
Yoga Mengejar langkah Kinanti, tapi di ia melihat Yuk yang baru saja keluar dari rumah ibu Kaila.
" Yuk?!" panggil Yoga,
" nggih mas?" Yuk mendekat ke arah Yoga.
" Minta tolong yuk, belikan mie ayam nya pak Rosidi,
kebetulan dirumah tidak ada makanan Yuk, Bagas juga rewel jadi pengasuhnya sibuk..?" ujar Yoga memberikan selembar uang lima puluh ribuan pada yuk.
" Beli berapa mas?"
" Beli 5 yuk.." ujar Yoga.
" Saya pamit dulu ke mbak Kinan mas.."
" Sudah, langsung berangkat saja yuk.. biar saya yang pamitkan.."
mendengar ucapan Yoga si yuk mengangguk dan segera berjalan ke arah warung mie ayam pak Rosidi.
Melihat Yuk sudah berjalan menjauh Yoga melanjutkan langkah kakinya menuju rumah sepupunya itu.
Ia berani menyusul Kinanti karena ia tau Damar sedang tidak ada dirumah.
Tadi pagi ia melihat Damar dan Umar pergi saat hujan mulai deras.
Yoga membuka pintu rumah yang sudah lama tak di masukinya itu.
Berjalan masuk perlahan,
namun ia tak menemukan Kinanti di ruang tamu atau ruang tengah.
" Pasti di kamar.." ucap Yoga dalam hati, ia mendengar sebuah isakan yang tertahan.
" Nan.. ayo kita bicara..." ucap Yoga di depan pintu kamar.
" Nan...??" panggil Yoga lagi, namun tetap saja tak mendapat jawaban.
Yoga yang sudah beberapa menit berdiri menunggu di depan pintu kamar tapi tak di hiraukan tak bisa lagi bersabar.
Yuk bisa kembali kapan saja dan ia akan kehilangan kesempatannya bicara dengan Kinanti kalau dia hanya berdiri diam saja di luar kamar, batin Yoga.
Akhirnya dengan keberanian penuh ia nekat masuk ke dalam kamar Kinanti.
Entah dianggap kurang ajar atau tidak nantinya ia tak perduli.
Di bukanya pintu kamar yang ternyata tak di kunci itu.
Pandangan Yoga terbentur pada sosok tubuh yang di rindukannya itu.
perempuan itu sedang duduk di meja rias dan menenggelamkan wajahnya diantara kedua lengannya yang terlipat di atas meja.
Ia terisak hebat, Yoga tau benar apa yang perempuan itu rasakan,
hatinya pasti sakit melihat Yoga yang di bencinya, ternyata menjadi bagian dari keluarganya sekarang.
" Maaf kan aku.." Yoga memberanikan kiri menyentuh rambut Kinanti.
__ADS_1
Kinanti terperanjat, ia mundur menjauh.
Keduanya beradu pandang, namun bedanya Kinanti memandangnya penuh kebencian, sementara Yoga memandang Kinanti sayu, di matanya terlihat banyak permintaan maaf dan kerinduan yang tertahan.
" Beraninya kau masuk ke kamar ku?!" suara Kinanti tajam.
" Keluar!" tuding Kinanti sengit,
Namun yoga menggeleng pelan,
" aku tidak akan keluar sebelum kau mendengarkan ku bicara.." ujar Yoga.
" Kau gila! aku tidak mau mendengar apapun dari seorang pengkhianat semacam dirimu!"
Yoga tertunduk, ia mendekat lagi.
" Jangan mendekat!" peringat Kinanti dengan air matanya yang jatuh tanpa henti.
Laki laki di hadapannya ini, yang dulu amat sangat di cintainya,
laki laki yang ia harap akan menjadi suaminya di masa depan karena kehangatan dan ketulusannya.
Ternyata dengan mudahnya menyerahkan tahun demi tahun kebersamaan mereka hanya demi hawa nafsunya yang tak terkendali dan status sosial Kinanti yang di nilai kurang layak untuk bersanding dengan keluarganya.
Tentu saja wajar jika Kinanti sekarang benci hanya dengan melihatnya saja.
" Kau tak mengindahkan kata kataku?! ini kamarku! tidak pantas kau masuk kesini! ini kamarku dan mas Damar!"
deg..
" Aku tau.." ucap Yoga, betapa pedih hatinya mendengar kalimat itu keluar dari bibir Kinanti.
