Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
perbincangan 2 laki laki


__ADS_3

Damar melepas kacamatanya, memijat mijat pangkal hidungnya.


" Kau terlihat lelah sekali? kurang tidur?"


komentar rekan kerjanya, Andri.


Mejanya kebetulan berdekatan dengan Damar.


" Sedikit.." jawab Damar tanpa menoleh, masih sibuk memijat pangkal hidungnya.


" Semenjak kau sembuh dari cidera kakimu, kulihat kau makin kurus..


coba periksakan dirimu.." komentar Andri.


" Apa kau makan dengan baik?" lanjut Andri bertanya,


" Aku makan dengan baik, tapi tidak tidur dengan baik..


aku butuh tidur, tapi aku tidak suka tidur.." jawab Damar, Andri yang tidak mengerti mengerutkan dahinya.


Damar adalah sosok yang cerdas dan tidak banyak bicara, jadi wajar saja jika teman teman dosennya di universitas tak banyak yang mengenal Damar dengan baik, mereka hanya menyapa dan berteman seadanya.


" Kau ada kelas lagi?" tanya Andri,


" Tidak.. sore ini yang terakhir.." jawab Damar memakai kacamatanya lagi dan mulai merapikan mejanya.


" Langsung pulang? bagaimana kalau kita ngopi ngopi dulu? mumpung aku juga tidak ada kelas lagi.." Andri menawarkan diri.


" Sayang sekali, aku ada janji sore ini..


maaf, mungkin lain kali.." jawab Damar sembari mengambil tas nya.


" Kalau begitu aku duluan ya?" Pamit Damar bangkit dari kursinya,


" Oke.. baiklah, hati hati.." jawab Andri sedikit kecewa, ia sebenarnya ingin akrab dengan Damar, namun entah kenapa Damar sulit sekali di dekati.


Damar mengendarai motornya dengan kecepatan sedang.


Ia tidak berbohong pada Andri, hari ini ia memang ada janji dengan ibu dan calon Kinanti.


Sebenarnya ia tak mau, namun jika ibu merasa kehadirannya dan pendapatnya penting maka ia harus datang.


Ia hanya akan datang dan berbincang sejenak,


yah.. bertindak dan bertanya sewajarnya.


Yang jelas.. ia akan berusaha setengah mati untuk menguasai dirinya.


Beberapa hari ini kondisinya sudah membaik,


hanya Aji saja yang selalu menganggu dalam tidurnya,itu hal yang tidak bisa ia tawar tawar.


Makin gelisah dirinya, maka semakin sering Aji muncul untuk menyapa.


Namun semakin stabil dirinya, Aji akan alpha untuk menyapa nya di alam bawah sadar, dan tidurnya akan nyenyak senyenyak bayi.


Namun hal hal yang berhubungan dengan kejiwaan dan ke stabilannya tidak bisa selalu ia kendalikan.


Kadang ada beberapa hal yang mengejutkan dan merusak moodnya sehingga ketenangan dirinya rusak, lalu menyebabkan pikiran pikiran buruk itu muncul kembali tanpa mengetuk untuk meminta ijin atas kehadirannya.


Mereka merangsek masuk,


menguasai pikiran Damar yang di penuhi cela, dimana trauma dan rasa sakit bertahun tahun tertimbun,

__ADS_1


sehingga Damar yang kokoh itu melemah seketika.


Tangan yang kuat, bahu yang bidang, dan tubuh yang tinggi itu seakan meleleh menjadi kecil dan tak berdaya bersamaan dengan hal hal buruk yang menyerangnya.


Tentu saja banyak orang memanggil itu sebagai trauma, hidup tak akan pernah berjalan dengan benar selama trauma yang besar menguasai, dan menelan pikiran logis perlahan.


Setidaknya itu yang Damar rasakan.


Damar sampai di depan rumah Kinanti, ia melepas helmnya dan jaketnya, merapikan kemeja biru tua nya,


tak lupa ia menekuk lengan kemejanya ke atas, beberapa lipatan sampai di bawah sikunya.


Disitulah terlihat tangan yang suka bekerja keras itu, yang jelas itu bukanlah tangan dari laki laki yang lemah dan suka bersantai santai.


Ia membenarkan letak kacamata yang sesungguhnya hanya ia pakai pada saat mengajar saja itu,


selain untuk memperjelas pandangannya, ia memakainya karena kacamata itu membingkai dirinya, sehingga dirinya terlihat lebih serius dan berwibawa.


Tapi untuk kali ini ia tetap memakainya karena ingin menyembunyikan kantung matanya yang tebal itu.


Damar berjalan memasuki teras Kinanti, ia melihat seorang laki laki berseragam duduk disana, ia tampak santai dan menghisap rokoknya dengan tenang.


" Selamat sore.." ucap Damar memberikan tangannya untuk di jabat, ia juga tersenyum secukupnya.


" Selamat sore? mas Damar ya?" Haikal bangkit dari duduknya dan menyambut tangan Damar, keduanya bersalaman.


