
Ibu memandangi Kinanti dan Damar secara bergantian.
Lalu dengan wajah frustasi memegangi kepalanya yang tidak sakit dengan tangan Kirinya.
Sementara Damar dan Kinanti diam tertunduk, seperti menunggu sebuah hukuman.
Ekspresi keduanya persis seperti anak anak yang sudah ketahuan mengambil barang yang bukan miliknya, takut, malu dan bersalah.
" Harus bagaimana ibu bicara pada kalian?" tanya ibu bingung, karena saking marah dan terkejutnya melihat Damar dan Kinanti yang seperti itu.
" Kalian berdua mau ibu menghembuskan nafas terakhir ibu lebih cepat?!" ibu terlihat benar benar marah.
" Tidak bu, jangan berkata seperti itu?" sahut Kinanti dengan suara penuh penyesalan.
" Masalah satu belum selesai.. kalian mau menambah nya lagi?!" tegas ibu,
" jangan salahkan Kinan bu, ini sepenuhnya salah saya.." Damar menyahut, ia tertunduk dalam sekali di hadapan ibu.
" Kalian berdua ini benar benar?!" kalimat ibu terhenti, saking marahnya ibu sampai tidak bisa berkata kata.
" Kalau akhirnya seperti ini?! kenapa tidak dari awal saja kalian berdua bersama?!
untung ibu yang melihat, bagaimana jika orang lain?!
usiamu tidak muda Damar, harusnya kau lebih mampu menguasai dirimu?!"
Damar terdiam, ia masih belum berani mengangkat wajahnya.
" Saya salah bu.. saya akan menerima apapun Hukuman ibu.." ucap Damar.
Ibu terdiam cukup lama, ia terlihat berpikir dengan keras.
Lalu tak lama ia mulai berbicara kembali.
" Masuklah ke kamarmu Nan, ingat untuk menyelesaikan permasalahanmu dengan Haikal besok!" perintah ibu.
Kinanti mengangguk dan segera pergi, ia meninggalkan Damar begitu saja dengan ibunya.
" Angkat kepalamu..?!" suara ibu masih penuh kekesalan, bukan ibu tidak setuju jikalau keduanya saling mencintai,
tapi perbuatan mereka di saat yang sedang genting seperti ini benar benar keterlaluan menurut ibu.
Seharusnya keduanya lebih bisa menahan diri sampai masalah Kinan dan Haikal selesai.
" Apa kau benar benar mencintai Kinan?" tanya ibu setelah Damar mengangkat wajahnya dan memberanikan diri memandang ibu.
" Kenapa ibu masih meragukan saya?, tidak menjawabnya pun sudah pasti ibu tau saya mencintai putri ibu dengan sungguh sungguh,
meskipun saya sempat menjadi seorang pengecut..
namun sekarang saya tidak mau mengalah kepada siapapun lagi perkara Kinanti.." jawab Damar penuh kesungguhan.
" Persoalannya bukan karena ibu tidak yakin padamu,
__ADS_1
tapi Kinanti yang tidak yakin padamu, dia selalu merasa ajakan mu menikah hanya karena kau terbebani rasa tanggung jawab mu atas kematian Aji," jelas Ibu mulai tenang.
Damar tertegun, hal itu sama sekali tak pernah melintas di kepalanya.
" Menikah itu perkara perasaan bu, bagaimana mungkin saya mengajak seseorang menikah dengan dasar semacam itu?
memang awalnya sayapun ragu pada diri saya sendiri, apakan perasaan yang saya miliki pada Kinan betul betul cinta atau hanya sebatas obsesi..
tapi makin kesini saya menyadari, bahwa itu bukanlah sebuah obsesi bu..
semakin hari perasaan itu tumbuh semakin besar di saja..
hingga saya tak sanggup lagi membendungnya.." ujar Damar penuh keyakinan pada ibu.
Ibu yang mendengar itu hanya bisa menghela nafas panjang.
ibu tau benar Damar serius dengan kata katanya, tapi ibu masih bingung dengan perkara Haikal.
" Lalu tindakan nyata apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" tanya ibu serius, tanpa embel embel nak seperti bisanya.
" Kalau Haikal bersikeras tidak mau melepaskan Kinan, saya akan terang terangan merebutnya.." jawab Damar membuat ibu sedikit kaget, karena ibu tak pernah melihat sosok Damar yang egois dan serakah seperti ini.
Biasanya dia anak yang sabar dan suka mengalah, bahkan selalu bisa menahan keinginan keinginannya dengan tenang tanpa di ketahui orang lain.