Wajah perempuan itu sudah sembab penuh air mata, tak tega rasanya Yoga melihatnya..
Yoga bisa melihat seberapa banyak kebencian Kinanti padanya dari berapa banyak air mata yang Kinanti keluarkan.
Jika mampu ingin sekali Yoga memeluknya, mendekapnya.. dan menenangkannya..
tapi itu akan menjadikannya sebagai laki laki kurang ajar, bagaimana mungkin dia mempunyai pemikiran semacam itu pada istri saudaranya.
Tapi perempuan di hadapannya ini buka sekedar istri saudaranya, namun mantan yang masih ia simpan baik baik dalam hatinya.
Di kepalkan tangannya, menahan dirinya sebisa mungkin.
" Ayo bicara di luar.." ujar Yoga,
" Jangan gegabah.. mas Damar tidak tau kalau kau mantan kekasihku.. jadi kita harus bicara.." imbuhnya mundur dan berbalik, lalu berjalan keluar dari kamar Kinanti sesegera mungkin.
Mendengar kalimat Yoga Kinanti tertegun sejenak, namun segera ia mengikuti langkah Yoga berjalan keluar kamar.
" Dunia ini terlalu sempit untuk kita bukan??" tanya Yoga ketika keduanya sudah berdiri di ruang tamu.
Saling menatap,
yang satu tatapannya penuh harapan dan permohonan,
sedangkan yang satunya penuh kebencian dan kebimbangan.
__ADS_1
" Yah, terlalu sempit hingga kenyataan ini begitu pahit untukku..!"
" Yah.. aku tau, karena itu aku berusaha bersembunyi darimu selama ini..
tapi ternyata aku tidak bisa terus bersembunyi.." ujar Yoga tersenyum tipis.
" Jadi dari awal kau tau kalau aku akan menikah dengan saudaramu?" tanya Kinanti menuntut.
" Tidak.. aku tidak tau, andaikan aku tau aku pasti akan mencegah pernikahan kalian.."
" Mencegah?!"
" Yah.. aku masih menginginkanmu.." Yoga mendekat, namun Kinanti mundur.
" Kau tidak waras!" sembur Kinanti.
" Aku memang tidak waras lagi semenjak aku melihatmu duduk disamping mas Damar ketika akad nikah pagi itu?!" jawab Yoga frustasi.
" Bisa bisanya kau menikahi saudara yang paling dekat denganku..?!" imbuh Yoga, perasaannya begitu campur aduk.
Kinanti menghapus lelehan air mata di pipinya.
" Kau kira aku sengaja?!"
" aku tidak tau, tapi jika kau sengaja menikahi mas Damar hanya untuk membalasku kurasa itu keterlaluan..
tapi kenyataan yang ku lihat selama ini kau bahkan tidak mengetahui keberadaanku.. dan itu justru membuatku lebih sakit hati..
aku sakit hati karena menerima kenyataan bahwa sekarang hanya mas Damar yang ada di hatimu.."
Kinanti tersenyum sinis,
" bagaimana bisa orang seperti dirimu berbicara tentang sakit hati? apa kau bercanda..?
pak dokter yang menawan dan mempunyai banyak pengemar dan mampu memiliki apapun yang dia mau salam sekejap bisa merasakan sakit hati?" Kinanti mencemooh Yoga.
" Aku sudah menerima hukumanku.. kau sudah tau kan?"
" Itu hasil dari perbuatanmu sendiri..
seorang murahan akan bertemu dengan seorang yang murahan pula..!"
" Aku hanya sekali melakukan itu?! bukan dengan banyak perempuan seperti yang ada di pikiranmu?!"
" Omong kosong apa yang kau bicarakan, dengan berapa banyak perempuan pun itu bukan urusanku..
hubungan kita sudah berakhir saat kau menyentuh perempuan lain.." Kinanti jauh lebih terkendali sekarang.
" Kau benar.. harusnya kita sudah berakhir, tapi hatiku tak sejalan dengan kenyataan.." Yoga tertunduk.
Suasana hening cukup lama,
" Rahasiakan ini.." ucap Yoga kemudian,
" apa?"
" rahasiakan bahwa kita saling mengenal dulu.. tentunya kau tak ingin mas Damar terluka.."
__ADS_1
" aku tidak bisa berbohong padanya..?!"
" aku tidak memintamu berbohong, cukup dengan bersikap sewajarnya, seperti dua orang yang baru saja mengenal, kurasa itu sudah cukup..".