
Damar memperhatikan Haikal baik baik,
laki laki yang cukup gagah dan serius, Damar tak menemukan satupun celah.
Namun ada sesuatu yang berlebihan dari keseriusan ini.
Damar hanya tidak suka laki laki pada yang terlalu percaya diri dan grusa grusu.. ia terlalu mudah mengatakan keyakinannya sebelum membuktikannya.
Maklumlah, Damar adalah orang yang jarang mengucapkan janji namun lebih banyak memberikan bukti.
Dan hal itu juga yang ingin ia dapatkan dari Haikal.
Sayangnya tak ada Kinanti disini, setidaknya ia bisa melihat sorot mata Kinanti saat memandang Haikal.
Apakah memang ada rasa cinta disana, yah.. setidaknya Damar menemukan sebuah ketertarikan di mata Kinanti.
" Lalu bagaimana Kinanti, apa dia sudah bersedia menjalani kehidupan rumah tangga dengan anda?" tanya Damar lagi.
" Dia sedang berusaha menerima saya, menerima keseriusan saya..
dia berkata akan memberi saya kesempatan karena keseriusan saya.." jawab Haikal.
Damar terdiam, situasi macam apa ini.. pikirnya, dia memberi laki laki lain kesempatan dengan begitu mudahnya, sedangkan padanya Kinanti seperti menutup mata dan pura pura bodoh.
" Baiklah.. kalau memang kalian sudah berkomitmen seperti itu, saya hanya bisa menyetujuinya.." ujar Damar tak bisa berkata apapun lagi, sekilas ia melihat ibu,
ada gurat kekecewaan di matanya.
Damar mengeluh dalam hati, namun ia tidak bisa egois.
" Lalu rencana ke depan anda bagaimana setelah menikah, maaf bukannya saya cerewet..
namun saya harus bertanya sebagai pengganti kakak Kinan.."
" Tidak apa apa mas.. setelah menikah, rencana saya memboyong Kinan kerumah saya, rumah saya tidak terlalu jauh dari sini kok mas.." jawab Haikal membuat Damar menatap ibu sejenak.
" Lalu bagaimana dengan ibu?" tanya Damar,
" Kalau ibu mau ikut kami monggo bu.. saya akan senang sekali ada ibu dirumah.."
" Bukan kalau ibu ikut kami, tapi ibu harus selalu bersama Kinan, jangan coba coba untuk meninggalkan ibu sendirian setelah menikah,
atau memperlakukan ibu dengan berlebihan setelah menikah,
misal menyuruhnya menjaga putra atau putri kalian setelah menikah,
tentunya gaji njenengan lebih dari cukup untuk mencari jasa seorang asisten rumah tangga.." nada Damar tegas, itu membuat Haikal terhenyak sejenak.
ibu menatap Damar, se akan berkata, tidak perlu mengatakan semua itu.
" Tidak bu, saya harus mengatakan ini di awal, agar tidak ada kesalahan di kemudian hari, tentunya tidak apa apa kan mas Haikal?" Damar benar benar bersikap tegas, ia seperti menembak Haikal tepat di jantung.
" Tentu saja hal seperti ini harus kami bicarakan, tapi saya belum membahas apapun dengan Kinan.." jawab Haikal sedikit shock dengan Damar yang sangat berterus terang.
" Bicarakan semua, baik perihal gaji dan lainnya, seperti cicilan atau apa kalau memang ada, saya tidak mau kinan kaget setelah pernikahan,
dan satu hal.. seorang istri tidak wajib bekerja, jika ia memang ingin bekerja biarkan, namun jika ia tak ingin jangan pernah memaksanya, karena kurang lebihnya perekonomian, itu bukan masalah istri, namun sepenuhnya masalah suami, itu menurut saya" Damar benar benar tegas, ia tak mau ada situasi yang akan menyulitkan Kinanti nanti.
" Dan maaf.. bukannya saya ikut campur, namun ini demi kenyamanan Kinanti, apa yang saya katakan pada njenengan adalah kekhawatiran yang di rasakan semua keluarga ketika mengambil keputusan merelakan putrinya untuk di pinang.."
