Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
aku tidak mau


__ADS_3

" Tidurlah di rumah Yoga, manjakan Bagas sebisamu.." kata Damar sebelum Bagas mengajak Dinda pulang.


" Mama.." suara Bagas lemah, matanya sudah setengah tertutup.


" Iya nak.." jawab Dinda sembari membenarkan letak selimut Bagas.


" Mama tidak pergi lagi?"


Dinda terdiam, bocah ini benar benar membuat hatinya tak karu karuan.


" Mama temani Bagas tidur, tidak kemana mana ya?" Dinda mengelus kapala Bagas lembut.


" Bagas suka punya mama.." ucapnya lalu benar benar tertidur disamping Dinda.


Dinda mengubah posisi tubuhnya, membaringkan dirinya dengan nyaman disisi Bagas.


Bagaimana bisa.. keluhnya dalam hati, dia terjebak dalam situasi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.


Yoga laki laki yang sempurna untuk di jadikan suami..


tapi terkadang.. terlalu sempurna justru banyak menghasilkan sakit hati.


Ia tak mau lagi kecewa, tak mau lagi menahan beban batin karena masalah rumah tangga.


Bohong jika dirinya tidak tertarik pada Yoga, tapi rasa tertarik tidak cukup sebagai landasan dalam rumah tangga.


Dirinya tak mempunyai kepercayaan, terhadap dirinya sendiri maupun Yoga.


Terjal rasanya jalan yang harus ia lalui jika mengandalkan cinta.


Meskipun di bandung ia dekat dengan Alvian, ia tak pernah berpikir untuk menikahi Alvian,


terlalu banyak pertimbangan, terlalu banyak ketakutan.


Ia bukan lagi perempuan muda, ia juga cukup mendapatkan kenangan pahit dalam rumah tangganya.


Lukanya terlalu besar.. Ia tak yakin Yoga mampu menutup luka itu.


Di sentuh perutnya.. dan kenangan buruk mulai merayapinya, harusnya dia sudah menjadi ibu sekarang, dan mempunyai dua orang anak..


Dinda menghela nafas berat berkali kali, sembari menatap langit langit kamar Bagas.


Ia tak pernah benar benar memeriksakan dirinya, tapi keguguran sebanyak dua kali benar benar membuatnya trauma.


Rasanya sulit membayangkan untuk berumah tangga dan hamil kembali.


Menakutkan.. itu saja yang berputar putar di kepala Dinda.


Entah berapa lama Dinda berpikir, hingga akhirnya ia terpejam dan tertidur lelap,


hingga tak sadar Yoga datang.


Laki laki itu senang sekali saat mengintip Dinda tidur disamping putranya, ia sudah berpikir kalau Dinda akan melarikan diri kerumah Kinanti.


Diam diam dirinya bersyukur karena Bagas tiba tiba saja datang padanya tadi siang, jika tidak.. tidak akan ada alasan untuk membuatnya menetap dirumah ini.


Yoga menutup Pintu itu kembali, dan masuk ke kamarnya sendiri.


Di bersihkan dirinya, lalu mengganti pakaiannya dengan piyama seperti biasanya.


Setelah meneguk segelas air hangat di dapur, Yoga kembali membuka pintu kamar Bagas.


Ia mendekat dan berbaring disamping Dinda.


Di lingkarkan tangannya ke perut Dinda hingga Dinda terbangun.


Dinda yang terkejut tak mengatakan apapun, karena takut membangunkan Bagas.


Yang ia lakukan hanya memelototi Yoga hingga bola matanya hampir keluar.


Namun Yoga sudah kebal.. ia malah tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke kepala Dinda, bermain main dengan rambut Dinda.


" Aku capek.. pasienku hari ini banyak.. bisakah kita tidak ribut malam ini?"


bisik Yoga membuat telinga Dinda panas.


" Pergi ke kamarmu, atau aku akan membuatmu menyesal.." suara Dinda tak kalah kecilnya.


" Aduh.. mama Bagas, teganya.. aku hanya ingin tidur nyenyak sembari memelukmu malam ini.." balas Yoga.

__ADS_1


" Kau mau aku menjambakmu? seperti yang di lakukan Kinanti tadi pagi?" ancam Dinda.


Yoga tersenyum lagi, kali ini tangannya beralih ke wajah Dinda.


" Cup.. cup.." dua kecupan mendarat di pipi Dinda.


" Tidak usah marah marah.. dengarkan aku..


sejak muda kita adalah musuh yang seimbang ketika ribut, jadi bayangkan sekarang.. kira kira siapa yang menang jika kita melakukan itu..?


aku seorang dokter sayang.. aku rajin berolah raga..


tubuhku juga cukup bugar,


aku tidak berniat sombong.. tapi jika kau terus menolak, aku sanggup membuktikannya.." Yoga menarik tangan Dinda, dan memasukkannya ke dalam bajunya, membiarkan perempuan itu menyentuh otot perutnya.


Dinda segera menarik tangannya dan berbalik ke arah Yoga dengan marah.


Di tatapnya laki laki itu tajam.


" Sekarang kita impas.. kau sudah merabaku.." Yoga mendekatkan wajahnya, seperti biasa, ia berniat mencuri lagi bibir Dinda.


Namun kali ini Dinda tidak diam saja, Di gigitnya bibir Yoga ketika sudah menyentuh bibirnya.


Laki laki itu hanya meringis tanpa berani mengaduh.


Ia tak mengeluarkan suara sedikitpun, hingga tak sanggup lagi ia menahan gigitan Dinda, di dorongnya tubuh Dinda dan di tindihnya perempuan itu hingga gigitan Dinda terlepas.


