Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
masih takut


__ADS_3

Yoga membuka pintu rumah,


" Terimakasih.." ucap Dinda berjalan masuk, melewati Yoga begitu saja.


Yoga tak berkomentar, hanya menatap perempuan itu dari belakang.


" Bagas?" tanya Dinda saat melihat kamar Bagas kosong.


" Masih ingat Bagas?" tanya Yoga yang sedang duduk di sofa tengah.


" Bagas dimana?" tanya Dinda tak menggubris pertanyaan Yoga.


" Tidur di kamarku, dia mencarimu terus, jadi kupindahkan ke kamarku." jawab Yoga datar.


Dinda berjalan kekamar Yoga, setelah membuka pintu ia memang menemukan Bagas.


" Aku tidur di kamar Bagas saja.." Dinda menutup pintu dan berjalan kembali ke kamar Bagas.


Dinda duduk disamping tempat tidur ketika dia sudah mengganti bajunya.


Ada yang aneh.. pikirnya,


Yoga diam saja, bahkan sangat tenang, ia tak mengajaknya berdebat seperti biasanya.


Ini benar benar di luar dugaan, ia sengaja pulang jam sebelas malam untuk memancing emosi Yoga, namun bukannya marah, laki laki itu malah duduk tenang dan biasa saja.


Dinda yang sudah lelah karena tadi cukup lama berputar putar dengan Yusuf dan berjalan jalan disekitaran kota, membaringkan dirinya di atas tempat tidur Bagas.


Bau parfum rambut dan minyak kayu putih melekat di bantal, segar sekali..


ia bukan lagi bayi, tapi baunya masih menggemaskan.


Dinda memejamkan matanya, berniat lekas tidur.


Tapi ia merasakan seseorang duduk di sampingnya.


" Bagaimana makan malamnya dengan mantan?" suara Yoga membuat Dinda langsung membuka matanya lebar lebar, bagaimana Yoga bisa tau Yusuf adalah mantannya, batin Dinda.


Tapi sudahlah...biarkan saja, justru itu lebih baikkan?.


" Aku lelah.. biarkan aku tidur." Dinda berbalik, tak berniat menjawab.


Tak terdengar suara Yoga menjawab, tapi dirasakannya seseorang sedang berbaring disampingnya.


" Tidurlah di kamarku dengan Bagas, biar aku tidur disini.." suara Yoga lirih sembari menutup mata.


Dinda terdiam sejenak, tapi tak lama ia bangun, di pandanginya laki laki yang sudah terbaring dan matanya terpejam itu, Dinda menemukan wajah yang begitu tenang, tak seperti biasanya.


Ah.. sudahlah.. bukankan baik kalau dia tenang dan tidak menyerangku setiap ada kesempatan seperti kemarin kemarin?, Dinda meyakinkan dirinya sendiri bahwa itulah adalah hal yang patut ia syukuri.


Dengan langkah tenang ia menjauh dari tempat tidur, meninggalkan Yoga yang entah sudah tidur atau tidak.


Yoga keluar dari kamar, ia terlihat sudah rapi dan ganteng tentu saja.


" Papa berangkat ya ganteng.." pamit Yoga mendekat pada Bagas, lalu mencium kening putranya itu.


" Iya papa.." jawab Bagas tersenyum, mulutnya penuh makanan, karena Dinda memang sedang menyuapinya.


Setelah mencium Bagas Yoga berlalu begitu saja.


Dinda terdiam, sedikit kaget..


apa yang terjadi.. ia tak dapat kecupan di kening lagi?


selama tinggal disini, ia mendapatkan itu setiap pagi.


Yoga bahkan tak menatap Dinda dan pergi begitu saja.


Ada rasa tidak nyaman yang menjalari hati Dinda.


Sikap dingin dan acuh Yoga entah kenapa menimbulkan rasa sakit di hatinya.


" Mama?" suara Bagas yang meminta sesuap nasi lagi menyadarkan Dinda.


