Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
Damar kemana


__ADS_3

Damar berjalan naik ke arah tanjakan cinta yang sudah terkenal diantara para pendaki itu.


Ia hanya ingin duduk dan menikmati kilauan Ranu gumbolo dari atas sejenak.


Namun tak disangka Dedy mengikutinya tak lama setelah Damar duduk di atas rerumputan.


Dedy melempar sebungkus kacang kepangkuan Damar.


" Kau masih seperti dulu, awet muda dan gagah.." ujar Dedy duduk disamping Damar.


" Kau juga.." sahut Damar ringan,


" ah.. yang benar?! Rian saja tidak bicara begitu..?!" Dedy menepuk punggung Damar sembari tertawa.


" Bagaimana kabarmu? lama kita tidak bicara berdua seperti ini?"


Damar tersenyum sekilas,


" seperti yang kau lihat.. aku tidak sekuat dulu.." jawab Damar sembari membuka bungkus kacang.


" Ah.. apalagi aku.. kau lihat perutku sekarang.. rambutku juga sudah mulai di tumbuhi uban.."


Damar tersenyum mendengarnya,


" Berapa usia putrimu?" tanya Damar,


" 6 tahun.. yang satu baru 3 tahun.."


" Wah.. senangnya.. apa mereka tidak masalah kau tinggalkan selama ini?"


" tentu saja masalah.. apalagi ibunya, aku harus mendengarnya mengomel selama seminggu penuh, baru keluarlah ijin mendaki.." Dedy yang sejak dulu humoris dan sederhana tertawa kembali.


" Kau menetap di Sumba sekarang?"


" yah.. sudah 5 tahun aku disana.."


" Bagaimana disana? kau betah?"


" dimanapun anak dan istriku berada.. aku akan selalu betah.."


Damar tersenyum,


" Aku sengaja mengambil cuti tahunanku.. demi untuk melihat wajah wajah kalian yang sudah mulai menua..


bagaimana denganmu?" tanya Dedy balik.


" Apanya?"


" kudengar Kau menjadi seorang boss.."


" ah.. boss apa.. itu hanya usaha kecil yang ku kelola.."


" eh.. setidaknya kau seorang boss.. berbeda denganku yang harus menunggu gaji satu bulan sekali..?"


" sama saja.. buktinya aku juga masih harus mengajar kan?"


" Ah.. kata Rian kau bekerja bukan karena kekurangan uang, tapi karena kau senang mengajar.."


Damar tersenyum,


" sok tau Rian itu.. jangan dengarkan.."


Damar mulai mengunyah kacangnya.


" Kau sudah ada momongan?" tanya Dedy hati hati,


" belum.. aku belum ada setahun menikah.."


" yang benar??" Dedy tak percaya,

__ADS_1


" ku dengar istrimu adalah adik Aji? apa benar?" Dedy masih berhati hati dengan pertanyaan pertanyaannya.


Damar mengangguk, dan susana tiba tiba hening sejenak.


" Kau bahagia?" tanya Dedy setelah lama terdiam.


Angin tiba tiba berhembus sedikit kencang menampar pipi mereka, ilalang di samping merekapun juga ikut terbawa angin kesana kemari, menari nari tanpa perduli perasaan Damar.


" Tentu saja.. aku mencintainya.." ucap Damar dengan mata lurus menatap ranu gumbolo.


" Kalau begitu semua baik baik saja.. syukurlah.." ujar Dedy tersenyum.


" Yah.." jawab Damar dengan suara lirih.


" Ada keresahan yang membebanimu.. karena itu aku bertanya apakah semuanya baik baik saja.." Dedy menatap Damar serius.


" sejak dulu.. kau sangat peka.. dan ternyata itu tidak berubah.."


Damar tersenyum sembari menatap Dedy.


" Kita pernah susah payah bersama.. andaikan aku tidak berpindah dinas kesana kemari..


aku pasti akan sering menjengukmu..


maafkan aku.." ujar Dedy merangkul punggung Damar sebentar.


" Kau tau.. sejak dulu kau selalu menyimpan permasalahanmu sendiri..


kau giat membantu orang lain dengan kesulitannya..


tapi saat kau sulit, kau bahkan tidak mengijinkan seorang pun ikut bersusah payah denganmu..


berusahalah sedikit lebih terbuka..


karena tidak semua orang mampu memahami perasaanmu.." imbuh Dedy.


Damar mengangguk,


" Apa kau mengikuti reuni ini untuk lari dari masalahmu?"


Damar tercekat, bagaimana Dedy bisa tau?


bahkan Rian pun tidak mungkin tau..? pikir Damar.


" Itu hanya tebakanku? aku melihatnya dari sikapmu.. dan..


ternyata itu benarkan?"


Damar membuang pandangannya pada rerumputan.


