Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
aku tidak setuju!


__ADS_3

Hari sudah malam ketika pintu rumah Damar di ketuk.


" Siapa mas?" tanya Kinanti, mereka rupanya belum tidur,


keduanya baru saja menyelesaikan tugas malam mereka sebagai suami istri.


" Suara Yoga," jawab Damar segera berlari ke kamar mandi, tak lama laki laki itu keluar dengan celana pendek saja, bertelanjang dada berjalan keluar kamar, lalu ke ruang tamu untuk membuka pintu.


" Mas?" suara Yoga terdengar benar benar serius, membuat Damar waspada.


" Ada apa?!" tanya Damar lebih serius.


Yoga menatap Damar dari atas ke bawah, merasa terintimidasi dengan otot lengan dan perut Damar yang lumayan itu.


" Pakailah baju dulu mas, sekalian ajak mbakyu bicara dengan kita.." ujar Yoga,


Damar mengerutkan dahinya,


" Ada apa sih?! jangan buat masalah Yog?!" peringat Damar.


" Tidak... panggillah mbakyu, aku akan menunggu disini.." ujar Yoga lagi sembari duduk di sofa.


Sedikit mendengus kesal Damar berjalan kembali ke dalam Kamar.


" Sayang.. bangun sebentar, Yoga mau bicara.." Damar membantu istrinya bangkit dari tempat tidur.


" Aku tidak mau," jawab Kinanti sembari menggeleng.


" Sebentar saja, aku juga penasaran dia mau bicara apa.." bujuk Damar sembari mengecupi istrinya.


" Pakai baju dulu yang benar?!" protes Damar karena baru sadar pakaian tidur istrinya cukup tipis dan terbuka.


Setelah sekitar 10 menit menunggu, Kinanti keluar, duduk disamping Damar.


" Begini, sebelumnya aku minta maaf mas menganggu waktu istirahat mas..


tapi aku benar benar benar tidak bisa tidur tenang beberapa hari ini.." ujar Yoga pelan dan hati hati.


" Tapi.. hanya mbakyu yang bisa membantuku.." Yoga melihat Kinanti sekilas lalu kembali menatap Damar.


" membantumu? tentang apa?" tanya Damar,


" Dinda.."


Mendengar nama Dinda di sebut tentu saja Kinanti sedikit terkejut,


" ada apa dengan Dinda??" Kinanti yang sejak tadi diam tiba tiba bicara dengan nada penasaran dan khawatir.


" Aku ingin memperistri Dinda.." jawab Yoga menatap Kinanti dengan yakin.


Kinanti yang tak pernah menyangka dengan jawaban itu tentu saja tampak kebingungan.


Ia memandangi suaminya dengan pandangan bingung,


" Mas??" suara Kinanti lirih, berharap suaminya mengambil alih untuk bicara pada adiknya itu.


" Tidak apa apa, kemukakan saja pendapatmu sayang.." kata Damar mengangguk, rasanya ia juga ingin mendengar pendapat istrinya akan hal ini, baru nanti dirinya akan menambahkan jika perlu.


" Atas Dasar apa tiba tiba ingin memperistri Dinda?" tanya Kinanti penuh tanda tanya,


" Aku tidak mau kau membuat keputusan yang di dasari atas kekecewaan dan emosimu,


hidup Dinda tidak mudah..


andai kau tau, dia juga mempunyai luka yang dalam?" Kinanti menatap Yoga serius, ia benar benar tidak rela sahabatnya di jadikan pelampiasan.


" Kau jangan main main dengan Dinda, aku akan melindunginya semampuku, jadi jangan coba coba melampiaskan kekesalanmu padanya?!" imbuh Kinanti dengan nada lebih tinggi.


Damar merangkul istrinya,


" aku menginjinkanmu bicara dengan kepala dingin.. jadi mari kita bicara dengan baik.." ujar Damar menengahi,


" tapi mas? apa masuk akal setelah menganggu kita dan tidak berhasil, sekarang tiba tiba dia ingin menikahi Sahabat baikku?,


apa mas tidak merasa ini aneh?" Kinanti meyakinkan Suaminya agar tak mudah percaya pada Yoga.

__ADS_1


" Itu benar, tapi apa yang terjadi pada kuta sudah berlalu.. coba sekarang beri kesempatan Yoga untuk bicara.." Damar terlihat lebih tenang dari pada Kinanti.


