Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
nada nada rindu


__ADS_3

" Beginilah hidup Nan..


lebih banyak tidak menyenangkannya bagiku.." kata Dinda sembari menarik kardus kardus berisi baju ke dalam tokonya.


" Kenapa tidak memakai pekerja untuk membantu?" tanya Kinanti sembari membantu mendorong kardus kardus itu.


" Tidak.. aku sempat beberapa kali memakai jasa orang lain, tapi.. ujung ujungnya begitulah..


yah, kau faham betul diriku yang sulit bekerja dengan orang lain.." Dinda membongkar kardus itu.


" Wah.. baju anak anak.. lucu lucu Din..?!" Kinanti gemas melihat rok rok kecil dan berbunga bunga itu.


" Lucu ya, sayangnya kita belum punya.." Dinda tertawa.


" Menikahlah lagi Din.. siapa tau kelak hidupmu lebih terarah.."


" Kau kira sekarang hidupku tidak terarah?"


" Ya bukan begitu maksudnya..


kalau kau ada suami pastinya kau tidak lagi hidup seenakmu sendiri.."


" Ah.. bosan aku mendengarmu menceramahiku sejak kemarin, baru berapa hari sih kau datang..?"


gerutu Dinda.


" Aku kan perduli..?!"


" perduli dan cerewet beda tipis.."


Keduanya mulai sibuk, Kinanti membantu Dinda dengan semangat, raut wajahnya begitu senang melihat baju baju kecil dan berwarna warni.


" Suamimu tidak khawatir memangnya kau sudah berhari hari disini?" tanya Dinda tiba tiba.


Raut Kinanti berubah, dari penuh senyum menjadi muram.


" Jangan perdulikan itu, dia tidak akan mencariku.. jadi kau jangan mengusirku kalau aku betah disini.."


jawab Kinanti.


" Ck..ck..ck..ck.." Dinda menggeleng gelengkan kepalanya.


" Dari dulu.. kalau kau ribut dengan Yoga larinya juga kerumahku..


sekarang pun kau begitu.." lanjut Dinda.


" Ini semua juga gara gara Yoga?!" Kinanti mendengus kesal.


" Aku heran dengan diriku sendiri?! bisa bisanya aku jatuh cinta pada laki laki semacam dia dulu!"


" Ahahahaha...! jangan bicara begitu, kau lupa bagaimana kau sampai sakit berminggu minggu gara gara putus dengannya? setahun lebih kau seperti orang kehilangan tujuan.."


" Huss..! itu masa masa memalukan?!"


" memalukan karena kau sudah dapat yang lebih baik soalnya.. aku jadi penasaran dengan suamimu.."


" Dia tidak seperti Yoga, beda jauh..." suara Kinanti tiba tiba tak bersemangat.


" Ah.. itu nada nada rindu.." Dinda tertawa renyah.


" Dia tidak merindukanku Din, buat apa aku rindu..?"


" Ahahaha.. aduhhh.. Yoga sialan memang, kalau ketemu lihat saja.." lagi lagi Dinda tertawa, dia geli sekali melihat raut wajah temannya yang terlihat jelas sedang merindukan suaminya itu.


Matahari mulai naik, kondisi pasar baru pun mulai ramai.


Banyak pembeli ataupun pedagang yang mulai berdatangan.


Pasar baru adalah tempat favorit para pelancong, dan pedagang, karena mereka bisa mendapatkan baju entah barang lainnya dengan harga miring dan kwalitas yang lumayan.


Dinda sudah lumayan lama banting setir menjadi pedagang, dan ia mulai menikmati hasil kerjanya.

__ADS_1


Ia bisa hidup sesuai dengan keinginannya tanpa batasan batasan yang harus ia perhatikan ketika hidup di malang bersama keluarganya.


Rasa sakit hati karena pengkhianatan suaminya membuatnya menjadi sosok yang mandiri dan sulit di atur.


Namun Kinanti tau betul, di balik sikap dan kata katanya yang keras, Dinda adalah seorang wanita yang setia dan mudah tersentuh hatinya.


Karena itu, pertemanan mereka bertahan begitu lama, bahkan hingga saat ini.


" Kau mau pulang dulu atau menungguku?" tanya Dinda ketika sudah mencatat barang yang masuk ke tokonya.


" Denganmu lah.."


" wajahmu terlihat lelah Nan?"


" ah biasa.. sebelum berangkat aku memang sedang kurang sehat, tapi.. setelah sampai disini aku merasa lebih sehat kok..?,


aku sendirian di kontrakan mau apa, bosan.."


" Kau jalan jalan saja.."


" Sendiri? serem.."


" eh, setua ini! naik ojek online apa taksi online!"


" tidak ah.. menunggumu saja..?!"


" Aku ini bukan pegawai negri, tidak ada hari libur, aku tidak tau kapan bisa mengantarmu?" ujar Dinda lalu menghela nafas.


