
" Jangan berlagak lupa.. perlakuanmu padaku dulu bisa ku maafkan, karena hubungan kita hanya sebatas di atas kertas,
tapi perlakuanmu pada Bagas..
sampai matipun tak bisa di maafkan."
" Kenapa kau tiba tiba begini? apa perempuan itu mengadu??!
yah terakhir kali aku kesini aku memang bersikap kurang ramah, tapi bukan berarti dia menyuruhmu menekanku seperti ini?!"
" Dia istriku, tidak hanya istri, tapi dia perempuan yang kucintai,
dia bukan tipe perempuan pengadu,
putramu sendiri yang memberitahuku bahwa kau menekan ibunya."
" Aku ibunya! aku yang melahirkannya?!
bagaimana bisa kau memberitahu anakku bahwa perempuan itu adalah ibunya?!" Vania, perempuan berkulit putih dan berparas cantik itu tetap tak terima dengan apapun yang di katakan Yoga.
" Hentikan, kita bertemu saja di pengadilan kalau kau tetap seperti ini.." Yoga berusaha meredam amarahnya.
" Sejak dulu kau keterlaluan!"
" aku? bagaimana bisa aku keterlaluan? aku sudah berusaha melaksanakan tugasku sebagai suami meski tidak ada dasar rasa cinta diantara kita,
aku juga memberi apa yang kau inginkan selama kau jadi istriku."
" Orang bodoh juga tau kau tidak menyayangiku?! kau seperti patung! tidak ada kehangatan sedikitpun meski kita tidur bersama!"
Perempuan yang sejak kecil di manja itu tentu saja tak cukup dengan sikap Yoga yang seadanya saja padanya.
Yoga lagi lagi tersenyum,
" aku tak ingin membahas masa lalu, rumah tangga yang seumur jagung itu tidak pantas lagi kau bahas, karena kau sendiri yang memutuskan untuk mengakhirinya,
jadi sekarang berbesar hatilah..
kalau ternyata putramu lebih menyayangi ibu sambungnya,
lalu coba kau dengar.. seandainya kau bisa bersikap baik dan tau diri, mungkin aku masih bisa berbaik hati..
istriku selalu diam saat melihatmu melempar godaanmu padaku,
tapi bukan berarti dia penyabar.. dia hanya sedang menahan diri demi Bagas.."
" Aku tidak perduli, perempuan itu tidak layak?!"
" terserah kau bicara apa, itu tidak penting untukku,
silahkan saja tuntut aku jika kau tidak terima, kita bertemu di pengadilan..
meski aku seorang Bapak.. tapi aku percaya diri bisa menang darimu perkara hak asuh,
ibu sepertimu.. yang meninggalkan darah dagingnya sendiri demi egonya, tidak layak menyebut dirinya ibu." Yoga berbalik,
namun Vania menarik lengan Yoga.
" Jangan begini?? kumohon? aku mau putraku..??
karena kemungkinan aku akan sulit untuk hamil lagi..
aku ingin kita mulai dari awal..
memberi Bagas kehidupan yang normal dan utuh..
dia juga berhak hidup dengan bapak dan ibu kandungnya??" tatapan Vania memohon, perempuan itu terlihat begitu serius dan putus asa.
" Akan ku tinggalkan suamiku.. asal kau setuju.." imbuhnya dengan suara ringan tanpa beban.
" Kau perempuan yang mengerikan.. kau dulu meninggalkan suami dan putramu demi laki laki ini, dan sekarang.. kau mau meninggalkan laki laki ini hanya karena dia tak sanggup memberimu keturunan..
wahhh..
aku sampai bergidik, tak bisa ku bayangkan bagaimana jika suamimu tau bahwa kau sudah bersiap siap meninggalkannya.." Yoga menarik ujung bibirnya sinis.
" Jangan terus menghinaku Yog??" mata Vania berkaca kaca.
Yoga lagi lagi mengulas senyum muaknya.
" Kau memang cantik.. tak bisa ku pungkiri..
tapi secantik apapun perempuan, tidak menarik dan berharga jika dia tidak berprinsip dan menjunjung tinggi kesetiaan..
__ADS_1
apa yang kau harapkan jika aku kembali kepadamu?
yang jelas aku akan memberi neraka bagimu, karena bukan hanya perasaan yang tidak kumiliki, tapi juga respect..
lebih baik menjauhlah..
aku bukan laki laki kalem seperti dulu,
dulu tak ada yang harus ku lindungi,
tapi sekarang, ada anak dan istriku,
menjauh kubilang." Yoga melepaskan tangan Vania yang melingkar di lengannya, sedikit kasar karena Vania tak mau melepasnya dengan mudah.
" Yog?!" terdengar suara memanggilnya dari lobby klinik,
" ada pasien yang perlu penanganan khusus!" lanjut salah satu dokter umum juga di klinik itu.
Yoga yang sedang berbincang di parkiran itu bereaksi cepat,
" Hemm?! iya mas aku kesana!" jawab Yoga lagi lagi menepis tangan Vania yang akan meraihnya lagi, dan setengah berlari ia segera ke dalam klinik.
Dinda membawa beberapa krisan yang ia beli ke tokonya,
saat pembeli sepi, ia akan menaruh krisan putih itu di atas meja dan mencabuti daunnya yang mulai menguning.
Saat sedang istirahat siang, sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti di parkiran toko.
Ekspresi para pegawai tiba tiba berbeda,
" Itu pak Rakha bu?" salah satu pegawai memberi tau Dinda.
Dinda tak menjawab, ia hanya menghela nafas dan mengangguk.
Saat pegawainya pergi, terlihat sosok laki laki berpenampilan rapi dan klimis mendekat ke meja kerja Dinda.
