Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
" Mama sakit pa.."


__ADS_3

Sore ini hujan cukup deras, langit terlihat abu abu gelap.


Gendhis sedang terlelap di atas karpet tebal, tepat di depan TV.


" Nanti masuk angin? ku pindahkan ya?" Damar yang baru saja masuk khawatir,


" tadi sudah ku coba pindahkan, tapi rewel.. tidak mau.. jadinya ku selimuti saja.." jawab Kinanti berjalan dari dapur dengan segelas kopi panas dan sepiring pisang goreng hangat.


" Iya.. dia rewel beberapa hari ini, kenapa?" tanya Damar sambil duduk di samping putrinya.


" Cuacanya cukup dingin beberapa hari ini mas..


kabutnya juga lumayan tebal.." Kinanti meletakkan kopi dan pisang goreng di atas meja.


" Yang sering menggosok badannya dengan minyak kayu putih.. lalu beri susu sedikit lebih hangat dari biasanya.." Damar bangkit dan berpindah duduk disamping istrinya.


" Bagas disini kemarin?" tanya Damar sembari meminum kopinya.


" Iya dengan mamanya.."


" hemm.. apa kabar Adinda..?"


" Dia sedikit mengeluh tentang Yoga.. mantan istri Yoga berulah katanya.."


" Yah.. seperti itulah.." jawab Damar pelan, lalu mencuri pipi istrinya.


Keduanya saling beradu pandang dan tersenyum.


" Apa mas tidak bisa menengahi?" tanya Kinan kemudian,


" tidak mau.."


" kenapa?"


" Yoga harus mampu bertindak tegas.. dia kepala keluarga..


jika dia sanggup melewati ini, pernikahannya akan semakin kuat..


tapi jika dia tidak bisa menyelesaikan hal ringan semacam ini, aku takut dengan karakter Dinda yang keras.. dia tak akan sanggup mempertahankan rumah tangga nantinya.."


" kenapa mas bicara seperti itu, bukannya harus berbicara yang baik baik??"


" yah.. aku juga berharap yang terbaik, tapi kau kan bertanya padaku sayang.. dan memang begitu pandanganku..


Dinda itu wanita mandiri..


yang sanggup hidup tanpa laki laki jika ia mau.."


" dia juga mencintai Yoga mas.. tidak mungkin dia mau menikah jika tanpa landasan cinta??"


" Iya.. cinta pastinya..


tapi Dinda tak sepertimu sayang,


trauma membuatnya sulit untuk bertahan dalam kesakitan sekecil apapun itu..


sebesar apapun cintanya pada Yoga, jika Yoga menyakitinya sedikit saja..


sudah pasti Dinda akan menghilang dari sisi Yoga..


karena traumanya dulu di sebabkan oleh sikap seorang suami yang menurutnya tidak benar..


jadi pemikirannya pasti rentan perihal itu..


dia sudah pasti menerima Yoga karena sosok Yoga berbeda jauh dari mantan suaminya..


tapi ketika suatu saat nanti Yoga bersikap sama.. sedikit saja.. hanya sedikit, tak perlu banyak..


maka hal kecil itu akan mengguncang hatinya..

__ADS_1


yang menurut kita kecil.. bisa jadi besar untuk Dinda..


jadi, jangan sekali kali membuat sama.. tentang apa yang di pikirkan orang yang menanggung trauma dan tidak.." Damar mengambil satu pisang goreng dan mulai mengunyahnya,


sedangkan Kinanti termenung sejenak.. ia terlihat memikirkan kata kata suaminya.


" Dinda tidak mungkin begitu mudah menyerah.. " ucap Kinan kemudian lirih,


" tentu saja ia tak ingin begitu.. tapi trauma sulit di lawan jika pasangan kita tidak mendukung.. sekarang tinggal Yoga saja.. bisa memahami Dinda atau tidak.."


" Nasehatilah Yoga mas??"


" ah.. sampai kapan.. dia bukan orang bodoh.. dokter pula.. dia dulu juga membantu pengobatanku.. jadi seharusnya ia sudah bisa memahami istrinya setelah dua tahun ini.."


" tapi tidak semua dokter bisa menyembuhkan penyakitnya sendiri mas??


sejak dulu mereka juga ribut terus.. mereka menikah seperti ini saja aku sesungguhnya heran.."


Damar tersenyum mendengar kata kata istrinya.


" Kau dulu juga suka ribut denganku kan.. bahkan menolakku berkali kali.. tapi ketika ku cium, mau tuhh.." Damar memandangi istrinya lekat.


" Apa sih...?!!" wajah Kinanti memerah,


" aku di cium paksa kan?" imbuhnya mengelak,


" iya.. awalanya di paksa.. tapi lama lama mau juga, coba kalau tidak ku paksa..?"


Damar merangkul istrinya gemas,


" bertengkar setiap hari, kalau jodoh ya tidak akan kemana.. jadi sebuah pertengkaran bukanlah sebuah jaminan ketidak cocokan..


karena pertengkaran sering kali di gunakan untuk menyembunyikan rasa kagum bahkan rasa suka..


contohnya kau sendiri bukan.."


" idihhh..?!"


" mas terlalu pede ya...?!"


