Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
kadang Yoga iri..


__ADS_3

Tenda sudah di dirikan lengkap beserta pelaminan, Segala persiapan sudah selesai.


Damar hanya tinggal menunggu malam berganti pagi.


Di saat semua orang sibuk, laki laki itu malah sengaja mengasingkan dirinya di dalam kamar.


Ia membolak balikkan tubuhnya, berusaha memejamkan matanya, tapi tak bisa.


Entah karena saking tegangnya atau apa, tidak ada rasa kantuk sedikitpun yang ia rasakan.


Ia bangkit dan duduk di tepian tempat tidur.


" Aku gelisah tanpa sebab.." gumamnya,


" padahal aku harus tidur.." imbuhnya.


Setelah lama ia terdiam, ia tertunduk memandangi lantai dan kakinya.


tiba tiba ia mendongak ke atas, demi melihat foto dirinya dan Aji yang tertempel di dinding kamarnya.


" Adikmu akan jadi istriku... kau senang kan..?" ucapnya lirih,


Ada senyum yang mengembang, namun senyum itu kemudian hilang.


" Harusnya kau disini...duduk di samping kami dan memberikan restu.." lanjut Damar.


Rupanya di hari bahagia seperti inipun bayangan Aji tak bisa hilang, rasa bersalah masih melekat begitu dalam.


" Ku kira.. dengan menikahi adikmu rasa bersalahku akan berkurang.." ucap Damar dengan suara bergetar.


Ia menundukkan kepalanya,


menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Tak ada suara tangis, hanya bahunya saja yang berguncang hebat, karena merasakan kepedihan dan penyesalan yang luar biasa.


Rasanya ia tak pantas berbahagia, rasanya begitu tak adil bagi Aji.


Pikirannya tak karuan, hatinya begitu di serang kebimbangan.


" Tok! tok!" terdengar suara pintu kamar Damar yang di ketuk.


" Mas?! sudah tidur? kalau belum keluarlah, di cari pak dhe Dayat?!" suara Yoga.


" Mas?" panggil Yoga lagi tak mendapat jawaban.


Karena penasaran, Yoga memutar handle pintu, dan ternyata tidak di kunci.


" Mas??" Yoga masuk perlahan,


" mas? belum tidur kan?" tanya Yoga saat melihat Damar masih terduduk di tepi tempat tidur.

__ADS_1


" Mas?!" Yoga mendekat dengan cepat, karena ada sesuatu yang tak beres yang ia lihat dari bahasa tubuh Damar.


" Mas?! lihat aku mas??" Yoga menarik tangan Damar, sehingga wajah pucat yang penuh air mata itu terlihat.


Di genggamnya pergelangan Damar, sehingga Yoga bisa merasakan tubuh Damar yang menggigil hebat.


" Astaga mas?! bagaimana bisa kau begini saat besok kau akan menikah?!" Yoga setengah berteriak,


" Kaila?! mbak Winda?!" panggil Yoga dengan suara keras.


Beberapa jam kemudian,


Winda dan Yoga sama sama memandangi Damar yang sedang tertidur lelap.


Ia tidur seperti bayi yang tak berdosa dengan sisa sisa air mata dan mata yang sembab.


" Ck..." terdengar Winda berdecak,


ia seperti kecewa melihat Damar bertingkah seperti itu lagi.


Meski sesungguhnya Winda tau, itu gangguan psikis yang sebenarnya tidak di inginkan juga oleh Damar.


" Karena aku tidak punya obat penenang, sementara ku beri obat tidur.." ujar Yoga,


Winda diam, tak menjawab, wajahnya di liputi kebingungan.


" Apa calon istrinya tau mbak?"


Dahi Yoga berkerut mendengarnya.


" Perempuan seperti apa dia mbak?" tanya Yoga penasaran.


" Kau tidak pernah bertemu dengan calon istri Damar?" tanya Winda balik,


" memangnya kapan dia pernah kemari? sekalipun aku belum pernah di kenalkan.."


jawab Yoga.


" Ah.. itu tidak penting, besok kan kau bertemu dengannya, jangan kurang ajar lho ya?" peringat Winda.


" Lho? kata katamu mbak, seperti aku ini apa.."


" Dia lumayan cantik soalnya, hanya saja tubuhnya kecil," komentar Winda.


Yoga tersenyum tipis mendengar itu,


" dia bertubuh sintalpun aku juga punya nurani mbak, kurang ajar kalau aku sampai menginginkan istri saudaraku.." ujar Yoga.


" Baguslah kalau pikiranmu sudah mulai benar.." gerutu Winda.


" Sekarang telfon temanmu, minta bantuan atau apalah sementara,

__ADS_1


Besok pagi sudah akad nikah, tidak mungkin kita membawanya kerumah sakit..


lagi pula menurut pengalamanku, dia akan normal kembali setelah pikirannya tenang.."


winda duduk disamping Damar yang sedang tertidur.


" Harus ada yang menemani dia tidur malam ini, karena kalau sudah begitu biasanya dia mimpi buruk.." ujar Winda.


" Biar ku temani, tapi ajak Bagas tidur dirumah mbak.." ucap Yoga.


" Ya sudah, tapi jangan lupa telfon temanmu yang psikiater itu.."


" iya mbak iya.." jawab Yoga sembari menghela nafas.


Diam diam hatinya mengeluh, betapa sayangnya mbak Winda kepada Damar, segala perhatiannya jatuh pada Damar, padahal dirinyalah adik kandung mbak Winda.


Yah.. yoga bisa mengerti juga kenapa mbak Winda seperti itu pada Damar.


Mbak Winda berusaha mengisi kasih sayang yang tak di dapatkan Damar.


Hidupnya lebih banyak pedihnya dari pada senangnya.


Mungkin karena itu Damar tumbuh menjadi pribadi yang sering murung, jarang bercanda, dan selalu serius dalam segala hal.


Karena pertumbuhannya di sia siakan, dia tumbuh menjadi pribadi yang begitu perduli dan sangat menghargai orang lain, apalagi pada para pekerjanya yang ekonominya bisa di katakan kurang mampu,


Ia begitu ringan tangan.


Andai kata perawakannya tidak sebagus ini, mungkin ia akan di kira buruh karena saking seringnya membantu pekerjaan orang orang pabrik dan para petani.


Terkadang Yoga kasihan, terkadang juga ada sedikit iri.


Damar selalu mempunyai perhitungan yang bagus dan selalu sukses dengan usaha usahanya.


Dia bisa menghasilkan uang berkali lipat dari Yoga.


Terkadang Yoga gemas dengan perilaku Damar yang seperti sengaja mencari pujian orang lain, contohnya adalah mobil Damar yang tampilannya jauh sekali jika di bandingkan dengan mobilnya yang ganteng dan gagah.


Yoga sering mendengar orang mengeluh eluhkan Damar yang pintar mencari uang dan tidak suka bermewah mewah.


Yah.. sebenarnya Yoga tau benar, karena mereka tumbuh bersama,


tanpa pujian dari orang lainpun Damar akan tetap hidup seadanya dan menyimpan uangnya baik baik.


Jadi.. untuk iripun rasanya percuma, memang sudah pembawaannya Damar seperti itu.


" Sehat sehat mas.." ucap Yoga setengah mengeluh pada Damar yang sedang terpejam itu, tentu saja ia menyayangi Damar dan ingin hidup Damar bahagia.


Segera di diambil HP di saku bajunya,


lalu menghubungi kenalannya sesuai perintah mbak Winda.

__ADS_1


__ADS_2