Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
Kaila


__ADS_3

" Hari ini masalah apalagi yang kau buat?" tanya Damar sembari menaruh tasnya,


" Ku dengar kau berlarian di pabrik dan menabrak orang, dan bahkan berkata dengan nada yang kurang sopan.." Damar menatap Kaila yang duduk tertunduk.


" Mengertilah Kaila.. hidup tidak semudah yang kau pikirkan, banyak hal hal yang masih belum kau ketahui di luar sana,


bukan karena tidak pernah di salahkan lalu semua perbuatanmu itu selalu dianggap benar.."


" Apa mas memarahiku gara gara menemui perempuan itu?" tanya Kaila masih tetap kesal pada Kinanti.


" Mas membela perempuan yang sudah memilih laki laki lain di bandingkan mas.." suara Kaila tajam.


Damar menghela nafas, pusing sekali rasanya bicara dengan Kaila yang keras kepala ini.


" Aku tidak membelanya, dan aku juga tidak menyalahkanmu.."


" tapi mas marah padaku kan?"


" aku tidak marah, aku hanya kecewa dengan sikapmu..


dengar.. manusia itu punya berbagai alasan untuk apapun keputusan yang mereka ambil atau pilih..


dan sebagai manusia yang dewasa dan bijaksana.. harus mampu menerima dan menghargai keputusan orang lain.."


" Meskipun menyakiti diri sendiri?!"


Damar mengangguk,


" Benar.. tidak semua hal di dunia ini bisa dan harus kita miliki.." ujar Damar.


" Kau sudah dewasa, kelak kau akan mengenal laki laki dan menikah.. jadi belajarlah mengerti tentang perasaan orang lain.. dan bagaimana menerima keadaan orang lain..


hidup tidak selalu nyaman Kaila..


akan ada jatuh bangun yang kau rasakan nanti, dan kau harus siap..


melihatmu seperti ini aku jadi khawatir..


bagaimana kalau kau mencoba tinggal di luar rumah.."


" Apa mas?"


" Ngontrak atau ngekost.. apapun itu, mandirilah.." nada Damar serius.


" Tega sekali mas?!"


" Bukan tega.. mas ingin kau tau bagaimana rasanya hidup mandiri, bergaul dengan orang yang lebih banyak setiap hari.."


" Aku kan bari mulai kuliah mas? wajar kalau aku tidak punya banyak teman?!"


" Tidak.. seharusnya kau punya banyak teman untuk menekan jiwa ke kanak kanakanmu yang masih melekat itu.."


Kaila diam, ia terlihat dongkol.


" Baiklah.. aku memberimu pilihan,


tetap disini tapi belajarlah bersikap yang baik..


atau, bertindak semaumu dan aku akan mengirimmu keluar dari rumah ini,


bukan mengusirmu.. tapi supaya kau belajar betapa pentingnya bersikap sesuai usiamu dan jangan bermanja manja lagi.." tegas Damar dengan sikap tenang.

__ADS_1


" Percayalah.. meski aku harus ribut dengan ibu aku akan mengirimmu keluar,


lebih baik kau jatuh bangun di luar sana tapi menjadi sosok yang matang, dari pada kau hidup nyaman disini tapi tak bisa menghargai pendapat dan pilihan orang lain.."


Kaila bangkit dengan kasar, lalu berhamburan pergi dengan emosinya yang meluap luap, entah sudah berapa meter bibirnya itu, Damar hanya bisa mengelus dada.


Jika bukan sekarang lalu kapan pikir Damar.


Tak lama HP Damar berdering.


" Mas?!" terdengar suara Umar,


" kenapa Mar, aku baru masuk rumah.. setengah jam lagi lah aku ke pabrik.." jawab Damar.


" Bukan mas?! tadi ada telfon, salah satu truk kita nabrak e mas?!"


Damar bangkit dari duduknya,


" Supire sopo Mar?" tanya Damar,


" Sholeh mas?"


" terus sholehnya?!"


" di rumah sakit, masih belum sadar e mas katanya?"


" Owalah...!" suara Damar penuh penyesalan, ia terbayang bagaimana kondisi sopirnya.


Harusnya ia tak mengijinkan sholeh yang berangkat untuk mengirim kayu ke luar kota, karena sholeh masih tergolong sopir baru, tapi karena dia memaksa meminta pekerjaan ini karena dia butuh uang untuk membayar uang gedung anaknya, Damar dengan berat hati mengijinkan.