" bukankan itu kenyataan.. kenapa kau masih mau mengelak, sedangkan sudah ada Gendhis sebagai buktinya.." Damar melempar senyum hangat, lalu perlahan memindahkan Kinanti ke pangkuannya.


" Disini ya?" tanya Damar dengan sorot mata yang mulai di penuhi hasrat pada istrinya, tangannya mulai menyentuh dimana mana.


" Jangan, nanti gendhis bangun?! nanti malam saja..?" Kinanti reflek mengintip putrinya.


" Mumpung hujan.." bisik Damar sembari mengecup bahu istrinya.


Dinda baru saja pulang dari toko, kebetulan hari ini ia pulang cukup malam karena ada barang barang yang baru saja datang dari bandung dan harus ia periksa sendiri.


Raut wajahnya terlihat lelah dan sedikit pucat.


" Mama sakit pa.." Bagas mendekati papanya yang sedang duduk di ruang tamu sendirian.


" Sakit?"


" di toko tadi mama lesu pah, badan mama juga panas.."


" Bagas tau badan mama panas dari mana?" Yoga bertanya serius pada putranya,


" Bagas tau karena mama mengandeng Bagas saat masuk ke dalam rumah tadi pa..


papa periksa mama ya?" wajah Bagas terlihat cemas.


" Bagas kasihan mama pa..?" imbuh anak itu lagi,


Yoga mengangguk,


" jangan khawatir.. biar papa periksa mama ya.. sekarang Bagas bersihkan diri diri dan segera tidur.. besok sekolah.." ,

__ADS_1


Bagas mengangguk dan berjalan pergi meninggalkan papanya yang masih duduk di ruang tamu.


Namun tak menunggu lama, Yoga bangkit, ia berjalan masuk ke dalam kamar.


Di perhatikannya tubuh istrinya itu yang terbaring setengah meringkuk.


Tanpa bertanya Yoga duduk disamping Dinda yang rupanya sudah terlelap.


Wajahnya memang terlihat berbeda.. tampak pucat,


di sentuh kening istrinya, lumayan panas ternyata..


jadi benar apa yang di katakan Bagas.


" Din.. sayang..?" panggil Yoga hati hati sembari menyentuh punggung tangan kanan Dinda.


Perempuan itu membuka matanya perlahan,


mata yang memerah, wajah yang pucat.


" Apa yang kau rasakan sekarang?" tanya Yoga masih hati hati, karena ia tau..


perasaan istrinya itu belum membaik.


" katakan apa yang kau rasakan?" tanya Yoga kembali.


" Kepalaku terasa berat.." jawab Dinda lirih, lalu menutup matanya kembali.


Mendengar itu Yoga langsung bangkit, ia berjalan menuju kamar kerjanya, dimana peralatan kesehatan dan obat obatan tersimpan rapi.


Setelah menyuapi istrinya sedikit nasi, dan memberikan obat, Yoga mengambil minyak kayu putih, dan memijit kaki istrinya itu dengan hati hati.


Dinda yang sudah sedari tadi kembali tidur mengeluh pelan dan membalikkan tubuhnya.


" Tidurlah, kau juga pasti lelah pulang dari klinik, tidak usah memijit kakiku.." suara Dinda lirih.


" Tak apa.. kau pasti lebih lelah dariku..


tidurlah kembali.." sahut Yoga, raut laki laki itu terlihat sedih, entah kenapa ia merasa kecewa pada dirinya sendiri, Dinda yang jarang sekali sakit.. sekali sakit tak pernah mengeluh.


Yoga tau, sebelum keduanya menikah Dinda adalah perempuan yang cukup mandiri dan jarang mengeluh.


Dan sekarangpun, setelah ia bersuami.. dia masih jarang mengeluh.. bahkan lebih suka mengerjakan ini itu sendiri..


terkadang hal itu membuat Yoga merasa kurang di butuhkan sebagai seorang suami.


Yoga memindahkan tangannya ke jemari kaki Dinda, menekannya perlahan lahan.


Sesekali Dinda menarik kakinya karena geli, namun Yoga meraih kaki jenjang itu kembali dan melanjutkan pijitannya.


Terdengar beberapa kali Yoga menghela nafas, bohong kalau dia tidak menyadari apa yang di resahkan istrinya..


ia tau benar.. Bahwa Vania selalu berkata manis dan melempar pandangan hangat padanya, bahkan di depan mata Dinda,


tapi Yoga tak bisa berbuat banyak tentang itu, karena alasan terbesar Vania adalah Bagas, bukan dirinya, rasanya kurang bijaksana jika Yoga bersikap kasar,


Yoga merasa.. asal dirinya tak mengubris semua akan baik baik saja..


toh Vania juga bukan seorang janda, mantan istrinya itu sudah lama menikah lagi, bahkan sebelum usia Bagas setahun.


Entah kemarahan Dinda berhubungan dengan rasa cemburu, atau rasa takut akan kehilangan Bagas..


yang jelas Yoga sadar.. bahwa ada rasa tak terima yang bergejolak di hati Dinda.


Lagi lagi Yoga menghela nafas..


gerakan tangannya terhenti,


di pandanginya wajah pucat yang sudah lelap karena efek obat itu.

__ADS_1


" Bagaimana harus ku jelaskan padamu.. bahwa kau dan Bagas adalah segalanya bagiku.." ucap Yoga lirih.


__ADS_2