
" Kemasi barang barang kita, besok aku akan memberikan surat pengunduran diriku ke pabrik.." suara Yusuf tenang.
" Aku tidak mau pulang, tidak mau, kita disini saja, aku sudah bahagia meski hidup kita begini begini saja..?" Kaila tertunduk lesu.
" Tidak bisa, mas Damar sudah memperingati aku.. dan aku juga sudah sangat bersalah dengan membawamu hidup disini..
benar kata mas Damar,
semenjak menjadi istriku kau menyedihkan.." Yusuf membuang pandangannya keluar pintu, memandangi dedaunan di seberang jalan yang tertiup angin.
" Ini perjuangan kita, aku tidak merasa hidup menyedihkan?,
memang jika di bandingkan dengan kehidupan lamaku ini terasa begitu jauh..
tapi kau mengajariku bersyukur, hidup disini mengajariku banyak hal..
banyak yang lebih tidak beruntung dari kita..
yang bahkan untuk makan saja sulit..
lalu kenapa aku harus merasa hidupku menyedihkan bersamamu??"
Kaila menarik lengan Yusuf,
" Kalau kita kembali ke malang, ibu akan terus memaksaku meninggalkanmu..
aku tidak mau mendengar hal hal semacam itu lagi?!" tegas Kaila lalu membenamkan kepalanya di dada suaminya.
Yusuf terdiam, raut wajahnya bimbang..
" Kita sudah mengecewakan mas Damar..
rasanya aku tak sanggup mengecewakannya lagi.." suara Yusuf pelan sembari mengelus kepala istrinya.
" Kita bertekad hidup sedehana demi mengumpulkan dana pendidikanmu, tapi mas Damar menyalah artikan kesederhaan kita sebagai ketidak mampuan..
harusnya aku tidak memberimu ijin untuk berjualan, karena sejak sibuk berjualan kondisimu tidak fit dan sakit sakitan..
ini semua adalah salahku..
__ADS_1
sebagai suami harusnya aku mampu mencukupi segalanya dan tidak membuatmu menderita dengan membantuku menghasilkan uang.."
" tidak.. aku tidak akan pulang, aku tidak mau.. ibu selalu mengangguku, selalu..
setiap kau bekerja, dia selalu datang kerumah dan merecoki aku..
kita sudah tenang disini, dengarkan aku mas.. dengarkan aku??" pinta Kaila dengan mata berkaca kaca.
Yusuf tak menjawab, di peluk istrinya.
" Kita sudah nyaman hidup disini, tak perlu memerdulikan siapapun, tak perduli apa yang kita makan dan apa yang kita pakai..
tak ada yang berkomentar..
sedangkan.. saat hidup di malang, aku tidak pernah sesantai ini, aku harus memperhatikan baju yang kukenakan setiap keluar, hanya karena ' pasti di perhatikan orang',
aku bisa jadi diriku sendiri disini.. begitu juga dirimu..
tidakkah kita sudah berada di tempat yang tepat??"
" Benar.." Yusuf mengangguk,
dia terluka melihatmu seperti ini.. wajar saja..
mungkin jika aku seorang kakak, aku juga tidak akan tenang..
kita ambil jalan tengahnya saja..
kita pulang sementara.. satu minggu saja, kita berbincang dari hati ke hati dengan mas Damar.. bagaimana??" tanya Yusuf pada istrinya.
" Jangan terlalu berprasangka buruk pada suamimu.." ujar Kinan sembari memperbaiki kuncir kuda mini milik Gendhis.
" Sudah.. main sama mas Bagas ya..?" Kinanti membiarkan Gendhis di tuntun oleh Bagas yang sudah kelas satu SD sekarang.
" Aku tidak berprasangka buruk sesungguhnya, tapi melihat sikapnya yang lembek itu, aku kesal sekali..
aku merasa dia tidak memandangku sebagai istrinya..?!" Dinda membuka suara.
" Jangan jangan dia masih menyimpan perasaan pada ibu kandung Bagas.." imbuh Dinda menggerutu.
__ADS_1
" Kau jangan melantur, kau tau jelas suamimu mencintaimu, laki laki semacam Yoga sampai sampai berkelahi demi dirimu, kau pikir seberapa berharga dirimu? bisa bisanya kau berpikir dia tidak memandangmu?" Kinanti memgomeli Dinda.
" Pagi pagi dia kesini, mencari mas Damar.. mungkin saking bingungnya suamimu itu.." jelas Kinanti.
" Aku tidak bisa tidak marah Nan, mantan istrinya itu benar benar membuatku sakit hati, dia berkata seolah olah ingin menjalin kedekatan dengan Bagas, padahal dia ingin mengambil Bagas dariku?! meski baru dua tahun aku hidup bersamanya, tapi aku tidak bisa, tidak bisa jika harus menyerahkan Bagas padanya.."
" Tidak semudah itu mengambil Bagas Din.." Kinanti menenangkan,
" akan mudah jika Yoga terus terusan lembek..!" nada Dinda meninggi.
" Dia sedang bingung, bukan lembek.. suamimu itu bukan tipe pemarah Din, dia pemikir.. bertemu denganmu saja dia menjadi impulsif..
kau ini sudah dua tahun menikah, harusnya lebih memahami Yoga?"
" Mana bisa aku faham melihat kelembekannya pada mantan istrinya itu?!"
" ah.. aku jadi penasaran.. seperti apa ibu kandung Bagas itu..?"
" tentu saja lebih cantik dariku Nan, anggun mewah putih bersih..! apalah aku yang sawo matang ini..!" sahut Dinda dengan nada masih kesal.
" Nampaknya ada bau kecemburuan?"
" aku gila jika tidak cemburu, memangnya kalau kau jadi aku tidak cemburu??!"
" ahh.. aku tak mau membayangkan jadi dirimu..
seandainya mas Damar tidak tegas, mungkin aku bisa cemburu setiap waktu..
untung saja mas Damar selalu tegas dan menjaga jarak dengan siapapun.."
" Nahh.. itu yang ku bilang menjaga perasaan istri.. bersikap tegas dan menjaga jarak..!" sahut Dinda.
Kinanti menghela nafas,
" Repot juga.. karena dia ibu Bagas.. mungkin itu yang membuat Yoga bimbang..
ia tak ingin di nilai semena mena dengan bersikap tegas.." Kinanti berusaha mendingin kan hati Dinda yang di penuhi kekesalan pada Yoga itu.
" Sudahlah.. ayo Kita makan saja, nanti kita bicarakan lagi,
__ADS_1
kasihan anak anak.. sudah waktunya makan.." ajak Kinanti.