
Gending gending di hentikan,
Kinanti sudah berdiri di hadapan Damar dengan kebaya putihnya yang di hiasi dengan payet mutiara,
Ujung baju itu menjuntai panjang menyapu lantai sehingga mewajibkan asisten si perias membantu Kinanti berjalan.
Sanggul solo putri dan pidih yang menghias dahinya membuat Damar sempat tak mengenalinya, anggunnya sungguh luar biasa.
Damar benar benar pangling.
Tidak hanya Damar saja, namun Winda dan Kaila pun takjub dengan perbedaan itu.
make up itu terlihat natural namun terlihat berbeda dengan wajahnya, semua tampak lebih tajam namun kalem.
Rias matanya yang paling mencolok.
Mata Kinanti terlihat besar dan cantik,
di tambah softlens abu abunya yang membuat sorot matanya tampak bersinar, juga menambah keanggunan riasannya.
Damar menelan ludah, matanya terbentur pada Dagu Kinanti yang indah.
Keduanya berpandangan lama, 7 hari tak bertemu membuat kerinduan Keduanya menumpuk.
Damar yang tidak bisa menahan diri menyentuh Untaian Melati di bahu Kinanti.
" Plak..!" tangan Damar di pukul oleh Winda, dan ibu perias hanya tertawa.
" Kalau kau mau merusak bunga itu nanti malam saja, sabarlah! tahan tahan dirimu itu?!" omel Winda membuat Kinanti tertunduk malu.
" Aku hanya menyentuh, bukan mau merusak mbak..?" Damar memberikan perlawanan.
" Kau kira aku tidak bisa melihat hasratmu yang besar itu? sorot matamu bahkan terlalu jelas.."
" Itu rindu mbak? bukan hasrat?!" Damar masih tak terima,
" itu sejenis, sudah.. duduk kalian, semua orang disini hanya menunggu kalian.." ujar Winda segera memanggil penghulu agar berpindah ke tempat duduk yang sudah di siapkan, dan agar semua keluarga berkumpul.
" Mas mas?! ayo.. sudah mau akad nikah?!" panggil Umar pada Yoga yang sedang makan sepotong roti di dapur.
" Sudah datang tho pengantin perempuan?" ujar Yoga menelan roti yang ada di mulutnya lalu berjalan buru buru ke tempat di adakannya akad nikah.
Dan apa yang di tunggu tunggu terlaksana.
Akad Nikah akhirnya di mulai, Semua orang bisa melihat ketegasan Damar dalam setiap kalimatnya,
__ADS_1
entah kenapa kegugupannya justru hilang melihat betapa cantiknya Kinanti yang sedang duduk disampingnya.
Ijab Qobul di laksanakan dengan lancar dan Khidmat.
" Bagaimana saksi?" tanya bapak penghulu,
" Sah!"
" Sah!"
" Sah!"
"Sahhhhhh...!"
Semua orang yang berada disana menjawab serempak seperti suporter bola.
Damar tersenyum lega.
Dengan sigap Damar mencium kening Kinanti dengan hati hati agar tidak terkena pidih hitam yang menghiasi dahi perempuan yang sudah menjadi istrinya itu.
" Istriku.." ujar Damar haru saat Kinanti mencium punggung tangan Damar untuk pertama kalinya,
hatinya di penuhi kehangatan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Semua orang yang berada di tempat itu bisa melihat dengan jelas, betapa besar cinta Damar,
banyak orang yang tertegun dengan caranya memperlakukan istrinya itu.
Damar yang tak pernah dekat dengan perempuan manapun dan lebih terkesan kaku itu, bisa bersikap begitu romantisnya.
Caranya mengecupi tangan istrinya, membuat banyak ibu ibu yang merasa iri karena tidak pernah di perlakukan seperti itu oleh suaminya.
Kinanti yang merasakan kehangatan dan perlakuan itu tak kuasa menahan air matanya agar tak tumpah.
Kasih sayang Damar seperti menyentuh lubuk hatinya yang terdalam.
Damar terus saja menciumi tangan itu, tak perduli di hadapan banyak orang.
Melihat penghulu yang tersenyum sembari mengelengkan kepalanya, Winda menyadarkan adiknya.
" Berhentilah kalau tidak mau tangan istrimu berlubang karena terus kau ciumi.." bisik Winda membuat Damar terhenti.
Namun ia masih terus menggenggam tangan istrinya itu, seakan takut Kinanti hilang, hingga penghulu berpamitan untuk pulang.
" Kinan sudah jadi istrimu le.. jaga baik baik ya.." suara ibu menyadarkan Damar yang seperti sedang tersihir habis habisan oleh Kinanti.
__ADS_1
" Ibu?" ucap laki laki itu merangkul ibu Kinanti.
" Jangan menangis, kau pengantin hari ini.." ujar ibu sembari menepuk punggung Damar.
" Terimakasih bu..? terimakasih..??" ucap Damar seperti anak kecil yang merengek pada ibunya.
Semua yang melihat kasih sayang itu merasa haru, baru kali ini mereka melihat Damar sedekat itu pada seseorang.
Bahkan pada ibu tirinya yang sedang duduk di dekatnya pun Damar tak belaku seperti itu.
Sementara,
di saat semua orang sedang terharu dan melepaskan kebahagiaan,
ada satu orang yang merasakan hal berbeda.
Dengan sedikit sempoyongan Yoga berjalan ke dalam rumahnya, langkahnya terlihat terburu buru.
Setelah sampai di dalam rumah
ia langsung terduduk di lantai,
kakinya benar benar lemas, tubuhnya seperti kehabisan tenaga.
" begitu banyak Kinanti di dunia ini,
kenapa itu harus kau..??" gumamnya dengan suara bergetar.
Di sandarkan kepalanya, demi menahan beban keterkejutannya yang luar biasa.
Dan setelah menguasai dirinya beberapa saat kemudian ia mulai berpikir.
Sekarang yang terbaik untuknya adalah bersembunyi,
Ia tak mungkin menampakkan dirinya dan merusak suasana.
" Bisa bisa nya..?!" keluhnya lagi memukul mukul lantai beberapa kali dengan keras hingga tangannya tergores.
" bisa bisanya muncul di hadapanku dengan cara seperti ini..
bisa bisanya kau Nan..?!"
Yoga frustasi,
Rasanya ia tak sanggup keluar dari rumah ini, dan menerima kenyataan bahwa istri saudaranya itu adalah mantan kekasihnya yang masih ia simpan baik baik di dalam hatinya.
__ADS_1