Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
nasehat Umar


__ADS_3

Sesampainya dirumah Damar mengikuti langkah istrinya itu masuk ke dalam kamar.


" Kembalilah ke pabrik, pekerjaanmu banyak, periksa laporan laporan yang menumpuk itu,


sekalian mengajari mbak Zahira juga boleh.." Ujar Kinanti sembari mengganti bajunya dengan daster.


Damar mendekat,


merangkul istrinya itu sembari berkata,


" Aku tidak akan kembali ke pabrik, aku dirumah saja menemanimu.." ujar Damar mengecup bibir istrinya.


" Lalu pekerjaanmu? terbengkalai? orang orang akan menyalahkan aku?"


" Umar akan mengantarkan laporan laporan itu kesini,


aku bisa kerjakan itu di dirumah, sembari bersamamu.." Kinanti mengalihkan pandangannya, lalu melepaskan diri dari pelukan Damar.


" Kok begini? apa gara gara aku mengajari Zahira?" tanya Damar.


" Aku kan sudah bilang.. jangan cemburu pada Zahira?" imbuh Damar,


" Aku tidak cemburu.." jawab Kinanti duduk di kursi meja rias.


Ia menyisir rambutnya,


" Lalu apa ini namanya? kau tiba tiba seperti ini.. ketus.." ujar Damar berdiri disamping istrinya.


" Aku? ketus?" tanya Kinanti menatap Damar sembari duduk.


" Yah, sama seperti saat sebelum kita menikah.. kau ketus terus denganku..?"


" Aku tidak.." jawab Kinanti mengalihkan pandangannya pada kaca.


" Kau cemburu pada Zahira?" tanya Damar lebih dekat,


" Tidak," jawab Kinanti pendek.


" Yah.. kau cemburu pada Zahira.." ucap Damar sembari tersenyum,


" Kok malah senyum?!" Kinanti kesal melihat senyum suaminya itu.


" Ya senang saja.. akhirnya istriku punya rasa cemburu terhadapku.." jelas Damar.


" Ih! nggak jelas! sudah aku mau tidur siang!" tegas Kinanti bangkit lalu melangkah ke tempat tidur dengan cepat.


Dengan gerakan sedikit kasar di rebahkan dirinya di atas tempat tidur.


Damar yang melihat itu benar benar terhibur.


" Istriku cemburu.." ucapnya dalam hati, lalu tanpa menunggu lama Damar menyusul ke atas tempat tidur.

__ADS_1


Memeluk istrinya itu dari belakang, karena posisi istrinya itu membelakanginya.


" Apa sih mas?!" protes Kinanti saat tangan Damar mulai kemana mana.


" Aku juga mau tidur siang.." ujar Damar terus saja dengan tangannya yang menganggu Kinanti.


Kinanti yang tak bisa mencegah tangan Damar akhirnya diam dan pasrah.


Hingga niatnya untuk tidur siang berubah menjadi olah raga siang karena kelakuan Damar.


Beberapa jam berlalu,


Umar yang sibuk memasukkan laporan laporan Dalam tas besar membuat Zahira heran.


" Mau di bawa kemana?" tanya Zahira,


" Di antar kerumah mas Damar.." jawab Umar dengan tangan yang sibuk.


" lho? mas Damar tidak kembali ke pabrik?? kenapa? sakit??" Zahira khawatir.


" Ah.. seperti tidak tau saja, kelakuan pengantin baru.." jawab Umar tanpa senyum.


Mendengar itu Zahira sedikit lesu,


" Aku ikut ya?"


" jangan, mbak tidak lihat wajah mbak Kinanti melihat mas Damar saat berdekatan dengan mbak tadi?


" Masa?" tanya Zahira tidak peka.


" Yah.. semoga saja mereka tidak ribut, sebaiknya mulai sekarang yang mengajari mbak saya saja..


supaya tidak menimbulkan prasangka di hati istri mas Damar.." ujar Umar.


" Ah, itu berlebihan Mar?" Zahira merasa hal itu biasa biasa saja.


" Tidak berlebihan mbak saat hal itu baik, apalagi kalau kita bisa menjaga perasaan org lain..


perempuan mana yang suka melihat suaminya dekat dekat perempuan lain sepanjang hari..? apalagi berdekatan dan bersenda gurau.."


Mendengar kalimat Umar Zahira tertegun.


" Maksudmu aku sengaja menggoda mas Damar Mar?" ucap Zahira sedikit tersinggung.


" Tidak begitu maksud saya..


tapi ada baiknya bersikap lebih waspada dan berhati hati..


di lihat para pekerja juga tidak bagus mbak... kalau njenengan menempel terus pada mas Damar..?" nasehat Umar.


" Ayolah mbak.. perempuan mana yang bisa menolak pesona mas Damar yang bersahaja itu? di tambah wajah dan posisinya yang bagus?" lanjut Umar.

__ADS_1


" Di sembunyikan bagaimanapun, raut ketertarikan mbak bisa terbaca oleh saya.. dan mungkin terbaca pula oleh istri mas Damar.."


Deg..


betapa malunya Zahira, wajahnya merah padam.


Bisa bisanya Umar berkata dengan begitu terus terang.


" Apa kau sengaja ingin membuatku malu?" tanya Zahira tajam.


" Tidak mbak.. percayalah.. saya berkata seperti ini demi kebaikan mbak Zahira??"


Namun Zahira yang malu setengah mati tak mau mendengarkan,


ia bangkit dan berjalan terburu buru keluar dari ruangan Umar.


" Mbak?! mbak?!" panggil Umar menyusul langkah Zahira yang sudah sampai parkiran.


" Sudah! diam!" tegas Zahira sembari masuk ke dalam mobilnya.


Umar yang melihat Zahira pergi dengan tergesagesa itu tak bisa berbuat apapun.


Ia kemudian berjalan kembali ke dalam pabrik dengan raut wajah bingung.


" Kayak orang pacaran saja sampean mas.. main kejar kejaran segala.." goda si satpam.


Namun Umar tak tersenyum seperti biasanya, ia hanya menoleh sekilas lalu berjalan kembali ke ruangannya dengan wajah kaku.


Sesampainya di ruangannya Umar terduduk,


ia benar benar memikirkan kalimat kalimat yang sudah ia ucapkan pada Zahira.


Ia tak tau kalimat yang mana yang bisa membuat Zahira begitu tersinggung sampai sampai sebegitu marahnya pada Umar.


" Aduh.. mati aku.." keluh Umar,


berani beraninya diriku ini menasehati seorang perempuan kaya dan luar biasa seperti Zahira, keluhnya dalam hati.


Seharusnya ia diam saja, tapi ia tak bisa diam ketika melihat raut wajah istri bosnya itu berubah kaku begitu melihat kedekatan Zahira dan bos nya itu.


Apalagi dari ekspresi Zahira terlihat sekali ia senang berdekatan dengan Damar.


Mau tidak mau dia harus bicara demi mencegah kesalahpahaman yang bisa terus timbul jika sikap Zahira terus seperti itu.


Melempar senyum terus menerus, bahkan mencuri curi pandang pada Damar.


Bukan hanya mata Umar saja yang awas, tapi mata para pekerja.


Sesungguhnya sudah ada beberapa omongan dari para pekerja, namun Umar menjelaskan dengan baik pada para pekerja tentang posisi Zahira, sehingga mereka maklum kenapa Damar mengijinkan perempuan itu sering mengekorinya.


" Aduh...piye iki.." keluh Umar lagi sembari menggaruk rambutnya yang tidak gatal.

__ADS_1


__ADS_2