
Rakha bolak balik tapi dirinya tetap saja tak melihat Dinda yang biasanya duduk di teras.
Dengan perasaan yang tidak nyaman laki laki itu mendekat ke arah pintu.
Pintu itu tertutup rapat sementara hari sudah menjelang malam.
" Pagi tidak ada, malam pun tidak ada..
dimana suamimu menyembunyikanmu?" Rakha kesal.
Setelah menunggu sekitar tiga puluh menit akhirnya Rakha menyerah,
dia menaruh kue yang khusus ia beli untuk Dinda, dan seperti yang sebelumnya, buket bunga, jika yang kemarin mawar putih, sekarang mawar merah.
Rakha menaruhnya begitu saja di atas meja teras.
Dengan langkah malas Rakha berjalan keluar dari halaman rumah Yoga,
Ia berjalan kearah mobilnya yang ia parkir di pinggir jalan.
Jalanan gelap, Yoga terlihat lelah karena pasien hari ini membludak.
Perubahan cuaca sangat ekstrim satu minggu ini,
dari cerah benderang, tiba tiba menjadi hujan.
Banyak orang terserang demam dan flu, tidak hanya klinik Yoga, puskesmas juga terlihat penuh dengan pasien, saat Yoga lewat tadi pagi, antriannya juga membludak.
Yoga melirik istrinya yang sepertinya tertidur,
senyum Yoga terkembang, meski tadi siang dia harus susah payah memanjat mangga.
Saat menjemput Dinda tadi,
Kinanti berkata bahwa Dinda makan banyak dan ceria sekali.
" Lindungi istrimu dengan baik.. jika kau tidak melindunginya dengan baik,
kau akan kehilangan dia suatu ketika nanti.." pesan Kinanti saat Yoga pamit pulang.
Yoga menembus jalanan yang gelap, sedikit becek karena hujan tadi sore.
Suara katak bersautan saat Yoga sudah memarkirkan mobilnya di garasi.
Dan terdengar semakin keras saat Yoga sudah mematikan mesin mobilnya.
" Ayo.. bangun, sudah sampai.." ujar Yoga membangunkan Dinda, tapi rupanya Dinda hanya membuka matanya sejenak, lalu kembali tertidur.
" Kau lelah sekali ya?" tanya Yoga pelan,
Dinda mengangguk dengan mata terpejam.
Yoga membuka pintu samping, yang menghubungkan garasi dengan ruang tengah.
Setelah membuka pintu, ia kembali ke mobil dan meraih tubuh istrinya, menggendongnya dengan hati hati, lalu membawanya masuk ke dalam rumah.
Yoga menutup tirai jendela kamar nya, terlihat rumah Winda yang sudah redup,
pertanda semua penghuninya sudah beristirahat.
Kalau begitu putranya juga sudah tidur, Yoga menarik tirai kedua yang kainnya lebih tebal.
Malam ini udaranya sedikit menusuk,
Yoga mengambil selimut tebal untuk menyelimuti tubuh istrinya yang mungkin sudah bermimpi sampai.. entah rusia atau afrika.
Yoga keluar dari kamar setelah mandi,
__ADS_1
laki laki yang jarang sekali diam di teras itu entah kenapa ingin sekali keluar ke teras,
padahal malam ini cukup dingin.
Yoga membuka pintu depan, matanya langsung menangkap suasana malam yang pekat.
Suara katak masih riuh bersautan di kubangan sawah samping rumahnya.
Matanya meneliti lampu jalan yang sudah mulai redup.
Andaikan saja dirinya merokok, ia pasti akan duduk merokok sembari menikmati suasana malam seperti Damar.
Yoga berniat kembali masuk setelah menyentuh beberapa anggrek Dinda yang bergelantungan.
Namun langkahnya terhenti tepat di depan meja.
Raut wajahnya berubah, tak setenang beberapa menit yang lalu.
di ambil buket bunga yang jelas jelas berwarna merah itu, begitu juga dengan kue disampingnya.
