Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
ketakutan


__ADS_3

" Apa yang kau pikirkan?" tanya Winda membelai kepala Kinanti yang sedang terduduk di pinggir tempat tidurnya.


Wanita itu tampak kurang sehat dan sedikit linglung.


" Jangan banyak berpikir.. Yoga sudah berjanji membawa suamimu pulang.."


" Benarkan?" tanya Kinanti dengan nada datar dan terus menatap ke lantai.


" iya, Yoga tidak akan pulang sampai suamimu pulang.. itu janjinya.."


Kinanti membisu.


" Kau sudah enakan? tidurlah.. aku akan menyuruh Kaila membawa makanan untukmu.."


" tidak usah mbak, aku tidak lapar." jawab Kinanti masih datar, dan itu membuat perasaan Winda tidak enak.


" Damar hanya marah saja, setelah kemarahannya reda, dia akan pulang..


semua akan kembali seperti sedia kala," hibur Winda agar pikiran Kinanti tidak terlalu berat.


" Tidak.." sahut Kinanti.


" Apanya yang tidak nduk?" Winda bertanya ragu,


" dia tidak akan pulang selama aku masih disini,


mbak mendengarnya juga.. saat dia mengusirku?" ucap Kinanti tiba tiba dengan air mata yang mulai jatuh, Winda tercekat, tak menyangka Kinanti akan mengatakan hal semacam ini.


" Dia berkata, jika aku tidak mau pergi, maka dia yang akan pergi..


dan benar saja..


dia pergi..


entah siapa yang dia usir, aku atau Yoga..


kukira kami berdua sudah menjadi pengkhianat besar di matanya..


tak ada bedanya.." suara Kinanti penuh kepahitan.


" Tidak nduk.. dia mengatakan hal itu karena emosi sesaat saja..


dan mbak kira saat itu yang dia usir adalah Yoga..


Damar mencintaimu..


mana mungkin dia tega mengusirmu?" tegas Winda berusaha tenang.


" Tidak mengusir namun dia pergi selama ini?


apa namanya mbak..?"Kinanti menatap Winda sekilas lalu kembali lagi menatap lantai kamar.


" Aku yakin.. jika dia mendengar aku sudah pergi dari dari sini,


tak lama kemudian dia akan pulang.


Tentu saja.. dia pasti muak melihatku, di pikirannya pasti muncul bayangan bayangan buruk tentangku dan Yoga, entah di masa lalu atau di masa sekarang.."


Winda ikut tertunduk, wajahnya pun lesu, terlihat jelas kantung matanya yang mulai menebal.


Ia sungguh tak mampu tidur, apalagi jika memikirkan Damar yang tak kunjung pulang.


Kedua adiknya sungguh sungguh pintar menyiksanya, hingga ia mulai kehilangan sedikit berat badannya.


" Ini semua memang salah Yoga.. aku tidak bisa membelanya meski adik kandungku..


dan Damar,


aku juga tidak bisa membelanya meski dia sedarah denganku..

__ADS_1


karena dia telah menuruti emosinya dan meninggalkanmu sampai dua minggu lebih.."


ucap Winda penuh rasa bersalah.


Ruangan kamar itu hening sejenak, tak ada satupun yang bicara, hingga suara mobil Yusuf yang sedang parkir di depan rumah terdengar oleh telinga Kinanti dan Winda.


" Aku memang bersalah karena tidak jujur..


aku juga bersalah karena tidak tegas pada Yoga dan tidak bisa menampiknya saat dia berlutut sambil memeluk kakiku..


aku tau,


tapi aku tidak pernah mengkhianatinya sedikitpun.." ujar Kinanti setelah lama diam.


" Aku tau kau kecewa.. tapi ini hal yang biasa dalam rumah tangga?"


" tidak.. ini tidak biasa bagiku mbak,


aku sudah pernah di campakkan sebelumnya..


dan dia sekarang melakukannya padaku.


Dia suamiku.. tempatku bersandar..


seharusnya dia lebih mempercayaiku,


apa yang dia lihat dan dia simpulkan belum tentu benar,


tapi bukannya segera pulang..


dia malah lebih memilih untuk berjauhan denganku di luar sana.." sorot mata Kinanti penuh kecewa.


" Dia mencintaimu nduk.. dan akan segera pulang.. percayalah..?"


" Bagaimana kalau dia kecewa padaku karena berpikir aku sudah bertindak di luar batas dengan Yoga mbak? lalu mencari perempuan lain sebagai pelampiasan??" nyeri melintas di hati Kinanti, membuat air matanya kembali penuh.