" Bicaralah..!" suara Kinanti menahan diri.


Yoga mengangguk pelan,


" Benar apa yang di katakan mbakyu, sepintas orang akan mengira aku hanya akan membuat Dinda sebagai pelarian, tapi yang kurasakan pada Dinda bukan pelarian,


Aku merasa ada kecocokan diantara kami semenjak aku bertemu dengannya lagi di bandung,


tak bisa ku jelaskan bagaimana proses perasaan itu datang,


tau tau.. perasaan itu datang menyergapku begitu saja.." jelas Yoga sembari tertunduk.


" Aku tidak setuju!" tolak Kinanti keras,


" niatanmu buruk!" imbuh Kinanti masih keras.


" Apa yang kurasakan pada mbakyu kemarin kemarin hanya obsesi, rasa tidak terima karena aku mengakhiri hubungan kita dengan buruk?!


tapi setelah aku membuat masalah yang besar pada kalian, aku baru menyadari bahwa yang kurasakan itu bukanlah cinta, tapi rasa tidak terima karena masih ingin di anggap dan di istimewakan?!,


jadi tolong mbakyu.. bersikaplah yang bijak?!


bukankah aku juga berhak bahagia mbakyu?!"


" Tidak ada yang menghalangi kebahagiaanmu disini, kau boleh memperistri siapapun, tapi tidak dengan Dinda?!"


" mbakyu?, manusia boleh menilai,


tapi Tuhan maha membolak balikkan hati..


apa aku salah jika ingin membahagiakan dan menjaga Dinda? dia adalah perempuan yang layak di cintai.."


Kinanti semakin geram mendengar itu, di pikirannya hanya terisi dengan kekesalannya pada Yoga karena sudah membuat ia dan suaminya bertengkar untuk waktu yang baginya lama, dan sekarang, Yoga dengan mudahnya mengatakan akan memperistri sahabatnya, menurut Kinanti ini semua tidak masuk akal, dan hatinya sungguh sungguh menentang.


" Kau yang seperti ini tidak layak untuk Dinda, kau orang yang egois dan mementingkan dirimu sendiri, tidak perlu kujabarkan apa saja sikap egoismu,


Kau yang sedari bayi hidup nyaman, tidak akan tau kesulitan Dinda?!"


" aku tau kesulitan apa yang sudah di jalani olehnya, aku tau betapa sabarnya dia di balik sosoknya yang selalu galak,


" Ah, tau dari mana kau kesulitan Dinda, kau bahkan hanya bisa ribut dengannya sejak dulu!"


Yoga menghela nafas berat, berusaha tetap tenang.


" Mbakyu lihat.." Yoga menunjuk ujung bibir kirinya yang membiru dan terluka.


" Ini luka yang saya dapat dari keributan bersama dengan mantan suami Dinda.."


Sontak Damar dan Kinanti langsung memperhatikan dimana luka itu di sebutkan, dan benar saja.. luka itu terlihat, entah kenapa sejak tadi Damar dan Kinanti tidak melihatnya, apa karena Yoga lebih sering tertunduk.


" Kau? dimana kalian bertemu?!" tanya Kinanti cepat,


" Tentu saja aku kerumahnya beberapa hari yang lalu, saat itu mantan suami dan ibunya menekannya agar keduanya mau rujuk..


ia bahkan di hargai hanya dengan sebuah rumah dan toko.." jelas Yoga masih kesal jika mengingat wajah mantan suami Dinda.


" Maksudmu?!"


" kalau Dinda mau kembali, dia akan menerima rumah dan toko.. itu yang kudengar.."


" tidak! dia kalau dia rujuk dengan laki laki itu dia akan di injak injak lagi?!" tegas Kinanti khawatir bercampur marah.


" Mas?!" Kinanti memandang suaminya,


Damar yang sejak tadi hanya menjadi pendengar mulai bicara.


" Kau di pukul dan tidak membalas?" tanya Damar pada Yoga.


" Tentu saja aku membalas mas, mana mungkin aku diam..!"


jawab Yoga.


" Bagus.. aku tidak akan mengakuimu saudara jika kau membiarkan orang memukulmu begitu saja dan tidak membalasnya." lanjut Damar,

__ADS_1


" Kok malah bahas itu mas?!" Kinanti menyela,


" Eh.. itu penting.." tegas Damar tenang.


