
Kaila masuk ke dalam rumah begitu saja, ia bahkan melewati ibunya tanpa memberi salam.
" Eh! eh! anak ini.. lama lama tidak ada unggah ungguhnya! ( sopan santunnya)" komentar ibu Kaila dengan mata sembari mengawasi Yusuf yang masuk ke dalam mobil.
" Itu siapa?, pacarmu?" tanya si ibu mengikuti langkah Kaila.
" Kaila capek! ibu jangan menganggu..?!" tegas Kaila tanpa menoleh pada ibunya.
" Eh! anak ini?! pulang diantar laki laki bukannya menjelaskan itu siapa malah marah?! ini hasil didikan mas mu yang tersayang itu?!"
" Mas Damar tidak pernah mendidik Kaila dengan buruk?!" tegas Kaila berbalik menatap ibunya yang terkejut dengan suara Kaila yang meninggi.
Wajah gadis itu merah padam, perasaannya sedang campur aduk, tapi ibunya malah mencari masalah dengannya.
" Ibu mau tanya apa?" tanya Kaila menurunkan suaranya,
" Ya..! dia anak orang cukup, orang tuanya pemilik toko furniture terbesar di kota ini, apa ibu mengijinkanku bersama dengannya setelah tau dia berasal dari keluarga yang cukup?" nada Kaila di penuhi getir.
" Tentu saja, dia pasti mewarisi bisnis orang tuanya kan?" jawab ibunya dengan mata berbinar.
Melihat itu Kaila tersenyum tipis, ia sudah menduga akan jawaban ibunya.
Omong kosong ibunya menginginkan kebahagiaan Kaila.
Yang ibunya pikirkan adalah kenyamanan hidup, karena ia tidak bisa bersikap seenaknya pada Damar lagi.
Dia ingin mempunyai menantu kaya yang bisa di banggakan dan menghidupinya sesuai dengan gaya hidupnya dulu,
gaya hidup selayaknya bapak Damar masih hidup dan tak pernah melarangnya berfoya foya.
Tentu saja selalu menyenangkan bisa membeli barang semaunya, pikir ibu Kaila.
Dengan langkah kesal Kaila meninggalkan ibunya.
Ia berjalan masuk ke dalam kamar sembari membanting pintu.
" Astaga?!! andai saja bapak kalian masih hidup! kalian tidak akan berani bersikap seperti ini pada ibu!
kau dan Damar tidak ada bedanya!
padahal ibu hanya ingin hidupmu nyaman ke depannya!" tegas ibunya dari balik pintu kamar Kaila.
" Suamimu kemana?" tanya Winda pada Kinanti yang baru saja pulang mengajar.
" Tadi kulihat di sawah mbak.. mungkin mengurusi sawah yang terendam banjir.." jawab Kinanti sembari menaruh tasnya.
" Ku dengar dia memberi uang bantuan untuk para petani? kau tau?" tanya Winda.
Kinanti mengangguk,
" Tau.. semalam Umar kesini dan mengatur uang uang itu di amplop.." jawab Kinanti.
" Apa kau tidak merasa suamimu berlebihan?"
" berlebihan bagaimana maksud mbak?"
" Hal itu adalah fenomena alam...harusnya dia tidak terlalu terbawa perasaan dengan selalu memberi bantuan,
takutnya semua orang akan terbiasa kalau dia terlalu baik.."
Kinanti mengangguk, ada benarnya kata kata Winda, namun ia juga tak bisa mencegah suaminya berbuat baik pada orang lain selama masih dalam batas wajar.
" Saya tidak bisa berbuat apapun, karena itu uangnya mbak.."
" apa maksudmu? uang Damar juga uangmu?!"
" Yah.. benar, tapi saya tidak bisa mencari masalah dengan mas Damar untuk sekarang.. sekecil apapun masalah itu.
Seperti mbak tau,
sikapnya seperti menghindar dariku secara tidak langsung mbak..
dia menyibukkan dirinya dengan sengaja.." raut Kinanti sedih.
