
Ke esokan harinya ibu dan Yusuf benar benar berangkat kerumah orang tua Haikal yang berada di luar kota.
Kinanti yang baru saja bangun terkejut melihat Damar yang tertidur pulas disampingnya.
" Plakk!!" pukul Kinanti sekuat tenaga.
" Aduh?!!" Damar melonjak bangun sembari menggosok gosok lengannya yang panas karena pukulan Kinanti.
" Kenapa bangun bangun memukul orang?" tanya Damar dengan posisi terduduk disamping Kinanti.
Kinanti tak menjawab, ia hanya melotot dengan wajahnya yang pucat.
" Bisa bisanya mas tidur di tempat tidurku?" Kinanti masih melotot.
" Ku kira apa.." gumam Damar,
" apa mas bilang?"
" Iya ku kira kenapa sampai sampai aku di pukul,
aku sedang mendapatkan misi dari ibu untuk menjagamu.." ujar Damar.
" Memangnya ibu kemana?"
" Kerumah orang tua Haikal.."
" Kenapa tidak mengajakku?" tanya Kinanti dengan raut wajah kecewa.
" Ini urusan orang tua, biar ibu yang bicara.. urusan anak muda nanti, setelah kau sembuh.." jelas Damar.
" lalu mas disuruh menjagaku? apa aku anak kecil yang harus di temani tidur?" Kinanti ketus.
" Eh.. sakit masih galak saja, dengarkan dulu..
bukannya apa apa.. aku tidak bisa tidur semalam, dan pagi ini aku mengantuk sekali..
karena takut tertidur dan tidak bisa bangun saat kau membutuhkan sesuatu.. jadinya aku berpikir praktis untuk tidur disampingmu saja,
jadi ketika kau bangun aku juga ikut terbangun.." jawab Damar memang terlihat ngantuk sekali, kantung matanya lumayan tebal.
Kinanti terdiam,
" Mau apa Nan?" tanya Damar tiba tiba sadar, Kinanti pasti bangun karena menginginkan sesuatu.
" Minum? makan?" Damar bangkit dan turun dari tempat tidur.
Kinanti lagi lagi diam, raut wajahnya menyiratkan kecanggungan.
" Ke kamar mandi?" tanya Damar menangkap ekspresi Kinanti,
Kinanti mengangguk pelan.
" Ku bantu ya?" kata Damar berjalan ke arah Kinanti.
" Apa apaan sih mas, aku bisa sendiri.." ujar Kinanti tak mau menerima bantuan, sesungguhnya lebih tepatnya Kinanti malu jika Damar mengikutinya ke kamar mandi.
" Benar tidak mau di bantu?" tanya Damar,
" iya aku bisa sendiri.." jawab Kinanti berjalan keluar kamar dengan perlahan karena kepalanya masih terasa pening sekali.
" Damar yang melihat langkah perlahan itu tak sabar rasanya.
Tak lama Kinanti keluar dari kamar mandi, dan raut wajahnya lebih aneh sekarang.
sembari berjalan Kinanti terus memegangi perutnya.
" Kenapa? apanya yang sakit?" tanya Damar cemas.
__ADS_1
" Kita ke dokter ya?"
" tidak perlu.." jawab Kinanti berjalan ke arah lemarinya, ia terlihat mencari cari sesuatu.
" Aduh.." keluh Kinanti pelan, ia tak menemukan apa yang sedang ia cari ruapanya.
" Cari apa sih? bicaralah.. biar ku bantu..?" sahut Damar penasaran.
" Aku mau ke warung sebentar, mas dirumah saja.." ujar Kinanti memperbaiki letak sweaternya dan berjalan perlahan.
" Hei nona keras kepala?! kau sakit?! jalanmu saja seperti kura kura masih mau ke warung, memangnya mau beli apa?! sini biar aku yang beli!" tegas Damar sedikit kesal melihat kelakuan Kinanti yang keras kepala tidak mau menerima bantuan.
" Aku mau beli pembalut.." ucap Kinanti pelan.
" Pem.." Damar terdiam sejenak,
" Pembalut untuk perempuan yang sedang itu?" ucap Damar lagi,
Kinanti mengangguk malu,
" Owalah, mbok ya ngomong dari tadi, sudah diam disini biar aku yang beli.. merk apa biasanya?" tanya Damar dengan raut wajah santai dan datar, membuat Kinanti semakin malu saja.
" Terserah merk apa, yang penting ada sayapnya.." jawab Kinanti.
Tak menunggu waktu lama Damar segera berangkat.
setelah kurang lebih 15 menit kemudian Damar datang.
Ia membawa satu kantung kresek yang penuh di tangannya.
" Kenapa banyak sekali?" tanya Kinanti ketika melihat pembalut yang memenuhi kantong kresek.
Ada beberapa obat pereda nyeri dan sejenis koyo untuk meringankan kram perut juga.
" Aku tidak tau berapa banyak yang wanita habiskan dalam seminggu, jadi aku beli saja sepuluh kotak,
jadinya aku beli di mini market, ketika di kasir aku mendapatkan saran dari mbak mbak untuk membeli pereda nyeri perutmu..
jadi ya ku beli saja..
apa memang sesakit itu?" tanya Damar,
" Iya, hari pertama sakit sekali.." jawab Kinanti pelan.
