
Yoga membawa tote bag besar berisi brownies dan beberapa coklat.
Ia membagi baginya rata pada semua pekerja di klinik, dari mulai rekan dokternya, perawat, OB, hingga satpam.
" Waduh.. ada kabar gembira apa ini?" tanya si dokter gigi dan satu dokter anak yang berada di lantai dua.
" hehehee.." Yoga hanya menjawab dengan senyumnya pada dua dokter cantik yang sama sama penasaran itu.
" pelit informasi sekali sih dok?!"
" sudah sudah.. kerja kerja.." ujar Yoga tersenyum lebar.
Yoga masuk ke pantry, ia menaruh sisa brownies di atas meja,
" Buat siapa?" tanya si senior,
" Dokter ika, weni, dan dokter ahmad," jawab Yoga kalem,
" Istrimu hamil?" tanya si senior, padahal Yoga tak memberitahu siapapun.
" Kok tau..?" Yoga berbinar,
" wajahmu yang bersinar seperti matahari itu memberitahu segalanya,"
Yoga tersenyum malu,
" alhamdulillah.. positif," ada rasa bahagia yang membuncah di dadanya saat ia mengatakan kata ' positif '.
Si senior ikut bahagia, ia menepuk punggung Yoga.
" Berarti sudah baik baik saja kan?"
" sayangnya belum.." raut Yoga kembali sayu saat ingat sikap Dinda masih seperti musuh padanya.
" Lho? memangnya istrimu tidak bahagia?? mendengarnya??"
Yoga menggeleng pelan,
" Dia belum menyadari kalau dirinya hamil, aku juga belum berniat memberitahunya,
biar dia menyadarinya sendiri.."
" Lho? bagaimana bisa? memangnya kenapa?" si senior terheran heran,
" Kondisi rumah tangga kami sedang tidak baik..
lagi pula, dia bersikeras berkata kalau dirinya tidak bisa hamil,"
" kenapa dia berpikir seperti itu? pernah kecelakaan?"
" di aniaya mantan suaminya,
dan mantan suaminya bekerja sama dengan orang tuanya untuk membohonginya,
yang membuatnya yakin adalah karena ada oknum tidak bertanggung jawab juga yang membantu mereka untuk menguatkan kebohongan itu.."
" tujuannya??"
" mungkin agar istriku putus asa dan tidak meminta cerai,
mungkin juga supaya tidak ada laki laki lain yang sudi mendekati istriku.."
" Wahh...orang orang edan.. ada ya orang begitu??"
" ada.. termasuk mertuaku,"
Si senior menggeleng gelengkan kepalanya,
" Bagaimana bisa orang tuanya menyetujui pernikahan kalian akhirnya jika dia lebih setuju dengan mantan suami istrimu?"
__ADS_1
" Cukup menjadi rahasiaku.." Yoga tersenyum kecut sekilas,
" Denganku masih ada rahasia kau ini? jangan mengeluh ya lain kali?" protes si senior.
" Aku mengancam mereka.." jawab Yoga sembari menghela nafas berat, mengingat kedua orang tua Dinda, tiba tiba hatinya merasa kesal.
" Mereka sudah menjual dan menipu putrinya, aku mengancam akan memperkarakan hal ini ke jalur hukum jika mereka tidak merelakan istriku untukku.."
" Wahh.. tumben kau tegas begitu?" si senior tertawa,
" Ini urusan masa depanku, aku tidak mau mengalah pada siapapun untuk kali ini..
mertua pun kugilas kalau mereka menyakiti istriku,"
" hemm baguslah kau bertindak seperti itu..
lalu..
kenapa tidak kau beritahu saja istrimu tentang kehamilannya?"
" dia sedang labil dan membenciku, aku tidak mau dia emosi dan berbuat yang tidak tidak.."
" Wahh pikiranmu.. ya tidak mungkinlah.."
" Aku wajib berjaga jaga akan semuanya,
karena beberapa waktu yang lalu aku melakukan hal yang sangat mengecewakan dan menyakitinya.."
si senior terdiam, ia terlihat berpikir.