" Apa masalahmu saudaraku.. mari kita pecahkan bersama sama.." tanya Dedy sembari menaruh tangannya di bahu Damar.


Kinanti yang sudah frustasi mengajukan permintaan mengundurkan dirinya ke kepala sekolah.


Ia tak bisa bertahan, semakin lama Damar tidak pulang,


gosip akan menyebar kemana mana.


Ia tak sanggup menjadi bahan pembicaraan,


ia juga tak akan sanggup menjawab jika ada yang bertanya.


Meski semua keluarga sudah menutup permasalahan ini dengan baik, namun ketidak hadiran Damar setiap hari bisa menimbulkan tanya tanya bagi banyak.


sehari.. dua hari, dia tetap menunggu, berpikiran bahwa suaminya hanya sedang melampiaskan emosinya saja, dan setelahnya pasti akan segera pulang.


Namun sudah dua minggu, bahkan lebih..


kampuspun sedang libur semester, dimana Kinanti akan mencarinya.

__ADS_1


" Damar iki nangdi (kemana) tho nduk??" suara mbah Uti berjalan masuk di tuntun oleh Winda.


" Damar keluar kota mbah.. kerja.." jawab Winda sembari mengerjap kerjapkan matanya kearah Kinanti.


" Ngapusi..! biasae pamit..!" sembur si mbah pada Winda.


Dan sesampainya si mbah di ruang tamu Kinanti, si mbah duduk.


" Sakjane bojomu nangdi nduk?( sebenarnya suamimu kemana?) ngomongo.. mbah iki kangen.. (mbah ini rindu..)"


tanyanya langsung pada Kinanti yang terlihat lebih kurus dan lesu.


" Lho lho..?!" Si mbah terkejut melihat perubahan yang ada pada diri Kinanti.


" Winda! nangdi adikmu?! jawab seng jujur!" Winda yang duduk disamping mbah langsung menghela nafas.


" Keluar kota mbah.. wes di kandani kok (sudah di beritau kok).. besok lusa juga pulang.. mbah iki kok ngeyel di kandani putunee..( mbah ini kok ngotot di beritau cucunya..)" ganti Winda yang mengoceh.


" Lha iki Kinanti opo o..? ( lha ini kinanti kenapa..?) loro ( sakit ) tho nduk??" tanya si mbah khawatir.


" Mboten mbah.. ( tidak mbah..) baru bangun tidur saja.. jadi kelihatan lesu.." Kinanti mencoba tersenyum.


Bagaimana tidak lesu, ia di tinggalkan begitu saja oleh suaminya yang sedang dalam kondisi marah dan kecewa terhadapnya.


Jangankan tidur.. makanpun tidak selera.


Karena saat terakhir sebelum pergi Damar sempat mengusir entah Yoga entah Kinanti.


Jadi Kinanti selalu berpikir bahwa mungkin saja suaminya tidak mau pulang lagi karena ada dirinya di rumah.


Logikanya, meskipun ini semua kesalahpahaman, tidak ada satu suamipun yang akan sudi hidup satu atap dengan istri yang sudah mengkhianatinya dengan saudaranya sendiri.


Damar pasti muak melihat wajahnya.


Apakah memang harus pergi, baru Damar pulang.


Dan apakan setelah pulang segalanya akan membaik?


atau justru perceraian yang akan terjadi.


Kinanti lemas, ia benar benar lemas membayangkan itu.


" Hukk..!" Kinanti tiba tiba bangkit dari kursi sembari menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


" Nduk??" panggil si mbah dan Winda bersamaan,


namun tak di hiraukan, Kinanti buru buru berjalan pergi ke arah kamar mandi.


" Lho yo?! adikmu iku loro nda?! ( lho kan?! adikmu itu sakit nda?!)" ujar si mbah setengah marah pada Winda.


" Mau jalur mana mas?" tanya laki laki yang sudah biasa menemani para pendaki pemula itu menunjukkan maps.


" Sepertinya paling dekat jalur tumpang ya?" tanya Yoga mengamati.


" mau probolinggo monggo, tumpang monggo.."


Yoga terdiam sejenak,


" Tumpang saja.. apa bisa kita berangkat malam ini?" tanya Yoga dengan antusias yang tinggi, ia ingin berangkat secepat mungkin.


" Kita berangkat subuh saja mas, jam 3 atau jam 4 pagi, jadi kita bisa tiba di ranu pane sebelum siang.."


" Ya sudah.. aku ikut saja.. lalu dimana aku bisa menyewa peralatan atau kebutuhan untuk mendaki?"


" Mas belum pernah naik sama sekali?"


Yoga menggeleng,


" Aku tidak pernah naik gunung sekalipun dalam hidupku, karena itu aku membutuhkan bantuan" jelas Yoga dengan raut sangat serius.

__ADS_1


__ADS_2