Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
segelas susu


__ADS_3

Yoga keluar dengan celana panjang dan kaos berkerah, ia mengambil seadanya dari lemari, yang penting harum dan bersih sudah cukup.


" Maaf Yog, kami baru dapat kabar kalau kau menikah hari ini, jadinya baru datang sekarang..?" ujar salah satu teman yoga diantara empat orang lainnya.


Kebetulan mereka semua adalah teman Yoga saat magang di rumah sakit beberapa tahun yang lalu.


" Wah.. repot saja, aku tidak mengadakan pesta padahal.." Yoga tersenyum selebar mungkin, meski dirinya kesal, lagi lagi Dinda lolos darinya, itu gara gara si mbak mengetuk pintu dan menyampaikan bahwa ada tamu.


" Dimana istrimu? tidak di perkenalkan dengan kami??"


" Dia sedang mandi.." jawab Yoga tersenyum setulus mungkin.


" Kau bisa lihat, wajah Yoga masam terus?!" Winda tergelak.


" Beda ya mas, padahal dulu pernikahan pertamanya mewah tapi tak ada gurat kebahagiaan atau kecemburuan seperti tadi..


semua orang bisa melihat betapa posesifnya Yoga.." lanjut Winda yang sudah membersihkan dirinya dan duduk santai di depan TV dengan suaminya.


Yudi tersenyum,


" andai kau tau tadi, berkali kali dia mau menyusul istrinya ke kamar dan meninggalkan teman temannya di luar.." Yudi memberitahu istrinya, keduanya tergelak menertawakan Yoga.


" Kelakuannya seperti belum punya anak saja.." gumam Winda yang ikut senang akhirnya akad nikah hari ini berjalan lancar.


" Yah.. bagaimana lagi, apa yang bisa kita keluhkan perihal cinta.." Yudi merangkul istrinya.


Winda yang lelah menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.


" Aku bersyukur lho mas.. meski kita di jodohkan, kita bisa beradaptasi dengan baik.." ujar Winda pelan.


" Aku kan memperlakukanmu dengan lembut dan penuh tanggung jawab..


keterlaluan saja kalau pada akhirnya kau tidak mencintaiku..?" Yudi mencium kening istrinya.


" Bukankah segalanya dapat di pelajari mas.. begitu juga perasaan..?"


" bisakah..?"


" tentu saja.. bertahun tahun aku mempelajari dirimu, sifatmu.. perasaanmu..


aku mau belajar karena mas bertindak bijaksana dengan bersabar dan menunggu.."


" apalagi yang bisa kulakukan selain bersabar..?


tiap malam kau membasahi bantal sembari memanggil nama kekasihmu.." ujar Yudi dengan wajah datar.


" Itu kan dulu..?!" Winda mencubit lengan suaminya.


" Yah.. dulu, butuh waktu setahun bukan untuk membuatmu benar benar lupa pada masa lalumu..?"


" Aduhh...! tidak usah bahas masa lalu wes..?!" Malah Winda yang risih ketika masa lalunya dibahas oleh Yudi.

__ADS_1


Yudi hanya tersenyum mengerti,


" Ya wes.. anak anak suruh tidur.. besok mereka sekolah.." ujar Yudi.


" Setelah itu kita tidur juga, masa Yoga saja yang menikmati malam pengantin..?" imbuh Yudi menggoda istrinya yang masih rebah di bahunya.


Yoga mengunci pintu rumahnya, menutup semua jendela dan tirai.


" Jam terima tamu sudah habis!" tegas Yoga bicara sendiri.


Ia berjalan ke arah kamar,


saat sudah tiba di dalam kamar, ia melihat Dinda sedang sibuk membuka kado dari saudara saudara dekat.


Yoga yang sedari tadi belum sempat mandi, tentu saja cepat cepat masuk ke kamar mandi.


Sepuluh menit kemudian Yoga keluar dari kamar mandi, ia hanya tertutup sebuah handuk, sementara tangannya sibuk menggosok rambutnya.


" Din??" Ia tidak menemukan Dinda di atas tempat tidur, padahal belum lama perempuan itu sibuk dengan tumpukan kado.


Tempat tidur itu sudah rapi dan Kado sudah menumpuk di atas sofa panjang sebelah tempat tidur.


" Kemana sih Din?!" Yoga keluar dari kamar, mencari istrinya.


Setelah ke kamar Bagas Yoga berjalan ke dapur, dan ternyata perempuan itu sedang di dapur.


" Cari apa?" tanya Yoga mendekati perempuan yang sedang membuka lemari es itu.


Langkah Yoga terhenti, di tatapnya Dinda dari atas ke bawah sembari menelan ludah.