Laki laki bernama Rakha itu melempar senyum manisnya, bahkan yang paling manis..
" Sudah sembuh??" tanya laki laki itu, duduk di kursi, depan meja Dinda.
" Alhamdulillah... ada apa?" tanya Dinda datar,
" Kok ada apa? sulit sekali sih mendapat nomor telfonmu?!"
" aku tidak memberi nomorku sembarangan,"
" Jangan aneh aneh, suamiku melarang ku memberikan nomor HP ku, kau kan bisa telfon ke kantor?"
" Ah, bisa bisanya kau menyuruhku bicara ada pegawaimu?" protes Rakha.
" sama saja kan?"
" tidak sama.." Rakha menarik bunga bersama potnya itu, dari hadapan Dinda ke hadapannya.
" Aku bicara padamu, jadi fokuslah padaku.." ujar Rakha.
" Aku sampai mengalah mengambil barang dari bali karena kau sulit di cari sebulan ini?" imbuh Rakha menatap Dinda lekat.
" Ya sudah," jawa Dinda ringan,
" lho? kok ya sudah??"
" ya mau bagaimana.. aku juga kesulitan.." gumam Dinda.
" kesulitan? kenapa?"
" suamiku membatasi gerakku, dia tidak menginginkan aku bekerja terlalu keras.." jelas Dinda,
" membatasi gerakmu?"
" iya, aku di larang memesan barang terlalu banyak,
jadi.. sepertinya kau pesan saja barang langsung dari bandung, ku beri alamat dan nomor telfonnya nanti.."
Rakha terdiam, ia memandang Dinda dengan seksama.
" Apa kau bahagia dengan pernikahanmu?" tanya Rakha tiba tiba,
" kenapa kau bertanya seperti itu?" Dinda mengerutkan alisnya.
" Kau adalah wanita yang bersayap lebar..
kenapa tiba tiba kau memotong sayapmu sendiri hanya karena seorang laki laki?"
__ADS_1
" hei.. laki laki itu suamiku.."
" laki laki menyebalkan yang menghalangi keinginan istrinya untuk berkembang..
jangan jangan laki laki yang duduk disini waktu itu ya suamimu?!"
" benarkah? dia disini??" Dinda tak percaya,
" dia ganteng sih, tapi aku juga tidak kalah ganteng,
bisa bisanya kau senang laki laki pendek.."
" husss! dia tidak pendek, kau saja yang terlalu tinggi..!" Dinda tidak terima,
" matamu memang sakit sepertinya, ada yang lebih ganteng dan tinggi malah kau acuhkan sejak dulu.."
" kau playboy, siapa yang mau hidup bersamamu.."
" lho, aku kan sudah bilang, kalau kau mau jalan denganku dulu, akan kuserahkan tahtaku pada orang lain, dan hidup dengan menjunjung tinggi kesetiaanku padamu.."
mendengar kata kata Rakha Dinda mengambil buku nota disampingnya dan menggunakannya untuk memukul Rakha berkali kali.
" Cuci mulutmu dulu, supaya bersih dari gombalan gombalanmu, makin tua makin gila.." gerutu Dinda setengah sembari tersenyum ceria,
" Itu bukan gombalan, sekarang pun aku masih bisa menawarkan itu..
akan kulakukan jika kau mengangguk sekali saja.."
" Gila..!" Dinda mencubit lengan Rakha.
" idihdihdihdihhh...?!"keluh Rakha nyengir karena sakit.
" Kau tidak menikah sampai setua ini hanya untuk menggombal dimana mana?"
Rakha tersenyum mendengarnya,
" Ah.. aku tidak percaya pada ketulusan perempuan.. selain dirimu.."
" jangan gila.." peringat Dinda,
" tidak.. kau tau kan aku pernah bangkrut gara gara perempuan..?"
" aku hanya mendengarnya dari alumni.."
" itulah, kau sih.. tidak mau menjagaku..
bahkan setelah berceraipun kau malah mencari laki laki lain.. menyebalkan..!"
Rakha mencabuti kelopak krisan yang ada di hadapannya karena kesal.
" Hei..!" Dinda merebut kembali bunganya.
" Jangan lampiaskan pada bunga..?!" Dinda melotot.
Rakha kembali tersenyum,
" Ayo makan..?" ajaknya tiba tiba dengan nada lembut.
" jangan melewati batasmu kubilang.."
" hanya makan, dengan rekan bisnis lagi.. apa yang salah?"
" wajahmu yang salah.. semua orang akan mengiraku berselingkuh karena kau terlalu menawan..?!"
" hemm.. itu alasanmu saja, setelah menghentikan pasokan barangku sekarang kau bahkan mengecewakanku?"
melihat wajah Rakha yang kecewa Dinda berpikir sejenak,
" pesan makanan saja, kita makan disini untuk menghindari fitnah.." ujar Dinda sedikit mengalah,
" apa enaknya? aku butuh berdua denganmu.."
" jangan aneh aneh kubilang, mau tidak?"
Rakha terdiam sejenak,
" hemm.. yowes ( ya sudah).. arep maem opo?( mau makan apa?)"
" makan bebek panggang saja, yang sebelah kampus kita..bisa pesan online kan sekarang? orang segitu gedenya.."
Dinda antusias,
" kan.. kau merindukan kebersamaan kita masa masa kuliah, kau bahkan kangen bebek panggang sebelah kampus.."
__ADS_1
" ah.. apa sih?! buruan pesan!" tegas Dinda sembari melotot, Rakha hanya tertawa melihat perempuan yang sedang gemas padanya itu.
" Baik bu boss sayang.." angguk Rakha patuh.