanku agak tidak enak.."
" Kau kurang maka sayuran sih.. menye menye lagi, mbok ya semau itu di makan, asal sehat.." omel Dinda.
" Jangan ngomel, aku mau tanya.."
" opo.."
" enaknya aku pulang kapan?"
Dinda tertawa mendengar pertanyaan Kinanti,
" kukira kau tidak mau pulang?"
" Ya pulanglah.. mana mungkin aku tidak pulang.."
" Lalu apa yang kau tunggu..?"
" aku ingin tau saja respon suamiku.."
lagi lagi Dinda tertawa,
" Andai saja kau tau, suamimu bicara banyak denganku tadi pagi.."
" tentang?"
" Dia tanya seputar bisnis yang sedang berkembang di daerah ini, dan bagaimana caraku bertahan hidup saat pertama kali datang.."
Kinanti diam,
" Kau jangan aneh aneh, niatmu bercanda..tapi suamimu serius..
sudahlah.. segera pulang sana..
nanti ku susul..".
" Yang benar kau mau nyusul??"
" iya.. ku pikir pikir aku juga sudah setahun lebih tidak pulang, aku mau menjenguk keluargaku barang seminggu.." jawab Dinda dengan raut lesu.
" Kau janji ya Din? menginap dirumah ya??" pinta Kinanti.
Dinda mengangguk,
" tapi mungkin beberapa minggu atau sebulan lagi..
aku harus cari uang yang banyak dulu kan..
kau tau sendiri keluargaku..
oh ya..
suamimu juga memberiku sejumlah uang tadi pagi, tapi ku kembalikan..
kau kan temanku, ya masa aku mau hitung hitungan..?"
" Harusnya kau terima.. karena aku banyak merepotkan dan merugikanmu selama disini.."
" merugikan apa? aku senang karena setiap pulang ada kau yang menyambutku.."
__ADS_1
Keduanya saling memandang haru, tak lama keduanya berpelukan.
" pulanglah setelah jalan jalan.. kasihan suamimu pontang panting memikirkanmu.." ujar Dinda, dan Kinanti mengangguk.
Ia memang tidak pernah berniat untuk terus tinggal, apa yang ia katakan pada Damar hanya sebatas main main saja,
ia ingin suaminya itu sedikit berpikir.
Bahwa bukan hanya dirinya yang bisa marah dan pergi.
Meski Kinanti tau kalau sesungguhnya tidak benar untuk pergi dari rumah, tapi dengan ia berbuat seperti ini akan menimbulkan pemikiran pemikiran lain dalam diri Damar.
Tidak hanya dirinya yang bisa sakit hati, tapi orang lain juga bisa,
tidak hanya dirinya yang kecewa, tapi orang lain juga bisa merasakan kekecewaan yang sama.
Kinanti ingin suaminya tau..
bahwa perlu untuk mendengarkan dan sekali kali memposisikan dirinya sendiri sebagai orang lain.
Ia faham benar.. sesungguhnya suaminya itu adalah sosok yang dewasa dan bijaksana.
Namun ia menjadi impulsif dan emosional ketika berhadapan dengan Kinanti,
Terkadang Kinanti senang dengan hal itu, karena terlihat besarnya kasih sayang Damar.
Namun terkadang juga tidak..
kemarahannya yang meledak, dan terlalu besar ledakannya itu menjadi boomerang untuk Kinanti sendiri.
Kinanti berjalan kembali ke dalam Kamar, sosok suaminya itu sedang terlelap, nyenyak sekali tidurnya, sampai sampai tidak sadar kalau sudah di tinggalkan sendirian.
Laki laki itu terlihat sedikit lucu, Kinanti tersenyum sendiri saat melihat posisi tidurnya yang miring karena tempat tidur itu cukup kecil untuk dua orang.
Belum lagi kakinya, ujung kakinya menjutai keluar dari ujung tempat tidur, entah saking pendeknya tempat tidur itu, atau saking panjangnya kaki Damar.
Kinanti membaringkan dirinya disamping Damar perlahan, ia tak ingin membangunkan suaminya itu.
Nafas Damar terdengar samar samar di telinga Kinanti.
Gemas sekali.. keluh Kinanti, ia benar benar ingin menyentuh suaminya, entah kenapa rasanya semakin sayang saja.
Sudah pasti suaminya itu tersiksa selama beberapa hari ini, harus berbagi tempat tidur yang sempit dengannya,
dan pasti pula tidurnya tidak nyaman karena kakinya harus menggantung seperti itu.
Namun beberapa hari ini Damar tidak mengeluh sama sekali, hanya senyum yang tersungging di wajahnya, bahkan saat Kinanti berbohong bahwa ia tak mau kembali ke malang.
Kinanti yang tak bisa menahan diri meletakkan telunjuknya di ujung hidung suaminya.
belum cukup menyentuh ujung hidung, telunjuknya berpindah lagi ke alis kiri Damar, memainkan alis tebal itu dengan santainya.
Saking santainya sampai sampai tidak menyadari bahwa si pemilik alis mulai terbangun.
Dengan mata masih terpejam, tangan Damar meraba pinggang Kinanti lalu menariknya sehingga keduanya tanpa jarak.