" Kau suka punya suami yang bibir bawahnya hanya setengah?" ujar Yoga sembari menahan sakit, dapat ia rasakan rasa asin darah yang mengalir.


" Padahal aku hany mau tidur.. tapi kau maunya terus bertarung.." imbuh Yoga.


" Aku juga mau tidur, tapi kau selalu mengusikku" jawab Dinda masih dengan tatapan kesal.


" Kau harus membiasakan diri, ketika jadi istriku nanti, aku akan mengusikmu setiap malam." tegas Yoga membuat Dinda semakin terbelalak.


Di dorongnya dada laki laki itu agar menyingkir dari atas tubuhnya.


" Coba saja kalau bisa.." ejek Yoga,


" Aku benar benar akan menjambakmu,"


keduanya beradu pandang, yang satu penuh semangat, yang satu frustasi.


" Kau tidak memandang putramu?"


" Kalau begitu kita pindah ke kamarku.." jawab Yoga cepat.


Semakin gila saja laki laki ini! batin Dinda.


" Aku tidak mau"


" tapi aku mau,"


" gila"


" ya aku tergila gila padamu.."


" dasar mesum!" Dinda tak sanggup menahan emosinya,


" Aku mesum pada calon istriku,"


" Aku tidak setuju!"


" aku memaksamu."


Suasana Hening seketika, habis sudah kata kata, keduanya diam, hanya terdengar nafas yang saling berkejaran dari keduanya.


" Mama.." tiba tiba saja terdengar suara Bagas mengigau di keheningan yang sementara itu.


Yoga buru buru bangkit dan melepaskan Dinda.


Tidak lucu jika putranya tiba tiba terbangun dan melihatnya sedang dalam posisi yang seperti itu.


Dinda yang menyadari dirinya bebas berjalan secepat Kilat keluar dari kamar.


Sudah pasti Yoga mengejar langkahnya,


" Jangan terus mendebatku?" ujar Yoga pada perempuan yang duduk terdiam di ruang tamu itu.

__ADS_1


" Kau juga jangan terus memaksaku" balas Dinda.


" Sejak dulu kita adalah musuh yang tidak pernah cocok, kita berdebat setiap kita bertemu,


jadi bayangkan saja jika aku menjadi istrimu? apa kau kira kita tidak akan ribut setiap hari?" kata Dinda dengan keyakinan tinggi.


" Dulu dan sekarang berbeda.." jawab Yoga tak kalah.


" apanya?!"


" jika dulu kau berdebat karena tidak menyukaiku, maka sekarang kau berdebat karena ingin menyembunyikan rasa sukamu.."


Deg..


Dinda membisu, ia merasa tertangkap, apakah raut wajahnya sejelas itu?.


" Kau merasa dirimu sempurna ya? sehingga siapapun tidak boleh menolakmu?" bukan Dinda jika tidak mengelak.


Yoga berdiri di hadapan perempuan itu, menatapnya baik baik dan berkata,


" Yang jelas.. aku tidak mungkin melepaskanmu, putraku terlanjur menyukaimu,"


" Itu salahmu sendiri?! kau seenaknya memperkenalkan aku sebagai ibunya?!" tukas Dinda.


" Lalu siapa yang mau kuperkenalkan? sedangkan dimataku yang terlihat hanya dirimu?!"


Dinda lagi lagi diam, hatinya tak karu karuan, seperti perahu yang terombang ambing di lautan, tak tentu akan kemana.


" Tidak bisa.." keluhnya pelan.


" Banyak hal yang membuatku tidak bisa.." suara Dinda tiba tiba lemah.


" Carilah seorang gadis, yang masih polos dan bersih..


di diriku terlaku banyak luka, kau takkan sanggup membayangkannya.." imbuhnya.


Mendengar itu Yoga terlihat berpikir cukup lama,


Kemudian terdengar helaan nafas Yoga yang berat, dengan hati hati dan perlahan Yoga duduk di samping Dinda.


" Aku menerimamu apa adanya.. bukankan sudah kutegaskan?" suara Yoga lembut.


Namun Dinda masih saja menggelengkan kepalanya dengan lemah, ia menolak.


" Aku tidak berani..


aku sungguh sungguh tidak berani.." suaranya bergetar menahan air matanya agar tidak tumpah.


" Aku simpati pada putramu..


tapi aku tidak sanggup untuk menjadi ibunya.. aku tidak sanggup.." Dinda menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, tak ingin Yoga melihat kelemahannya.


" Kumohon.. aku bukan perempuan sempurna, aku tidak bisa membahagiakanmu.. jadi tolong..


lepaskan aku Yoga,


lepaskan aku..?" pinta Dinda mulai sesegukan.


Yoga tertunduk, berusaha memahami tiap kalimat Dinda, hingga akhirnya ia bekata,


" aku tidak pernah mengikatmu, kenapa kau memintaku melepasmu??


kecuali..


kau sendiri yang sudah mengikat dirimu padaku, tanpa kau sadari.." ujar Yoga merengkuh perempuan itu, memaksa perempuan itu agar bersandar padanya.


" Kau perempuan baik baik, aku mengenalmu sejak gadis,


hal buruk yang menimpamu tidak merubah penilaianku padamu..


justru aku semakin kagum dan sayang padamu..


jadi, berhentilah menolakku.." suara Yoga penuh keyakinan bahwa dirinya benar benar bisa di andalkan.


" Tidak.. aku tidak mau mengikat diriku pada seorang laki laki lagi..


aku tidak mau.." Dinda masih saja seperti itu, ia seperti sedang bertarung dengan batinnya sendiri.


Namun Yoga tetap tidak melepaskan pelukannya.

__ADS_1


Semakin deras tangis Dinda, semakin erat pula pelukan Yoga.


__ADS_2