" Ya sudah.. aku tidak usah kemana mana.."


" Kau jarang jarang keluar, ini bahkan kali pertamanya dirimu keluar begitu jauh..


sayang sekali jika kau tidak kemanapun..


begini saja,


aku punya kenalan,


tenanglah..


rumahnya tidak jauh dari kita.. ibunya pemilik kontrakan yang ku tempati.."


Wajah Kinanti ragu,


" Bayar saja dia kalau kau sungkan, tapi kurasa dia tidak akan mau, karena selama ini mengantarku kemanapun dia juga tidak meminta imbalan.."


" Memangnya dia tidak kerja?"


" Dia mengelola kontrakan dan kost kost an, sempat bekerja kantoran, tapi berhenti karena harus merawat ibunya..


kau tau kan ibu yang tadi pagi memberiku camilan?"


Kinanti mengangguk,


" Lha.. itu ibunya.. baik toh? anaknya juga baik..


usianya di bawah kita setahun.. orangnya sopan kok.." jelas Dinda.


" Ya sudah.. lihat besok saja.."


" Main main ke lembang Nan.. udaranya enak.. kalau senggang dia biasanya mengajakku ke lembang.." Dinda tersenyum senyum sendiri,


" biasanya?" tanya Kinanti selidik,


" Iya.. kalau kami ada waktu saja.."


" Hemm.. ganteng?"


" Ah.. biasa saja.." jawab Dinda tersenyum,


" ah.. moso..?"

__ADS_1


" yaa.. ganteng sih kalau di lihat lama lama.." Dinda lagi lagi tersenyum senyum sendiri.


" Eleh.. senyummu.." sekarang Kinanti yang menggeleng gelengkan kepalanya.


Baru tiga hari, tapi hati Damar rasanya sakit sekali.


Andaikan dia tau rasanya setidak menyenangkan ini, ia tak mungkin berlama lama pergi meninggalkan istrinya.


Damar membuang rokoknya yang masih panjang, dan berjalan masuk ke melewati gerbang pabrik.


" Sehat mas?!" sapa si satpam semangat melihat Damar.


Damar hanya mengangguk dan tersenyum, sesungguhnya ia tak berminat sama sekali datang ke pabrik, tapi karena mbah utinya memarahinya habis habisan, ia memaksa dirinya datang ke pabrik dengan kondisi hati senormal mungkin.


Semua pekerja sumringah melihat sosok bos yang sudah lama tidak mereka lihat.


Beberapa orang berbisik ketika Damar lewat.


Itu mungkin karena Damar tampak lebih kurus dan sedikit kurang terawat.


" Semua laporan sudah di ruangan sampean mas.." suara Umar mengejar langkah Damar keliling gedung.


" Satu jam lagi rapat, sekarang biarkan aku keliling dulu." suara Damar datar, begitu pula dengan wajahnya.


Penyesalan, hal yang pasti di rasakan oleh semua manusia..


namun entah apa yang mereka sesalkan.


Entah keputusannya yang ternyata salah..


Entah hidupnya yang tidak berjalan sesuai dengan rencananya..


Entah dia telah memperlakukan orang lain dengan egois di masa lalunya..


dan tentu saja banyak entah entah yang lainnya..


Waktu tidak dapat di putar..


namun manusia bisa belajar memperbaiki keadaan,


dengan tidak lagi mengulang apa yang di sebut kesalahan..


sehingga menjadi penyebab utama timbulnya penyesalan.


" Istriku mencintaiku.. istriku mencintaiku.. dia pasti pulang.. pasti pulang..."


Kalimat itu yang menghiasi batin Damar beberapa hari ini.


Kemanapun dia melangkah, dimana pun dia duduk.


Hatinya begitu terguncang saat mendengar istrinya sudah mengundurkan diri dari sekolah.


Itu adalah pekerjaan yang sangat Kinanti sukai.


Namun dengan mudahnya istrinya itu mengundurkan diri.


" Bagaimana jika dia meninggalkanku dan tidak pulang??" berkali kali dia mengeluh dalam hati.


Tak pernah di ungkapkan kalimat itu pada Winda atau lainnya.


Pelampiasannya hanya pada rokok yang ia hisap e entah sudah berapa puluh batang dalam sehari ini.


" Bagaimana kalau akhirnya surat cerai yang ku terima..??" pemikiran yang cukup mampu membuatnya tidak tidur sampai pagi.


Gelisah, takut, bingung..


Damar pontang panting kesana kemari setiap malam,


mengikuti Yoga mengunjungi satu persatu teman teman kuliah Kinanti.


Apapun.. apapun ia lakukan, meski harus kemana mana bersama Yoga.

__ADS_1


Asal dirinya segera berjumpa istrinya.


__ADS_2