Haikal mengangguk, menandakan ia mengerti, meskipun hatinya mulai gelisah dengan kalimat kalimat Damar yang terlalu terus terang.
" Baik mas, saya tidak akan menyarankan Kinan untuk bekerja.." jawab Haikal, wajahnya tiba tiba kaku.
" Apa njenengan merasa saya terlalu berlebihan?" tanya Damar menangkap ekspresi kurang nyaman dari Haikal.
" Tidak.. saya rasa itu wajar saja di bicarakan sebelum melangkah ke jenjang pernikahan.."
" Baguslah.. jika memang mau serius berumah tangga, jangan ada yang di tutup tutupi.." ujar Damar.
" kalau begitu anda boleh membicarakan segala sesuatunya dengan Kinan setelah ini,
kalau rencana kalian sudah matang, silahkan hubungi saya lagi..
sebagai kakak saya akan menanggung segala keperluan Kinanti, jadi jangan khawatir..
dan rasanya saya juga perlu berjumpa dengan ayah dan ibu mas Haikal..
sebagai wali Kinan saya harus membahas biaya pernikahan.. dan hal hal lainnya..
maafkan, saya adalah orang yang detail.."
" maksud mas? bagaimana ya?"
" banyak hal hal sepele seperti biaya, tanggal.. dan dimana acara akan di adakan yang harus saya bicarakan dengan orang tua mas Haikal.." Damar tiba tiba saja cerewet,
Haikal lagi lagi diam mendengar itu.
" apa mas Haikal keberatan?"
__ADS_1
" Tentu tidak.. saya akan membicarakannya nanti.." ucap Haikal.
" Kalau begitu saya mohon diri dulu mas, tadi ini pulang kerja langsung kesini soalnya.." pamit Haikal.
" Begitu? ya sudah.. baiklah.. kapan kapan kita bicara lagi, jika ada yang ingin di bicarakan silahkan hubungi nomor saya, anda boleh memintanya pada Kinanti.." jawab Damar.
Haikal mengangguk, dia bangkit, berpamitan pada ibu dan Damar, lalu menghilang di balik pintu.
Tak lama Damar tersenyum, ia menerima pandangan dari ibu yang menyimpan kekhawatiran.
" Maafkan saya bu..
saya hanya ingin memastikan Kinanti menikah dengan laki laki yang bertanggung jawab dan tidak pelit, biaya adalah tanggungan saya..
namun penting bagi saya untuk memastikan Kinanti akan Hidup sejahtera atau tidak bersama Haikal itu..
sebelum pernikahan, segalanya harus jelas,
tidak lucu kalau setelah menikah Kinanti menanggung banyak beban.." jelas Damar pada ibu.
Melihat kebijaksanaannya itu ibu mengangguk mengerti,
" Makan dulu yuk nak.. ibu masak banyak tadi.." ujar ibu Kinanti,
" Boleh bu.. saya memang belum makan.." jawab Damar.
Di luar perkiraan, Kinanti pulang seusai magrib, sepulang les Haikal langsung menghadangnya, ia mengajak Kinanti bicara tentang apa saja yang sudah Damar di sampaikan.
Yang jelas Haikal sedikit terkejut dengan Damar, Haikal sedikit tidak nyaman dengan kalimat kalimat Damar perkara gaji, cicilan, dan biaya pernikahan.
Haikal merasa itu tidak pantas di bahas dan serahkan saja pada orang tua.
Namun disini Haikal lupa, bahwa Damar adalah pengganti orang tua Kinanti, jadi wajar saja kalau Damar mengatakan semua itu di awal, hanya saja bedanya Damar tidak membawa rasa sungkan, ia bertanya dengan begitu terus terang.
Kinanti yang melihat motor trail yang masih terparkir di depan tau, bahwa Damar masih ada dirumahnya.
Damar terlihat sedang duduk di ruang tamu, ia sibuk dengan laptopnya, nampaknya masih ada sedikit pekerjaan yang ia selesaikan.
" Mas.." sapa Kinanti,
" Iya" Jawab Damar pendek, ia tak memandang Kinanti sama sekali, jari jarinya tetap sibuk mengetik.
Melihat itu Kinanti melanjutkan jalannya, ia masuk ke kamarnya.