" Lalu apa bedanya yang bersayap dan tidak bersayap, apa yang bersayap bisa terbang?" tanya Damar polos.
Wajah Kinanti memerah, entah harus marah atau tertawa.
" Keluarlah mas, aku ingin ganti baju..
atau mas tetap mau berjaga disini?"
" inginnya.. tapi, di karenakan aku laki laki yang penuh sopan santun..
dengan berat hati aku akan keluar.." ujar Damar,
" laki laki yang penuh sopan santun??
wah.. apa mas lupa sudah berbaring seenaknya di tempat tidurku? bahkan tertidur dengan lelapnya di sampingku?"
cemooh Kinanti.
" Jangan permasalahkan itu.. toh aku tidak akan menerkammu.." ujar Damar dengan raut tak bersemangat lalu berjalan keluar dari kamar Kinanti.
Sejam kemudian, Kinanti yang sedang duduk di atas tempat tidurnya sembari sesekali memejamkan matanya,
mencium aroma masakan dari Dapur.
__ADS_1
Dan benar saja.. tak lama Damar masuk kembali ke kamar Kinanti dengan sepiring bubur.
" Mas tidak menghancurkan dapurku kan?" tanya Kinanti dengan dahi berkerut.
" teganya berkata seperti itu padaku.." sahut Damar.
" Ayo buka mulutmu.. ku jamin bubur buatan ku terasa nyaman di lidahmu.." Damar mengambil sesendok bubur dan meminta Kinanti membuka mulutnya.
" Mas sendiri sudah makan? jangan terlalu sibuk denganku mas.." ujar Kinanti.
" Kalau kau tidak mau makanan buatanku ya sudah,
akan ambilkan masakan ibu.." nada suara Damar kecewa.
" Ya sudah.. suapi aku.." ucap Kinanti membuat semangat Damar timbul kembali, dengan sigap ia menyuapi Kinanti sesendok demi sesendok bubur buatannya.
" Belajar dari mana membuat bubur?" tanya Kinanti karena di rasa bubur buatan Damar rasanya lumayan enak.
" Enak ya?" tanya Damar tersenyum,
" mbah utilah.. setiap sakit aku makan bubur buatannya,
lama lama aku belajar padanya, karena saat mbah utiku sakit aku juga harus bisa melakukan hal yang sama..
aku ingin membuatkan bubur, dan merawatnya seperti dia merawatku.." jelas Damar sembari terus menyuapi Kinanti.
" Tapi aku tidak pernah merawatmu.. jadi mas tida perlu sampai seperti ini kepadaku.."
Damar lagi lagi tersenyum,
" Kau lupa.. kau juga pernah menyuapiku saat aku sakit.." Damar membangkitkan lagi ingatan Kinanti.
" Ah.. iya, tapi kan hanya sekali.." jawab Kinanti malu,
" mau sekali, dua kali.. kau tetap pernah merawatku.." Jawab Damar dengan pandangan yang penuh kasih sayang.
" Setelah makan minum obat dan berbaringlah kembali.. aku akan menjagamu.." ujar Damar menyelesaikan suapan terakhirnya.
" Mas mau tidur disampingku lagi?" tanya Kinanti penasaran,
" Aku sudah tidak mengantuk, aku hanya akan duduk.." jelas Damar bangkit, menaruh piring kotornya di dapur dan segera kembali pada Kinanti.
" Jangan sekarang minum obatnya, beberapa menit lagi, aku takut langsung muntah karena perutku masih terlalu penuh.."
Damar yang mendengar itu mengangguk, ia mengurungkan niatnya mengambil obat Kinanti.
Sore menjelang, ibu dan Yusuf sampai di depan dirumah, wajah keduanya terlihat lelah sekali.
Damar memang sengaja tidak menutup pintu, ia hanya mengunci pagar.
Ibu dan Yusuf tentu saja masuk begitu saja ke dalam rumah.
Karena menemukan ruang tamu dan ruang tengah yang senyap, ibu segera berjalan ke kamar Kinanti.
Tak lama ibu keluar dari kamar Kinanti dan memanggil Yusuf.
" Ssstts...Suf, sini Suf.." ibu melambaikan tangannya pada Yusuf yang baru saja duduk di ruang tamu.
Dengan gerakan cepat Yusuf bangkit, ia mengekor di belakang ibu, masuk perlahan ke kamar Kinanti.
Pantas saja sepi.. pikir Yusuf, keduanya sedang tertidur, Kinanti dan Damar di ranjang Yang sama.
Damar mungkin saja kelelahan sehingga ia tertidur, ibu dan Yusuf bukannya marah, namun melihat pemandangan yang seperti itu antara Kinanti dan Damar membuat hati ibu sedikit terhibur.
Kelelahan dan kekecewaan yang ibu bawa dari rumah keluarga Haikal seketika menghilang,
melihat kedua bayi besar sedang meringkuk di satu tempat tidur.
__ADS_1