" Sudah.. begini saja, ada baiknya kita bersabar dulu sembari menyelami perasaannya dan menunggu respon Dinda juga..


Yoga, kau tidak boleh grusa grusu.. perkenalkan dia pada putramu, karena tidak hanya kau yang akan hidup dengannya.. tapi Bagas..


ketika seorang bapak tunggal menikah, maka kebahagiaan anak adalah prioritas,


penting untuk mencari istri yang tidak hanya mencintaimu, tapi juga mencintai putramu..


dan untuk istriku sayang..


sudah, jangan marah marah..


bicaralah baik baik dengan temanmu nanti, tanya apa keinginannya.. tidak akan ada masalah jika ia tidak tertarik pada Yoga,


tapi.. jika Dinda merasa nyaman dengan kehadiran Yoga..


kau tidak boleh memaksakan kehendak mu dengan menghalangi hubungan mereka.." ucap Damar menengahi, ia tak berharap istrinya yang sedang hamil itu ribut dengan Yoga,


dan menurutnya, apa yang di katakannya adalah hal yang paling baik untuk sekarang.


" Tapi mas.. aku merasa.. jika aku terlalu lama berpikir..


aku takut, Dinda akan di miliki oleh orang lain.." suara Yoga cemas.


" Wah.. kau sekarang sadar ya kalau Dinda itu cantik dan banyak di lirik orang?" kata Kinanti tajam.


" Kau tau laki laki yang selalu menemani Dinda di bandung?


tetangga Dinda yang bernama Alfian? anak muda yang lebih gagah dan lebih muda darimu itu?


dia juga menaruh hati pada Dinda, dan Dinda pun begitu,


dia sudah berencana melamar Dinda, hanya menunggu kata YA saja dari Dinda,


jadi mustahil Dinda menyukaimu,


menyerah lah dan cari perempuan lain..!" Kinanti bangkit dan berlalu pergi, meninggalkan Yoga dengan ekspresi yang lengkap, kaget, gelisah dan bingung.


Sedangkan Damar, ia hanya tersenyum saja melihat kelakuan istrinya yang ketus sekali terhadap Yoga.


" Bagaimana bisa mas.. istrimu setajam itu lidahnya?" keluh Yoga dengan tangan yang di letakkan di dahinya, seakan ada hal berat yang membebani pikiran Yoga.


" Tidakkah kau mengerti kenapa dia bersikap seperti itu padamu?" ucap Damar santai,


" aku kan sudah minta maaf atas kesalahanku mas? ya masa Mbakyu menyimpan Dendam padaku??"


" yah.. namanya perasaan perempuan, sulit untuk di selami.. sudahlah, pulanglah sana, tidur tidur.."


" Tapi mas.. apa benar laki laki yang waktu itu?" Yoga masih penasaran,


" yah.. dia memang sering menemui Dinda, tak jarang mereka berbincang tiap sore.. sepertinya Dinda memang me naruh hati padanya.." jelas Damar.


Yoga terdiam mendengar itu, di gesek gesekkan giginya karena gelisah, bagaimana mungkin.. ia baru saja mulai, tapi sudah ada dua orang laki laki sebagai ancaman besar.. batin Yoga.


" Terus bagaimana?" tanyanya bingung pada Damar,


" apanya?" Damar santai, seperti sengaja membuat Yoga berpikir keras.


" Sepintas ku lihat.. laki laki itu tidak segagah itu kenapa mbakyu melebih lebihkan?" Yoga menggerutu.


Damar tertawa melihat raut kecemasan Yoga.


" Olahraga yang banyak om.. sainganmu masih muda.." ejek Damar seperti menikmati sekali kecemasan Yoga.


" Seperti mas bukan om om saja??!" protes Yoga dengan dahi berkerut karena resah.


" Tidak masalah.. istriku kan mencintaiku..


kau tau kan lagu Yuni shara?


yang itu...

__ADS_1


sekarang atau limapuluh tahun lagi ku akan masih tetap mencintaimu..


begitu ya nadanya? salah benar?" sahut Damar sembari bernyanyi kecil, dia benar benar di atas angin sekarang, membuat Yoga hanya bisa berdecak kesal mendengar nyanyiannya.


__ADS_2