" Mama..?" panggil Yoga lagi,


" Mama dari mana? Bagas tunggu mama sampai Bagas capek.." tanya bocah itu dengan mengunyah makanannya.

__ADS_1


" Kata papa.. mama belanja.. lama sekali belanjanya..?!" wajah Bagas terlihat sebal.


" Iya.. mama belanja.." jawab Dinda sembari tersenyum,


" cepat habiskan makanannya, kita jalan jalan ya hari ini?"


" Jalan jalan?"


Dinda mengangguk, ia merasa bersalah.. karena itu ia ingin menyenangkan Bagas hari ini.


" iya mama?!" jawab anak itu terlihat gembira.


Hari sudah cukup sore, tapi Yoga memutuskan untuk tidak langsung pulang.


Ia memasuki sebuah pusat perbelanjaan dan setelah berputar putar, ia memutuskan untuk memasuki salah satu toko.


" Pak dokter ya?!" sapa seorang ibu ibu berusia sekitar 45 tahunan.


Tampilannya cantik dengan perhiasan penuh di pergelangan tangan kanan kirinya.


" Ini saya, bu Dea, saya tinggal di perumahan dekat klinik dokter..?"


Yoga tersenyum dan mengangguk, mencoba sesopan mungkin meski ia tak begitu ingat.


" Wah.. dokter mau cari hadiah buat istri ya?"


" Lihat lihat saja bu.." jawab Yoga kembali mengulas senyum.


" Saya rekomendasi disini dok.. barangnya cantik cantik.. tidak ketinggalan zaman pokoknya kalau kata anak anak muda sekarang.." bu Dea setengah berbisik.


" Oh.. begitu ya bu?"


" iya..! ya sudah.. saya sudah selesai belanjanya, dokter selamat belanja ya..!" perempuan setengah baya itu tersenyum sembari menepuk lengan Yoga, lalu berjalan keluar dari toko.


" Selamat sore.. ada yang bisa kami bantu pak..?" seorang pelayan toko menyambut Yoga.


" Mau cari kalung, cincin, atau anting pak?" tanya si pelayan ramah saat Yoga mulai melihat etalase etalase kaca yang penuh dengan perhiasan.


Dinda dan Bagas baru saja pulang dari jalan jalannya.


Mereka membawa beberapa oleh oleh untuk Kinanti.


" Sudahlah..?!" ujar Kinanti membuka kue yang di oleh olehkan oleh Bagas untuknya.


" Kau pulang jam berapa semalam?" tanya Kinanti penasaran.


" Jam sebelas.."


" edan?!" suara Kinanti keras di telinga Dinda.


" Kau tidak tau betapa pusingnya suamiku mengurusi adik adiknya setelah kalian berangkat?!" lanjut Kinanti.


" jangan lagi lagi begitu Din?! kau membuat Yoga dan Kaila bertengkar..?" wajah Kinanti masam.


" Karena aku?" tanya Dinda ringan,


" iyalah! tidak mungkin mereka tidak cemburu melihat orang orang yang mereka sukai pergi dengan orang lain?!"


" Ah.. kenapa kau jadi ikut ikutan sih.." keluh Dinda.


" Bukan ikut ikutan, tapi suamiku yang pusing karena harus selalu saja menasehati mereka,"


" memangnya Yoga anak kecil harus selalu di beri nasehat?"


" Yoga dan Mas Damar pada dasarnya dekat sekali, setiap dia bimbang akan sesuatu dia akan mencari mas Damar?"


Dinda tak menjawab, di rebahkan tubuhnya di sofa.


" Tau begini aku tidak akan pulang ke malang..


pusing kepalaku.. " keluhnya,


" sudahlah.. jangan kucing kucingan dengan Yoga.."


" kucing kucingan bagaimana?"


" kau seperti mau, tapi saat di kejar kau lari.."

__ADS_1


" Nan.." suara Dinda mulai serius,


" kau pernah di pukuli suamimu?" tanya Dinda,


" Jangan sampai Din?!"