Kinanti terbelalak, apalagi saat Damar membuka kedua matanya dan tersenyum.
Entah kenapa Kinanti merasa dirinya sudah membangunkan macan yang sedang tertidur.
" Kenapa sayang.." suara Damar lirih, khas suara seseorang yang baru saja bangun dari tidurnya.
Kinanti tak menjawab, hanya mengedip ngedipkan matanya karena tak menyangka Damar akan terbangun.
Melihat Kinanti yang diam saja laki laki itu kembali tersenyum, senyumnya benar benar membuat hati Kinanti berdesir tak karuan.
" Mas, aku.. aku.. tidak sengaja..maaf tidurlah lagi..?" suara Kinanti lirih.
" Kantukku sudah hilang.." jawab Damar mendekatkan wajahnya, menyentuh hidung Kinanti dengan hidungnya.
Kinanti menelan ludahnya, melirik kearah pintu seketika.
__ADS_1
" Siapa suruh menggodaku..?" suara Damar lirih, mengecup bibir Kinanti.
" Aku? tidak.."
" oh ya? aku sudah bangun saat kau menyentuh hidungku..
aku bisa pura pura pura tidur lagi jika kau berhenti sampai disitu,
tapi kau malah bermain dengan rambut alisku..
sekarang bertanggung jawablah istriku sayang..?"
Kinanti benar benar tak berkutik, apalagi laki laki itu tiba tiba bergeser ke atas tubuhnya.
Laki laki sebesar itu, yang di takutkan Kinanti hanya satu, ranjang yang kecil ini bisa saja roboh.
" Jangan mas? nanti ranjang ini ambruk..?" ucap Kinanti serius.
Tapi Damar tidak bisa lagi di cegah, menahan diri selama satu bulan sudah membuatnya tak bisa lagi berkompromi seperti kemarin kemarin.
" Kalau begitu sambil berdiri.. sambil ku gendong juga boleh.."
mendengar itu Kinanti memberingsut malu,
melihat istrinya malu malu begitu Damar bangkit, di angkat tubuh istrinya yang mungil itu dan di dudukkannya di pangkuannya.
" Aku tidak akan merusak ranjang temanmu,
tapi.. kalau nanti benar benar rusak, aku akan menggantinya dengan yang lebih besar dan lebih baik.. aku janji.." bisik Damar.
" Tidak usah berjanji, aku tau mas pasti menggantinya.. tapi setidaknya, jangan bersuara saat melakukannya.." Kinanti bersemu merah,
" harusnya kalimat itu untukmu sayang..
desahanmmhh.." Kinanti buru buru menutup mulut Damar, ia tak ingin mendengar hal hal semacam itu dari mulut suaminya,
meski hal yang di katakan suaminya itu benar.
Ia sendirilah yang sering kali mengeluarkan suara suara yang dirinya sendiri tak bisa mengontrolnya, dan itu sangat memalukan baginya.
Tapi tidak untuk Damar, Damar justru senang menemukan sosok Kinanti yang berbeda dari biasanya,
tentu saja itu membuat Damar lebih bersemangat sehingga Kinanti kuwalahan.
" Cukup bicaranya.." Kinanti melepaskan tangannya dari bibir Damar, dan menggantinya dengan bibirnya, entah kenapa, dan tidak biasanya Kinanti berinisiatif terlebih dahulu.
merasakan ciuman istrinya tentu saja Damar menyambutnya dengan dengan baik.
Kinanti menjadi lebih agresif, tangannya dengan liar masuk ke dalam kaos putih Damar, menyentuh otot dada dan perut yang sudah sebulan ini tak di sentuhnya.
Damar tak mau kalah, laki laki itu berdiri, di turunkan Kinanti, secepat mungkin di lepaskan Daster dan apapun yang melekat di tubuh istrinya.
" Jangan kemana mana lagi ya..? jangan tinggalkan aku.." ucap Damar dengan nafas yang sudah tak teratur.
Laki laki itu mengangkat tubuh istrinya dan menggendongnya,
Kinanti yang diangkat sekuat tenaga hanya bisa pasrah saja saat kedua kakinya di lingkarkan ke pinggang Damar, dan punggungnya di sandarkan ke dinding, sementara kedua tangan Damar yang kokoh menyangga pinggang istrinya agar tidak jatuh.
" Kita berdiri ya.." suara Damar sudah bergetar.
Kinanti pun sudah tidak sanggup menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya pelan sembari memejamkan matanya.
tangannya erat melingkar di bahu Damar.
Sementara Dinda yang belum tertidur tiba tiba mengerutkan dahinya, ia memiringkan kepalanya karena sedikit mendengar suara suara aneh.
Suara suara yang sesungguhnya ia tau dan faham betul asalnya dari mana .
" Sialan.." keluh Dinda dalam hati,
" besok besok aku akan mengontrak rumah yang lebih besar dan tebal dindingnya.." gerutu Dinda sembari menaruh buku catatannya lalu mengambil headset,
__ADS_1
entah apa yang ia lihat dan dengarkan di HPnya, yang penting telinganya tidak mendengar kegiatan Kinanti dan suaminya di kamar yang cukup dekat letaknya dengan kamarnya itu.