
Kinanti membuka matanya, dan sekitarnya sudah gelap.
" Hah.." keluhnya ketika menyadari ia di tinggalkan sendiri di dalam mobil.
Kinanti mencari tasnya,
tidak ada,
mungkin Dinda sudah membawanya masuk.
Dengan gerakan hati hati Kinanti membuka pintu mobil Alfian itu, lalu keluar,
terlihat lampu di pinggir jalan sudah menyala, termasuk lampu lampu rumah sekitar.
Kinanti membenarkan sandalnya,
kakinya masih kaku karena tidur sembari duduk terlalu lama.
" Bisa bisanya Dinda tidak membangunkanku..!" gerutu Kinanti pelan.
" Sudah bangun teh?!" terdengar suara Alfian mendekat.
" Lho, kok?" Kinanti akan protes, tapi Alfian memotong kalimatnya.
" Tidak di bangunkan?" sahut Alfian tersenyum,
" kata Dinda teteh kurang tidur, kami tidak tega mau bangunkan teteh.. kelihatannya pulas.. capek.." lanjut Alfian masih dengan senyumnya yang penuh pengertian.
" Ya sudah.. teteh masuk saja, mobilnya mau saya masukkan garasi teh.."
" oh.. iya iya.. nuhun ( terimakasih ) ya..?" Kinanti balas tersenyum.
" Aduh.. nuhun segala, belajar dari mana? baru seminggu disini?"
" ya taunya nuhun saja.. sama saberaha..
soalnya itu berguna kalau lagi belanja sayur.."
Keduanya tertawa,
" Ya sudah.. masuk teh.. sudah malam.." ujar Alfian,
" iya iya.. sekali lagi terimakasih.." Kinanti berjalan masuk ke dalam rumah kontrakan Dinda.
Setelah membuka pintu dan menutupnya kembali Kinanti berjalan ke kamar mandi,
setelah dari kamar mandi dia membuka pintu kamar Dinda.
" Bisa bisanya tidak membangunkanku sih Din?!" suara Kinanti tertelan tembok kamar Dinda, senyap.
Tak ada orang dalam kamar, Kinanti menutup kamar itu kembali, tak ada tanda tanpa kehidupan di ruang tengah dan ruang tamu juga.
" Bisa bisanya keluar juga tidak pamit," lagi lagi Kinanti menggerutu.
Ia berjalan menuju Kamar yang ia tempati seminggu ini, kamar paling depan yang jendelanya terhubung langsung ke arah jalan depan rumah.
Di buka pintu kamar itu, dan di nyalakan lampunya.
Kinanti yang berniat menutup pintu Kamar tiba tiba tersentak,
ia membeku di tempat.
Ia merasakan tangan seseorang memeluknya dari belakang, perlahan.
Deg..!
Kinanti ketakutan, tubuhnya gemetar, kakinya lemas.
" Siapa ini? maling? perampok?!" batin Kinanti dengan tubuh yang terasa panas dingin tak karuan saking takutnya,
Rasanya ingin berteriak, namun dirinya tak seberani itu.
" Si.. siapa?" suara Kinanti lirih bergetar.
Ada bau khas yang Kinanti kenal, tembakau yang bercampur parfum yang soft menyentuh hidungnya dengan lembut.
" Maafkan aku..??" suara khas Damar yang dalam memenuhi kamar.
Membuat Kaki Kinanti yang lemas semakin lemas, hingga perempuan itu hampir saja jatuh, namun Damar memegang erat pinggang Kinanti hingga tubuhnya kembali berdiri tegak.
" Maafkan suamimu yang keterlaluan ini Nan..
aku kapok.. aku sungguh takkan mengulanginya..
tak akan meninggalkanmu lagi..
semarah apapun aku kelak.."
__ADS_1
mendengar suara Damar yang lembut memohon bukannya senang, perempuan itu malah menangis.
Air mata yang awalnya turun perlahan itu,
semakin lama semakin penuh dan deras.