Winda menghela nafas, ia turut sedih dengan sikap Damar beberapa hari ini.
Winda bisa melihatnya dengan jelas, Damar yang lebih banyak bungkam, dan bahkan tak tersenyum saat bertemu Winda.
" Dia mungkin belum makan.. masaklah sesuatu..
lalu antar ke sawah..
__ADS_1
dia pasti senang makan dengan orang orang di sawah..
berusahalah..
agar suamimu bersikap seperti semula..
toh kau tidak berbuat kesalahan yang besar..
yakinlah semua akan baik baik saja.." usul Winda.
Dan tanpa menunggu lama, Kinanti segera mengganti bajunya dengan daster.
Lalu segera pergi ke dapur untuk memasak.
Suasana riuh dengan suara para petani dan padi yang sudah di potong lalu di pukul ke sebuah batang kayu agar biji bijinya rontok.
Panen secara manual selalu tampak menyenangkan meskipun tenaga yang di butuhkan ekstra besar.
Biji biji padi yang setengah hijau dan setengah kuning itu berjatuhan di atas terpal yang sudah di siapkan untuk menampung,
itu bertujuan agar biji padi lebih mudah dikumpulkan dan di masukkan ke dalam karung nantinya.
Padi padi itu sesungguhnya belum layak panen, namun terpaksa di panen karena para petani takut itu akan membusuk jika di biarkan terlalu lama.
Begitu pula dengan sisa tomat dan cabe.
Damar membantu para pekerjanya memilih cabe dan tomat yang masih layak dari pohonnya,
yang rata rata sudah ambuk ke tanah dan bercampur lumpur.
Laki laki berkaos hitam dan bercelana pendek berwarna navy itu terlihat serius.
Ia bahkan sampai lupa kalau sudah melewatkan jam makan siang.
Di sekitar Damar tersuguh pemandangan para petani yang sibuk memanen dan memukul padi di sana sini.
Pemandangan yang sesungguhnya cukup menyenangkan,
namun banjir yang melanda tak membuat wajah wajah tua di sekitar Damar ceria.
Meskipun keceriaan mereka sempat hadir saat Damar memberi sedikit bantuan,
kesedihan itu muncul kembali.
" Mas Damar?!" panggil seorang ibu ibu,
" Nggih bu?!" jawab Damar bangkit.
" Itu di susul istrinya!" suara ibu ibu itu.
Mendengar itu Damar mencari sosok Kinanti dari kejauhan.
Benar saja, Kinanti sedang berjalan ke arahnya dengan membawa bawaan, sepertinya makanan.
Rambut istrinya itu tergerai panjang, sehingga angin menerbangkannya kesan kemari.
Cantik sekali..
diam diam Damar tersenyum,
ia bisa melihat betapa cantik istrinya, dengan wajah yang tak terpoles bedak dan lipstik sedikitpun.
Sekilas Kinanti tampak seperti gadis desa yang masih perawan dan belum bersuami.
" Cantiknya istriku.." gumamnya pelan sembari tersenyum,
namun senyumnya itu tiba tiba menghilang saat ia ingat sosok Yoga.
Wajah Damar berubah menjadi kaku, dan laki laki itu kembali duduk untuk memunguti tomat tomat dari pohonnya yang sudah rubuh.
" Aku bisa pulang makan kok, tidak usah repot repot mengantar makanan, sementara dirimu sendiri lelah usai mengajar," ujar Damar sembari memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Kinanti sedikit sedih melihat tak ada senyum yang ia dapatkan sama sekali.
Meski kalimat kalimat Damar masih lembut, namun terlihat jelas keacuhannya.
Kinanti berusaha tenang dengan menerima sikap itu.
Ia duduk dengan tenang disamping suaminya yang sedang makan dengan lahap.
Sepertinya memang lapar, namun Damar menahannya.
