Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
banyak berubah


__ADS_3

" Suamimu kemana?" suara Dinda muncul dari dapur.


" Lho?!, bukannya kau tadi pamit kerumah Alfian?" jawab Kinanti kaget.


" Iya, baru saja aku pulang.." Dinda masuk ke kamarnya,


melihat raut Dinda yang lelah tentu saja Kinanti mengikuti.


" Kau dari mana semalam dengan Yoga? kenapa tidak pulang?" tanya Kinanti dengan dahi berkerut kerut, berharap mendapatkan jawaban yang baik.


" Sudah.. jangan bertanya atau berpikiran buruk..


aku sudah capek menjawab pertanyaan Alfian yang hampir sama sepertimu.." keluh Dinda merebahkan dirinya di atas tempat tidur.


" Dia pagi pagi kesini mencarimu? lalu aku harus menjawab apa? aku sendiri juga bingung kau kemana?


sementara aku tidak bisa bergerak, suamiku seperti lintah, menempel terus.."


" eh.. bisa bisanya kau bilang suamimu lintah.." Dinda tertawa.


" Dia memang terus menempel, ke kamar mandi saja yang tidak.."


" Yah..namanya juga rindu.. iya toh, memangnya kau tidak rindu?" goda Dinda membuat Kinanti tersipu.


" Ya rindulah..siapa yang tidak rindu.."


" Nah.. itu.. kapan hari nangis nangis takut diambil orang..


giliran sekarang nempel terus.. protes..


piye tho nduk.. nduk..


Awas.. suamimu itu magnetnya lebih besar dari pada Yoga..


untuk perempuan perempuan yang jeli sih.."?


" Maksudmu opo?" Kinanti bersungut.


" yo moso kudu tak jelasno Nan..?! ( ya masa harus ku jelaskan Nan..?!)"


" Iya sih.." Kinanti sedikit resah,


" iya apanya.. tiba tiba iya.."


" seperti yang kau bilang.. tidak merawat diripun dia masih terlihat begitu manis..


aku kesal sekali.."


" kalau begitu, lekas pulanglah.."


" Kau mengusirku??"


" tentu iya..kau tidak bisa terus disini dengan suamimu,


aku terganggu tau,


apa kau lihat wajah Alfian? masam sekali.."


" Kau bilang tidak mau berpacaran, lalu kenapa kau sibuk memikirkan raut wajah Alfian?"


" meski tidak pacaran tapi kami saling suka, ih.. kau ini paham tidak sih konsepnya?!"


" Konsep opo? konsep kok tidak jelas..


buat apa dia marah marah kalau tidak lekas lekas meminangmu?" omel Kinanti.

__ADS_1


" Jangan seperti ibuku yang mengomel soal pernikahan terus Nan?! ku plester mulutmu nanti..!"


" Lha memang iyo.."


" Wes wes..! pulang pulang sana sama suamimu! bawa juga pengacau satu itu pergi!"


" sopo? Yoga?"


" yo sopo maneh..! ( ya siapa lagi..! ), Alfian tidak bisa tenang sedari tadi gara gara ada dua laki laki dirumahku,


dia sih tidak waspada pada suamimu, tapi dia waspada pada Yoga, karena melihatku jalan dengan Yoga tadi pagi..


seperti tidak tau saja, ekspresi Yoga yang ramahnya keterlaluan itu sering membuat orang salah faham,


Alfian mengira aku ada hubungan dengan Yoga.."


" Ramah? dari mana kalian berdua terlihat ramahnya? kalian seperti dua petasan yang bertemu sejak dulu..!"


" Ah.. dia sedikit berubah, yah.. tidak sedikit sih.. lumayan banyak.." gumam Dinda,


" perubahan macam apa yang kau bicarakan?"


" Dia lebih tenang dan dewasa sepertinya..


dia bahkan mengajakku berdamai, dia berkata kami sudah terlalu tua untuk ribut dan eyel eyelan.."


" Bagaimana tidak berubah.. dia sudah menjadi seorang ayah, ayah tunggal lagi."


" Ah.. iya, dia punya anak..kau sempat bercerita padaku.."


" Iya, anak itu selalu menempel padaku dan mas Damar.. bayangkan saja betapa sedihnya aku saat tau dia putra Yoga..


ada rasa kecewa,


tapi kepolosannya membuat hatiku luluh..


Kinanti tiba tiba merindukan sosok Bagas yang entah sudah berapa lama tidak menampakkan dirinya sejak permasalahan dirinya dan papanya meledak.