" Mandi dulu nduk.. setelah itu makan, tadi ibu sudah makan duluan dengan Damar.." ibunya membuka pintu kamarnya.
Setelah Kinanti mandi dan makan, Damar masih saja duduk di ruang tamunya, bedanya sekarang ia sudah tidak mengetik.
" Nak.. ibu ndak kuat ngantuk.. kamu ngobrol saja dengan Kinan, ibu pamit tidur ya.." ucap ibu pada Damar,
" Nggih bu.. njenengan istirahat.." jawab Damar, ia melirik jam tangannya, masih jam setengah delapan sebenarnya, tapi kondisi ibu memang kurang baik, sehingga beliau mudah lelah, dan Damar menyadari itu.
Setelah ibu masuk Kinanti ikut masuk ke dalam, ia menyibukkan dirinya mencuci piring agar tak berbincang dengan Damar.
Tapi sekitar setengah jam kemudian terdengar suara Damar memanggilnya,
dengan langkah berat ia datang keruang tamu untuk menemui Damar.
" Kita bicara di teras saja.." ujar Damar.
Kinanti mengangguk dan mengekor berjalan di belakang Damar.
Kinanti duduk di salah satu kursi, namun Damar tidak, ia berdiri sembari membelakangi Kinanti, memandangi pepohonan yang tumbuh dengan baik di halaman depan rumah Kinanti.
Meski kecil, namun rumah Kinanti termasuk asri, tidak seperti halaman rumah Damar yang kosong melompong.
Hiburannya hanyalah pemandangan sawah dan gunung, yah.. setidaknya ada yang di pandang, pikir Damar.
" Aku sudah bertemu dengan calon mu.." Damar membuka percakapan,
" Iya mas.." Jawab Kinanti.
Keduanya tiba tiba saja diam, suasana hening cukup lama.
Namun Damar yang merasa situasi itu canggung, membuka percakapan lagi.
" Bagaimana kabarmu sebulan ini..?" tanya Damar berbalik memandang Kinanti, matanya menyiratkan sesuatu yang tidak bisa di tangkap oleh Kinanti.
" Aku baik mas.. mas sendiri?"
" seperti yang kau lihat.. aku baik baik saja.." jawab Damar.
" Yah.. mas tampak sangat baik.." jawab Kinanti setengah bergumam.
Sebulan tidak bertemu Damar terlihat sedikit kurus, apa karena kemejanya yang berwarna gelap.. pikir Kinanti, tapi yang jelas ini pertama kalinya Kinanti menemukan laki laki itu di bingkai oleh kacamata,
yang tampak di mata Kinanti adalah Damar yang semakin menawan dengan kacamatanya, wajahnya yang tegas sedikit lembut dan ramah.
Wibawanya menelan semua hal yang tidak menyenangkan, yang selama ini di pandang Kinanti ada pada diri Damar.
__ADS_1
" Apakah kau pikir aku sebaik itu sebulan ini?" tanya Damar, senyum tipisnya tersungging, terkesan dingin.
" Yang tampak di mataku mas baik baik saja tuh.." Jawab Kinanti mengalihkan pandangannya.
" Kenapa? apa sekarang calon suamimu sudah melarangmu menatap laki laki lain saat bicara? sehingga kau lebih memilih menatap dedaunan dari pada menatapku?"
Kinanti mengerutkan dahinya, ia heran sekali dengan kata kata Damar,
Keduanya berpandangan untuk sesaat.
" Bicaralah yang penting penting saja mas, bukankan aku sudah menemukan calon suami yang mas inginkan.." ujar Kinanti.
Damar mengeluh dalam hati, entah kenapa ia kesal sekali.
" Yah benar.. dan kau hebat sekali menemukannya dengan cepat..
ku kira kau akan menikah dengan guru olah raga itu, ternyata kau mencari yang lebih gagah.."
" Aku hanya menerima siapa yang serius terhadapku, karena aku tidak tertarik dengan pacaran, aku sudah pernah membuang banyak waktu untuk hal yang sia sia.."
" jadi menurutmu siapa cepat dia dapat begitu?" suara Damar berubah lebih sinis.