" pernah di hina dan di rendahkan?"


" jangan sampai ku bilang ih!" Kinanti bahkan tak ingin mendengar kalimat kalimat yang Dikatakan Dinda.


" Kau tau kan aku sampai kehilangan anakku sampai dua kali..?"


" cukup?! aku tau.. hal mengerikan semacam itu jangan kau bahas lagi, hanya membuatmu sakit hati?!" tegas Kinanti.


" Bukan membahasnya lagi.. tapi orang orang menganggap hal yang ku alami bukan apa apa..


bohong kalau aku tidak ada rasa pada Yoga, apalagi sudah ada kontak fisik semacam itu..


tapi rasa sukaku terlalu kecil di bandingkan dengan rasa takutku.."


" lebih jelasnya apa yang paling kau takutkan?"


" Tentu saja di sia siakan lagi.." jawab Dinda terlihat pilu, tatapannya tak bersemangat dan redup.


" Aku ingin percaya pada Yoga.. tapi setiap dia menyentuhku ada kebimbangan di hatiku..


entah, apa karena dulu terlalu sering di kasari atau bagaimana..


aku sayang Bagas..


aku mengasihinya..


tapi ketakutanku akan membuat pernikahan kami tidak bahagia..


aku akan selalu was was dan tidak percaya..


Yoga itu tampan.."


" Kau juga cantik!" sambar Kinanti.


" Yoga juga laki laki yang berkecukupan dan mapan.."


" Kau juga mapan! kau bisa menghasilkan uang sendiri! jangan memandang rendah dirimu?! menyebalkan kau Din! selama kita berteman kau tidak pernah semenyebalkan ini?!" Kinanti benar benar kesal, Dinda bicara seolah dirinya perempuan yang tidak berguna yang tidak pantas di sandingkan dengan Yoga.


" Lihat dirimu?! wajahmu cantik, tubuhmu juga bagus, kau juga tinggi, berpendidikan, bisa mencari uang sendiri pula..!,


aku yang pendek ini bahkan tidak bisa di bandingkan dengan dirimu, jadi berhenti merendahkan dirimu?!" imbuh Kinanti masih dengan nada kesal.


" Suamimu mencintaimu Nan.. apa yang kau takutkan?" suara Dinda pelan,


" Yoga juga begitu padamu! apa yang kau takutkan?! buat saja perjanjian pranikah jika kau memang takut! jangan membuat rumit dirimu sendiri?!"


" ah.. kau ini.. semua tampak mudah mudah saja bagimu.."


" asal kau tau, dulu aku juga begitu..! gara gara pengkhianatan Yoga aku juga menolak mas Damar berkali kali dengan dalih takut,


tapi kenyataannya semua berjalan dengan baik..


dalam rumah tangga sudah pasti ada masalah, tapi selama dia tidak berselingkuh dan memukulmu kupikir itu bisa di terima?!"


Dinda terlihat berpikir, ia diam tak menjawab.


" Kau sudah kenal Yoga sejak dulu kan? seribut apapun kalian apa dia pernah berkata kotor atau merendahkan mu? bahkan memukulmu?


padahal kau sangat sangat menguras emosinya,"


Dinda masih diam,


" Sudahlah.. pikirkan baik baik sebelum kau kembali ke bandung, jangan sampai menyesal..


aku tidak rela kau jatuh ke laki laki lain yang belum jelas bibit bebet bobotnya,


Yoga memang pernah melukaiku, tapi pada dasarnya dia baik dan berhati lembut..


Lihatlah bocah kecil itu juga, dia tidak pernah melihat ibunya, dia memangilmu mama dengan begitu bahagianya, segala harapannya sudah ia gantungkan kepadamu..


dan jika kau benar benar tidak bisa punya anak lagi..

__ADS_1


bukankan Bagas bisa menjadi tambatan hatimu, penyemangatmu.. ?".


__ADS_2