" Ikut aku Mar! kita berangkat sekarang!" Damar mematikan di sambungan telfon nya.


Damar dan Umar menempuh perjalanan dua jam keluar kota, sementara pabrik di serahkan ke manajer dan orang kantor.


Kenapa Umar yang di ajak oleh Damar, karena meskipun posisi Umar hanya seorang Admin gudang,


namun Damar melihat Umar tumbuh, umar juga orang yang kompeten, itu adalah sebab utama Umar sangat di percaya dari pada yang lainnya.


Setidaknya Umar tidak pernah menjilat Damar hanya demi sebuah posisi.


Setelah dua jam berkendara keduanya sampai di sebuah rumah sakit.


Damar buru buru masuk ke UGD, mencari sopirnya yang bernama sholeh.


Dan benar saja, ia menemukan sholeh sedang di tangani, dan dia tidak di perbolehkan masuk dulu.


Damar sedikit gemetar.


Umar mengajaknya duduk di kursi tunggu,


" Mas Damar disini saja, biar saya yang mengurus administrasinya..?" Umar mengambil alih, dia tau Damar shock melihat kondisi sholeh.


Dengan Sigap Umar berjalan ke tempat pendaftaran pasien, lalu kembali lagi ke UGD.


" Mas.. Sambil menunggu penanganan Sholeh selesai dan di pindahkan, bagaimana kalau kita ke kantor polisi dulu.. sekalian lihat mobilnya?" ujar Umar.


Damar yang sudah normal kembali mengangguk,


" Ayo, segera kita selesaikan semua, biar pikiranku pada sholeh juga tenang.." jawab Damar.


Sholeh adalah seorang bapak, bagaimana Damar bisa tenang membayangkan wajah anak istrinya dirumah.

__ADS_1


Padahal dia ingin uang tambahan untuk membayar uang sekolah anaknya, namun kenyataannya malah begini.


Damar selalu lemah dalam hal hal seperti ini.


Dia selalu lemah terhadap hal yang berhubungan dengan nyawa.


" Mas? makan dulu.." Umar memberi nasi kotak dan sebotol air mineral pada Damar yang sepertinya kelelahan dan tertidur sembari duduk.


keduanya sudah kembali dari kantor polisi sejak 3 jam yang lalu, dan sekarang hanya tinggal menunggu sholeh di pindahkan ke ruangan rawat, karena lukanya tidak ada yang membahayakan nyawanya meskipun cukup parah di bagian luar.


" Mas tidur di mobil saja kalau memang ngantuk, tapi maem dulu mas.."


" mana bisa aku makan dalam kondisi begini?" ujar Damar berdiri dan mengusir kantuknya,


" Aku mau ke kamar mandi dulu.." Ujar Damar,


" sepertinya disana mas, ikuti saja koridor nanti kan ada tulisan toilet.." beritahu Umar,


" Kok hafal sekali?" Damar heran,


" Lha kan tadi saya muter muter mas.."


Damar tak menjawab, ia mengikuti saran dari Umar, berjalan terus mengikuti koridor.


Dan benar, ia menemukan kamar mandi.


Setelah dari kamar mandi ia kembali berjalan melewati koridor,


namun matanya tak sengaja menemukan satu pemandangan yang membuatnya ragu.


Matanya menemukan seorang laki laki yang sedang mendorong kursi roda, dan di kursi roda itu duduk seorang perempuan.


Damar memicingkan matanya, apakah aku tidak salah lihat...ucapnya dalam hati..


itu seperti Haikal..


ucapnya lagi.


" Mas?" Umar menyusul Damar,


" Ku kira mas tersesat, lama sekali.." protes Umar.


" Aku seperti melihat orang yang ku kenal.." ujar Damar,


" Siapa mas?"


Damar terdiam,


" ah.. sudahlah, mungkin aku salah lihat orang.." ujar Damar.


" Ayo kembali.." ajak Damar, keduanya kembali ke depan ruangan UGD.


Namun di tengah tengah menunggu, rasa penasaran Damar tergali lagi.


" Itu Haikal.. " gumamnya yakin, dari postur tubuh, cara berjalan, potongan rambut hingga wajahnya meski dari samping,


" Itu Haikal, sedang apa dia disini, siapa yang sakit.." Damar berpikir sampai dahinya berkerut.


" Mungkin itu keluarganya.." ujar Damar lalu memejamkan matanya dan bersandar lagi pada kursi.


Umar yang melihat itu hanya bisa tersenyum mengerti.

__ADS_1


__ADS_2