" Nan? jangan menangis?? aku tidak tahan mendengar tangismu..
kumohon maafkan aku??" Damar yang tak tahan mendengar tangis itu tak kunjung reda memeluk Kinanti lebih erat, di jatuhkan kepalanya di bahu Kinanti.
Merasakan Bahu Kinanti yang berguncang hebat karena tangis, Damar memutar tubuh istrinya itu agar menghadap ke arahnya.
Di pandanginya perempuan yang sedang terisak isak itu,
tubuhnya semakin kurus,
wajahnya tak sesegar dan seterawat dulu.
melihat Kondisi istrinya, di sertai suara tangisan menyakitkan itu, hati Damar seperti tersayat sayat.
" Aku hanya 3 minggu pergi, kenapa kau sekurus ini..??? oh.. istriku...?!" Damar ikut menangis, di peluknya istrinya itu, penuh rasa emosi dan kesedihan.
" Aku yang bodoh tidak segera kembali, aku yang bodoh..?!!" Damar marah dengan dirinya sendiri.
Namun tak satu kata pun keluar dari bibir Kinanti, ia hanya menangis dan menangis, seperti meluapkan segala bebannya selama beberapa waktu ini.
Entah sedih, entah bahagia, ia tak tau, yang jelas ia hanya ingin menangis sekeras kerasnya.
Sementara Yoga berjalan di belakang Dinda.
" Memangnya kita mau cari makan dimana?" tanya Yoga.
" Di lalapan bebek madura sebrang jalan sana" jawab Dinda sembari menunjuk ke arah sebrang jalan, sementara jalan raya begitu ramai, seperti taj ada celah untuk menyeberang.
" Lha? jauh?" Yoga malas berjalan jauh.
" Sedikit" jawab Dinda pendek.
" Ah, yang dekat dekat saja, aku capek jalan jauh jauh, mana jalanannya ramai lagi.." gerutu Yoga.
Mendengar itu Dinda berbalik, wajahnya terlihat kesal.
" Kalau tidak demi Kinanti dan suaminya, aku malas jalan denganmu!" sembur Dinda.
" Harusnya kau faham, selain dirumahku tidak ada makanan, kau juga harus memberi waktu berdua untuk suami istri itu bicara! kau mau jadi pihak ketiga terus terusan ya?!" Dinda sinis.
kita bisa duduk dimana kek sambil memesan makanan?" jawab Yoga sama kesalnya namun lebih halus.
Dinda diam cukup lama di samping jalan raya.
" Tuh, ada masakan padang.. tuh ada sate.. tuh juga ada ayam goreng.." tunjuk Yoga, pada warung dan toko sekitaran jalan Universitas.
" Kesana saja.. tidak usah jauh jauhlah.." Yoga mengambil langkah yang bersebrangan dengan Dinda.
" Ih sumpah, sedari dulu kau itu menyebalkan ya?"
" Kau juga menyebalkan.." balas Yoga.
" Atau, kita tidur di hotel saja malam ini.. bagaimana?" ucap Yoga tiba tiba berbalik.
Dinda melotot,
" Maksudmu?!!"
" wah.. kau seperti naga yang bisa menyemburkan api kapan saja.. dengar dulu..
kau bilang mereka butuh waktu,
jadi berikan saja waktu,
mungkin mereka akan malu jika ada kita berdua..
jadi kita tidur di luar saja, besok pagi kita pulang..
bagaimana?"
Dinda yang awalnya marah, tiba tiba terlihat berpikir.
Ada benarnya memang meninggalkan Kedua suami istri itu,
pastinya keduanya juga rindu.
Dinda menghela nafas panjang, merasa ucapan Yoga ada benarnya.
" Kita belikan makan dulu, kita taruh di teras lalu kembali pergi.." kata Dinda dengan nada yang lebih tenang.
" Tapi kau saja yang tidur di hotel, aku mau tidur di rumah temanku," imbuh Dinda melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
" Ya masa aku mau ke hotel sana sendirian?" protes Yoga,
" Lha maumu?!"