" Maaf saya ada terlambat.." ujar Damar kemudian.


Sementara Haikal memandang Damar sedikit heran,


ibu mengatakan bahwa kakak angkat Kinanti hanyalah orang desa dan seorang tukang kayu,


namun kenapa penampilannya serapi dan se intelek ini, pikir Haikal.


Apa dia sengaja berpakaian rapi karena akan bertemu dengan Haikal?,


Tubuh Haikal pun kalah tinggi, membuat Haikal semakin ragu kalau Damar hanyalah orang desa yang sederhana seperti kata ibu.


" Bagaimana kalau kita masuk saja.. berbincang di dalam.." ajak Damar,


" Oh.. iya tentu saja mas.." jawab Haikal.


Keduanya masuk ke dalam, disambut oleh ibu.


" Sehat nak??" tanya ibu terlihat senang sekali dengan kedatangan Damar.


" Iya bu, sehat... maafkan saya, tidak bisa kesini seperti kemarin kemarin karena kesibukan.." jelas Damar sembari meminta maaf.


"Ndak apa apa nak.. kamu sehat saja ibu sudah senang.."


mendengar kata kata ibu Damar tersenyum, sikap ibu sungguh membuatnya merasa selalu di terima dirumah ini.


" Kinan kemana bu?" tanya Damar tak melihat Kinanti sejak tadi.


" Dia masih mengajar les mas.. jam 5 pulangnya.." sahut Haikal tersenyum.


" Les??" Damar heran,


" Iya, di sebelah rumah saya.." jawab Haikal membuat rasa tidak nyaman merayapi Damar.


" Oh.. hanya hari jumat sampai minggu saja?" tanya Damar buru buru menutupi ketidak nyamanannya.


" Senin sampai jumat mas.." jawab Haikal lagi.

__ADS_1


Wajah Damar benar benar menunjukkan ekspresi heran sekarang, sontak ia memandang ibu, seakan meminta penjelasan.


" Kinanti sudah berhenti mengajar nak.." jawan ibu seakan tau.


" Sejak kapan bu?" tanya Damar serius.


" Sejak terakhir kali nak Damar menjenguk ibu kerumah ini..


setelah itu dia memutuskan mengundurkan diri di karenakan kondisi ibu.."


Damar terdiam, bisa bisa nya ia tidak tau sama sekali akan hal ini, dan kenapa ketika terakhir bertemu Kinanti tidak memberi tahunya?


apa dia benar benar menganggap aku ini bukan siapa siapa dan tidak penting sama sekali?, Damar terus berpikir sembari berucap di dalam hati.


" Kenapa tidak memberi kabar bu?" tanya Damar tenang.


" Karena ibu tidak mau terus merepotkan nak.."


" Merepotkan apa bu? saya tidak pernah merasa kerepotan kalau itu soal ibu??" nada Damar tenang namun tegas.


" Maafkan ibu nak.."


Damar terdiam sejenak, mengambil nafas berulang ulang.


Lalu mengalihkan pandangannya pada Haikal.


" Ya sudah.. mas Haikal ya?" tanya Damar,


" iya mas?!" jawab Haikal cepat dan tegas, itu menjadi kebiasaan di tempat kerjanya dan sering terbawa saat pulang.


" Saya dengar ada rencana menikah dengan Kinanti?"


" iya, benar.." Haikal mengangguk.


" Apa itu benar benar anda lakukan atas dasar keseriusan?"


" tentu saja" jawab Haikal tanpa Ragu


Damar diam, ia mengolah kalimat yang akan di lontarkan nya.


" Berangkat dari mana kalau saya boleh tau keseriusan itu?"


" Saya memang menyukai Kinan sejak dulu, dan kebetulan saya memang tidak mau membuat banyak waktu lagi dengan pacaran,


jadi harapan saya bisa menikah secepatnya dengan Kinan.."


" Hanya berdasarkan rasa suka dari dulu? anda berani mengajak seorang perempuan menikah dengan terburu buru?, lalu apa anda sudah benar benar mengenal Kinan luar dalam?


ingat, saat kalian kecil dan dewasa itu berbeda.."


" Tentu saja saya tau itu, dan tentu saja semua orang menjadi berbeda saat dewasa.."


Damar menghela nafas,


" Maksud saya mengenal pribadinya luar dalam, bagaimana ketika dia bahagia, ketika dia sedih, dan ketika dia marah?


banyak wanita yang berubah menjadi lebih galak setelah menjadi istri, sehingga kesan imut dan penurutnya hilang,


namun itu di sebabkan karena sikap dan perlakuan yang berbeda dari sang suami, dan banyak faktor faktor lainnya, tidak semua seperti itu.. tapi beberapa orang yang saya kenal begitu,


apa njenengan sanggup menerima Kinan apa adanya?


baik dia dalam kondisi apapun?"

__ADS_1


Haikal diam, ia terlihat juga sedang berpikir.


" Saya akan menikahi Kinanti bagaimanapun dia.." ucap Haikal kemudian dengan yakin di hadapan Damar.


__ADS_2