" Merebut? jadi kau mau meninju orang lagi? sejak kapan kau menjadi sosok yang kurang bijaksana begini?" tanya ibu heran.
" Sejak putri ibu menolak saya berkali kali..." jawab Damar sembari tertunduk.
Mana mungkin ia menyepelehkan jasa besar dari Damar.
Tapi perasaan diantara keduanya juga perlu ibu perhitungkan.
Melihat adegan tadi, sepertinya ibu tidak perlu lagi bertanya bagaimana perasan Kinanti pada Damar.
Semuanya tergambar dengan jelas saat ibu melihat Damar memindahkan Kinanti kedalam pangkuannya, dan Kinanti membalasnya dengan mengalungkan tangannya pada leher Damar.
" Haah..." keluh ibu kembali mengingat kejadian yang ia lihat tadi,
sesungguhnya ia sudah terlalu tua untuk melihat suguhan semacam itu, apalagi pelakunya putrinya sendiri, dan yang satu lagi adalah pemuda yang sudah ia anggap putranya sendiri.
" Besok sore suruh orang tuamu kesini, ada yang harus ku bicarakan perihal perbuatan kalian berdua yang tidak bisa di benarkan.." ujar ibu,
" Sekarang pulanglah, ini sudah malam" tegas ibu meski nadanya lebih lembut.
" Tapi bu?" Damar masih gelisah.
" apa? jangan berharap ibu menyuruhmu tidur disini setelah melihat kejadian tadi" tukas ibu membuat Damar layu.
Dengan langkah berat ia menuruti perintah ibu.
Sesampainya Damar dirumah ia langsung menemui Winda, ia tak perduli meskipun Mbaknya itu sudah bersiap siap tidur.
Dengan raut wajahnya yang tidak menyenangkan itu dia menceritakan apa yang sudah terjadi.
__ADS_1
Ia meminta Winda yang datang, kerumah Kinanti dan menghadapi ibu.
" Wah.. siapa yang membuat masalah, siapa yang menyelesaikan.." goda Winda, tapi posisi Damar sedang tak bisa di goda.
" Sudah mas, lamar saja langsung.." celetuk Yoga yang sepintas lewat, ia mengambil Bagas dan berniat membawanya putranya itu pulang.
" Lamar lamar, kau kira dirimu?!" sembur Winda pada adik kandungnya itu.
" Lho kan, aku tidak ada benarnya.." komentar Yoga segera berlalu.
Suasana hening beberapa saat, Winda dan Damar sama sama terdiam.
" Kau mau patuh tidak padaku?" tanya Winda kemudian setelah lama terdiam.
" Patuh tentang?"
" percayakan pada mbak, asal kau patuh dan percaya, mbak akan membantumu sampai selesai.." ujar Winda.
" Maksud mbak?"
" Sudahlah Dam, cukup beri mbak alamatnya.." ujar Winda, padahal baru besok dirinya akan bertanya pada Umar, eh.. ternyata sekarang Tuhan memberi jalan dengan cara seperti ini, ucap Winda dalam hati.
" Besok saja biar ku suruh orang pabrik mengantar mbak.."
" Baiklah.. tapi sebelumnya.. beri tahu aku ciri ciri perempuan itu?"
" Siapa? Kinan?"
" Siapa lagi?! masa mbok Sumi tukang pijat yang biasanya kesini?!" Winda kesal, adiknya ini tiba tiba menjadi turun volume otaknya sepertinya, gerutu Winda dalam hati.
" Habisnya mbak menyebutnya perempuan, namanya Kinanti.."
" Baiklah adikku sayang.. sebutkan ciri ciri Kinanti mu yang pasti cantik dan manis itu.." tanya Winda serius,
" Sebesar apa dia, setinggi apa?" tanya Winda lagi,
" Hampir mirip dengan Kaila bentuk tubuhnya,
hanya lebih kecil sedikit.." Jawab Damar.
" Ya sudah.. baiklah.." Jawab Winda.
"lalu apa yang harus ku katakan pada ibunya nanti menurutmu Dam, tentang perbuatan mu itu tentunya?" Winda mencoba mengorek isi hati Damar.
" Tentu saja mbak harus berkata kalau aku akan bertanggung jawab mbak?!" tegas Damar.
Melihat kelakuan adiknya itu Winda tersenyum geli,
Adamar yang selalu serius dan tidak suka berangan angan tinggi ini akhirnya menemukan titik kelemahannya sendiri.
" Baiklah...mbak bertanya bukan tidak tau, tapi mbak ingin memastikan saja.." ujar Winda mengulas senyum lega.
" Ya wes, pulang sana.. mbak mau tidur.." Winda bangkit dari sofa.
__ADS_1