__ADS_1
" Kenapa tidak membeli mesin yang khusus untuk panen mas? lebih praktis sepertinya.." Kinanti berusaha membuka pembicaraan.
Matanya menemukan para buruh damar rata rata berusia menjelang senja.
" Memang praktis.. tapi mesin itu bisa membuat orang orang itu kehilangan mata pencahariannya" jawab Damar tanpa memandang Kinanti.
Ia masih fokus dengan makanannya.
" bayangkan jika semua petani petani besar memakai mesin itu..
lalu mau berkerja apa mereka? setengah dari orang orang itu hanya buruh..
Uang yang kecil bagi kita, bisa saja besar bagi mereka..
apa kau dapat poinnya?" tanya Damar memandang istrinya sekilas.
Kinanti mengangguk, sekarang ia memahami sampai dimana pemikiran suaminya tentang orang lain.
Diam diam Kinanti bangga,
dimana lagi bisa ia temukan suami yang empatinya besar semacam ini.
" Ada apa? ada nasi di wajahku?" tanya Damar menyadari Kinanti sejak tadi memandanginya sembari tersenyum.
" Tidak ada mas.." jawab Kinanti,
" Lalu?"
" Aku hanya bersyukur saja.. memiliki dirimu sebagai suamiku,
mas terlalu luar biasa..
itu membuatku semakin kagum dan mencintaimu mas.." jawab Kinanti dengan senyum hangat, sikapnya begitu lembut dan mesra.
" uhuk! uhukk!!" membuat Damar kaget dan tersedak nasi,
ia terbatuk batuk cukup keras.
" Minum dulu mas?!" Kinanti segera membuka botol air mineral yang berukuran 1 liter dan memberikannya pada suaminya yang sibuk tersedak itu.
" Pelan pelan makannya..?" Kinanti berpindah tempat duduk ke belakang Damar.
Dengan hati hati tangannya mengelus punggung Damar,
naik turun, naik turun,
seperti ingin menenangkan suaminya yang masih terbatuk batuk keras dan masih merasakan sakit di pangkal hidungnya.
Merasakan sentuhan istrinya itu perasaan hangat mengaliri hati Damar yang sesungguhnya masih di penuhi kekecewaan.
Entah.. mungkin sudah hampir dua minggu semenjak Kinanti sakit Damar tak pernah menyentuhnya dengan hangat seperti biasanya.
Ada rasa rindu, namun tetap melintas rasa kecewa.
" Sudah.. sudah.. aku tidak apa apa.." ucap Damar ingin agar Kinanti berhenti mengelus punggungnya.
" Aku sudah kenyang.." Ujar Damar menaruh piring dan sendoknya.
Dengan cepat Kinanti merapikan makanan dan piring yang ia bawa.
" Pulanglah.. istirahat.." Ujar Damar bangkit.
" Aku mau ikut.." ujar Kinanti,
" Ikut apa?" Damar memandang istrinya yang sedang duduk diantara rerumputan itu heran.
" Ikut membantu, bagaimana bisa kubiarkan suamiku sibuk sendiri.. sementara aku hanya duduk atau rebahan saja dirumah..?"
Damar mematung, andaikan saja dirinya sedang tidak kecewa, ia pasti akan langsung mengenggam tangan istrinya itu dengan lembut.
Namun kekecewaannya tak mengijinkan dirinya melakukan itu.
Segera di sadarkan dirinya,
" Ya sudah.. terserah saja, tapi jangan memaksakan dirimu, kau baru sembuh.. jika lelah langsung istirahatlah.." ujar Damar segera berbalik dan berjalan ke arah tanaman tomat yang belum selesai di panennnya.
Kinanti sesungguhnya berharap Damar mengulurkan tangan untuk membantunya bangkit, namun ternyata suaminya itu pergi begitu saja.
Kinanti menghela nafas, membuang perasaan tak menyenangkannya.
Ia mengulas senyum untuk menenangkan dirinya sendiri, lalu segera bangkit dan menyusul langkah Damar.
__ADS_1