Bisa bisanya..? atau memang sengaja..?


berkeliaran dengan baju tidur setipis itu? batin Yoga yang sudah merasakan dorongan aneh di dalam tubuhnya.


Yoga menekan pangkal hidungnya sembari tertunduk, di tahan perasaannya, ini dapur Yog.. dapur.., batinnya mengingatkan.


Ia tak ingin menjadi serakah meski ini malam pengantinnya.


" Kenapa berkeliaran keluar kamar dengan baju seperti itu? bagaimana kalau ada orang?" ujar Yoga.


" Kan tidak ada? si mbak sudah pulang tho?" jawab Dinda menuangkan susu ke dalam gelas dan meminumnya.


" Mau pah?" tanya Dinda menawarkan segelas susu dengan panggilan barunya pada Yoga.


Dinda yang menggunakan lingerie berwarna hitam itu menuang susu untuk suaminya.


Mata Yoga tentu saja bisa menembus ke dalam lingerie yang Dinda gunakan itu, saking tipis dan minimnya.


Tanpa banyak bicara Yoga menerima segelas susu itu dan meminumnya.


" Dasar.. tau suamimu tidak sabaran.. malah menantang.." ujar Yoga setengan mengeluh, lalu menjauhkan gelas susu itu.

__ADS_1


Ia mendekat, di peluknya Dinda dari belakang.


Dinda yang awalnya tenang tenang saja kini sudah mulai gelisah, ada dorongan yang kuat untuk menerima sentuhan Yoga dengan pasrah.


Tangan Yoga yang semula di pinggang kini turun ke bawah, membelai paha istrinya.


Tubuh Dinda menggeletar, perasaan yang tak pernah ia rasakan saat ia bersama suaminya terdahulu merayapi tubuhnya.


Perasaan nyaman dan memabukkan.


Tangan itu naik, dari paha ke pinggul, menyibakkan lingerie yang memang hanya menutupi dada dan pangkal paha Dinda.


Dinda tiba tiba memberingsut, antara kaget dan geli,


ia memang niat menggoda Yoga dengan lingerie pemberian Kinan, tapi ia kaget melihat Yoga yang berubah lebih agresif dari sebelumnya,


bahkan ia lebih kaget pada dirinya yang dengan jujurnya menagih sentuhan sentuhan Yoga pada tubuhnya,


seperti tak pernah cukup, ia ingin lagi dan lagi.


" Kita ke kamar.." ujar Dinda menahan tangan Yoga, ia tak ingin di nilai liar dan tidak beretika.


" Tidak ada orang dirumah.. dimanapun boleh.." bisik Yoga dengan suara berat menjelajahi bahu dan punggung istrinya yang terbuka.


Tali tipis yang melingkar di bahu Dinda tentu saja tak bisa mencegah tangan Yoga yang kesana kemari mencari.


Sengaja di jatuhkan tali itu melewati kedua lengan Dinda dan terus turun sampai pinggul.


Saat kedua wajah itu berhadapan, tanpa di minta bibir keduanya saling bertaut, memberi dan menerima, juga saling mencari.


Yoga melingkarkan kedua tangan Dinda ke lehernya, lalu mengangkat tubuh istrinya dengan hati hati dan melingkarkan kedua paha Dinda ke pinggangnya.


Di gendong perempuan yang sudah pasrah total itu ke atas meja makan yang sudah di bersihkan si mbak tadi sore.


Dengan kondisi Yoga yang sekarang, kamar terasa begitu jauh dan akan membuang banyak waktu jika membawa istrinya kesana, bukankah dimanapun boleh, asal keduanya sama sama menginginkan?.


Di baringkan perempuan yang sudah menjadi istrinya itu di atas meja makan yang lebarnya sekitar dua meter dan panjangnya empat meter itu.


Darah Yoga rasanya berdesir lebih cepat setelah melihat sosok istrinya yang sintal dan hampir polos itu tergolek pasrah begitu saja di atas meja dan di hadapannya.


" Harusnya tadi kau diam di kamar sayang..??


aku sudah menahannya sejak pagi,


jadi jangan salahkan aku yang merebahkanmu di atas meja sekarang.." ujar Yoga dengan melepas handuknya dan membiarkannya jatuh ke lantai begitu saja.


" Sayangku.. istriku.." panggil Yoga lirih sembari menarik tubuh Dinda agar lebih rapat dengannya.


Suaranya terdengar sedikit bergetar dan parau,


itu menandakan bahwa laki laki itu sudah benar benar di ujung tanduk sekarang.

__ADS_1


__ADS_2