" Yah.. mungkin dia akan lebih bahagia saat menyadari sendiri ketika perutnya sudah mulai membesar..
namun kau harus berhati hati..
takutnya dia melakukan kegiatan kegiatan berat.."
" bisa bisanya kau menipu istrimu begitu.. ckckck.." si senior berdecak tak percaya,
" perempuan ini benar benar merubahmu ya.." ujar nya lagi,
Yoga tersenyum,
" Dari awal mengenalnya, emosiku sudah di buat naik turun olehnya..
padahal saat itu aku berpacaran dengan sahabatnya..
kurasa.. tidak ada perempuan lain yang lebih cocok bagiku selain dirinya.." ujar Yoga.
Si senior menangkap ketulusan dalam kata kata Yoga,
perasaan yang di kira dangkal karen pertemuan yang singkat,
ternyata begitu dalam dan mengakar kuat di hati Yoga.
Dinda duduk di teras rumahnya, menikamati anggrek yang bergelantungan dengan bunganya yang melambai indah.
Sementara krisan di letakkan berjajar di bawah,
segar dan cantik..
Adinda menyandarkan punggungnya dan memejamkan matanya sembari menikmati angin sekitar yang membelai lembut pipinya.
" Hei.. Adinda.." panggil seorang laki laki dengan suara yang lembut.
Mata Dinda terbuka lebar dan menjauhkan punggungnya dari sandaran kursi.
" Ka??" panggil Dinda tak percaya, laki laki ini tiba tiba saja ada di hadapannya.
" Kenapa aku tidak mendengar suara mobilmu??" tanya Dinda langsung, karena memang ia tak mendengar deru mobil sedikitpun.
__ADS_1
" Mobilku disana.." Rakha menunjuk mobilnya yang di parkir di samping jalan.
" Ku lihat kau sedang bersantai, aku tidak mau menganggumu dengan kedatanganku..
ku kira cukup hanya dengan melihatmu dari jauh, tapi ternyata aku menginginkan lebih.."
Dinda kebingungan melihat Rakha berdiri di hadapannya.
" Duduklah yang tenang, kau masih sakit??" tanya Rakha duduk di salah satu kursi teras, tangannya menyerahkan buket bunga mawar putih.
Dinda tertegun,
" Terimalah.. kukira wajar menjenguk orang sakit membawa bunga atau lainnya?" Rakha mengulas senyum manis.
Dinda mau tidak mau menerima bunga itu.
" Ini juga ku bungkuskan soto sebelah kampus, dulu kau bisa makan dua mangkok sekaligus..
apa sekarang masih bisa??" Rakha menaruh bungkusan di meja kecil disamping Dinda.
" Ka..." panggil Dinda kalem,
" Iya Din..." Rakha mendekat,
" aku hanya bisa menjadi temanmu, tidak untuk yang lain.." ujar Dinda membuat Rakha termenung sejenak,
namun tak lama laki laki itu tersenyum,
" Kau masih sakit.. jangan memikirkan apapun.." jawab Rakha.
" Aku tidak ingin kau sakit hati dan salah paham terhadapku?"
" Aku tidak akan salah paham, kau menolakku sedari dulu itu juga karena ulahku sendiri yang suka main perempuan dimana mana..
jika boleh..
jika ada kesempatan..
aku ingin menjadi pria baik yang merawat dan mencintaimu..
aku tau tidak ada diriku sedikitpun di hatimu..
tapi kita tak bisa meramal masa depan,
meski kau selalu mendorongku menjauh..
aku akan tetap kembali ke tempat yang sama..
mengawasimu, sembari menunggu.." ujar Yoga menghela tangan Dinda dan mencium telapak tangannya.
" lihatlah dirimu.. semakin kurus saja,
bagaimana aku bisa berpikir baik pada suamimu jika kau terus seperti ini..
Kau semakin cantik dalam beberapa tahun ini..
namun kau juga semakin rapuh..
Adinda..
kita mengenal tidak setahun dua tahun..
aku akan berusaha menyamai langkahmu..
asal kau bahagia..
aku bahkan rela menjadi bayang bayang..
jika itu memang yang terbaik untuk sekarang.." Rakha menggenggam tangan yang pucat itu dengan hati hati.
__ADS_1