" Aku tidak mengatakan begitu, tapi diantara laki laki yang mendekatiku, Haikal lah yang paling serius, dia tidak mengajakku pacaran atau semacamnya, tapi langsung mengajakku menikah"
" Oh.. jadi selama ini kau menunggu kalimat itu?"
" tentu saja mas, aku seorang perempuan, mana mungkin aku mengajak seorang laki laki untuk menikah terlebih dahulu, meski aku orang tak punya, tapi harga diriku masih melekat tinggi" tegas Kinanti.
" Dan harga dirimu sangatlah tinggi di hadapanku, bahkan menjulang tinggi sampai tak mampu ku gapai.. tapi di hadapan laki laki lain kau menurunkannya.."
" Omong kosong, mas ingin menghinaku secara tidak langsung ya?
aku heran sekali dengan perilaku mu mas?!, mas gencar menuruhku menikah, tapi saat aku menemukan laki laki mas malah bersikap seperi musuh..?!"
Damar tertawa mendengarnya,
" Kau mana bisa menemukan jawaban dari rasa heranmu.. karena kau tidak pernah memposisikan dirimu sebagai orang lain, kau hanya memikirkan perasaanmu sendiri.." komentar Damar.
Kinanti diam, ia kesal sekali.
" Kenapa? ingin marah.. marahlah.." ujar Damar melihat Kinanti menatapnya dengan kesal.
" Apa saja yang mas katakan pada Haikal?" tanya Kinanti tiba tiba.
" Haikal? calon suamimu yang buru buru itu?" Damar membuat Kinanti semakin kesal.
" Aku hanya bertanya sebagai walimu, itupun ku katakan di hadapan ibu, soal gaji, cicilan, tanggal pernikahan dan biaya.. ku katakan agar ia terbuka padamu,
tidak lucu Kinanti, kalai kau sengsara setelah menikah..
banyak laki laki yang terlihat hidup mewah namun tanggungannya juga banyak,
jangan sampai kau tau semua bebannya setelah kau menikah dan tidak ada jalan untuk kembali,
ia mengatakan sanggup dengan begitu mudah, sedangkan ketika aku membahas gaji dan lainnya, ia terlihat begitu tidak senang..
menikah memang susah senang sama sama, tapi itu untuk orang yang saling mencintai,
kau bahkan tidak mencintainya Kinanti, kau hanya bertindak seperti orang yang mengocok arisan,
apa yang keluar, itulah yang kau ambil,
kau tidak berpikir hal lain di belakangnya.."
" Bukankah kau menyuruhku untuk menikah?!" Kinanti bangkit dari duduknya, ia menatap Damar dengan penuh rasa marah.
" Sudah ku lakukan! dan sekarang kau mengataiku caraku menikah seperti mengocok arisan?!" Kinanti berdiri di hadapan Damar, seperti menantang, dirinya sudah capek dan lelah dengan tingkah Damar yang tak jelas apa maunya.
" setidaknya dia lebih baik darimu mas?!
meski aku tidak ada perasaan cinta terhadapnya, namun dia dengan berani mengajakku menikah!
Wajar saja aku memberinya kesempatan, lalu kau mau aku bagaimana?!"
Mata Kinanti memerah, berkaca kaca.
" Kau itu se enaknya mas.. kau se enaknya! kau mau merusak rencana pernikahanku sekarang?! itu tak akan ku trima, jadi pergilah!" keduanya berpandangan, Damar tercengang.
" Pergilah, aku lelah!" nada Kinanti lebih rendah, ia berbalik dan berjalan ke arah pintu rumah, namun Kinanti merasakan tubuhnya di tarik ke tempatnya semula.
Sekarang Kinanti yang tercengang,
Damar sudah memegang erat pinggangnya.
" Kita belum selesai bicara.." suara Damar dalam.
" Lepaskan mas? apa kata tetangga kalau melihatku seperti ini?!" Kinanti berusaha melepaskan diri, namun yang terjadi pelukan itu semakin erat dan tubuh mereka semakin tak berjarak.
" Aku yang akan bertanggung jawab jika gara gara perilakuku kau mendapatkan hal yang buruk.." jawab Damar
__ADS_1