
Damar memeluk istrinya dengan erat,
" Hentikan sekarang, atau aku akan marah!" suara Damar tegas, membuat Kinanti yang terus saja marah sejak tadi terdiam seketika.
Sesaat lamanya tak terdengar sedikitpun suara, tapi tak lama kemudian..
Damar merasakan bahu Kinanti yang berguncang, perempuan itu menangis.
" Kuasai dirimu.. tidak benar memperlakukan Yoga seperti itu.." suara Damar lembut.
" Mereka sama seperti kita dulu.. tidak sadarkah dirimu sayang?" lanjut Damar mengelus punggung istrinya agar tangisnya berkurang.
" Aku tau.. sangat memahami, kau belum bisa memaafkan Yoga atas apa yang dia perbuat terhadap kita, namun dia sudah berkali kali memohon maaf padamu dengan tulus.. dapat kulihat itu dari sorot mata dari sikapnya..
kau juga amat menyayangi Dinda.. aku tau itu.. tapi tetap saja tidak bijak jika kau berdiri di tengah mereka..
aku lihat Yoga serius dengan Dinda, lalu kenapa tak kau ijinkan dia bahagia layaknya kita?" Damar melepaskan pelukannya dan menghapus air mata di pipi istrinya.
" Kau ingat.. dulu aku mengejarmu membabi buta, sama seperti Yoga sekarang..
dan kau menolakku berulang kali..
sama seperti Dinda sekarang..
Kita selalu berdebat seakan tidak mungkin bersatu..
padahal dalam lubuk hati kita yang terdalam kita saling mencintai.."
mendengar perkataan suaminya Kinanti terpaku, matanya seperti menemukan sesuatu.
Sesuatu itu adalah sudut pandang Damar, akan Yoga dan Dinda yang tak pernah ia pikirkan dan perhitungkan.
Di dalam pikirannya hanya waspada dan waspada terhadap Yoga.
Begitu juga Dinda.. tak seorang laki lakipun boleh menyakitinya lagi.
Kinanti menjatuhkan kepalanya di dada suaminya, dirinya begitu bingung.
" Yoga tidak akan seberani itu mempermainkan Dinda, kecuali dia sudah tidak memandangku..
Yoga juga bukan laki laki bajingan yang habis manis sepah di buang..
itu terbukti dengan kesucianmu yang masih terjaga sampai kau menjadi istriku..
__ADS_1
sayang.. Yoga memang salah.. tapi dia tak seburuk itu.."
" tapi.. kenapa harus Dinda?"
" memangnya kenapa? kau ingin dia bersama perempuan lain? yang mungkin saja hanya mengharapkan kenyamanan hidup dari Yoga?
Aku yakin, Yoga sudah sangat memperhitungkan semuanya dengan memilih Dinda..
dia cantik, sederhana dan teman lama..
apa kau tau..
sebagian laki laki justru malas berkenalan dengan orang baru, mereka tidak ingin membuang waktu untuk penjajakan dan sebagainya yang membuang waktu,
lebih baik dengan orang yang sudah lama di kenalnya, dan di fahami karakternya..
tentunya tidak hanya sekedar teman lama, ada hal lain yang mungkin Yoga temukan dari Dinda, sesuatu yang tidak biasa.. yang istimewa..
sama seperti saat aku ikut Aji kerumahmu.. dan tak sengaja berpapasan denganmu yang masih memakai seragam abu abu putih,
kau yang tidak peka ini mana mungkin tau kalau aku sudah jatuh cinta padamu sejak saat itu juga..
jadi, jangan mengukur kedalaman hati Yoga..
bukankah dia sudah mengakui bahwa yang dia rasakan padamu adalah obsesi dan rasa tidak terima..
lalu kenapa kau masih belum bisa memaafkannya dan memberinya kesempatan untuk berbahagia bersama Dinda?"
Kinanti terlihat bingung,
" Dinda itu banyak lukanya.. aku tidak mau dia kembali kecewa mas.."
" Bukankah lukaku juga banyak? tapi kau menyembuhkanku.." Damar meyakinkan istrinya.
Kinanti tak menjawab, ia masih tidak bisa berpikir sebenar Damar.
" Baiklah.. rasanya anak kita sudah cukup kaget dengan perbuatan ibunya..
jadi sekarang istirahatlah..
nanti kita bicara lagi.." Damar membelai istrinya, lalu di gendongnya,
dan di baringkannya Kinanti diatas tempat tidur.
__ADS_1
" Jangan kembali ke pabrik.. disini saja.." Kinanti menarik baju suaminya yang sudah kusut itu.
" Baiklah.. ku temani, tapi biarkan aku keluar sebentar melihat Dinda dan Yoga.. ya..??"
Kinanti mengangguk patuh, lalu membiarkan Damar pergi menemui Dinda dan Yoga.
Damar yang berjalan keluar kamar sesungguhnya tak berharap masih menemukan Yoga, karena ia menenangkan Kinanti cukup lama di kamar.
Tapi ternyata Yoga dan Dinda masih duduk di tempat semula, keduanya tak berbincang, hanya saling memandangi sembari diam.
" Dia sudah lebih tenang.." beritau Damar dengan suara kalem, ia terlihat khawatir dengan Yoga.
" Maafkan mbakyu mu yang terlalu menuruti emosinya itu.. " imbuh Damar, dia menyesal atas apa yang terjadi.
" Tidak apa apa mas.." jawab Yoga,
" Memang sedari awal aku yang bersalah.. wajar saja mbakyu sebenci itu padaku.." lanjut Yoga tertunduk.
" Dia tidak membencimu.. hanya butuh waktu untuk percaya.. itu saja..
sudah sekarang istirahatlah, obati kepalamu jika itu sakit sekali..
mbak Dinda, tolong bantu rawat Yoga, ada kotak obat di sebelah pintu ruang tengah.."
" Tidak mas, aku pulang saja.. aku sedikit pusing.." pamit Yoga bangkit.
Damar menatap Dinda,
" tolong rawat dan temani dia.." suara Damar setengah memohon.
" Jangan di paksa mas, dia pastinya tidak mau.." sahut Yoga dengan wajah murung lalu segera berjalan pergi.
Dalam hati Yoga,
" melihatku di jambak saja dia diam.. apalagi disuruh mengobatiku, dia pasti tak sudi.."
laki laki itu berjalan secepat mungkin.
" Mana ada orang pusing yang jalan secepat ini?" terdengar suara Dinda mengomel dari belakang punggung Yoga.
Yoga menghentikan langkahnya dan berbalik mencari asal suara,
ternyata Dinda mengikuti langkahnya.
__ADS_1