" Ibunya meninggalkannya saat masih bayi katamu waktu itu.."


Kinanti mengangguk,


" Benar.. sungguh menyedihkan setiap kali melihat Bagas bergelayutan padaku atau mbak Winda.."


" Hemm.. aku pernah berpikir sih.. andai aku juga punya seorang anak dari mantan suamiku.. mungkin hidupku tak sesepi ini..


tapi, kau tau sendiri..


aku tak pernah betah dirumah, malah kasihan anakku nanti.."


Kinanti tersenyum,


" Manusia berubah seiring waktu, buktinya.. kau yang dulu mirip laki laki ini, sekarang semakin feminim dan cantik.."


" Ah.. apanya?!"


" lalu kenapa kau memanjangkan rambutmu dan memakai riasan tipis.. padahal dulu.. blasssss...!"


" itu.. itu karena omelan orang sekitarku saja..


mereka risih melihat rambutku mirip dengan laki laki..


padahal rambut cepak itu lebih hemat shampo dan hemat waktu.."


" Aduh.. pusing aku.. pusing.." keluh Kinanti sebal mendengar kata kata Dinda.

__ADS_1


" Minggat sana! minggat..!" suara Dinda keras.


Yoga memakai sepatunya, seperti biasa, laki laki itu terlihat begitu rapi dan terawat, siapapun yang melihatnya akan kagum.


" Taksimu sudah datang," beritahu Damar sembari masuk ke dalam rumah.


Yoga yang sudah selesai dengan sepatu dan handbag nya bangkit dari karpet.


" Mbak yu.. Aku janji, akan menjadi saudara yang baik mulai sekarang, aku rela dan Ikhlas.. jangan sungkan sungkan untuk berbahagia bersama mas Damar di depanku ke depannya..


aku tau maaf saja tidak akan cukup..


tapi aku sungguh sungguh menyesal membuat kalian terpisah karena kesalahpahaman yang ku timbulkan..


kumohon tetap disamping mas Damar..


dan lekas pulang ke malang.." ujar Yoga dengan tertunduk,


ia tak berani menatap Kinanti sama sekali.


Damar dan Kinanti saling menatap sejenak.


" Ku harap, hal seperti ini tidak akan terjadi lagi, pulanglah dan rawat Bagas dengan baik.." jawab Kinanti seperti seseorang yang usianya lebih tua dari Yoga.


Yoga mengangguk patuh, lalu melirik sekitar,


" Kau mencari Dinda?" tanya Kinanti,


Yoga mengangguk lagi,


" dia sedang masak nasi di dapur, pamitlah..".


Mendengar itu Yoga melepas sepatunya kembali dan berjalan ke arah dapur.


" Memangnya temanmu masak nasi pakai panci?" tanya Damar,


" Ya pakai magic com lah.."


" lha kok dari tadi ga kelar kelar?"


" itu tandanya Dinda tidak mau bertemu Yoga.." jelas Kinanti, dan sekarang suaminya yang mengangguk.


" Aku mau pamit.." suara Yoga mengagetkan Dinda yang sedang berdiri di depan kompor, perempuan itu terlihat akan menyalakan kompor, tapi ia urungkan karena Yoga mengagetkannya dengan tiba tiba muncul.


" Ku kira sudah pulang sejak tadi.." gumam Dinda.


" Bagaimana aku bisa pulang, berpamitan pada pemilik rumahpun belum.." Yoga tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


Mau tak mau Dinda juga mengulurkan tangannya, dan keduanya berjabat tangan.


" Terimakasih ya, sudah di ijinkan singgah dirumahmu.." ujar Yoga.


" terimakasih apa? rumahku bahkan terlalu sempit dan sederhana," sahut Dinda.


" Bukan rumahnya.. yang penting siapa yang di dalamnya, tentunya jika ke kota ini lagi, aku boleh mampir?" Yoga kalem.


" Tentu saja tidak boleh, hotel banyak kenapa kau harus mampir kesini." lagi lagi jawaban Dinda ketus.


Yoga hanya tertawa,


" Ya sudah.. aku pamit dulu, jaga saudaraku lho ya..?!"


" iya iya..!" jawab Dinda sekenanya.


Yoga berbalik dan menghilang di balik pintu Dapur dan ruang tengah.

__ADS_1


" Tidak bosan kau ribut dengan Dinda?" tanya Kinanti saat Yoga kembali ke ruang tamu.


Yoga hanya tersenyum, lalu memakai sepatunya lagi.


__ADS_2