Laki laki itu mengambil sandal, dan berjalan menjauh dari rumahnya.
Entah keman tujuan Yoga, ia berjalan sedikit jauh dari rumahnya, menuju sungai di sebelah pabrik.
Sesampainya tanpa pikir panjang Yoga membuang buket bunga itu, dalam sekejap buket itu menghilang terbawa arus air yang deras dari area persawahan.
Yoga melanjutkan langkahnya ke pabrik Damar.
" Pak?!" Yoga masuk ke pos satpam,
" lho? ada apa mas Yog??" si satpam bangkit dari duduknya.
" Ada kue pak.." Yoga menyerahkan kue yang berada di tangannya.
" Lho??! repot saja mas..?" si satpam menerima kue itu,
Sepanjang jalan pulang raut wajahnya mulai tenang,
namun hatinya tak setenang raut wajahnya,
hatinya bergemuruh kesal.
Ia mengira hari harinya bersama istrinya akan tenang,
namun rupanya laki laki bernama Rakha ini tidak menyerah juga.
Yoga memeriksa Dinda sebelum berangkat ke klinik.
" Pusing?" tanya Yoga,
" sedikit," jawab Dinda masih dengan posisi berbaring.
" tekanan darahmu rendah sekali.." Yoga menaruh tensi meternya.
" Sudah kuberi anti mual kan? kenapa makanmu tetap sedikit?
kalau terus seperti ini aku akan membiarkanmu tidur dirumah sakit.." raut Yoga serius.
" Aku sudah makan.."
" makanlah yang banyak.. seperti kemarin dirumah mbakyu.." Yoga membelai pipi istrinya.
" Sebenarnya apa yang kurang dirumah ini? kenapa selera makan mu rendah sekali saat dirumah??"
" aku hanya tidak berselera.."
Yoga menghela nafas,
__ADS_1
" aku kerja, dan Bagas sekolah.. kau kesepian?"
Dinda mengangguk,
" kau tidak memperbolehkan ku bekerja.." sahut Dinda.
" Bekerjalah setelah tubuhmu sehat.."
" kapan aku sehat kalau begini?"
" sabarlah.. aku pasti mengijinkanmu bekerja nanti.." ujar Yoga.
" Minum susu ya?"
" tidak enak,"
" di paksa.. atau mau di infus??"
Dinda menggeleng,
" Aku mau susu kedelai saja.."
" biar si mbak yang belikan ya?"
" buat sendiri saja.. aku tidak mau kena tangan orang.."
Yoga menghela nafas,
" ya sudah.. biar aku yang buat nanti pulang dari klinik ya?"
" bisa??"
" bisaa.. apa yang tidak bisa untukmu??"
Dinda tersenyum mendengarnya.
" Nanti siang ada temanku yang akan datang kesini, namanya dokter Weni.."
" untuk apa? main?"
" memeriksamu.. dia dokter spesialis.."
" spesialis apa?"
" spesialis mual mual dan muntah.." Yoga tersenyum,
" yang serius kenapa?" protes Dinda.
" Dia dokter paling senior.. aku merasa tenang jika kau berada di bawah perawatannya.." Yoga memberi pengertian.
" Apa aku benar benar tidak sedang sakit parah??" bukan tenang Dinda malah kepikiran.
" Tidak sayang, malah aku yang sedang sakit parah.." jawab Yoga mengecup kening Dinda.
" Sakit parah karena terlalu sayang padamu.. stadium akhir malah.." ujarnya kemudian,
" ehh.. belajar gombal dimana?"
" tidak bisa bedakan tho antara yang gombal dan tidak?"
" wes thoo.. berangkat sana.." Dinda mengulas senyum mengerti.
" Aku berangkat ya.. kalau ingin makan apapun itu telfon..
dan ingat, jangan terima tamu siapapun selain dokter Weni.." pesan Yoga bangkit dari duduknya.
" Memangnya ada tamu siapa?"
__ADS_1
" entahlah, fans mu mungkin.." Yoga mencoba membuang rasa cemburunya demi kesehatan istrinya.