" yoo.. aku melok awakmu.. ( yaa.. aku ikut kamu..)"
" astaga.. kau sudah tua?!"
" kau juga tua.. "
" ya sudah kalau begitu, jangan mengikutiku."
" Aku ini tamu.. tamu.. kota ini asing bagiku, dan sudah seharusnya untukmu memanduku dan melindungiku?"
" Memandumu? melindungimu?" Dinda sengau, seakan mengejek.
" Ku tinggalkan disinipun tidak akan ada yang menculikmu.." gerutu Dinda.
" eh! hinaan macam apa itu? kau terlalu meremehkanku.."
" bukan meremehkan, tapi kau tidak tau diri,
sudah sana pergi!"
" tidak! enak saja mau mengusirku?!"
Keduanya malah ribut di pinggir jalan, membuat para pejalan kaki lain memperhatikan mereka berdua dengan pandangan aneh.
Damar mendudukkan istrinya itu di pangkuannya.
merapikan rambut Kinanti, dan menghapus sisa sisa air matanya yang membasahi wajahnya.
" Aku yang salah.. aku harusnya mengajakmu tinggal di tempat lain sejak awal.. " ujar Damar lalu memeluk lagi istrinya sehingga kepala Kinanti tersandar di dada Damar.
" Aku janji, tak lama setelah Kita pulang, kita akan pindah rumah..
rumah yang nyaman dan tenang..
tidak akan ada yang satu keluargaku pun yang bisa menganggumu.." ujar Damar sembari mengecup kening istrinya berkali kali.
" Kenapa tidak bicara sama sekali sayang?" tanya Damar ketika menyadari istrinya itu tak bicara apapun sejak tadi.
" Apa aku belum di maafkan? apa kau tidak mau memaafkanku.. Nan??" tanya Damar penuh harap.
Kinanti tetap diam, ia tak berniat menjawab, karena baginya masih terlalu sakit di tinggalkan semacam itu.
Dirinya buka tipe pendendam,
kemarahanpun tidak ia simpan dalam hatinya,
namun..
rasa kecewa itu masih ada..
dan itu yang membuatnya tak ingin berbicara.
" Tak masalah kalau kau masih marah..
aku akan menunjukkan padamu betapa dalam penyesalanku karena telah meninggalkanmu..
kau istriku Nan, akan ku lakukan apapun itu demi dirimu..
meski aku harus menghabiskan waktuku disini.." kata Damar mempererat pelukannya.
Kinati tetap diam, hanya bisa pasrah meski Damar memeluknya erat sekali.
Ia tak menolak, karena tidak hanya Damar.. dirinya juga sedang memendam rindu meski masih di liputi rasa kecewa.
Di elus punggung istrinya yang sedang di pangkuannya itu.
Tubuh yang sebelumnya kecil, kini semakin kecil, Damar benar benar sedih akan hal itu.
" Kenapa bisa sekurus ini hemm.. aku menyesal sekali melihatmu seperti ini.." ucap Damar mengecupi lagi kening Kinanti, gemas, menyesal, rindu.. semua menjadi satu.
" Setidaknya jawab Nan.. meski hanya satu kata.. aku bahkan rindu suaramu.." kata Damar memandangi istrinya itu cukup lama.
Melihat betapa merah bibir istrinya itu, hatinya tergerak.. rindu yang di endap meluap,
di hela wajah istrinya itu, lalu di ciumnya perlahan,
menciumnya dengan hati hati dan tenang, karena ia tak ingin membuat istri yang baru di temuinya itu merasa tak nyaman.
Sesungguhnya Damar sudah berusaha menahan diri untuk tidak mencium bibir mungil Kinanti itu,
karena ia merasakan Kinanti belum sepenuhnya menerima kehadirannya.
Tapi apalah daya, Damar tak pernah bisa menahan dirinya ketika berdekatan dengan Kinanti,
__ADS_1
apalagi.. sekarang rindunya sudah di ujung tanduk.