
Kinanti menatap laki laki di hadapannya itu dengan pandangan tak percaya,
bisa bisanya ia tiba tiba menarik Kinanti ke dalam pelukannya seperti ini.
Sikapnya benar benar tidak terbaca oleh Kinanti.
" Bagaimana jika itu benar?" ucap Damar tiba tiba, ia melepas kacamatanya dengan tangan kanannya lalu memasukkannya ke kantong kanan celananya.
Seakan kaca mata itu akan menyulitkan dirinya beberapa menit ke depan.
" apanya yang benar? apa sih yang kau bicarakan mas?!" ucap Kinanti masih berusaha melepaskan diri.
" Bagaimana kalau aku memang ingin merusak rencana pernikahanmu? apa yang akan kau lakukan?" suara Damar penuh penekanan, ia mendekatkan wajahnya ke telinga Kinanti.
" Andai aku yang melamarmu duluan, apa kau akan menerimaku semudah menerima laki laki ini?" nafas Damar terasa hangat di telinga Kinanti.
Kinanti membeku, ia tak bergerak,
ia terkejut dengan sikap Damar yang sekarang, ia seperti berubah,
dari laki laki yang penuh pengertian menjadi laki laki mendominasi Kinanti.
" Apa kewarasan mu hilang mas?" tanya Kinanti setelah menguasai diri.
" Katakan padaku, apa yang akan kau lakukan jika aku memang ingin menggagalkan rencanamu dengan laki laki itu?" tanya Damar lagi, masih setengah berbisik.
" Itu tidak masuk akal? memangnya apa sebabnya? kenapa mas bersikap seperti ini padaku?!" suara Kinanti juga setengah berbisik namun penuh tuntutan, ia takut suara suara yang keras akan membangunkan ibu dan menarik perhatian tetangga
" Karena aku tidak rela..
aku tidak rela menyerahkan sesuatu yang sudah kurawat baik baik ke sembarangan orang!"
Kinanti diam, ia tidak tau harus berkata apalagi, dan yang jelas, semakin ia berusaha melepaskan diri, pelukannya semakin erat.
" Tidakkah itu terlalu egois mas?! kau bahkan tidak mencintaiku, kau hanya terobsesi pada rasa bersalahmu?!"
" Aku sudah menjadi orang yang tidak perduli, apakah ini obsesi atau keegoisanku.."
Damar dengan sigap merenggut bibir Kinanti,
" Mas?!" Kinanti yang terkejut berusaha menghindari ciuman Damar, namun apalah daya Kinanti, Damar menemukan lagi bibirnya.
ciuman yang semula kasar, perlahan menjadi lembut, membuat Kinanti yang awalnya melawan kini pasrah saja.
Damar menarik tubuh Kinanti hingga keduanya dekat sekali, menempel tanpa celah.
Tangan Damar beralih ke punggung kinanti, memeluknya erat seakan ingin menelan tubuh kecil itu.
__ADS_1
Damar yang merasakan tubuhnya mulai tidak benar dan meminta lebih, memutuskan untuk berhenti.
Ia melepaskan Kinanti yang sesungguhnya sudah terlena,
Kinanti terhenyak menemukan dirinya yang semula di rengkuh dengan erat tiba tiba di lepaskan.
" Jangan menikah dengan laki laki itu.." Ujar Damar, pandangannya memohon.
Melihat Kinanti yang diam saja ia tidak tahan, direnggutnya kembali bibir mungil itu.
ciuman kali ini mendapatkan balasan dari Kinanti, dan itu membuat Damar sulit berhenti.
Namun Damar lagi lagi harus mampu menguasai dirinya.
Ia berhenti dan menyandarkan kepalanya di bahu Kinanti,
berusaha menguasai dirinya setengah mati.
Sedangkan Kinanti, ia terkejut dengan dirinya sendiri, kenapa ia justru menerima dan bahkan membalas ciuman itu,
Pipinya merona merah karena rasa malu yang besar.
Rasanya ingin menggali lubang untuk bersembunyi sehingga Damar tak bisa melihat wajahnya.
" Kau sungguh sungguh membuatku gila.." gumam Damar.
Ia mengangkat kepalanya, memandang Kinanti yang membuang pandangannya ke arah lain.
mengembalikan arah pandangan Kinanti kepadanya.
" Lihat aku.." ucap Damar lembut,
keduanya bertatapan, lama.. tak ada kata kata lain yang mampu Damar ucapkan untuk sekarang,
Di kecupnya kening Kinanti, di susul dengan belaian lembut di kepala.
" Maafkan aku.. maafkan atas tingkahku yang kurang ajar padamu.." ujarnya memeluk Kinanti.
Hari berganti, begitu juga dengan apa yang di rasakan Kinanti, ia merasakan dirinya seperti sebuah perahu kecil yang terombang ambing di lautan, dan lautan yang luas juga dalam itu bernama Damar.
Lautan yang terlihat tenang namun bisa kapan saja menenggelamkannya.
Berkali kali dirinya mengeluh tanpa di sadari hingga ibunya heran dan penasaran.
" Kenapa sih nduk?" tanya ibunya, pada Kinanti yang sedang sibuk menanam sayur itu,
Sudah beberapa hari ini ibunya melihat Kinanti sering termenung, dan pipinya tiba tiba bersemu merah.
__ADS_1
Ibunya benar benar heran.
" Kau ada masalah nduk?" tanya Ibunya lagi,
" Tidak bu.." Kinanti menggeleng, namun matanya begitu resah.
" Kau sudah bertemu dengan orang tua Haikal?" tanya ibu Kinan,
" Belum bu, mereka kan di luar kota rumahnya.. Haikal sih ada rencana membawaku kesana.."
" Ya sudah kesana saja.. kau lihat apa respon orang tuanya, apakah mereka menerimamu? apalagi sekarang kau tidak bekerja.."
Kinanti diam, ia menaruh pisaunya di atas tanah.
" Bu.." panggil Kinanti,
" apa nduk..?"
" ah.. tidak jadi.." ujarnya kemudian membuat ibunya mengerutkan dahi.
" Opo o seh nduk?" tanya Ibunya sangat penasaran,
" ndak bu, " Jawabnya pendek lalu mengambil lagi pisaunya untuk menggali tanah di pot pot kecil berwarna hitam itu.
Dan tidak hanya ibu Kinanti, namun Haikal juga sedikit heran,
Kinanti yang biasanya ketus ini tiba tiba jadi pendiam,
bahkan seperti malas berbicara.
" Lagi mikir apa sih?" tanya Haikal penasaran, ia duduk di hadapan Kinanti yang sibuk menyiapkan tugas keponakan keponakan Haikal.
" Tidak, hanya sedikit sibuk membuat lamaran lamaran ke sekolah sekolah lain.." Jawab Kinanti.
" Pelan pelan saja.. kalau tidak kerja juga tidak apa apa.."
" Aku yang apa apa.. menadah uang dari laki laki itu tidak enak,
paling tidak aku harus ada penghasilan sendiri meskipun tidak banyak.."
Haikal diam,
" Apa ada hal yang kurang nyaman Nan?" tanya Haikal lagi, ia merasa sungguh sungguh ada yang berbeda dengan Kinanti beberapa hari ini.
Ia yang biasanya menatap dengan tajam dan berani, sekarang suka sekali mengalihkan pandangan ke arah lain.
" Kalau ada masalah katakan padaku.. ada yang menganggumu mungkin?"
__ADS_1
" ah.. siapa yang berani mengangguku.." Jawab Kinanti datar.
" Eh, iya ya.. kau kan galak.. siapa berani menganggumu.." sahut Haikal sembari tertawa kecil.