
" Semua berjalan dengan lancar?" tanya Winda dengan mata yang masih mengantuk,
Bagaimana tidak, ini masih pagi buta, tapi Damar sudah keluar rumah dan bersiap siap menuju pabrik.
" Alhamdulillah mbak.."
" jadi kemana?"
" hehe.. alun alun.."
" alun alun? mbok ya dirumahnya..?!"
" inginnya aku memberikan cincin di atas bianglala mbak.. tapi gara gara antrinya panjang, terpaksa kami duduk di salah satu kursi yang kosong dan sedikit sepi sekitarnya..
ku kira tak ada yang lebih bagus timingnya dari pada tadi malam mbak.."
" hemm.. baguslah.. bilang apa..?" Winda mengangkat kedua alisnya.
" Maturnuwun mbak ee... ( terimakasih mbak...)" Damar memeluk Winda dengan malu malu.
" Kalau tidak ada mbak.. aku tidak tau harus bagaimana, bahkan acara pernikahanku semuanya merepotkan mbak.." ujar Damar.
Winda tersenyum, ia menepuk punggung adiknya itu.
" Sudah tugas mbak.. bapakmu menitipkan mu padaku.. kebahagiaanmu adalah harapanku le.." Winda trenyuh, ada ketenangan di hatinya melihat betapa bahagia raut wajah Damar, begitu pula sikap yang ia tunjukkan menjelang pernikahan.
" Wah! apa ini pagi pagi sudah main peluk pelukan?! ikut ikut?!" Yoga yang baru saja datang joging tiba tiba melemparkan dirinya ke tengah tengah Damar dan winda.
Di lingkarkan tangannya memeluk punggung Damar dan Winda.
" Selamat berbahagia..!" ujarnya sembari tertawa lebar.
" Aduh aduh?! keringatmu! sana sana!" Winda mengomel, ia segera melepaskan tangan Yoga.
" Wah! mbak pilih kasih..?! giliran aku yang peluk minggat?!" protes Yoga denga wajah masam.
" Ah! mandi dulu sana kalau mau memelukku!" sahut Winda sembari berjalan masuk ke dalam rumahnya.
" Piye mas?" Yoga beralih pada Damar,
" apanya?"
" Rasanya mau menikah di usia 30 tahun?"
" hemm.. kau mengejekku.."
" ah, bukan mengejek.. aku hanya penasaran bagaimana perasaanmu mas,
semua orang tau kau jomblo ribuan tahun, bertingkah seperti vegetarian yang tak doyan ' daging ', wajar saja aku adikmu ini sangat penasaran..
__ADS_1
aku bahkan mengira mas bertapa setiap malam.." goda Yoga menyikut perut Damar yang jauh lebih tinggi darinya.
" Kau mau ku pukul?" ucap Damar dengan setengah melotot pada Yoga yang juga tak kalah menawan wajahnya.
Karena dia seorang dokter, ia jauh lebih pandai merawat diri, di banding Damar yang begitu apa adanya dan alami, bahkan terkesan laki laki sekali.
Tangannya tentu saja lebih lembut dari tangan Damar yang bekerja ini itu.
Namun soal postur tubuh jangan di tanya siapa yang lebih tangkas dan gagah.
postur Damar jauh lebih besar dan tinggi, kulit Damar sawo matang, garis hidungnya tegas, dan alisnya tebal.
Sedangkan Yoga berkulit putih dan berwajah kalem, bibirnya pun kemerahan seperti perempuan di karenakan ia tak pernah menyentuh tembakau sejak remaja.
Senyum dan sikap Yoga selalu manis dan ramah, itu membuatnya gampang di terima dan mudah akrab pada setiap yang di temuinya, mungkin karena dia seorang dokter juga, tapi sebelum menjadi seorang dokterpun karakternya sudah semanis itu, sehingga Damar yang tak banyak bicara jika tak perlu sering di banding bandingkan dengannya.
Untuk penampilan tentu saja Damar tak kalah rapi dan menawan saat ia berangkat ke kampus.
Tapi, Damar lebih sering memakai baju dengan warna warna yang gelap, itu membuatnya tampak tak ramah dan sulit di dekati.
" Mas mau memukul wajahku yang tampan ini? jangan dong.. aku juga mau cepat cepat menyusulmu mas.." Yoga tertawa,
" Kau sudah dapat calon istri lagi?" tanya Damar antusias,
" Ah, ada beberapa perempuan yang mendekatiku sih mas, tapi aku ragu ketika melihat sikapnya saat melihat Bagas..
semua cantik, pendidikannya tinggi, tapi rasa keibuannya tidak ada.." keluh Yoga.