" Aku.. aku tidak sanggup menerima itu untuk kedua kalinya.. tidak sanggup.." Wanita itu terisak, rasa pedih dan kecewa menumpuk di dadanya.


Kinanti tidak ingin merasakan hal itu untuk kedua kalinya.


Jadi, sebelum dia di usir atau di campakkan, lebih baik dia tau diri dan pergi.


" Biarkan aku pergi mbak..?"


suara Kinanti di sela sesegukan,


" kemana?!" Winda panik,


" aku ingin pulang kerumahku.."


" ini rumahmu nduk?!" kata Winda sembari merangkul Kinanti.


" Jangan begitu.. tidak akan ada habisnya jika ingin saling melukai.." ucap Winda sembari menangis.


" Oh Tuhan.. rasanya kepalaku mau pecah memikirkan ini..


jangan kau tambahkan lagi bebanku dengan kepergianmu nduk??" suara Winda parau, dia sudah cukup kuwalahan dengan kepergian Damar,


apa yang akan terjadi jika Kinanti pergi juga dari rumah ini?.


" Tidak.. tidak.. jangan kemana mana..?!" Winda menggeleng sembari melepaskan pelukannya,


di tatap baik baik wajah lusuh penuh air mata milik Kinanti.


" Kau adalah bagian dari keluarga ini, aku akan mendidik Damar dengan baik setelah dia pulang nanti?!


aku berjanji nduk, segalanya akan membaik?!" Winda meyakinkan.


" Tok tok tok.." terdengar suara pintu kamar yang setengah terbuka itu di ketuk,

__ADS_1


sosok Yusuf menyembul disitu.


" Maaf menganggu mbak..


bulek ngotot ingin kesini sejak tadi pagi,


jadi lebih baik Kinanti yang pulang, dari pada bulek tau kalau mas Damar tidak ada dirumah.." sela Yusuf yang sejak tadi ternyata menguping dari balik pintu.


" Apa ibu Kinanti tau?" tanya Winda mengalihkan pandangannya pada Yusuf.


Yusuf menggeleng,


" tidak.. saya merahasiakannya.." ucapnya.


" Bagus.. kau anak pintar.." sahut Winda,


" Baiklah.. kalau memang ingin pulang untuk sementara, tapi ingat..sementara,


menginaplah barang sehari dua hari..


tap setelah itu pulanglah oke?" Winda melunak.


Kinanti tak menjawab,


" Yusuf?! berjanjilah akan mengantarnya kembali pulang?!" Winda tegas pada Yusuf yang berdiri dengan Kikuk.


" Kalau tidak, jangan pernah berpikir untuk datang kemari lagi, jangan pula berharap bertemu dengan Kaila."


Yusuf kaget, ia menatap Winda dan Kinanti bergantian.


Yusuf mengendari mobilnya dengan hati hati, meski dirinya gusar.


" Aku tidak tau, bulek peka sekali, dia seperti tau kau sedang susah..


sudah dua kali memaksaku agar mengantar bertemu denganmu,


dia bilang terus bermimpi melihatmu tertawa lepas terbahak bahak..


dia bilang itu kebalikannya..


lambang kesedihan.." ucap Yusuf.


" Aku tidak hanya sedih.. tapi aku juga kecewa.." sahut Kinanti menyandarkan kepalanya sembari menatap jalanan di hadapannya.


" Kau harus mengerti, wajar saja seorang laki laki kecewa..


apalagi Yoga berani menyentuhmu.. yah meski hanya kakimu.. tapi tetap saja dia kurang ajar..


suami mana yang tidak sakit hatinya?"


Yusuf berpendapat.


" Sekarang tenangkan saja dirimu dirumah bulek.. sembari menunggu mas Damar pulang..


jangan menyiksa dirimu dengan pemikiran pemikiran aneh..


tidak mungkin mas Damar mabuk mabukan dan bertemu perempuan lain di luar sana.."


" Suf?!" tegas Kinanti agar Yusuf tidak melanjutkan kalimatnya.


Itu adalah hal yang sangat di takuti oleh Kinanti ketika membayangkan kenapa suaminya tak kunjung pulang dan betah sekali di luaran sana.


" Aku bicara begitu bukan untuk menambah ketakutanmu,


tapi aku justru ingin kau berpikiran positif,


suamimu itu orang terpelajar..


dia bukan tipe yang ketika marah akan minum dan mencari perempuan.."

__ADS_1


" Tidak ada yang tau suf!" tegas Kinanti dengan mata berkaca kaca.


" Bukan dua hari dia pergi, tapi dua minggu lebih.." lanjut Kinanti dengan suara pedih.


__ADS_2