" Tidak ada yang sempurna di dunia ini, kalau kau ingin mencari ibu yang baik untuk Bagas, berhentilah mencari yang cantik dan seksi melulu...
rubahlah seleramu sedikit, tubuh dan wajah yang bagus bukan jaminan untuk ketentraman rumah tanggamu..
bukankan kau sudah menjadi korban dari seleramu sendiri..?" sahut Damar.
" Ah benar sih mas.. entahlah, kenapa aku di ciptakan selemah ini pada perempuan cantik.."
" Kenapa kau menyalahkan penciptamu.. semua tergantung dirimu sendiri, ingat.. laki laki baik akan bertemu perempuan yang baik.."
" Benar kata katamu mas, dulu aku terlalu busuk.. karena itu aku bertemu yang busuk pula..
aku bahkan meninggalkan mutiara yang masih murni demi kepuasan semu.." Lagi lagi Yoga mengeluhkan masa lalunya, penyesalannya tak habis habis.
" Kenapa kau tak coba mencarinya.. meminta maaf dan membuka lembaran yang baru.." usul Damar,
" ah.. mana punya muka aku mas, aku menyakitinya terlalu parah,
lagi pula dia tipe perempuan yang tegas,
bukan hal yang mudah untuk meminta maaf padanya.."
__ADS_1
Damar terdiam, ia memperhatikan raut Yoga yang mendadak sedih itu.
" Lalu apa dia sudah menikah? apa kau tidak pernah bertemu dengannya?"
" aku sempat bertemu dengannya beberapa kali, namun aku menghindar dan bersembunyi,
setelah itu kudengar dia lulus kuliah dan mengajar di kota lain, semenjak itu aku sudah tidak pernah melihatnya lagi mas.. entah sudah berapa tahun..
mungkin dia sudah melupakanku dan mendapatkan seorang laki laki yang lebih baik dariku.."
" Jangan pesimis.. bisa saja dia belum melupakanmu.." Damar menepuk pundak Yoga, memberikan semangat sebagai sesama saudara.
" Ah.. mungkin hanya Tuhan yang bisa mempertemukan kami kembali mas.." ucap Yoga getir mengingat kebodohannya.
" Ya sudah.. aku mau ke pabrik sebentar, karena nanti siang aku ada kelas.." pamit Damar,
" Monggo mas.. aku juga akan berangkat pagi.." sahut Yoga yang juga akan berangkat bekerja.
" Ya sudah.. hati hati.." Damar berbalik dan berjalan pergi,
menembus kabut yang mulai menghilang.
Semburat jingga mulai nampak jelas di balik gunung yang berdiri begitu luar biasa.
Tak henti Damar memandanginya, sungguh lukisan alam yang indah, batinnya.
Andai kata suatu ketika ia bisa naik gunung lagi, ia ingin mengajak Kinanti.. itu pasti luar biasa, tapi ia sadar.. tak semudah itu menyembuhkan traumanya.
Burung burung mulai berlarian menjauh ketika Damar melewati area persawahan, " Hushh..! hushh..!" suara Damar mengusir burung burung yang sedang sibuk bermain diantara daun daun.
Bukan karena apa, dia hanya usil saja.
" Sugeng enjing ( selamat pagi )mas Damar..?!" sapa seorang bapak bapak yang sedang membonceng istrinya dengan sepeda ontel tua, kelihatannya mereka akan berangkat ke kebun yang sedikit jauh dari rumah mereka.
" Sugeng enjing pak dhe..?!" balas Damar melempar senyum sembari menundukkan sedikit kepalanya demi kesopanan.
" Duluan nggeh mas..?!" ujar si bapak terus mengayuh sepedanya,
" Monggo monggo pak.." jawab Damar kembali berjalan dengan santai ke arah pabrik.
Melihat betapa rukun dan romantisnya bapak dan ibu tadi, bayangan Kinanti tiba tiba terlintas.
Ia ingin seperti itu dengan Kinanti di masa tua, hidup rukun dan penuh kesederhanaan.
" Ke depannya aku akan merasakan pagi pagi yang luar biasa denganmu Nan.." gumam Damar dengan bibir membentuk garis senyum.
Ia tak sabar ingin menunjukkan keindahan yang ia kecap setiap pagi pada Kinanti.
Udara yang sejuk, pemandangan yang indahnya luar biasa, dan sapaan sapaan ramah yang menambah semangat pagi yang selalu ia terima dari penduduk sekitar.
__ADS_1
Damar tak sabar mengandeng tangan Kinanti setiap pagi dan berjalan jalan di sekitaran sawah sembari menikmati semburat fajar.